
BAB 42.
*** Istriku Bocah SMA ***
[Risa Diandra]
Setelah kehadiran Ridho di hidup kami, rasanya kebahagianku tak bisa lagi di ungkapkan dengan kata kata. Hari demi hari kami lewati bersama, kini Satya sudah mengajakku pindah rumah. Dia membeli rumah sederhana dengan dua lantai, walaupun pada awalnya papa dan mama tidak setuju kami pindah dari rumahnya tapi akhirnya Satya berhasil menyakinkan mereka bahwa kami harus belajar mandiri dan tidak selalu merepotkan orangtua.
Saat ini usia Ridho sudah menginjak tujuh bulan, anakku itu saat ini sudah bisa merangkak kemana mana. Aki hanya mengurusnya sendiri dan tidak ada babysister karena aku tidak mau. Kenapa harus ada babysister jika aku saja sudah mampu merawat anakku?
Namun jika untuk membersihkan rumah, Satya menyewa satu orang pelayan karena tidak mau aku terlalu lelah membersihkan rumah dan mengurus anak. Walaupun sebenarnya itu tidak perlu karena rumah ini yang sederhana tidak terlalu membutuhkan waktu lama untuk membersihkannya, namun Satya tetap memaksa.
Hari ini adalah hari minggu, hari yang paling kami tunggu. Karena hari minggu Satya libur kerja dan akan seharian di rumah bermain bersama Ridho. Yah walaupun di hari kerja juga dia sering pulang lebih awal untuk bisa bermain dengan Ridho. Satya tidak pernah bosan bermain dengan Ridho, sudah banyak mainan yang Ridho miliki karena Satya selali membelikannya untuk Ridho. Dan juga kadang kadang Ibuku jika datang juga membawa mainan, belum lagi orang tua Satya yang sangat sering mengunjungi kami. Kedua kakakku juga sangat gemas pada anakku dan sering kali datang dan ada juga tante Melda.
Jika tante Melda yang datang bukan hanya mainan yang di bawa, tapi juga baru baju tidur dan baju keseharian untuk Ridho. Karena iti aku bahkan tidak perlah lagi membelikan Ridho baju.
Aku bersyukur karena semua keluarga kami sangat menyayangi Ridho, bahkan teman teman semasa sekolahku pun kadang datang. Oh ya, Rama saat ini sudah punya kekasih loh, anak kuliahan yang sama dengan Rama, tapi beda jurusan. Hal itu membuatku lega.
oke kembali ke saat ini, Ridho sedang berguling guling di karpet karena Satya tidak mengijinkannya bermain dengan kericikan. Mungkin karena terlalu kami manja, apapun yang Ridho minta, itu harus dia dapatkan, jika tidak maka dia akan bertingkah seperti saat ini.
Aku menggelengkan kepala melihat itu, dia masih kecil, bagaimana jika nanti sudah besar, aku tidak dapat membayangkannya. Aku harap Ridho tidak akan minta hal yang aneh aneh.
"Kak biarkan Ridho main dengan kericikannya." ucapku karena Ridho mulai menangis.
Satya mengelengkan kepala. "Tidak bisa, dia selalu menggigit kericikan ini. Aku takut itu akan melukai gusinya."
"Itu tidak akan kak." ucapku.
"Sudahlah jangan main kericikan lagi kalau cuma mau di gigit gigit, nanti aku tanya sama Mama, mainan apa yang bisa gigit gigit itu."
Aku hanya menggelengkan kepala pelan, entah aku harus senang atau sedih karena Satya terlampau protektif pada anaknya.
"Tapi liat, Ridho jadi menangis." ucapku menunjuk anak kami yang memangis sambil berguling guling di karpet.
__ADS_1
Lalu Satya pun mengangkat tubuh mungil itu dalam gendongannya. "Anak Papa kenapa nangis sayang?"
"Ulu ulu nanti cakepnya ilang loh kalau nangis."
Namun bukannya diam, anak kami itu malah menangis semakin kencang, membuatku tertawa tanpa sadar.
"Ma ma ma ma." gumam Ridho di sela tangisnya.
"Apa kamu lapar?" tanya Satya.
"Baiklah ayo kita buat susu." ucap Satya lalu berlalu dari hadapanku.
Ya, Ridho tidak minum ASI dariku. Bukanya tidak ada atau aku tidak mau memberikannya padanya. Tapi waktu itu saat aku memberikannya padanya, dia sudah tidak mau. Dan dokter berkata bahwa Ridho sudah terbiasa minum susu formula jadi tidak mau minum ASI-ku. Alhasil payud*raku bengkak karena tidak ada ASI yang keluar, aku harus bertahan dengan rasa sakit itu selama satu mingguan. Setelah itu, dadaku kembali kecil dan tidak bengkak lagi.
Aku pun membereskan mainan anak kami yang berserakan di karpet, menjadikannya dalam satu kotak. Toh nanti jika Ridho datang mainan ini akan di acak acak lagi, aku tidak kesal, aku malah senang karena tingkahnya akan sangat lucu.
Selesai membereskan mainan aku menyusul Satya dan Ridho ke hapur.
Aku merasa sangat bahagia karena selama ini Satya mau membantuku merawat Ridho dengan baik. Bukan hanya mau membuatkan Ridho susu saja, Satya juga mau menggantikan popok Ridho.
Aku tidak pernah menyuruhnya untuk melakukan itu, tapi Satya sendiri yang berkemauan melakukan itu.
Bahkan Ridho akan cepat terlelap jika ada dalam gendongan Satya.
Istri mana yang tidak bahagia jika memiliki suami seperti Satya?
Sudah tampan, mau membantu istri merawat anak dan masih bekerja pula.
Kurang sempurna dari mana lagi?
Aku tidak menyesal karena telah kehilangan ingatan, karena aku tidak ingat dengan masa lalu, tapi aku akan membuat masa depan kami tidak terlupakan.
yah yah sepertinya judul Istriku Bocah SMA sudah tidak cocok lagi untuk cerita kami karena aku bukan anak SMA lagi.
__ADS_1
Aku bukan lagi seorang bocah kan?
Aku berharap kebahagianku ah kebahagiaan keluarga kami akan bertahan seumur hidup kami.
Aminnn...
Jika kalian ingin terus mengikuti kisah kasih kami, mintalah pada author untuk membuat sesaon 2 nya ;)
"Sayang sedang apa?" tanya Satya.
"Dimana Ridho?"
"Iya sudah tidur."
"Oh."
"Happy birthday sayang."
Aku tersenyum haru menatap Satya yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku dan menyodorkan sebuket bunga lilly padaku. Setiap tahun dia selalu mengingat ulang tahunku, padahal aku sendiri lupa dengan hari ke lahiranku.
"Terima kasih karena kamu sudah berada di sisiku selama ini. Aku mencintai kamu seumur hidupku." Ucapnya seraya memelukku.
Aku hanya balas memeluknya tanpa mengatakan apapun.
Sudah ya sampai sini dulu..
Bye bye
Teeima kasih untuk kalian yang sudah membaca cerita ini ;)
Terima kasih untuk like, komentar dan favorit kalian ;)
Terima kasih juga untuk yang sudah kasih poin ;)
__ADS_1