Istri Untuk Ayahku

Istri Untuk Ayahku
Sah


__ADS_3

Adit, Tiara, Nining, dan juga Asep, menaiki Mobil, untuk segera pergi ke Kantor KUA. Adit akan segera menyelesaikan Pernikahannya hari ini juga. Walaupun nantinya akan ada kesulitan, karena Adit meminta acara Pernikahannya dilangsungkan hari ini juga.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih Satu setengah jam akhirnya Adit, Tiara, dan juga Paman dan Bibinya, sampai di kantor KUA tersebut.


Mereka masuk ke dalam untuk membicarakan pernikahan tersebut. "Permisi apakah saya boleh bertanya? Apakah boleh hari ini juga saya dan calon istri saya untuk dinikahkan?" Tanya Adit, kepada Pegawai Kantor, tersebut.


"Maaf Pak, jika ingin mendaftar pernikahan terlebih dahulu, per lengkapilah data-data dan surat pernikahan. Tidak bisa langsung hari ini juga Nikahnya," ucap pegawai kantor KUA tersebut kepada Adit.


’’Apa ada jalan lain Pak? Karena saya tidak bisa jika menunggu lama, karena saya harus ke Kota bersama dengan calon Istri saya,’’ jawab Adit kepada Pegawai KUA tersebut.


’’Sebentar saya tanyakan dulu kepada atasan saya, apakah boleh hari ini juga diadakan pernikahan dan semua surat akan lengkap dan selesai hari ini juga.’’


Baiklah akan saya tunggu namun saya mohon tolong dipercepat ya Pak karena saya tidak banyak memiliki waktu," jawab Adit.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pegawai KUA tersebut, keluar dan berbicara serius tentang semua urusan dan berkas-berkas yang harus Adit terima dan tanda tangani.


Sebenarnya ini adalah tugas sekretaris Adit, namun Adit tidak ingin memperlambat waktu untuk menunggu sekretarisnya datang ke Kota ini dan Adit tidak ingin banyak-banyak membuang waktu karena bagi Adit Waktu adalah uang yang sangat berharga.


Setelah semua surat dan berkas, Adit dan Tiara tanda tangani. Adit beserta keluarga diminta untuk ke dalam ruangan, karena acara pernikahan akan segera dimulai.


Karena ini adalah pernikahan kedua namun Adit masih merasakan antara gugup dan gemetar. Apalagi ini terbilang sangat singkat, sehingga Adit tidak memiliki persiapan apa pun atau hanya sekedar berlatih saja.


Setelah diberi bantuan agar Adit, tidak merasa gemetar. Acara pun dimulai dan Adit, berjabat tangan kepada Paman Tiara, yang bernama Asep. Sebagai wali Nikah nya. Atau bisa disebut sebagai pengganti Ayah Tiara, yang tidak ada entah kemana. 


Dengan lancarnya membaca Ijab Kabul, kini di depan para saksi dan Pak Penghulu, Adit dan Tiara, sudah sah menjadi sepasang suami dan istri.


Tiara merasa terharu antara sedih dan bahagia Sebab di acara pernikahannya ini tidak ada orang yang spesial seperti Ibu Ayah dan juga kakaknya Entah kenapa nasib Tiara seperti ini.l Namun dalam hati Tiara berdoa agar rumah tangganya kelak diberikan kenyamanan dan kebahagiaan.


Tiara mencium telapak tangan Adit dengan membolak-balikkan, sedangkan Adit mencium kening Tiara dengan waktu yang cukup lama.


Setelah acara selesai, kini Adit berpamitan kepada semua orang yang berada di sana. Adit mengucapkan terima kasih bisa meluangkan waktu untuk acara pernikahannya yang sederhana ini. 


Walaupun sederhana namun bagi Adit, ini sungguh sangat berkesan karena acara tersebut cukup lumayan cepat dan harus selesai dalam waktu 1 hari.


Paman terima kasih sudah mau menikahkan Tiara. Entah bagaimana jika tidak ada paman ungguh Tiara, sangat- sangat berterima kasih," ucap Tiara kepada Asep.


"Ini sudah kewajiban Paman, Tiara. Walau bagaimanapun kamu juga adalah keluarga Paman," jawab Asep.


"Ini tanda terima kasih Paman, sudah mau membantu pernikahan kami walaupun ini tidak seberapa Tolong terima," ucap Adit kepada Asep.


Sedangkan Nining istri Asep sangat bahagia saat melihat beberapa lembar uang yang berwarna merah ada di tangan suaminya. ’Wah tidak sia-sia membantu Tiara, kan memang seharusnya seperti itu. Punya suami orang kaya seharusnya membantu keluarga batin Nining dalam hati.’


