
BAB 14.
*** Istriku Bocah SMA ***
"Astaga! Bang Reno ngelamar Risa?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Apanya?" tanya Reno balik karena bingung dengan jawaban Risa.
"Kenapa Bang Reno ngelamar Risa?" tanya Risa, ia meletakkan sendok dan garpu pada piring lalu fokus menatap Reno.
Reno yang mendapatkan tatapan seperti itu dari Risa menjadi salah tingkah sendiri. Setelah berdehem beberapa kali untuk menetralkan tenggorokannya yang terasa seperti ada sesuatunya yang nyangkut. Reno akhirnya buka suara juga.
"Karena Aku cinta sama kamu." ucap Reno menatap mata Risa dengan penuh kenyakinan.
"Sejak kapan?" tanya Risa penasaran.
"Uh itu sejak saat pertama kali kita bertemu di rumah." ungkap Reno.
Risa memang suka main ke rumah Reno karena Mela adik Reno adalah sahabat Risa.
Risa mendelik. "Cinta pandangan pertama?" tanya Risa lagi.
Reno mengangguk. Masih dag dig dug ini sebenarnya Risa mau nerima dia atau tidak sih, kenapa malah nanya panjang panjang kan tambah gugup!
"Bang Reno percaya sama Cinta Pandangan pertama?" tanya Risa lagi.
Reno kembali mengangguk. "Percaya, Karena Aku sendiri sedang mengalaminya."
"Wahh berarti bukan cuma Aku yang percaya kalau cinta pandangan pertama itu memang ada... Bang Reno juga." ucap Risa dengan mata yang berbinar binar senang.
Hal itu menambah kebingungan dalam diri Reno. Jadi dari pada bingung Reno pun memutuskan untuk bertanya lagi.
"Jadi Risa mau tidak menjadi istriku?" Tanya Reno.
Risa nyengir lebar. "Duh bagaimana ya, Risa bingung nih."
"Bingung kenapa?" tanya Reno tak kalah bingung.
"Boleh tidak sih satu perempuan punya dua suami?" tanya Risa seraya nyengir lebar.
"Hah!"
"Habis bang Reno juga ganteng sih, walau masih gantengan dia." ucap Risa dengan Senyuman lebar tanpa dosanya. Membuat Reno melongo bingung.
*** Istiku Bocah SMA ***
Brak!!
Satya menggebrak meja ruang meeting dengan kencang membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkaget. Ada juga yang latah menyerukan kata kata tidak senonoh.
Satya meringis saat sadar jika dirinya sedang meeting dan menjadi pusat perhatian karena ulahnya yang tiba tiba memukul meja lantaran kesal dengan pemikirannya sendiri.
"Maaf, tadi ada lalat." ucap Satya beralasan membuat semua yang ada diruangan itu mengangguk walau tidak yakin.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan meeting yang menurut Satya sangat lama itu, ia langsung meninggalkan para klien dan bergegas mencari Risa.
Sejak tadi pikirannya tidak tenang mikirin Risa dan Satya tidak mau ada sesuatu yang buruk terjadi pada Risa atau malah hal buruk yang Risa dan Reno lakuin.
Satya mendengus kesal lalu menelfon Risa karena tidak menemukan jejak Risa dan Reno di restoran yang Risa sebutkan tadi.
"Hallo."
"Kamu dimana? Aku di restoran yang kamu maksud."
"Ngapain? Kangen ya sama Risa... Cieee cieee hahhaaaa."
Satya mengacak rambutnya frustasi, inilah salahnya karena menikah dengan bocah macam Risa!
"Kamu dimana?"
"Di hatimu."
"Risa aku serius kamu dimana?" tanya Satya lagi seraya menggertakkan giginya kesal.
"Risa juga serius."
Satya menghela nafas panjang agar rasa kesal nya sedikit hilang, setelah itu dia kembali bertanya pada Risa.
"Risa... Jawab yang benar, kamu sekarang dimana?" tanya Satya.
"Aku di kantor."
Satya mengerutkan dahinya bingung. "Kantor mana?"
"Papa tadi nyuruh aku ke kantor, suruh tandatangan tidak tahu deh apa yang harus di tandatanganin."
