Istriku Bocah SMA

Istriku Bocah SMA
Episode 38 Hamil kembar


__ADS_3

BAB 38.


*** Istriku Bocah SMA ***


Hari berganti hari, minggu berganti munggu, bulan berganti bulan. Tidak terasa, kini kehamilan Risa sudah sembilan bulan dan tinggal menunggu hari kelahiran calon buah hati mereka.


Satya sangat tidak sabar menanti calon buah hati mereka hadir di dunia ini. Risa pun mengambil cuti dari kampusnya sampai anaknya lahir, entah nanti setelah melahirkan dia masih niat melanjutkan kuliah atau tidak.


Risa belum memikirkannya, karena saat ini yang dia pikirkan adalah buah hatinya dengan Satya yang masih ada di dalam kandungannya.


"Sayang Papa pergi ke kantor dulu ya, kamu jangan nakal." Ucap Satya pada bayi yang ada dalam kandungan Risa.


Dan bayi itu pun merespon dengan menendang nendang pelan.


"Dia bergerak." ucap Satya antusias, Seperti biasa.


Setiap pagi saat akan pergi ke kantor, Satya akan pamit pada calon anaknya dengan berbicara di dekat perut Risa dan menempelkan telinganya di perut Risa.


"Yah, dia selalu bergerak saat di dekatmu." ucap Risa, kadang dia harus menahan sakit akibat tendangan calon buah hatinya yang terlalu kuat itu.


Satya tersenyum lebar. "Aku tidak sabar menunggu jagoan kita lahir." ucap Satya.


Risa tertawa. "Sebentar lagi dia akan terlahir kedunia ini." ucap Risa.


"Kamu ingin memberikan dia nama siapa?" Risa.


Satya menatap Risa yang kini duduk di sofa dan dirinya berjongkok di depannya. "Belum tahu, kita kan belum tahu jenis kelamin mereka." ucap Satya.


Mereka, ya calon buah hati Satya dan Risa itu kembar. Walaupun Risa tidak melakukan USG, tapi dokter bilang anak mereka itu sepasang.


"Ya sudah, sebaiknya kamu cepat pergi ke kantor. Jika tidak mau Alya mengamuk lagi." ucap Risa.


Satya mendengus sebal, dia kesal mendengar nama Alya karena sekretarisnya itu sering kali mengomelinya. Padahal itu bosnya dan hanya karena Alya adalah temannya, maka dia berani mengomeli Satya.


"Kamu hati hari di rumah, kalau ada apa-apa langsung hubungi Aku." ucap Satya.


Dia mencium perut Risa dua kali, lalu bangkit berdiri dan mencium kening Risa.


"Kamu jangan khawatir Satya, Mama selalu ada di samping Risa." ucap Mama Stella jengah melihat anaknya yang selalu ingin menempel pada Risa.


Risa tersenyum dan Satya mendengus sebal. "Yaudah aku berangkat dulu ya." ucap Satya.


"Dari tadi pamitan terus, kapan berangkatnya." ucap Papa Setiawan kesal lalu menarik paksa tangan Satya keluar rumah.

__ADS_1


Risa tertawa pelan. "Aduh."


Risa memegang perutnya yang sakit akibat tendangan jabang bayinya.


Mama Stella tersenyum. "Mereka tidak suka melihat kamu menertawakan Papanya." ucap Mama Stella.


"Sepertinya begitu Ma." ucap Risa menahan sakit.


"Ya sudah ayo kita naik ke atas." ucap Mama Stella membantu Risa berdiri.


Bukannya manja, tapi dengan tubuh kecil dan membawa dua bayi dalam perutnya membuat pergerakan Risa terbatas.


Mama Stella pun membantu Risa berjalan menaiki tangga satu persatu hingga sampai di kamarnya.


"Kamu tunggu sebentar ya, Mama mau periksa kamar mandi dulu." ucap Mama Stella setelah Riaa duduk di ujung kasur.


Mama Stella selalu memeriksa kamar mandi untuk memastikan lantai kamar mandi tidak licin, karena beliau tidak mau Risa tergelincir saat mandi karena lantai yang licin.


