
BAB 11.
*** Istriku Bocah SMA***
"Memang lagi Syantik, tapi bukan sok Syantik.... Syantik, syantik gini. Hanya untuk dirimu....."
"Stop!! Risa bisa tidak sih diam sebentar. Aku lagi mikir nih." ucap Satya kesal karena sejak tadi Risa bernyanyi menirukan lagu yang di putar radio mobil Satya.
Risa cemberut menatap Satya tidak suka namun hanya sekejap karena tiba tiba ia tersenyum jahil. "Kenapa? Mikirin Risa ya?"
Satya menatap Risa dengan datar, karena benar apa yang risa ucapkan. Satya sedang memikirkan Risa, tapi nggak mungkin kan Satya jujur. Gengsi dong!
"Tidak!! Pede banget kamu, ngapain juga aku mikirin kamu." ucap Satya.
Risa mendengus. "Ya terus."
Satya menghela nafas panjang. "Si Alya---
"Kenapa sama nenek sihir itu?" tanya Risa memotong ucapan Satya tidak suka. Risa tidak suka dengan perempuan yang katanya sekertaris Satya itu karena udah berbicara yang tidak tidak tentangnya saat itu.
Satya menatap Risa sekilas lalu kembali fokus menyetir, saat ini mereka memang sedang dalam perjalanan kerumah orangtua Satya. Risa setuju di ajak pindah kerumah orang tua Satya, padahal mah Satya berharap bahwa Risa akan menolak tapi malah mengiyakan asalkan dengan syarat semua hewan peliharaan Risa dibawa dan kedua orang tua Satya pun tidak keberatan akan hal itu.
"Namanya Alya." ucap Satya.
Risa menatap Satya tidak suka. "Bodo amat dah mau namanya Laya kek Sobirin kek, bagiku dia itu nenek sihir!" gerutu Risa.
Satya hampir saja tertawa mendengar gerutuan Risa, namun sekuat tenaga dia menahan tawanya. "Hmm"
Satya berhedem karena merasa seperti ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya.
"Terus ngapain kakak mikirin nenek sihir itu?" tanya Risa.
"Hmm itu---
"Jangan jangan kakak tidak mau ada orang yang tahu tentang pernikahan kita selain memang mereka yang sudah tahu karena kakak punya hubungan sama nenek sihir itu nya?" tanya Risa mulai menuduh Satya.
Satya menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu, aku mikirin Alya karena pasti nanti dia bakalan ngomel kayak emak-emak karena aku melimpahkan semua pekerjaan ku kepadanya... Liat, tuh dia udah ngoceh ngoceh pake WA." ucap Satya memberikan ponselnya pada Risa.
Risa pun langsung memutar rekaman yang Alya kirim lewan aku WA dan langsung meringis saat mendengar suara Alya yang berbicara dengan nada kesal dan panjangnya hampir lima belas menit itu. Tidak sampai habis Risa kembali menyodorkan ponsel Satya.
"Denger kan? Dia kalau ngomel ngalahin emak-emak arisan." ucap Satya.
__ADS_1
"Ya serem juga ya ternyata nenek sihir kalau marah. Ingetin aku supaya tidak buat dia marah ya kak." ucap Risa.
"Heh, kenapa? Takut?" tanya Satya bertepatan dengan mobil yang berhenti karena sudah sampai di rumah kedua orang tuanya.
Risa mendengus lalu keluar dari mobil Satya.
"Wahh rumahnya besar banget!" seru Risa berlari menuju pintu Utama.
Satya mendengus melihat tingkah Risa.
"Risa, Satya." ucap Stella antusiasme melihat kehadiran Satya dan Risa. Kedua orang tua Satya ternyata sudah menunggu mereka di pintu utama.
"Ayo masuk, kalian pasti capek." ucap Setiawan.
"Terima kasih ya Risa udah mau tinggal bareng Mama." ucap Stella menggandeng Tangan Risa masuk kedalam rumah.
Satya dan Setiawan hanya mengikuti langkah mereka dari belakang.
"Duduk, kamu mau minum apa? Mama buatin?" tawar Stella.
