Istriku Bocah SMA

Istriku Bocah SMA
Episode 34 Risa pingsan


__ADS_3

BAB 34.


*** Istriku Bocah SMA ***


Setelah membayar Administrasi, Satya dan Risa pun pulang. Satya mengabaikan panggilan dari Alya, karena itu sudah pasti berhubungan dengan pekerjaan yang dia tinggalkan di kantornya.


"Kak kenapa telfonya tidak di angkat?" tanya Risa.


Satya menatao Risa sekilas lalu kembali fokus menyetir. "Nanti saja, tidak penting juga. Bahaya jika mengangkat telfon saat mengendarai mobil."


"Aku bisa mengangkatnya untuk Kak Satya, karena sepertinya itu telfon penting. Jika tidak, tidak mungkin terus menghubungi kak Satya walaupun kak Satya tidak mengangkatnya." ucap Risa.


"Hah baiklah, kamu bisa mengangkatnya dan katakan aku tengah menyetir." ucap Satya.


Risa mengambil ponsel Satya yang ada di atas Dasboard dan menggeser layar hijau untum menerima panggilan dari Alya.


"Halo--


"Satya kamu kemana saja sih! Pamit hanya sebentar tapi sampai malam tidak kembali. Kamu pikir aku babu, yang bisa kamu suruh suruh sesuka hati kamu."


Risa langsung menjauhkan ponsel Satya dari telinganya saat mendengar suara menggelegar milik Alya.


Satya meringis melihat itu, Alya pasti sudah menyemprotnya barusan. Pikir Satya.


Risa kembali menempelkan ponsel Satya di telinga kirinya karena yang kanan rasanya masih pekak akibat suara merdu Alya!


"Maaf ini siapa ya, kak Satya-nya lagi nyetir jadi tidak bisa menerima panggilan." ucap Risa lembut.


"Hah, kamu siapa?" tanya Alya bingung dari sebrang sana.


"Saya Risa." balas Risa.


"Jangan ngada ngada, Bocah itu tidak mungkin punya suara lembut kayak kamu. Hayo ngaku kamu siapa?" tanya Alya, dia tentu tidak percaya kalau yang menerima panggilannya adalah Risa karena suaranya sangat lembut, sedangkan gadis bernama Risa itu sangatlah bar bar dengan suara yang sangat jauh dari perempuan yang tengah berbicara lewat telfon itu.


"Hmm Saya memang Risa." ucap Risa bingung.


"Sudah deh, tidak perlu membohongiku. Dimana Satya? jangan jangan kamu selingkuhannya Satya ya." tuding Alya.


"Maaf maksud Anda apa? Saya benar benar Risa." ucap Risa.


"Ck!--


"Halo Alya ada apa?" tanya Satya, ia sengaja merebut ponselnya dari Risa.


"Halo Satya, Kamu dimana? sama siapa?" tanya Alya.


"Kepo kamu Alya." ucap Satya.


"Terserah, hari ini jangan lupa datang ke kantor karena Aku tidak mau menunda meeting kamu dengan klien kemaren lagi." ucap Alya lalu mematilan sambungan telfon tanpa mendengar jawaban Satya. Walaupun sebenarnya dia masih penasaran dengan siapa perempuan yang bersama Satya itu.


Satya mendengus kesal dan melemparkan ponselnya kembali ke Dasboard.

__ADS_1


"Sekretaris sialan." gumamnya kesal.


"Ada apa kak?" tanya Risa bingung, dia juga penasaran dengan siapa perempuan barusan.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku harus langsung ke kantor nanti." ucap Satya.


"Tadi itu siapa?" tanya Risa perlahan.


"Alya." balas Satya singkat, dia enggan menyebut nama itu karena jika Satya mengingat Alya hanya akan mengingatkannya pada pekerjaan yang tidak ada habisnya.


Walaupun penasaran, Risa tidak mau bertanya lebih jauh saat melihat wajah Satya yang kesal.


Sesampainya di rumah.


"Maaf hanya bisa mengantarmu sampai sini, Aku harus benar benar ke kantor." ucap Satya tidak enak dan tidak rela harus berpisah dengan Alya.


"Tidak apa-apa kak, ini juga sudah sampai rumah." ucap Risa.


"Yasudah hati hati di rumah." ucap Satya.


Risa tersenyum. "Seharusnya Aku yang bilang begitu, kak Satya hati hati di jalan, jangan ngebut." ucap Risa.


"Oke."


"I love you Risa."


