
Hari ini begitu tidak fokusnya Adit, mengerjakan semua pekerjaan Kantornya. Adit selalu saja terbanyang-bayang akan terjadinya tidur bersama dengan Tiara. Walaupun diantara mereka tidak melakukan yang berlebihan. Namun semua itu sangat berkesan bagi Adit, yang sudah lama tidak bersentuhan dengan yang namanya wanita.
'Kenapa aku selalu memikirkan kamu sih, kenapa kamu pulang kampungnya tidak izin dulu sama aku,' Batin Adit yang merasa tak karuan.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar. Sehingga membuat Adit tersadar dari lamunannya.
Seorang wanita cantik berjalan masuk dan mendekati Adit yang masih duduk di Kursi Kebesarannya.
Wanita tersebut ingin duduk di pangkuan Adit, namun dengan cepatnya Adit menolak dan mendorong wanita tersebut, hingga terjatuh kelantai.
"Awwwww...sakit tau Mas Adit. Kenapa sih kamu itu tidak pernah lemah lembut kepada wanita? Coba Mas Adit lihat dengan jelas! Aku ini cantik, Sexsi, Tinggi, terus apa yang kurangnya dari aku?" Ucap Mora, yang datang ke Kantor, untuk mencoba menggoda Adit, agar saat pemilihan Sayembara nanti, Mora dapat dipilih oleh Adit.
Namun kenyataannya Adit bukanlah sosok Laki-laki yang mudah di rayu, ataupun mudah tergoda oleh wanita-wanita Sexsi.
Tiba-tiba datanglah Evan bersama dengan Dua orang Security, yang datang terlambat.
"Maaf Tuan, kami kecolongan." Ucap Evan, yang merasa sedikit bersalah kepada Adit.
__ADS_1
"Iya Tuan, maafkan kami. Karena Nona Mora datang dengan penyamaran seperti seorang pegawai Kantoran." Ucap Scurity tersebut.
Adit mengusap Muka nya dengan menggunakan kedua belah Tangan, karena Adit merasa sangat terganggu dengan kedatangan Mora, yang saat ini.
"Lain kali harus ketat lagi menjaga keamanan! Aku tidak ingin kejadian ini akan terulang kembali. Kalian sangat ceroboh, hanya menjaga satu wanita seperti ini saja." Jawab Adit kepada Asistennya dan juga ke Dua Scurity tersebut.
"Maafkan kami Tuan," Ucap Evan dan ke Dua Scurity itu.
"Cepat bawa dia! Aku tidak ingin dia berlama-lama ada di ruangan ini," Pinta Adit, yang tidak ingin dibantah oleh siapapun.
"Mas Adit, kamu jangan seperti ini! Aku mohon Mas pilih aku dalam Sayembara itu. Aku akan menjaga dan merawat Ziel, seperti anak ku sendiri." Ucap Mora, dengan wajah yang memohon. Agar dirinya menang dalam Sayembara tersebut.
Dengan terpaksa Mora meninggalkan Ruangan Kantor milik Adit. Karena tidak ingin rencananya menjadi Nyonya Wiranata, akan gagal dan dimiliki oleh wanita lain yang akan memenangkan Sayembara tersebut.
'Aku tidak boleh egois saat ini, aku harus menjadi pemenang Sayembara tersebut. Dan akan menjadi Nyonya Wiranata Satu-satunya,' Batin Mora dalam hati.
"Baiklah aku akan pulang, tapi kamu harus memilih aku Mas Adit! Aku akan berubah seperti apa yang Mas Adit inginkan." Jawab Mora dan berjalan keluar untuk meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Setelah Mora sudah keluar dari Ruangan miliknya. Disana hanya ada Adit dan juga Evan.
"Kedepannya aku tidak ingin kejadian seperti ini terjadi lagi! Jangan sampai lengah karena musuh-musuh perusahaan akan bergerak untuk menghancurkan perusahaan ini." Pinta Adit, kepada Evan. Dan hal tersebut Evan anggukan kepala, pertanda dirinya akan lebih berwaspada setelah ini.
"Baik Tuan. Apa Tuan butuh informasi tentang Nona Mora yang sekarang ini?" Ucap Evan, kepada Adit.
"Boleh, jangan lewatkan sedikitpun! Aku ingin tahu, apa yang dia inginkan dalam Sayembara ini. Dan secepatnya hari ini juga bukti itu terkumpul!" Jawab Adi, yang harus dilaksanakan oleh Evan sekarang juga.
"Baiklah Tuan, kalo begitu saya permisi dulu." Pinta Evan, untuk segera menyelesaikan tugas yang di perintahkan oleh Adit.
Saat Evan melangkah ingin memegang handel Pintu, tiba-tiba Adit berucap, sehingga Evan menghentikan langkahnya.
"Luangkan waktumu untuk mencari Istri Evan! Jangan betah dalam kesendirianmu." Ucap Adit yang di sertai gelak tawanya.
Sebelum melangkahkan Kaki nya keluar, tanpa berniat untuk menengok kearah belakang "Bagaimana bisa aku meluangkan waktu untuk mencari jodoh, sedangkan mengurus hidupmu saja kerjaanku belum selesai." Jawab Evan, dan melajukan jalannya sehingga Evan tidak mendengarkan lagi gerutuan dari Adit.
'Si*lan Evan, kamu pikir aku betah dengan kesendirian ini,' Gerutu Adit, yang melangkahkan Kaki nya untuk menuju Kamar peribadinya itu.
__ADS_1
Sejenak Adit mengistirahatkan tubuhnya ini. Karena semenjak Ibu nya mengadakan Sayembara ini, hidup Adit merasa tidak tenang, apa lagi hanya sekedar untuk beristirahat.
'Ibu, aku harus bagaimana? Aku tidak ingin kali ini salah memilih.' Batin Adit dalam hati, dan seketika Mata nya terpejam mengarungi mimpi indah.