Risa menggelengkan kepalanya pelan. Bagaimana pun Risa masih agak canggung dengan kedua orang tua Satya.
Risa mengangguk. "Bagus, kalau begitu ayo bantu Mama buat kue." ucap Stella.
"Ma, Risa pasti capek. Dia baru aja sampai." ucap Setiawan.
"Tidak kok Pa, Risa mau kok... Ayo Ma kita buat kue." ucap Risa dengan senyuman lebarnya.
Stella tersenyum senang dan membawa Risa menuju dapur.
Setiawan dan Satya ikut tersenyum melihat keakrapan antara Risa dan Stella.
"Maaf pak, itu hewan peliharaan Nona Risa mau di taruh dimana?" tanya seorang tukang kebun dirumah Setiawan.
"Oh bawa saja ke samping rumah." ucap Setiawan, yang memang sudah menyiapkan tempat untuk semua hewan peliharaan Risa.
Pria paruh baya itu menatap Tuannya dengan kikuk... "Maaf Tuan, kami tidak berani membawa yang satu itu."
"Oh kalau yang itu biar Risa nanti yang bawa pak, bapak urus yang lain saja." ucap Satya yang sadar bahwa Robinson-hewan kesayangan Risa yang satu itu tidak mau nurut dengan orang lain selain dirinya-.
"Baik pak." ucapnya lalu berlalu dari hadapan kedua Tuan-nya.
__ADS_1
"Robinson hanya nurut sama Risa, Pa." ucap Satya saat Setiawan menatapnya penuh tanya.
"Dan aku harap Papa tidak lupa menyiapakan kandang untuk yang satu itu." lanjut Satya.
"Tenang saja, Papa udah nyiapin apa yang kamu minta. Semuanya." ucap Setiawan.
"Aku harus kasih tahu Risa untuk membawa Robinson ke kandangnya." ucap Satya.
Setelah Satiawan mengangguk, Satya langsung berjalan kearah dapur.
Setiawan memandang dapur dari tempatnya berdiri dengan senyuman lebarnya dan berharap jika kebahagiaan ini bukan hanya sesaat. Dia sepertinya harus melakukan sesuatu agar kebahagiaannya itu tidak ada yang menganggu.
Satya yang telah berada di area dapur tersenyum melihat istri dan Ibunya tercanda dan tertawa bebas. Sudah lama Satya tidak melihat tawa Ibunya dan tawa Risa yang baru untuknya. Sungguh sangat cantik kedua perempuan itu.
"Hmm, Risa." Satya berdehem menghentikan tawa Stella dan Risa.
"Ada apa Satya?" tanya Stella.
"Maaf Ma, sepertinya aku harus pinjam Risa sebentar." ucap Satya, sebenarnya tidak enak karena mengganggu kegiatan mereka. Tapi mau bagaimana lagi, Satya tidak mau sok akrab dengan Robinson karena dia adalah monster yang sesungguhnya!
"Mau kemana?" tanya Stella tidak suka.
"Maaf Ma, hanya sebentar saja. Robinson akan mengamuk jika bukan Risa yang membawanya ke kandang." jelas Satya.
Stella menatap Risa. "Maaf Ma, sepertinya Risa memang harus pergi. Soalnya Robinson hanya nurut sama Risa." ucap Risa tidak enak.
Stella menghela nafas panjang. "Baiklah, tapi hanya sebentar ya."
Risa mengangguk. "Tentu saja."
Satya dan Risa pun langsung berjalan meninggalkan Stella yang terus menatap kearah mereka hingga hilang dari pandangannya.
"Jangan khawatir, mereka tidak akan pergi... Risa akan tinggal disini kan? Risa milikmu sekarang. Risa anakmu Stella." ucap Setiawan yang entah sejak kapan sudah ada di samping Stella.
Stella menatap Setiawan dengan senyuman lebarnya. "Makasih ya, kamu udah mau nurutin kemauan aku."
"Apapun untuk kamu." balas Setiawan.
.
Maaf bila masih menemukan adanya typo.
__ADS_1