Istriku Bocah SMA

Istriku Bocah SMA
Episode 24. Risa merasa tidak enak


__ADS_3

BAB 24.


*** Istriku Bocah SMA ***


Makan Malam.


"Risa nanti mau masuk kampus mana?" tanya Papa Setiawan.


Risa menatap Ayah mertuanya. "Kampus?"


"Ya, kamu tidak berpikir untuk tidak kuliah kan?" tanya Papa Setiawan.


"Hmm, Risa belum kepikiran mau masuk kampus mana Pa." ucap Risa.


"Pa, biarkan Risa istirahat dulu." ucap Satya.


"Risa sudah ketinggalan enam bulan pelajaran, dia harus cepat mencari kampus mana yang akan dia masuki." ucap Papa Setiawan.


"Pa, benar kata Satya. Biarkan Risa istirahat dulu, tidak perlu buru-buru." ucap Mama Stella.


"Hmm baiklah, beritahu Papa nanti jika sudah memutuskan mau masuk kampus mana." ucap Papa Setiawan.


Risa mengangguk. "Baik Pa."


"Pa, Satya bisa membantu Risa. Jadi Papa jangan khawatir." ucap Satya.


Papa Setiawan menatap Satya dan menghela nafasnya. "Baiklah."


Tidak ada pembicaraan lagi hingga makan malam usai.


"Risa, tidak perlu. biarkan para pelayan yang membereskan meja makan." ucap Mama Stella melarang Risa yang akan membantu para pelayan membereskan meja makan.


"Tapi Ma."


Risa merasa tidak enak jika habis makan dan meninggalkannya begitu saja. Dia merasa itu kurang sopan melakukan hal itu di rumah mertuanya.


Mama Stella tersenyum. "Tidak apa-apa Risa, jangan sungkan. Anggap Mama ini seperti Mama kamu sendiri." Ucap Mama Stella.


Risa menunduk, dia tidak tahu harus berkata apa. Jika saja dia tidak lupa ingatan, dia pasti tidak akan merasa canggung seperti ini.


Mama Stella yang melihat itu langsung menghampiri Risa dan memeluk menantunya itu.


"Maafin Risa Ma." ucap Risa lirih.


"Sayang, kamu tidak perlu minta maaf. Tidak ada yang salah di sini oke, semua terjadi karena kecelakaan." ucap Mama Stella, walau sebenarnya beliau agak terganggu dengan nada biacara Risa yang terkesan kaku dan tidak seperti dulu.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu naik ke atas dan istirahat, nanti Satya menyusul." ucap Mama Stella dan melepas pelukannya.


Risa mengangguk dan mulai melangkah meninggalkan ruang makan. Mama Stella mengamati langkah kaki Risa yang naik ke lantai atas, cara Risa berjalan pun sudah beda' pikir Mama Stella.


Dulu Risa terkesan masih bocah sekali dan sekarang semua serba perhitungan. Jika dulu Risa tidak pernah peduli dengan langkah apa yang dia ambil, maka sekarang Risa selalu berpikir ulang untuk mengambil langkah.


'anak itu berubah menjadi dewasa, kenapa aku lebih suka yang dulu. Bebas, tanpa memikirkan sopan santun.' Pikir Mama Stella.


Risa sendiri memasuki kamarnya, ia duduk di tepi ranjang dengan gelisah. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, waluapun Mama Stella menyuruhnya istirahat, tapi Risa merasa tidak enak jika tidak melakukan apapun. Dia takut di anggap sebagai menantu tidak berguna karena tidak berbuat apapun.


Di tengah kegelisahannya, Satya masuk ke dalam kamar.


"Risa ada apa?" tanya Satya, ia menghampiri Risa yang duduk gelisah di tepi ranjang.


Risa menatap Satya. "Aku-aku tidak tahu harus berbuat apa." ucap Risa lirih.


"Risa, jangan sungkan. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, jangan takut akan ada yang marah. Karena itu tidak akan terjadi." ucap Satya, ia tersenyum dan mengusap lembut kepala Risa.


Risa menatap Satya yang tersenyum tulus padanya. "Hmm bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Risa ragu.


Satya ikut duduk di pinggir ranjang, kini mereka sama sama duduk di sisi kanan ranjang dan saling tatap.


"Kamu mau apa? katakan saja?" tanya Satya, ia senang jika Risa minta sesuatu padanya. Apapun itu pasti akan dia berikan, dia tidak mau Risa menganggapnya pelit. Dulu saat Risa belanja dengan uangnya saja, masih bisa mengatakan dirinya pelit.


"Hmm aku ingin membeli baju... Hmm maksudku, aku tidak nyaman menggunakan pakaian seperti ini, menurutku ini terlalu terbuka dan dan yeah kamu taulah." jelas Risa panjang lebar.


"Segampang itu?" tanya Risa.


