
Visual buat cast Satya dan Risa ala Raraa 😉
Satya Setiawan a.k.a Kun
Risa Diandra a.k.a Lalisa
BAB 30
*** Istiku Bocah SMA ***
"ugh..."
Risa membuka matanya perlahan, kepalanya masih sangat pusing. Padahal sejak pulang dari rumah sakit dia tidak pernah merasa pusing seperti ini, namun kenapa saat bersama teman teman SMA-nya dulu, kepalanya malah sangat pusing.
"Risa kamu sudah sadar?" tanya Rama, dia berdisi di samping tempat tidurnya dengan raut wajah yang kelihatan sekali khawatir.
"Dimana aku?" tanya Risa.
"Kamu ada di ruang kesehatan, tadu kamu pingsan." ucap Rama, dia membawakan sebotol aqua dan menyerahkannya pada Risa.
Risa bangun dari tidurannya dan menerima botol aqua dari Rama. "Terima kasih, maaf sudah merepotkan kamu." ucap Risa tak enak.
"Tidak perlu berterima kasih, kita sudah lama saling kenal." ucap Rama seraya tersenyum lembut.
Risa menunduk, entah kenapa saat melihat senyuman lembut Rama, Risa merasa tenang namun juga gelisah.
"Kamu kenapa tiba tiba pingsan, apa masih sakit?" tanya Rama.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing saja tadi." ucap Risa, ia masih menunduk.
"Kanaya bilang, kamu sudah pusing sejak di kelas." ucap Rama.
"Sebaiknya kamu istirahat saja dulu, tidak perlu ikut kelas selanjutnya." lanjut Rama.
"Aku ketinggalan kelas kedua." ucap Risa, jujur sia merasa takut karena ini adalah hari pertamanya masuk kuliah dan dia sudah berani membolos mata pelajaran.
"Jangan khawatir, aku sudah izinkan kamu." ucap Rama yabg tahu kekhawatiran Risa.
"Terima kasih." ucap Risa lagi karena tidak tahu harus mengatakan apa.
__ADS_1
Rama pun duduk di kursi dekat tempat tidur Risa, dia meraih tangan Risa dan menggenggamnya erat.
Membuat Risa menatap Rama bingung.
"Aku tahu, jika aku sudah terlambat sekarang, tapi aku tidak peduli. Aku akan mengakui perasaanku yang belum pernah aku katakan padamu." ucap Rama menatap lurus kearah Risa.
Risa berusaha menarik tangannya, namun tidak bisa karena Rama mengeratkan genggaman pada tangannya.
"Rama." ucap Risa pelan.
"Risa aku menyukaimu ah -- tidak tidak, aku mencintai kamu..."
"Rama."
"Aku tahu aku sudah terlambat karena kamu sudah ada yang memiliki, tapi aku hanya mengatakan isi hatiku yang sejujurnya."
"Rama."
"Kamu jangan khawatir, aku tidak akan meminta balasan cinta padamu."
Risa menatap dalam mata Rama yang bersungsuh sungguh mengatakan hal itu, walaupun dia merasa nyaman saat bersama Rama. Tapi Risa sudah memiliki suami, Risa tidak boleh mempunyai hubungan lain lagi.
"Maafkan aku Rama." ucap Risa.
Rama tetap tersenyum lembut, walau hatinya sebenarnya berdarah saat mengetahui pujaan hatinya telah dimiliki lelaki lain.
"Kamu tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah." ucap Rama.
"Tapi--
Tangan Risa yang sudah terlepas dari genggaman Rama pun saling bertautan, dia sungguh merasa tidak enak dan juga sedih dengan ungkapan cinta Rama.
"Hmm maaf aku harus pergi, ada kelas. Kamu tetap di sini saja, istirahat." ucap Rama lalu pergi meninggalkan ruangan kesehatan.
Risa menatap kepergian Rama dengan hati tidak karuan, seharusnya dia tidak boleh begini. Dia sudah menikah dengan Satya, tapi kenapa hatinya tidak tenang dengan pengakuan cinta Rama.
Dulu dia hanya mencintai Satya kan? tidak mungkin kan jika Risa juga dulu menyukai Rama? tanya hati Risa.
Kepalanya kembali pusing karena mencoba mengingat masa lalunya bersama Rama.
*** Istriku Bocah SMA ***
"Uhuk-uhuk!"
Satya tersedak minumannya, padahal dia hanya minum lewat aqua, tapi entah kenapa dia bisa tersedak hingga rasanya tenggorokannya seperti terbakar.