Setelah itu mereka semua berpisah. Adit tidak mengantarkan Asep lagi ke Rumah mereka karena Adit tidak ingin ada masalah lagi di desa itu apalagi jika bertemu dengan Tina. Sedangkan Asep bersama istrinya menggunakan angkutan umum untuk pulang ke Rumah.


Saat di perjalanan antara Tiara dan juga adit sama-sama hening, tidak ada satu pepatah pun yang keluar dari mulut mereka berdua. Mungkin Tiara juga merasakan lelah akibat seharian ini tidak ada istirahat.


Adit melupakan sesuatu kalau mereka berdua tidak ada makan siang, apalagi di tempat Tiara Adit hanya minum teh hangat saja yang dibuatkan oleh Tina.


"Tiara Apa kamu tertidur?" tanya Adit kepada Tiara.


"Tidak Mas, aku tidak tidur, Memangnya ada apa? Mas membutuhkan sesuatu," jawab Tiara kepada Adit.


"Tidak, aku hanya ingin mengajakmu ke Rumah Makan saja. Aku melupakan jika kita tidak ada makan siang walau itu sedikitpun. Apakah kamu tidak merasakan lapar tanya Adit lagi kepada Tiara.


"Iya Mas, aku merasa lapar. Cuman aku teringat Ibu. Bagaimana keadaan ibu di sana. Aku lihat ibu seperti tertekan kepada kak Tina, entah apa yang terjadi Ibu tidak ada mengatakan sesuatu kepadaku," jawab Tiara.


"Jangan khuatir masalah ibumu, nanti akan aku bantu."

__ADS_1


"Bantu seperti apa Mas?" Tanya Tiara.


"Nantilah itu urusanku dengan sekretaris, biar dia yang mengurus semuanya. Jadi kita tinggal menunggu laporan saja bagaimana ibu di sana bersama dengan Tina," jawab Adit.


"Terima kasih mas, sudah mau membantuku. Entah bagaimana jika tidak ada Mas," ucap Tiara.


"Itu sudah kewajibanku sebagai suami. Bukankah mulai hari ini kita sudah berstatus sebagai suami dan istri. Bantu aku Tiara agar bisa menjadi suami yang lebih baik dan tidak ada bayangan-bayangan masa lalu lagi di dalam pikiranku," ucap Adit.


"Mas aku tidak pernah ingin berusaha menggeser Ibu Ziel, di hati Mas. Itu semua tergantung hati Mas sendiri jika nanti mas bisa menerimaku seutuhnya sebagai istri mas. Maka cepat atau lambat di dalam hati Mas, juga ada aku tanpa menggeser sedikitpun posisi istri mas dulu," jawab Tiara yang begitu indah didengar oleh Telinga Adit.


Setelah beberapa menit akhirnya Adit dan juga Tiara sampai di tempat Rumah Makan. Mereka berdua memilih tempat duduk yang ada di pojok, karena tempat itu cukup nyaman bagi kalangan seperti Adit.


Adit memesan dua porsi makanan dan beberapa cemilan dan tak lupa juga jus lemon dan alpukat. Karena Adit tahu kalau Tiara itu sangat menyukai buah ataupun jus alpukat.


Setelah datang pesanan mereka, Tiara terkejut karena Adit mengetahui bahwa Tiara menyukai jus alpukat.


"Mas mengetahui Aku suka alpukat? Sejak kapan Mas," tanya Tiara kepada Adit.


"Entahlah, tapi aku mengetahuinya saja, Ya sudah cepat makan biar kita cepat pulang ke rumah."


Memikirkan masalah rumah, Tiara jadi teringat kepada Ayu. Tiara merasa ragu untuk pulang ke rumah tersebut karena Tiara tidak ingin bertemu dengan Ayu. Karena tanpa sengaja, Tiara juga merebut Adit dari Ayu.


Melihat Tiara tidak  mulai memakan, makanannya. Adit menjadi merasa bingung kepada Tiara.


"Kita pulang ke rumah? Ke rumah di Kota Mas? Apa sebaiknya aku tinggal di kosan saja mas," pinta Tiara kepada Adit.


"Hei mana bisa kamu bilang seperti itu, apa kamu lupa kamu itu istriku. Masa iya kamu harus tinggal di kosan. Memangnya ada apa? apa yang sedang kamu sembunyikan kepadaku? Bukankah dari awal kita tidak boleh saling menutup-nutupi masalah! Ceritakan saja Apa yang sedang kamu pikirkan," ucap Adit.


