
BAB 36.
*** Istriku Bocah SMA ***
[Risa Diandra]
Awalnya aku hanya memejamkan mata pura pura tidur, namun Aku malah tertidur beneran. Sampai malam harinya Aku baru bangun karena Satya yang membangunkan aku.
"Risa bangun dulu, Kamu harus makan." Ucap Kak Satya lembut.
"Kak Satya ini jam berapa sekarang?" tanyaku dengan suara puaru khas bangun tidur.
"Sudah jam tujuh malam." ucap kak Satya.
"Aku mau ke kamar mandi sebentar." ucapku.
"Ayo aku antar." ucap kak Satya.
"Risa bisa sendiri kok." ucapku.
"Tidak apa-apa, Aku akan menunggumu di luar." ucap kak Satya.
Dia membantuku berdiri dan membawakan tabung infusku.
Aku membiarkan kak Satya membantuku sampai kamar mandi, setelah itu kak Satya pun keluar kamar mandi dan menungguku di luar.
Aku menatap pantulan diriku di cermin kamar mandi, terlihat sangat mengenaskan dengan bintik merah di seluruh badan.
Kak Satya pasti jijik melihatku seperti ini, bahkan Aku pun merasa jijik sendiri melihat diriku sendiri.
Apa kak Satya akan pergi meninggalkan aku setelah ini?
Aku menghela nafas, lalu mencuci muka dan gosok gigi dengan sikat seadanya.
Setelah selesai, Aku pun keluar kamar mandi.
"Hati hati." ucap kak Satya kembali membantuku kembali ke ranjang.
"Sekarang kamu makan dulu, terakhir kamu makan waktu pagi, pasti sekarang kamu lapar." ucap kak Satya. Memang benar, terakhir kali Aku makan saat makan pagi, tapi saat ini aku sana sekali tidak merasakan lapar.
"Kak."
"Aku akan menyuapi kamu makan." ucap kak Satya.
"Ayo makan."
__ADS_1
Kak Satya menyodorkan sesuap nasi dan lauk ke depan mulutku, mau tidak mau aku pun menerimanya.
"Aku minta maaf, karena Aku kamu jadi alergi begini." ucap kak Satya.
Aku menggelengkan kepala pelan. "Ini bukan salah kak Satya, Aku yang salah karena tidak ingat jika aku punya alergi."
"Eh alergi? Memangnya aku alergi apa kak?" tanyaku.
"Cumi Cumi, tadi pagi Mama membuat Nasi goreng cumi cumi." ucap kak Satya.
"Aku bahkan tidak ingat jika aku punya alergi cumi cumi." ucapku menunduk.
"Pasti kak Satya jijik melihatku penuh bintik kan?" lanjutku, Aku tidak berani menatap kak Satya.
Namun kak Satya mengangkat wajahku, agar bisa menatapnya. "Kamu bicara apa sih? Aku itu cinta sama kamu apa adanya, bukan karena kamu cantik. Jadi seperti apapun kamu, Aku tidak akan pernah jijik sama kamu."
Aku menatap matanya, mencoba mencari kebohongan disana. Namun tidak ku temukan, hanya ada kejujuran yang tersirat dari wajah tampannya.
"Tapi-,
"Risa, percaya padaku. Bahwa aku hanya mencintai kamu seorang dan tidak akan pernah meninggalkan kamu apapun yang terjadi."
"Tapi Aku jelek kak."
"Tapi-,
"Ssttt tidak ada kata tapi, Oke." ucap kak Satya kembali memotong ucapanku.
Malam ini setelah aku menghabiskan makan malamku, Aku pun kembali tidur setelah minum obat dan kak Satya pun ikut tidur di sebelahku dan memeluk erat pinggangku.
Aku merasa bahagia karena di cintai oleh kak Satya, walaupun banyak bintik di tubuhku, tapi kak Satya tetap mencintaiku.
Aku harap aku pun bisa seperi kak Satya, seperti apa pun kondisi kak Satya, Aku akan terus mencintainya.
