Istri Untuk Ayahku

Istri Untuk Ayahku
Saling Melepas Rindu


__ADS_3

Akhirnya Laura sampai di tempat yang di mana dia akan memulai balas dendamnya kepada Aditya. "Akan kita mulai Mas Adit! Kamu tidak tahu saja sedang bermain-main dengan siapa," ucap Laura yang berbicara sendiri.


Laura mencari tempat tinggal untuk sementara waktu sampai dendamnya benar-benar terbalas, baru Laura akan pulang menemui ayahnya.


Setibanya Laura sampai di kosan kecil yang akan dia tinggali. Laura duduk termenung memikirkan nasib hidupnya yang sekarang ini berbeda dengan dulu. yang hidup dengan bergelimang harta, keluarga yang utuh, serta apa yang dia inginkan selalu dapat terwujud.


Laura memiliki teman sekaligus seseorang terdekatnya, dia yang akan membantu Laura untuk membalaskan dendam kepada Adit. Dia pula yang terus memata-matai Adit beberapa hari belakangan.


Dan Laura mendapatkan kabar, bahwa apa yang harus dia lakukan untuk balas dendam pertamanya. "Aku sudah sampai, kapan kita akan memulainya?" Tanya Laura kepada seseorang yang berada dibalik layar handphone.


"Masih dalam pantauan Laura, kamu tenang saja," jelas sosok Laki-laki yang bernama Herman.


"Baiklah, akan aku percayakan kepada kamu."


"Kalo ada apa-apa kabari saja aku! Jangan merasa sungkan."


"Baiklah, sepertinya aku butuh hiburan."

__ADS_1


"Bukankah hiburan kamu sudah didepan Mata! Kita tunggu saja waktunya."


"Ok baiklah."


Setelah sambungan telepon terputus, Laura tersenyum bahagia. Menunggu kabar kehancuran Adit.


***


"Oh kamu kakak nya Tiara, salam kenal saya Ibu nya Aditya," ucap Arini kepada Tina.


Tiba-tiba Adit datang menghampiri mereka yang masih berdiri di depan apartemen. "Kenapa kalian masih berdiri di sini? Kenapa tidak langsung masuk saja?" Tanya Adit kepada ibunya dan juga Ziel.


"Biar nanti papa jelasin, ya sudah masuk dulu!" Jawab Adit yang langsung membawa mereka masuk ke dalam apartemen miliknya.


Setibanya mereka masuk ke dalam apartemen, saat itu juga Tiara datang menyambut dengan sangat baik hingga Ziel berlari memeluk Tiara dengan sangat erat. "Mamah aku kangen sekali sama mamah," ucap Ziel, yang sangat merindukan Tiara.


"Benarkah sayang? Mamah pun sangat merindukan kamu," jawab Tiara.

__ADS_1


"Ciehh.. berbahagialah kalian, setelah ini tidak ada lagi yang saling merindukan. Yang nantinya harus kamu rindukan itu adalah aku," batin Tina dalam hati, yang berkhayal akan menggantikan sosok Tiara yang menjadi pendamping Adit.


"Apakah sama Ibu, tidak kangen?" Tanya Arini yang datang menghampiri Tiara.


"Assalamualaikum Ibu, maaf aku melupakan Ibu," ucap Tiara, dengan tersenyum manis nya.


"Wa Alaikum Salam, Itu sudah menjadi kebiasaan kalian jika sudah bertemu. jika tahu seperti ini ibu akan dicuekin, tidak perlu datang ke sini," jawab Arini yang terlihat merajuk padahal itu hanya akal-akalannya saja.


"Nenek kan sudah tua! Kenapa tidak mau mengalah dengan aku yang masih kecil sih nenek," ucap Ziel yang terlihat sangat cool dan imut.


"Sudah-sudah  Ziel mandi dulu sendiri, kan sudah besar! Nanti kita makan siang bersama," ucap Adit, yang menyudahi drama konyol mereka.


"Baik Papah," jawab Ziel, dan berlari ke arah kamar ayah nya.


Setelah kepergian Ziel, Adit memandang kearah Tina. Hal itu membuat Tina menjadi kegeeran dan salah tingkah. "Ibu kenalkan dia Tina, Kakak nya Tiara, ISTRIKU," ucap Adit dengan penuh penekanan dengan menyebut kata istri.


"Ibu sudah berkenalan di luar sana tadi Adit, jadi Ibu sudah mengetahuinya dari awal," jawab Arini, dengan nada sedikit ketus.

__ADS_1


Hal itu membuat Tiara sedikit merasa tak enak hati, sebab Tiara sudah membawa sang kakak kedalam rumah nya. Walaupun bukanlah Tiara yang mengajak Tina datang kesini. Melainkan Tina sendiri yang datang, tanpa diundang.


"Dia akan tinggal bersama kami Ibu," jelas Adit yang membuat Tina merasa besar kepala, sedangkan Tiara merasa sangat sedih mendengar jawaban dari suaminya sendiri.


__ADS_2