
BAB 17.
*** Istriku Bocah SMA ***
"Risa Papa cuma mau yang terbaik untuk Risa... Jadi tolong kamu pikirkan ulang tentang gugatan cerai kamu ke Satya."
"Pa---
"Papa tahu kalau kamu sangat mencintai Satya."
"Tapi---
"Papa ngerti. Kamu jangan khawatir, Papa tidak akan melakukannya." ucap Setiawan.
Risa menatap Setiawan, mencari kejujuran dalam ucapannya.
"Terima kasih Pa... Risa sayang Papa." ucap Risa seraya memeluk Setiawan.
Setiawan megangguk. "Kamu tidak perlu berterima kasih karena seharusnya Papa yang minta maaf sama kamu." ucapnya seraya mengusap kepala Risa penuh sayang. Andai dulu dia menikahi Ibunya Risa, yaitu Imelda. Mungkin Sudah dari dulu Setiawan bisa memeluk Risa dan memberikan apapun yang Risa mau. Tapi jika itu terjadi maka tidak akan ada juga pernikahan antara Risa dan Satya yang tak lain adalah saudara tiri.
Risa tersenyum gembira karena pada akhirnya ia tidak jadi cerai dengan Satya.
*** Istriku Bocah SMA ***
Dengan penuh percaya diri dan rasa bahagia yang membuncah, Satya menghadiri acara kelulusan Risa. Satya sangat bahagia lantaran Risa tidak jadi menceraikan dirinya dan setelah Risa lulus ini Satya berjanji akan memperkenalkan pada semua orang jika Risa adalah istrinya agar Reno ataupun Rama tidak lagi mendekati Risa.
Satya tidak peduli dengan kenyataan siapa orang tua kandung Risa. Yang dia pedulikan saat ini adalah bahwa Risa masih tetap mencintai dirinya walau tahu kalau mereka saudara tiri yang beda ayah dan juga beda ibu.
Papa dan Mamanya tidak bisa hadir karena ada sesuatu hal yang harus mereka selesaikan. Sementara keluarga yang membesarkan Risa yang tidak lain adalah kakak dari Ibu kandung Risa pun tidak bisa hadir. Hanya Satya dan Imelda yang hadir di acara kelulusan Risa.
Imelda yang dulu kerap kali menggoda dirinya jika bertemu pun sekarang tampak terlihat berbeda. Tidak lagi menampilkan wajah menggoda melainkan wajah garangnya. Tapi Satya tidak peduli toh yang paling Satya pedulikan kan Risa.
Saat menatap ke depan, di atas panggung sudah berdiri bersama teman teman Risa dan Risa yang sudah siap membawakan pusisi yang kata Risa cetar membahana dan Satya tidak sabar seperti apa puisi mereka.
Daniella berdiri di sebelah kiri, Risa di sebelah kanan dan Rama di tengah mereka. Walau Satya tidak suka dengan posisi berdiri mereka, tapi tidak apalah itu yang terakhir Satya melihat Risa berdekatan dengan Rama!
"Aku Daniella."
"Aku Rama."
"Aku Risa."
"Kami akan membawakan sebuah pusisi humor yang mungkin akan membuat kalian tertawa."
Rama : Puisi Humor....
Risa : Karya anak-anak...
Daniella : SMAN1 Bangsa.
Daniella : Aku adalah seorang kuli bangunan...
__ADS_1
Rama : Dan aku adalah seorang pedagang burung...
Risa : Dan aku adalah seorang yang sedang jatuh cinta...
Suara tepuk tangan dan sorakan menggema di aula sekolah Risa, setelah tidak ada lagi suara tepuk tangan dan sorakan. Ketiga remaja itu mulai membacakan pusisinya.
"Dalam hamparan tanah yang kosong, ku bangun sebuah bangunan sekolah. Untuk kujadikan tempat, masa depan.... " (Daniella)
"Burungku.... Dia lucu sekali, setiap pagi selalu kuberi makan dan setiap pagi pula selalu ku silih dengan...." "Rama)
"Celana pacarku... Ketat sekali. Kepala plontos bagaikan briptu norman, dan bodinya kekar seperti.... (Risa.)