Setelah memerika lantai kamar mandi dan segala sesuatu yang bisa membahayakan Risa, Mama Stella pun menyuruh Risa untuk mandi.


Walau pun Risa sudah melarang Mama Stella, tapi Mama Stella tetap menyiapkan baju ganti untuk Risa. lalu Mama Stella pun turun ke lantai bawah untuk meminta sarapan yang sudah di buat oleh pelayan di rumahnya, khusus untuk Risa yang sedang hamil tua.


Mama Stella kembali ke kamar Risa dan Risa sudah rapi dengan pakaian yang beliau siapkan tadi.


"Ma, tidak perlu di bawa keatas. Risa bisa turun ke bawah." ucap Risa, dia merasa tidak enak hati.


"Risa tidak capek kok Ma, malah Mamanya Risa bilang kalau Aku harus banyak gerak." ucap Risa.


Mama Stella tersenyum. "Kamu sudah banyak gerak dengan naik turun tangga dua kali sehari sayang."


"Sudahlah, sebaiknya kamu makan dulu sarapannya. Nanti keburu dingin." ucap Mama Stella.


Risa mengangguk dan berjalan menuju sofa dekat meja bundar untuk sarapan.


Di Kantor Satya.


"Pak, Saya mau ambil cuti." ucap Alya.


"Apa?" tanya Satya pura pura tidak mendengar.


Alya menghela nafasnya. "Saya mau ambil cuti, sudah berapa tahun Saya kerja di perusahaan ini dan Saya belum pernah mengambil jatah cuti Saya."


"Memang mau kemana kamu pake acara cuti segala?" tanya Satya menatap Alya dengan alis terangkat satu.

__ADS_1


"Saya ada acara keluarga Pak." ucap Alya.


"Keluargamu mau ngapain memang?" tanya Satya.


Alya tersenyum paksa karena kesal Satya tidak langsung menyetujui permintaannya untuk cuti.


"Ya ada acara Pak." balas Alya.


"Ya acara apa?" tanya Satya.


"Ya acara keluarga Saya pak." ucap Alya.


"Acara keluarga kamu itu apa?" tanya Satya ikutan kesal.


"Tiga hari lagi Saya mau tunangan dan Saya harus bersiap untuk hari tunangan Saya pak." ucap Alya akhirnya mengaku kenapa dia mengambil cuti.


"Kamu mau tunangan sama siapa?" tanya Satya.


"Ya sama kekasih Saya lah pak, ya kali sama Bapak." ucap Alya kesal.


Satya manggut manggut. "Memangnya kamu punya kekasih ya?" tanya Satya tanpa dosa.


Alya menggertakkan giginya kesal. "Jadi bagaimana cuti Saya Pak?" tanya Alya kesal dan tidak menanggapi ucaan Satya yang terakhir.


"Memang kamu mau ambil cuti berapa lama?" tanya Satya.


"Mungkin satu minggu Pak." ucap Alya.


"Lama sekali." gumam Satya, bisa ribet urusannya jika tidak ada Alya di kantor selama satu minggu full.


"Menurut Saya itu hanya sebentar Pak, karena seharusnya Saya mengambil cuti setengah bulan." ucap Alya.


"Bagaimana kalau lima hari saja." ucap Satya.


"Satu minggu itu hanya sebentar loh Pak, lagi pula selama Saya bekerja di sini Saya belum pernah ambil cuti." ucap Alya.


"Lima hari atau tidak sama sekali." ucap Satya.


"Satu minggu atau Saya akan berhenti menjadi sekretaris bapak." ucap Alya.


"Ck! baiklah. Oke satu minggu." ucap Satya mengalah.


"Baiklah teeima kasih pak, mulai besok Saya akan mulai cuti jadi untuk sementara Saya ambil cuti akan ada Dinda yang akan menjadi sekretaris pengganti." ucap Alya panjang lebar lalu berjalan keluar ruangan Satya.

__ADS_1


Satya mengendikkan bahu acuh, ia memilih untuk menghubungi istri tercintanya, baru sebentar tapi ia sudah merindukan Risa dan calon anak anaknya.


Maaf udah lama nggak update, hp buat mainan sama ank soalnya heheee....


__ADS_2