
Seperti janji Adit, kemarin hari ini Adit dan juga Tiara, akan berangkat ke kampung halaman Tiara.
Sedangkan Ziel dan juga Arini, mereka berdua akan pulang ke Kota, diantar oleh sopir yang diutuskan oleh Adit. untuk mengantarkan ke kota dengan selamat.
Pagi-pagi sekali Adit dan juga Tiara berangkat tanpa ada sopir, karena bagi Adit hal yang baik tidak boleh untuk diperlambat-lambatkan.
Semalam penuh Adit berpikir bagaimana nantinya membangun rumah tangga baru dengan orang yang juga baru.
Apalagi mereka berdua sama-sama belum mengenal walaupun mereka tinggal satu rumah, namun sikap cueknya Adit membuat Tiara tidak mengetahui bagaimana karakter majikannya itu.
’’Ibu tinggal bersama siapa di rumah?’’ tanya Adit kepada Tiara.
’’Ibu tinggal bersama kakak perempuanku Tuan,’’ jawab Tiara kepada Adit.
’’Kenapa memanggilnya Tuan lagi? Bukankah sebentar lagi aku adalah suamimu? Jadi biasakanlah mulai saat ini Kamu memanggilku dengan panggilan yang seharusnya kamu panggil,’’ perintah Adit kepada Tiara.
’’ Maaf Mas aku sudah terbiasa seperti itu,’’ jawab Tiara yang langsung menundukkan kepalanya ke arah bawah.
’’Baru tahu aku, bahwa kamu juga memiliki kakak. Aku pikir Bi Sum hanya memiliki satu anak yaitu kamu,’’ ucap Adit kepada Tiara.
’’Aku memiliki satu orang kakak, yang kemungkinan umurnya beda 2 tahun dari aku. Namanya adalah Tina,’’ jawab Tiara kepada Adit.
’’Terus kenapa saat itu kamu yang menggantikan Bi Sum? Kenapa saat itu tidak kakakmu saja,’’ tanya Adit kepada Tiara.
’’Aku tidak tahu, Kenapa saat itu kak Tina yang menyuruhku untuk menggantikan Ibu bekerja, mungkin karena saat itu aku baru lulus sekolah jadi kak Tina menyuruhku yang bekerja’’ jawab polosnya Tiara kepada Adit.
’’Terus kakakmu kerja apa?’’ tanya Adit kepada Tiara.
Alasan Adit, banyak bertanya kepada Tiara. Karena sebentar lagi Tiara akan menjadi istrinya, jadi semua yang bersangkutan kepada Tiara itu akan menjadi tanggung jawab Adit. Sebab itu Adit tidak ingin apa yang dia tidak ketahui dan akan dia dengar dari orang lain.
__ADS_1
"Kata Ibu, Kak Tina, tidak bekerja. Namun Kak Tina, selalu ada saja memiliki uang," jawab Tiara, yang membuat Adit merasa sangat penasaran dengan sosok yang sebentar lagi akan menjadi Kakak Ipar nya itu.
"Bagaimana bisa tidak bekerja, tapi bisa menghasilkan uang? Mungkin kakakmu, memiliki bisnis yang tersembunyi," Ucap Adit, yang semakin menjebak Tiara, untuk mengatakan apa yang sangat ingin Adit ketahui.
"Aku, benar-benar tidak tahu Mas, karena Ibu tidak pernah mengatakan apa-apa kepada ku," jawab Tiara.
Tidak ingin terlalu memaksa Tiara, untuk berkata jujur. Adit memilih untuk tidak bertanya lagi daripada nantinya Tiara merasa tidak nyaman saat bersama dengan dirinya.
Hingga berjam-jam lamanya perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh akhirnya Adit dan juga Tiara sampai di kampung halaman Tiara.
Tiara yang sebelumnya sudah mengatakan kepada Ibunya bahwa akan pulang ke rumah. Kedatangan Tiara disambut dengan senang oleh Ibunya, namun tidak dengan Tina yang melihat dengan tatapan kurang suka. hal itu dapat Adit lihat bahwa Tina tidak terlalu menyukai Tiara.
’’Assalamualaikum Ibu,’’ ucap Adit dan juga Tiara bersamaan.
’’Waalaikumsalam Ayo Tuan Adit masuk ke dalam, maaf lo Tuan rumahnya kecil,’’ ucap Bi Sum kepada Adit.
’’Tidak apa-apa Bu saya disambut dengan baik itu juga alhamdulillah,’’ jawab Adit kepada Bi Sum.
’’Ayo Tina, buatkan Tuan Adit, minuman! kenapa kamu diam aja dari tadi?’’ Ucap Bi Sum kepada Tina.
’’Iya Bu,’’ jawab Tina dan segera pergi ke dapur yang meninggalkan Ibu, Tiara, dan juga Adit.
’’Maaf Tuan Adit anak nya memang seperti itu,’’ ucap Bi Sum kepada Adit.
"Tidak apa-apa Ibu, Oh iya Bu kedatangan saya kesini saya ingin melamar Tiara untuk menjadi istri saya dan juga Ibu sambung buat anak saya," Jawab Adit kepada Bi Sum.
"Apa!!!! melamar? Ibu bagaimana bisa Tiara yang duluan menikah sedangkan aku saja belum menikah? Kata orang jaman dulu itu pamali jika Adik terdahulu menikah maka kakak nya akan terlambat menikah," jawab Tina yang baru saja datang dari belakang.
