Istriku Bocah SMA

Istriku Bocah SMA
Episode 15 Satya tidak peka.


__ADS_3

BAB 15.


***Istriku Bocah SMA.***


Risa menatap nanar bayangan dirinya dalam cermin kamarnya a.k.a kamar Satya. Sudah entah berapa lama Risa duduk di depan meja rias dan hanya menatap wajahnya.


Hari ini adalah hari yang melelahkan untuknya. Rasanya Risa bisa gila hari ini karena mendapatkan kejutan kejutan dari orang tak terduga.


Risa merasa hidupnya sudah seperti drama drama di sinetron atau ftv indonesia.


Pertama Bang Reno melamar dirinya. Padahal Risa sudah punya suami, ya walau Bang Reno belum tahu sih ya.


Kedua tadi siang Ayahnya memberitahukan bahwa dirinya bukanlah anak kandung Mama dan Papanya yang selama ini merawatnya. Risa adalah anak di luar nikah, adik Ayahnya. Tante Melda. Ya tante Imelda Larasati adalah Ibu kandungnya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah siapa Ayah kandungnya.


Mau tahu tidak siapa Ayah kandung Risa?


Tidak ya. Ya sudah deh 😂✌


Dan yang terakhir, Satya benar. Risa memang bodoh karena tidak mau baca dulu sebelum tanda tangan. Ya Risa sekarang tahu kenapa Pamer (Pada mertua) -nya sangat menyayanginya secara berlebihan. Ternyata itu bukan hanya karena ia menantunya tapi juga karena--


"Risa kenapa ngelamun... Ayo makan malam." ajak Satya yang tiba tiba sudah ada di kamar, padahal Risa tidak mendengar tuh suara bunyi pintu terbuka. Ngilang kalinya Satya?


Ya kali Satya punya ilmu kek pemeran tokoh utama yang Risa baca dalam fantasi itu?


"Risa!"


Risa mengerjapkan matanya berkali kali karena kaget dengan seruan Satya.


"Eh loh kak Satya sejak kapan ada di kamar?" tanya Risa linglung. Benar benar sudah kayak orang setres berat!


Satya mendengus. "Kamu kenapa sih, lagi ada masalah?"


"Tidak kok."


"Ya sudah kalau tidak mau cerita. Ayo kita makan malam, Mama sama Papa sudah menunggu dari tadi di bawah." ucap Satya.


Risa mengangguk lalu mengikuti Satya turun ke lantai dasar untuk makan malam.

__ADS_1


"Pa Risa boleh pergi nonton Pasar Malam Tidak?" izin Risa setelah makan malam usai.


"Tidak!"


Itu bukan suara Setiawan, tapi Satya.


"Boleh kok, asal pulangnya jangan malam malam ya." ucap Setiawan.


"Pa!" seru Satya tidak setuju Ayahnya memberikan izin Risa pergi malam malam.


"Kenapa Satya? Kamu kan bisa ikut Risa. Lagi pula kamu tidak pernah pergi ke Pasar Malam kan?" ucap Stella.


"Makasih Pa... Kak Satya tidak ikut tidak apa apa kok, Risa sudah banyak teman juga." ucap Risa.


"Aku ikut." ucap Satya cepat sebelum Ayah dan Ibunya buka suara.


Lalu Risa pamit pergi ke kamar untuk siap siap pergi ke Pasar Malam. Ya setelah berpikir selama makan malam tadi Risa memutuskan untuk menerima ajakan teman temannya untuk melihat Pasar Malan untuk sekedar menghibur diri, dari pada setres di rumah.


"Pake mobil saja ya Risa." ucap Satya saat mereka akan berangkat.


"Tidak naik motor saja." ucap Risa.


"Motor lebih simple!"


"Naik motor itu dingin, mending naik mobil."


"Ish...."


Risa mendengus kesal lalu membuka pintu mobil Satya di bagian belakang.


"Loh kok di belakang?" tanya Satya.


"Ya sudah Risa naik motor saja kalau begitu." ucap Risa kesal dan hendak keluar dari mobil Satya.


"Oke oke..."


Dengan berat hati Satya pun langsung menjalankan mobilnya.

__ADS_1


"Kok jadinya aku kayak supir kamu loh Risa." ucap Satya memecah keheningan.


"Bodo amat!" seru Risa.


"Cie ngambek ni ye." ledek Satya dan tertawa garing.


Risa mendengus dan melipat tangannya di dada, kesal dengan Satya yang tidak mau di ajak naik motor. Padahal kan Risa mau modus, tapi Satya malah tidak peka!. Cowok emang kebanyakan gitu, susah buat peka!


"Loh lohh kok ini dari tadi cuma puter puter di jalan ini saja sih?" tanya Risa setelah sadar bahwa sejak tadi mobil Satya hanya berputar putar depan komplek saja.


Satya menatap Risa dari kaca tengah, dengan tanpa dosanya dia berucap. "Kan aku tidak tahu di mana tempatnya dan kamu juga tidak memberitahu dimana alamatnya."


Risa mendelik kesal. "Kenapa kamu tidak tanya."


"Kamu aku panggilan dari tadi cuma diem terus."


"Ck.... Udah jam setengah sepuluh ini.... Gila berapa Jam kita puter puter kayak orang gila?!" tanya Risa histeris.


"Baru juga sat---


"Gila ini anak anak dari tadi telfonin aku kok aku tidak dengar ya." ucap Risa dengan histeris.


"Ya siapa suruh dari tadi ngela---


"Kamu juga kenapa tidak kasih tahu aku!"


"Aku---


"Kamu sengaja ya?!"


"Risa---


"Diem dan cepat jalan ke alamat ini." ucap Risa menyerahkan ponselnya pada Satya.


Satya mengangguk pasrah lalu menjalankan mobilnya ke alamat yang Risa maksud.


Dimana mana perempuan memang selalu benar, jika di kantor ada Alya. maka di rumah ada Risa.

__ADS_1


Maaf bila masih menemukan adanya typo.


__ADS_2