
"Sudah mainnya? Seru banget tidak ajak-ajak Papah?" Ucap Adit kepada Ziel, yang terlihat sangat asik bermain bersama dengan Tiara, Asisten rumah tangga.
"Papah.. Papah.." Teriak Ziel, berlari kesenangan. Karena Adit, mau meluangkan waktunya datang untuk menjemput dirinya bersama dengan Tiara.
"Hei, jangan berlari-lari! Nanti terjatuh bagaimana?" Ucap Adit kepada Ziel.
"Maaf Papah." Jawab Ziel, yang merasa bersalah kepada Ayah nya.
"Tidak apa-apa. Bagaimana mainnya? Apakah senang?" Tanya Adit kepada Ziel.
"Ziel senang Papah, Bibi Tiara mau menemani aku bermain." Jawab Ziel, yang memberitahukan kesenangannya kepada Adit.
"Yasudah, sekarang kita pulang dulu. Nanti bisa bermain lagi dengan Bibi Tiara." Jawab Adit kepada Ziel.
"Baik Papah." Ucap Ziel, yang berjalan bergandengan tangan dengan Ayah nya, dan di ikuti dari belakang oleh Tiara.
Saat Tiara, ingin membuka pintu Mobil. Tiba-tiba Ziel menghentikannya dan meminta kalo Tiara duduk di depan bersama dengan dirinya dan Ayah nya.
"Bibi, duduk di depan saja! bersama dengan aku dan Ayah," Pinta Ziel kepada Tiara.
Sedangkan Tiara merasa ragu, dengan permintaan dari Ziel.
Adit yang merasa, tatapan Tiara penuh dengan penjelasan. Mencoba untuk nenetralkan detak jantungnya sedari tadi yang berdetak sangat kencang.
"Turuti saja kemauan dia! Duduklah dengan tenang." Perintah Adit, kepada Tiara. Sehingga Tiara, tidak bisa menolak lagi, dan mau tak mau Tiara duduk dan sambil mengasuh tubuh mungilnya Ziel.
Terlihat lagi seperti keluarga kecil, seperti yang terjadi beberapa jam di dalam Ruangan Kantor Adit.
Walaupun Adit sedikit merasa tidak tenang. Namun sekuat tenaga Adit mencoba untuk tidak menampakannya di depan Anak dan Asisten rumah tangga nya itu.
Tidak terasa, akhirnya Mobil yang membawa mereka sampai ke rumah.
__ADS_1
Ayu yang saat itu tidak senghaja melihat Tiara, turun dari Mobil. Membuat dirinya merasa sangat marah dan menjadi emosi. 'Tidak akan aku biarkan kamu merebut apa yang selama ini aku inginkan! Tuan Aditya, adalah milik aku. Dan selamanya akan tetap menjadi milik aku.' Batin Ayu, yang merasa sangat panas, akibat melihat Tiara turun dari Mobil bersama dengan Adit dan Ziel.
Setibanya masuk ke dalam rumah. Adit dan Ziel masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Sedangkan Tiara, bergegas masuk ke arah belakang. Dimana semua tempat tinggal Asisten rumah tangga yang berada di belakang tersebut.
Saat Tiara sampai di Dapur. Tiba-tiba Ayu mengejutkan dan berbicara seolah-olah Tiara sedang mencari perhatian kepada Majikan mereka.
"Wah ternyata diam-diam kamu akan mencari perhatian kepada Tuan Aditya? Wah..wah..wah, hebat kamu ternyata." Tuduh Ayu, sehingga membuat Tiara merasa antara kesal dan malu.
"Sudah-sudah, apa pun yang di lakukan Neng Tiara, tidak sepenuhnya juga kesalahan dia. Neng Tiara di minta Tuan Aditya, menjemput Den Ziel ke Kantor." Jelas Fitri, Asisten rumah tangga yang berumur 42 tahun.
"Jelas-jelas juga saya melihat dengan Mata kepala saya sendiri, kalo Tiara itu diam-diam mau ikut Sayembara, dan melalui Den Ziel. Untuk mencari perhatian dari Tuan Aditya. Ucap Ayu, yang sedari tadi tidak ingin kalah.
Sebab Ayu ingin jika obrolan mereka sampai terdengar oleh Tuan Aditya atau Ibu Arini.