Pagi harinya aku bangun sudah siang, sekitar pukul sembilan. Kak Satya kembali menyuapiku makan, walaupun aku bisa makan sendiri. Tapi kak Satya memaksaku untuk di suapi olehnya, siang hari pun kak Satya kembali menyuapiku.
Malam harinya kak Revano datang bersama kekasihnya dan Aku lumayan terkejut saat melihat kekasihnya itu adalah Kanaya, teman baru di kampusku.
"Risa, bagaimana kamu bisa seperti ini?" tanya kak Revano.
"Hah seharusnya Aku mengatakan padamu bahwa kamu alergi terhadap cumi cumi." lanjut kak Revano terlihat menyesal.
Saat ini Satya tengah pergi pulang untuk membersihkan diri, awalnya kak Satya tidak mau pulang, tapi setelah di paksa kak Revano, kak Satya pun mau pulang.
"Ini bukan salah kakak, Aku yang tidak ingat jika aku punya alergi terhadap cumi cumi." ucapku.
__ADS_1
"Jadi kamu beneran pacaran sama kakakku?" lanjutku bertanya pada Kanaya.
"Hmm Iya, Aku bahkan tidak tau jika kau adalah adiknya Revano." ucap Kanaya.
"Kakak senang karena kamu sudah mengenal Kanaya." ucap kak Revano.
"Jadi apakah aku harus mulai membiasakan diri memanggilmu kakak Kanaya?" tanyaku.
"Yah sepertinya kamu memang harus mulai memanggilnya kakak, Risa. Agar nanti jika kami menikah, kamu sudah terbiasa." ucap Kak Revano.
"Menikah? Kalian sudah akan menikah?" tanyaku.
Kak Revano tersenyum lebar. "Tentu." balasnya.
"Tapi Kanaya bahkan masih kuliah." ucapku menatap Kanaya yang tersenyum malu malu.
"Ya kan tidak sekarang Risa, tapi nanti jika Kanaya sudah lulus kuliah tentu saja." ucap kak Revano.
"Kanaya, kenapa kami suka kak Revano yang umurnya berada di atas kamu?" tanyaku.
"Kamu sendiri kenapa suka kak Satya? padahal umur kalian berpaut jauh?" tanya Kanaya.
Aku mendengus sebal dan kak Revano pun tertawa.
"Ck!"
Walaupun aku baru kenal dengan Kanaya, tapi aku yakin bahwa dia adalah perempuan yang baik. Dan aku juga ikut bahagia melihat kak Revano menatap Kanaya penuh cinta.
Uh hal itu jadi mengingatkan Aku pada kak Satya yang menatapku penuh cinta. Hmm kenapa Aku jadi merindukan kak Satya ya? padahal kami sudah bersama seharian, kak Satya bahkan sampai tidak kerja karena harus menjagaku.
"Risa kami pulang dulu ya, kamu tidak apa apa kan kami tinggal sendirian. Kak Satya bilang dia sudah hampir sampai kok." ucap kak Revano pamit. Dia masih saja memanggil kak Satya dengan sebutan kak, mungkin tidak enak jika memanggil kak Satya hanya dengan menyebutkan namanya saja karena umur kak Satya jauh berada di atas kak Revano.
"Aku tidak apa-apa kak, kalian hati hati." balasku.
Kak Revano mencium keningku sebelum pergi menggandeng tangan Kanaya, ah sepertinya Aku harus mulai memanggilnya Kak Kanaya agar tidak canggung saat mereka menikah nanti.
***TBC.
Terima kasih sudah membaca sampai sini ;)
Jangan lupa, like dan bagi poin yah, favoritkan juga cerita ini yah.
Dan kalau minat kalian bisa mampir kecerita Aku yang lain, Ada BAD , Not a Dream Wedding, Cerpen A dan P, dan chat story Teka Teki Sulit
Teima kasih*** ;)
__ADS_1