"Mas aku tak berani pulang ke rumahmu, aku tidak ingin bertemu dengan Ayu. Karena tanpa Sengaja aku sudah merebut Ayu darimu," jawab Tiara.


"Mas ini bukan masalah aku takut kepada Ayu, hanya saja aku tidak enak Mas tolonglah Mas mengerti," pinta Tiara.


"Baiklah tidak masalah bagiku, nanti setelah ini kita akan pulang ke Apartemenku saja yang ada di kota itu juga," jawab Adit.


Tidak ingin berbicara lebih lagi, karena ini sudah membatasi wajar. Tiara tidak seharusnya meminta seperti itu. Namun Tiara tidak enak juga dengan Ayu nantinya. Biarlah Ayu berpikir bahwa saat ini Tiara masih berada di Villa.


Setelah merasa cukup kenyang Adit segera membayar tagihan makanan mereka. Tak lupa Adit juga memesan cemilan untuk menemani mereka saat di perjalanan.


Adit melajukan mobilnya untuk segera sampai di kota karena Adit mulai merasa lelah, sebab biasanya Adit selalu membawa Sopir, namun saat ini Adit menyetir sendiri mobilnya.


Tidak Berapa lama akhirnya Adit dan juga Tiara sampai di Apartemen mereka. Karena tidak ingin mengecewakan perasaan Tiara. Akhirnya Adit menyetujui bahwa mulai saat ini Tiara akan tinggal di apartemen.


Setelah mereka masuk Tiara dibuat terkejut dengan indahnya apartemen tersebut.


"Mas apakah ini tidak terlalu berlebihan? Ini sangat besar sekali mas, aku merasa tidak pantas untuk berada di sini," ucap Tiara kepada Adit.


"Tidak apa-apa, ini buat tempat tinggal kita untuk sementara. Nanti aku minta bantuan Evan akan mencari rumah untuk kita tinggal nanti.


"Terima kasih Mas, baru juga sehari Aku menikah, tapi permintaanku terlalu banyak ya Mas kepada kamu," ucap Tiara merasa tidak enak hati kepada Adit.


"Jangan berpikir seperti itu! ya sudah kita ke kamar, aku sudah merasa lelah dan ingin cepat-cepat istirahat," jawab Adit kepada Tiara.


"Kamar Mas? Apa artinya kita satu kamar, Mas serius," ucap Tiara, karena Tiara merasa saat ini hidupnya seperti di dalam Novel Online, yang sering Tiara baca


"Pertanyaanmu itu sepertinya aku sangat kejam sekali kepada istri, seakan-akan aku tidak menerima pernikahan ini. Sudahlah Jangan berpikir macam-macam Kita kan sudah menikah, aku tidak ingin terlalu berlebihan. jalani saja seperti suami istri kebanyakan," jawab Adit.


"Terima kasih Mas, sudah mau menerima segala kekuranganku. Aku merasa mimpi besar telah menikah dengan majikanku sendiri," ucap Tiara.

__ADS_1


"Aku yang berterima kasih, ternyata pilihan Anakku tidak pernah salah, walaupun kamu sebagai Asisten Rumah Tangga saja. Tapi kamu sangat berbeda dengan wanita berkelas lainnya. Terima kasih Tiara, sudah mau menerimaku sebagai suamimu. Mulai saat ini kita sama-sama saling belajar untuk saling melengkapi," ucap Adit kepada Tiara.


***


"Ibu, Tiara tadi kemana? Apa dia masih bersama Bosnya tadi," tanya Tina kepada ibunya.


"Ibu tidak tahu mereka kemana, apa urusanmu mengurusi mereka? Tina kamu sudah besar, tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu terus kepada Tiara. Selama ini kamu selalu mengatur dirinya sampai-sampai dia tidak merasakan seperti remaja pada umumnya," jawab Ibu Tina.


"Ibu kenapa selalu membela Tiara? seakan-akan aku ini anak tiri ibu. Apa Ibu lupa karena Tiara, Ayah jadi pergi meninggalkan kita," ucap Tina, yang merasa tidak terima. Jika Ibu nya selalu membela Tiara.


"Cukup Tina! Jangan pernah kamu salahkan Adikmu terus. Dia tidak salah apa-apa, yang pergi itu Ayahmu sendiri. Tiara tidak pernah salah dalam masalah ini," jawab Ibu Tina, yang merasa kesabarannya sudah mulai habis.