Risa melambaikan tangannya saat mobil Satya mulai meninggalkan pekarangan rumah.


"Risa, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Mama Stella khawatir.


"Risa baik baik saja Ma." ucap Risa seraya tersenyum.


"Syukurlah, Mama khawatir kamu kenapa kapa." ucap Mama Stella.


"Karena kamu sudah pulang dan baik baik saja, Papa pergi ke kantor dulu ya." ucap Papa Setiawan.


"Hati hati Papa, maaf Risa sudah membuat Papa dan Mama khawatir." ucap Risa, dia merasa tidak enak karena sudah membuat mertuanya khawatir.


Papa Setiawan pun meninggalkan Mama Stella dan Risa untuk pergi ke kantor.


"Kamu kenapa bisa pingsan, kemarin Mama mau jenguk kamu di rumah sakit waktu Satya kasih kabar kamu di rawat." ucap Mama Stella.


"Hanya sedikit pusing kok Ma, kak Satya saja yang lebay minta Risa di rawat." ucap Risa.


"Satya itu terlalu mencintai kamu dan takut kehilangan kamu." ucap Mama Stella.


"Mama sudah buatkan kamu makanan, kamu sarapan dulu ya biar tubuh kamu kuat dan tidak pingsan lagi." ucap Mama Stella menyuruh Risa duduk dan menyiapkan sarapan untuk Risa.


"Ma, Risa bisa melakukannya sendiri." ucap Risa tidak enak karena dilayani oleh Ibu Mertuanya.


"Tidak apa-apa Risa." ucap Mama Stella.

__ADS_1


"Nah kamu makan dulu." lanjut Mama Stella seraya meletakan piring berisi nasi goreng buatannya dan segelas susu.


"Terima kasih Ma." ucap Risa.


Mama Stella mengangguk lalu ia ikut duduk di depan Risa, membuat Risa tidak enak karena di tatap oleh Mama Stella.


"Makan yang banyak." ucap Mama Stella.


Risa hanya mengangguk dan dengan cepat memakan nasi gorengnya hingga habis lalu dia pun menghabiskan segelas susu.


"Sekarang kamu istirahat saja di atas." ucap Mama Stella setelah Risa selesai sarapan.


"Tapi--


"Satya sudah berpesan sama Mama, kalau hari ini kamu tidak boleh ke kampus dulu." ucap Mama Stella memotong ucapan Risa.


"Baiklah." ucap Risa pasrah.


"Risa ke atas dulu ya Ma." ucap Risa, dia merasa gerah dan ingin membersihkan diri.


"Iya, istirahatlah." ucap Mama Stella.


Risa pun naik ke lantai atas untuk membersihkan diri. Risa memilih berendam untuk merilekskan tubuhnya yang dari kemarin tidak mandi itu.


Satu jam kemudian Risa sudah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian baru, tapi entah kenapa badannya malah merasa gatal gatal semua.


"Kenapa rasanya gatal gatal semua." ucapnya bingung sendiri, seharusnya sehabis mandi. Tubuhnya akan kembali segar bukan gatal gatal.


"Aduh gatal sekali." ucap Risa seraya menggaruk tangan dan lehernya.


Risa menghampiri cermin di kamarnya dan terkejut saat melihat tangan, wajah dan tubuh bagian lainnya bentol bentol dan gatal.


"Ada apa denganku? kenapa tubuhku bentol bentol dan gatal?" tanyanya pada diri sendiri kebingungan.


"Gatalnya makin menjadi." ucapnya. Semakim di garuk maka akan semakin gatal dan panas.


Risa pun keluar dari kamar dan mencaro Mama Stella untuk bertanya kenapa dengan tubuhnya, namun baru saja menutup pintu kamar, badannya sudah luruh karena pingsan.


Pelayan yang kebetulan melihat itu pun berseru kaget dan menganggil Mama Stella.


"NYONYA, NONA RISA PINGSAN!"


"Uhuk-uhuk."


Maaf Stella yang kebetulan tengaj minum pun langsung tersedak mendengar teriakan pelayan yang mengatakan Risa tak sadarkan diri. Dengan cepat Mama Stella pun menghampiri lantai atas untuk melihat Risa.


**Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai sini ;)


Jangan lupa baik like, favoritkan cerita ini. Lalu jangan lupa juga bagi poin yes ;) 10 pun tak masalah lah.


Karena like, favorit dan poin dari kalian adalah semangatku** ;)

__ADS_1


__ADS_2