"Maaf Tuan, apakah saya tidak salah dengar anda ingin menikahi Anak saya? Memangnya ada apa Tuan? Apakah anak saya ada salah pada keluarga Tuan," ucap Bi Sum kepada Adit.
__ADS_1
"Sebelumnya saya minta maaf terlalu cepat untuk mengatakan ini kepada ibu, namun saya memang menyukai Tiara sejak lama. Memangnya ada salah jika saya menyukai Tiara, ibu?" Tanya Adit kepada Bi Sum.
Sedangkan Tiara dari tadi Hanya berdiam diri saja, tidak ingin menyela pembicaraan Ibu maupun juga calon suaminya itu.
Namun ada sedikit kekecewaan Tiara kepada Kakaknya, karena menurut Tiara kenapa masalah seperti ini selalu di rumitkan oleh Tina. Bukankah dari dulu Tiara selalu mengalah apapun yang dikatakan oleh Tina, namun sekarang bolehkah Tiara egois untuk melawan kakaknya itu.
Sedangkan Bi Sum, tidak mempermasalahkan siapa yang duluan menikah, dan siapa yang terlambat.
Sebab Bi Sum akhir-akhir Ini mendengar bahwa anak pertamanya itu telah menikah tanpa seizin dirinya, ingin marah pun tak mampu karena Tina orangnya suka marah-marah dan menghukum ibunya tanpa ampun.
Hal itu tidak berani dikatakan kepada Tiara, sebab jika Tiara tahu maka Tiara akan marah besar kepada Tina.
"Tidak ada salah Tuan, hanya saja saya sedikit terkejut dengan pengakuan anda. Kami Orang biasa, orang tak punya, apakah Tuan benar-benar menerima kekurangan anak saya? saya merasa takut jika suatu saat anda akan menyakiti Tiara, bukan saya tidak percaya dengan anda Tuan,k tapi saya seorang Ibu tidak ingin jika anaknya suatu saat nanti menangis hanya karena masalah materi," ucap Bi Sum, kepada Adit.
"Bu masalah ini sudah saya bicarakan kepada Tiara, saya memang benar-benar menyukai dan menyayangi Tiara, selain ini Anak saya juga sangat menginginkan Tiara, sebagai ibu sambungnya. Saya mohon Bu, restui hubungan kami berdua karena saat ini Restu Ibu sangat penting bagi saya," jawab Adit, yang terlihat sangat tulus. dan hal itu dapat Tiara lihat.
"Aku tidak setuju ibu!!! Aku tidak mau jika Tiara yang duluan menikah. Apa kata orang-orang, dan juga teman-teman aku,jika Adikku yang terdahulu menikah daripada diriku," ucap Tina, yang merasa tidak ingin, jika hidup Tiara selalu beruntung daripada dirinya.
"Diam kamu Tina! Bisakah saat ini kamu mengerti Adik kamu, dimana hati nurani
mu dari dulu? dia selalu mengalah apa yang kamu inginkan. Tapi tidak bisa kah saat ini kamu mengalah untuk kebaikan dirinya. Ibu cukup diam dengan sikap kamu selama ini, kenapa kamu selalu membenci Adikmu yang tidak tahu salah dia apa?" ucap Bi Sum, yang sangat marah kepada Tina.
"Aku tidak suka dengan dia, karena dia Ayah pergi meninggalkan kita, karena dia hidup kita selalu miskin dan dihina banyak orang. Bukankah selama ini Ibu tidak pernah sadar bahwa anak yang selalu Ibu banggakan itu adalah anak yang membawa s*al. Apakah kamu ingin juga merasakan kesialan Tuan? Kalau aku sih sarankan lebih baik mundur saja untuk menikahi Tiara daripada keluargamu nantinya akan mendapatkan kesialan," ucap Tina, dengan bangganya mengucapkan itu di depan Ibu dan juga Adit.
"Kenapa Kakak selalu menyalahkan kepergian ayah itu adalah salah aku? Aku bahkan tidak mengetahui kenapa Ayah meninggalkan kita. Bisakah kakak mengerti dan jangan pernah menyalahkan aku Terus? selama ini aku selalu mengalah apa yang kakak mau. Bisakah Kakak anggap aku sebagai adik kakak tidak sebagai musuh," ucap Tiara kepada Tina.
"Itu karena kamu selalu beruntung! Apa yang tidak aku dapatkan selalu kamu dapatkan. Asal kamu tahu Tiara, Bayu yang dulunya pernah aku sukai, cinta pertama aku, dia malah menyukai kamu dia tidak pernah sedikitpun melihat aku," jawab Tina.
"Tapi selama ini aku tidak pernah berhubungan dengan siapapun kak, bahkan kata Kakak aku tidak boleh pacaran pun aku terima. Kenapa Kakak selalu menyalahkan masalah itu? Kenapa Kakak selalu menyangkutkan segala masalah itu ada pada diriku," ucap Tiara, yang mulai meneteskan Air Mata nya.
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu, aku tidak pernah merestui Pernikahan kalian! jika kalian berani menikah tanpa persetujuan aku, maka aku akan menghancurkan rumah tangga kalian, jangan harap kamu bisa bahagia Tiara Ingat itu!" Jawab Tina.
Setelah itu Tina pergi meninggalkan semua orang yang berada di ruangan itu. Adit terdiam melihat sikap kakak Tiara, yang ternyata selama ini merasa iri dengan apa yang selalu Tiara dapatkan. Sedangkan Tiara, Sudah menangis terisak di dalam pelukan ibunya entah bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Adit tanpa restu dari kakaknya.