"Gila, cuma tersedak air bisa sampai begini sakitnya." ucap Satya heran.
Saat ini dia tengah berada di ruagannya, seperti biasanya, mengerjakan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Jika banyak orang yang bilang jika jadi bos itu enak, itu hoax, karena nyatanya jadi bos itu tidak ada enaknya sama sekali.
Satya melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 10 pagi dan sebentar lagi waktunya harus bertemu dengan Bu Melda atau haruskah Satya memanggilnya Ibu mertuanya karena dia adalah Ibu kandung Risa, namun dia juga adalah mantan kekasih Ayahnya.
Jika biasanya mereka bertemu di cafe atau di restoran, kali ini mereka memutuskan untuk bertemu di kantor Satya saja.
__ADS_1
"Pak Satya, Bu Amelda Larasati sudah menunggu di depan."
Suara Alya dari interkom terdengar nyaring, membuat Satya entah kenapa jagi gelagapan sendiri.
"Hmm suruh dia masuk." ucap Satya setelah hampir dua menit terdiam.
"Oke." balas Alya, lalu tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka dan muncullan sesosok perempuan seksi memasuki ruangan Satya.
Satya pun langsung menyambutnya. "Selamat siang, silahkan duduk." ucap Satya ramah.
Membuat Bu Melda menatap Satya heran, Satya pun jadi kebingungan sendiri. Sungguh dia tidak tahu bagaimana harus bersikap pada Bu Melda.
Bu Melda pun duduk di sofa. "Kamu kenapa tetap berdiri di sana?" tanya Bu Melda.
Satya pun langsung bergegas dan ikut duduk di sofa yang lainnya.
"Aku dengar Risa sudah sadar dan mengalami Amnesia?" tanya Bu Melda, ia tidak ambil pusing dengan sikap Satya yang aneh.
"Hmm Ya, Risa telah sadar dan memang kehilangan memori lamanya." ucap Satya pelan.
"Syukurlah, itu lebih baik." ucap Bu Melda merasa lega, walaupun ia juga sedih karena Risa tidak mengingat lagi dirinya sebagai Ibu yang telah melahirkan dirinya.
"Hah?!" seru Satya spontan karena bingung.
"Aku harap kamu menjaga putriku dengan baik, Aku tahu, kamu sangat mencintainya." ucap Bu Melda seraya tersenyum simpul.
Satya menatap Bu Melda tidak percaya, bukan karna dia tidak pernah melihat perempuan itu tersenyum. Tapi itu adalah kali pertama Satya melihat Bu Melda tersenyum tulus, bukan senyuman menggoda atau raut wajah datar.
Ternyata kalau di pikir pikir Bu Melda dan Risa memang sangatlah mirip, senyuman menggoda, raut wajah datar dan senyuman tulus mereka sama. Mungkin juga sifat Bu Melda saat remaja tidak jauh dari Risa yang belum hilang ingatan. Pikir Satya.
"Satya!"
"Hah! oh! Eh! Ya."
Satya menjawab dengan gelagapan karena kaget, sejak tadi dia sibuk berpikir sendiri sehingga tidak sadar bahwa Bu Melda tengah membahas sesuatu yang bersangkutan dengan kerja sama mereka.
"Apa kamu baik baim saja Satya?" tana Bu Melda.
"Hmm Ya, sebenarnya tidak. Karena entah kenapa, Aku terus memikirkan Risa. Aku merasa khawatir padanya entah karena apa." ucap Satya jujur.
"Apa dia baik baik saja?" tanya Bu Melda.
"Aku tidak tahu, hari ini adalah hari pertamanya masuk kampus." balas Satya.
"Kalau begitu kita akhiri pembicaraan kita dan kamu bisa pergi ke kampusnya untuk melihat apakah dia baik baik saja atau tidak." ucap Bu Melda, ia pun merapikan berkas yang dia bawa lalu meninggalkan ruangan Satya.
"Baiklah, sepertinya aku harus ke kampus Risa untuk memastikan bahwa dia baik baik saja." gumam Satya.
**TBC.
Terima kasih sudah membaca sampai sini, maaf beberapa hari nggak up..
jangan lupa bagi like, poin dan favoritkan cerita ini yah.
__ADS_1
Tidak perlu banyak banyak, hanya 10 poin dari kamu setiap kali aku up, itu udah membuat aku semangat banget loh** ;)