"Aku bukan seperti itu, bukan seperti yang kalian ucapkan! Aku hanya melakukan apa yang menjadi tugas ku." Jawab Tiara, yang juga ingin membela dirinya.
"Alasan saja kamu, kamu pikir aku bisa kamu bodohi seperti mereka semua." Serkas Ayu.
Malam pun tiba.
Seperti biasanya Tiara selalu membantu Bi Asih, untuk menyiapkan menu makanan malam ini. Apalagi Ayu tahu, bahwa malam ini Ibu Arini tidak bisa ikut makan malam bersama anak dan cucu nya.
Karena Arini sedang menghadiri acara bersama dengan teman Sosialita nya.
"Biar aku saja yang mengantarnya, kamu jangan coba-coba mencari perhatian dari Tuan Aditya!" Ucap Ayu kepada Tiara.
"Silahkan kamu yang mengantar! Kami hanya memasak dan tidak berminat untuk mengantarkan kedepan." Jawab Asih, yang merasa emosi melihat sikap Ayu, yang semena-mena.
"Baguslah kalonya sadar." Sindir Ayu kepada Asih dan juga Tiara.
Setelah itu Ayu dengan gaya nya berjalan berlenggak-lenggok membawa makanan dan menatanya di atas meja makan.
__ADS_1
Dan benar saja, saat Ayu mulai menghidangkan menu makanannya. Adit dan juga Ziel, sedang berjalan menuruni anak tangga. Ayu berasa sedang menghidangkan menu makanan untuk anak dan juga suami nya.
"Malam Bibi Ayu." Sapa Ziel, kepada Ayu.
"Malam juga Den Ziel, ayo makan malam dulu Den." Ucap Ayu, yang mulai melancarkan aksinya untuk mencari perhatian kepada Aditya.
"Kata Nenek, Ziel makan sendiri saja. Karena Ziel sudah besar dan kalo mau punya Ibu baru harus bisa mandiri," Jawab Ziel, yang membuat Ayu merasa sangat jengkel karena rencananya utuk mencari perhatian Majikannya itu telah gagal.
"Wah Den Ziel hebat, benar kata Nenek. Kalo mau punya Ibu baru harus bisa mandiri sejak sekarang, siapa tahu nanti Den Ziel akan punya Adek Bayi." Jawab Ayu dengan pura-pura mengatakan Adik Bayi. Namun hal itu bukannya membuat Adit merasa tersanjung, nanun malah membuat Adit marah dan merasa bahwa Ayu terlalu berlebihan.
"Kalo sudah selesai tolong tinggalkan kami Ayu! Kami mau makan dulu dengan tenang." Jelas Adit, yang mencoba masih berkata halus dengan cara menghusir Ayu.
"Baik Tuan." Jawab Ayu, yang merasa sangat jengkel karena Adit memintanya untuk pergi.
Setelah kepergian Ayu. Adit dan Ziel, makan dengan lahap. Apalagi Adit sudah mengetahui, jika masakan itu buatan dari Tiara, bukan dari orang lain, maupun Ayu yang pernah berpura-pura mengatakan bahwa itu adalah masakan dia sendiri.
Setelah selesai makan malam, Adit mengajak Ziel, untuk bersantai dan melihat Televisi. Apalagi besok weekend, dimana Adit harus membagi waktunya untuk selalu menemani Ziel, kemanapun yang dia inginkan.
Di lain tempat. Arini sedang asik bersama dengan teman-temannya.
"Hei Jeng Arini, saya dengar Jeng mau carikan jodoh buat Anak nya ya?" Tanya Susi kepada Arini.
"Iya Jeng Susi, Cucu saya mau punya Ibu baru katanya." Jawab Arini dengan nada lembutnya.
"Wah saya juga punya anak Gadis loh, boleh ya Jeng kita pertemukan dan kita jodohkan saja mereka," Pinta Susi kepada Arini.
"Boleh-boleh saja Jeng, biar nanti kita atur waktunya." Jawab Arini, yang menyetujui dengan adanya perjodohan tersebut. Entah mau apa tidaknya Adit. Itu akan menjadi urusan belakangan.
Maaf gaes baru bisa up βΊοΈπππ author kena sakit Mata kemaren, jadi tidak bisa berlama-lama di depat layar ππππ
Jngan lupa gaes Like, Komen, Hadiah dan Vote nya ππ
__ADS_1