"Linggis, martil, cetok, merupakan alat bangunan untuk...." (Daniella)
"Sangkar burungku... Sudah jelek sekali, dan akan ku ganti dengan yang baru... Sehingga di perlukan besi dan seng untuk.... " (Rama)
"Calon mertuaku. Perkerjaannya marah marah, setiap pagi minum kopi dan sarapannya....." (Risa)
"Pasir, semen. Ku campur dengan air terus ku aduk, untuk memoles...." (Daniella)
"Bulu burungku, sangat indah sekali. Sehingga banyak orang terpesona dan sering kali kau elus elus...." (Rama)
"Hidung pacarku, mancung seperti pinokio. Lesung di pipinya menambah ketampanannya sehingga aku berat untuk..." (Risa)
"Menemplok adukan pasir, semen yang telah tersedia. Dan jadilah bangunan gedung untuk..." (Daniella.)
"Burungku, sangat indah dan lucu itu akhirnya terbang ke..." (Rama)
"Besi pondasi, yang kurangkai amat panjang. Sepanjang...." (Daniella.)
"Burungku, warnanya sangat indah. Seindah..." ( Rama)
"Mata pacarku, yang bundar bagaikan...." (Risa)
"Ban truk, bosku yang kempes karena tertusuk...." (Daniella.)
"Burungku, lepas lagi dari sangkarnya. Aku sedih sekali, ingin ku menangis... Oh burung...." (Rama)
"Bapak ku, orangnya bijaksana. Dia selalu baik padaku, sehingga dalam ulang tahunnya nanti ingin ku beri hadiah..." (Risa)
"Dua sak semen, yang sudah ku adyk tapi sudah lelah. Karena dari pagi aku belum makan...." (Daniella.)
"Kroto, belalang, ulat, itulah makanan burungku. Dan kuberi sedikit vitamin C agar cepat...." (Rama.)
"Mati aku. Ketika melihat pacarku memakai baju...." (Risa)
"Batu bata, ku tumpuk di samping rumahku. Sehingga aku lelah...." (Daniella.)
"Mengejar burungku. Yang terlepas dari sangkarnya...." (Rama.)
"Pacarku. Aku semakin cinta padanya, karena kemarin dia datang kerumah membawa oleh oleh...." (Risa.)
__ADS_1
"Besi dan batu, akan ku buat pelindung...." (Daniella.)
"Burungku. Akhirnya tertangkap juga, ternyata tersangkut pada...." (Rama)
"Resleting pacarku. Warnanya ke biru biruan menyilaukan, seperti...." (Risa.)
"Sangkar burungku, telah berpenghuni kembali. Aku senang melihat burung burungku yang riang..." (Rama.)
"Bersama teman teman aku ingin bernyanyi." (Daniella.)
"Oh burung nyanyikanlah, katakan padanya aku rindu...." (Daniella, Rama, Risa)
"Teman temanku, janganlah engkau melupakan. Tiga tahun masa masa idah kita sekolah SMAN1 Bangsa ini." (Daniella.)
Satya menutup mulutnya agar tidak melepaskan tertawa saat mendengarkan Risa dan kedua temannya itu membawakan puisi. Puisi yang Risa dan teman temannya bawakan berhasil membuat para orangtua murid, guru-guru dan murid murid lain tertawa terbahak-bahak. Kecuali Satya, tentu saja.
"Kak Satya!"
"Gimana penampilan kita?"
"Keren banget kan kak?"
Satya mengabaikan pertanyaan itu lantaran kesal karena Rama yang merangkul bahu Risa dan Risa hanya diam seraya tersenyum jahil padanya.
"Sengajanya." ucap Satya.
"Eh?"
"Maksud kakak Apa?"
Satya mendengus dan menarik Risa dari teman temannya.
"Kita pulang."
"Eh kok pulang, kan acaranya belum selesai. Baju Risa juga masih bersih belum ada coretannya kak."
"Lagi pula bagaimana sama tan-- Mama Melda."
"Mama Melda ada urusan jadi tadi pulang duluan."
Tidak mempedulikan rengekan Risa yang masih ingin lebih lama di Sekolah. Satya terus membawanya kemobil dan pulang. Padahal tadi ia sudah berniat akan memberitahu pada semua teman Risa kalau dia itu suaminya Risa bukan kakak sepupu Risa.
Tapi itu semua ia urungkan saat melihat Rama semakin menempel pada Risa seperti foto dan bingkai.
"Kak Awas!"
"Apa?"
"Di depan ada mobil."
Ketika Satya melihat kedepan, ternyata memang ada sebuah mobil truk yang sepertinya kehilangan kendali. Dan tanpa bisa menghindar, mobil yang mereka tumpangi pun bertabrakan dengan mobil truk oleng itu.
__ADS_1
Dan selesai deh 😁.