"Memangnya kenapa? kamu dulu bahkan sudah sering membelanjakan uangku." ucap Satya.


"Uhm maaf, apakah dulu aku boros." Ucap Risa, ia menunduk.


"Tidak." ucap Satya seraya menggelengkan kepala.


Risa kembali menatap Satya. "Hanya suka menghabiskan uang dengan belanja barang tidak penting." ucap Satya.


"Maaf."


Satya berdecak karena Risa terus minta maaf. "Kenapa kamu terus minta maaf, aku saja tidak pernah masalah dengan berapapun uang yang kamu pakai."


Satya masih ingat, dulu saat mereka tinggal di apartemen, Risa sering belanja dengan Mella. Walaupun tidak banyak, tapi yang dia beli barang mahal dan belum lagi Mella juga dia belikan.


"Apakah aku dulu sangat bar bar?" tanya Risa.


"Hmn ya lumayan." ucap Satya mencoba mengingat bagaimana Risa dulu.

__ADS_1


Satya tertawa kecil saat mengingat kelakukan Risa dan dirinya, entah apa yang dia tertawakan. hanya Satya yang paham, bahkan author pun tidak paham ✌.


"Kamu lebih suka aku yang dulu apa aku yang sekarang?" tanya Risa penasaran.


Satya menatap Risa dengam alis terangkat satu. Risa di hadapannya ini memang sudah tidak sedingin kemarin kemarin, tapi kalau di tanya Satya lebih suka Risa yang dulu atau Risa yang sekarang. Tentu saja Satya lebih suka yang dulu, tapi dia tidak mungkin mengatakan itu, karena yang dulu ataupun sekarang, mereka tetapnya satu orang. ah bukan mereka tapi dia.


"Tentu aku suka kamu." balas Satya.


"Yang dulu apa yang sekarang?" tanya Risa ulang.


"Aku suka kamu dulu, sekarang dan selamanya." ucap Satya dengan senyuman lebarnya.


Risa langsung menunduk, entah kenapa dia merasa malu sendiri, bahkan kini pipinya merona merah dan merasa menyesal karena telah menanyakan hal konyol itu.


"Pipi kamu kenapa merah merah gini?" tanya Satya.


Membuat Risa semakin menunduk dan Satya malah tertawa akan hal itu. Dulu Risa tidak pernah malu malu seperti ini, menbuat Satya gemas dan mencubit pipi Risa.


"Aduhh maaf, kamu menggemaskan... Aku tidak tahan untuk mencubit pipi kamu." ucap Satya.


"Hmm aku punya beberapa foto kita saat menikah dan juga foto kamu saat SMA. Apa kamu mau lihat?" tanya Satya mengalihkan topik.


"Umm boleh." ucap Risa, dia penasaran bagaimana penampilannya saat SMA dulu.


Satya bangkit dari duduknya dan berjalan untuk mengambil laptop, lalu kembali duduk. Kali ini ia duduk di tengah tengah ranjang dan mengajak Risa juga ikut duduk di tengah.


"Ini siapa?" tanya Risa saat melihat layar laptop Satya menyala dan sebuah foto gadis menggunakan seragam SMA tengah bergaya sebagai wallpaper.


Satya tersenyum. "Kamu pikir itu siapa?" tanya Satya sok misterius.


Risa menatap Satya tidak yakin lalu kembali menatap layar laptop, kini Satya membuka file foto.


"Apakah ini aku?" Tanya Rida ragu dan Satya mengangguk.


Risa tersenyum tipis, bagaimana mungkin dia dulu seperti itu. Di lihat dari wajahnya saja, Risa sudah merasa malu sendiri, apalagi jika sampai dia ingat bagaimana dirinya dulu?


"Ini adalah foto kamu di ruang kerjaku." ucap Satya menunjukkan foto Risa yang mengguankan pakaian mini duduk di sofa bermain ponsel.


Risa memejamkan matanya, benarkah dulu dia nyaman nyaman saja mengguankan pakaian seksi seperti itu dan bahkan Satya tidak melarangnya?


"Dulu aku melarangmu menggunakan pakaian itu, tapi kamu memaksa. Kamu bilang kamu akan mencari om om kesepian dengan pakaian itu." ucap Satya mengingat saat itu.


"Saat itu, Alya sekretaris di kantorku tidak tahu jika kamu adalah istriku dan mengusirmu karena berpikir kamu adalah gadis yang menggangguku, padahal aku yang memaksamu ikut bersamaku." ucap Satya lagi, dia terus mengingat kejadian kejadian dulu.


Malam itu, Satya habiskan dengan bercerita dan Risa yang mendengarkan dengan baik. Risa merasa amat sangat malu dengan apa yang Satya ceritakan tetang dirinya.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca sampai sini, jangan lupa like, favorit dan poinnya yah ;)


__ADS_2