"Sendiri, tadinya mau bareng Bang Reno. Tapi tidak jadi karena dia ada urusan."
"Papa ngapain sih nyuruh kamu ke kantornya?"
"Kan aku sudah bilang tadi, aku di suruh tanda tangan."
"Ya tapi, tanda tangan buat apa?"
"Ya mana Risa tahu, kan Risa belum ketemu papa kamu."
"Ahh ya udah ya, itu papa kamu udah datang... Bye Satya, i lope yu."
"Tanda tangan untuk apa sih?" ucap Satya bingung.
Lalu ia pun memutuskan untuk datang ke kantor Papa-nya.
*** Istriku Bocah SMA ***
"Pa ini surat apa sih, Risa tidak mengerti deh?" tanya Risa bingung pada Setiawan.
"Baca dong Risa." Ucap Setiawan
"Males ahh banyak sekali dan kecil kecil lagi." ucap Risa.
Setiawan tersenyum karena Risa tidak bersikap seperti awal bertemu.
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak mau langsung tanda tangan saja." balas Setiawan.
"Ya deh." ucap Risa lalu menandatangani kertas kertas itu tanpa membacanya terlebih dulu.
"Terima kasih, Risa... Papa sayang kamu. Papa pergi dulu ya, ada urusan.... Satya sebentar lagi dateng kok." ucap Setiawan membereskan kertas yang sudah ada tanda tangan Risa. Sebelum pergi Setiawan mencium kening Risa penuh sayang dan kelembutan.
Risa hanya diam karena bingung, sampai Satya datang pun Risa masih saja diam.
"Risa kamu kenapa kok bengong."
"Eh kamu kapan datang?" tanya Risa saat melihat Satya berdiri di hadapannya.
"Papa mana?" tanya Satya balik tanya.
Risa mendengus kesal karena pertanyaannya malah di balas pertanyaan oleh Satya.
"Pergi barusan. Ada urusan penting katanya." balas Risa acuh lalu berdiri dan berjalan Meninggalkan Satya.
"Urusan apa?" tanya Satya bingung.
"Mana aku tahu." balas Risa seraya menhendikkan bahunya acuh.
"Oh ia, tadi kamu di suruh tanda tangan apa sama Papa?" tanya Satya lagi.
Risa yang telah memasuki lift di susul oleh Satya itu kembali mengendikkan bahunya acuh. "Mana aku tahu."
Satya mengeryit heran. "Loh katanya kamu kesini karena di suruh tanda Tangan?"
"Iya, tapi aku tidak tahu itu kertas apa. Tulisannya kecil banget dan banyak banget jadi males bacanya." ucap Risa santai.
"Jadi kamu tanda tangan tanpa membaca itu kertas apa?" tanya Satya tidak percaya.
Risa mengangguk bertepatan dengan pintu lift yang terbuka di lantai dasar.
"Ya Tuhan! Risa bagaimana bisa kamu melakukan itu?!" ucap Satya.
Risa terus berjalan kearah motornya terparkir. "Kenapa sih? Dia itu papa kamu, dia tidak akan mencelakain aku hanya dengan tanda tangan itu."
Satya mendengus dan mengacak acak rambutnya kesal. Sepertinya dia harus mencari tau sendiri untuk apa Papanya meminta tanda tangan Risa.
"Risa pulang bareng aku saja." ucap Satya saat Risa mulai mengenakan helm.
Risa pun menggelengkan kepalanya. "Tidak!"
"Ya sudah kalau begitu aku yang pulang bareng kamu." ucap Satya ikut naik motor Risa.
Risa terdiam saat melihat Satya yang ikut duduk di jok belakang motornya.
"Kak Satya ini kayaknya ke balik deh." ucap Risa lalu kembali membuka helmnya.
Satya menggelengkan kepalanya. "Tidak lah."
"Iya lah. Seharusnya kan kamu yang bawa motornya, bukan Aku." ucap Risa lalu hendak turun dari motor namun di tahan Satya dengan memeluk pinggang Risa.
"Sudah deh kamu kendarain saja motornya, biar aku yang peluk kamu begini. Kan romantis."
'Ye ke balik ****!'
__ADS_1
Maaf bila masih menemukan adanya typo.