"Ibu selalu saja menutupi alasan semuanya, nyata-nyatanya Tiara lah penyebab semuanya Ibu, kenapa ibu selalu membela dirinya. Ayah pergi meninggalkan kita karena Ayah malu. Ayah tidak ingin memiliki anak seperti Tiara, Ayah itu ingin memiliki anak laki-laki tidak anak perempuan lagi Ib, jelas Tina.


"CUKUP TINA! Jangan pernah membatasi kesabaran ibu! Sudah Cukup selama ini Ibu mengalah kepada dirimu. Tapi jangan harap kali ini ibu akan selalu mengerti. Biarkan Tiara bahagia bersama pilihannya, Jangan pernah kamu mengikut campuri urusan keluarga mereka.


"Ibu jahat sekali, ibu selalu membela Tiara," ucap Tina, yang tidak ingin merasa kalah.


"Ibu tidak pernah membela Siapapun, anak ibu, kamu ataupun Tiara Ibu sama-sama sayang. Ibu tidak pernah membeda-bedakan, yang perlu kamu tahu mau anak laki-laki ataupun perempuan itu semua pemberian Tuhan. Ayahmu tidak pernah bersyukur," jelas Ibu Tina.


"Kenapa Ibu mengatakan Ayah tidak pernah bersyukur? tanya Tina, yang merasa penasaran, seperti ada yang ditutupi Ibu nya.


" Karena Ayahmu pergi bukan karena Tiara, melainkan dia menikah lagi dengan perempuan lain, dan perempuan itu telah memberikan anak laki-laki kepada ayahmu." jelas Ibu Tina, yang sudah habis kesabarannya.


Setelah mendengar kenyataannya, Tina merasa terkejut karena ayahnya telah menikah lagi dengan perempuan lain. ’’ Ibu bercanda kan? Ibu membohongi aku kan. Mana mungkin Ayah menikah lagi Aku tidak percaya itu ibu,’’ ucap Tina yang memastikan Benar apa salah ucapan ibunya.


"Terserah kamu percaya atau tidak kepada ibu, tapi yang perlu kamu ketahui Jangan pernah menyalahkan Tiara, karena di sini semuanya adalah Tiara korbannya, dia menanggung semuanya dan kamu hanya bisa menyalahkan dan mencari kekurangannya."


"Aku tidak pernah ikhlas jika Tiara menikah dengan Tuan Aditya, Kenapa Ibu tidak pernah bicara Kalau Tuan Aditya itu seorang duda? Kenapa dari awal Ibu tidak mengatakan itu, jika tahu seperti itu aku pun juga mau menggantikan ibu saat itu."


"Semua terlambat Tina, dan saat ini kamu harus terima kenyataan itu jangan pernah menjadi duri di dalam keluarga adikmu."


Tina berlari kedalam kamarnya. Tidak terima dengan kenyataan ini semua. Tina tidak ingin jika Adiknya bahagia, sedangkan dirinya selalu menderita. ’’ Tiara tidak boleh bahagia, aku yang harusnya bahagia bersama Tuan Adit, Tunggu saja Tiara, akan kurebut apa yang menjadi milikmu,’’ guman Tina.


***


"Sayang cucu nenek, tadi papah kamu sudah bilang bahwa mereka sudah menikah," ucap Arini kepada Ziel.


"Berarti Papah sudah menikah sama bibi Tiara," jawab Ziel.


"Iya sekarang jangan panggil Bibi lagi! Nanti Jika ketemu panggil mamah jangan Bibi lagi ya," pinta Arini kepada Ziel.


"Oke Nenek, Ziel, sangat senang sekarang Ziel punya ibu baru. Nanti Ziel bilang ke teman-teman kalau Ziel sudah punya ibu yang selalu menemani terus seperti mereka," jawab Ziel.


"Tapi ingat jangan bilang ke siapa-siapa di rumah ini! Kalau Ziel sudah punya ibu baru apalagi ibu itu adalah Bibi Tiara," jelas Arini.


"Kenapa Nenek tidak boleh," tanya Ziel, yang masih belum mengerti.


"Apa kamu mau nanti Bibi Ayu merebut Bibi Tiara dari papahmu," tanya Arini, yang mengompori cucu nya itu.


"Tidak nenek, Ziel tidak mau jika Bibi Ayu merebut Mamah Tiara dari Papah," jelas Ziel, yang merasa tidak terima, jika Ayu akan menggantikan posisi Tiara sebagai Istri Ayah nya.


"Oke sekarang Ziel, harus tidur! Nanti kita ketemu dengan Mama Tiara dengan papah ya," ucap Arini.


"Oke nenek," jawab Ziel.


Maaf  baru bisa up ☺️🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2