
BAB 32.
*** Istriku Bocah SMA ***
[Satya Setiawan]
Aku memejamkan mata, mencoba untuk tidur, namun aku tetap saja tidak bisa tidur. Walaupun mataku terpejam, tapi aku tidak tidur karena pikiranku terus melayang memikirkan ucapan dokter Fero, bahwa aku tidak penting untuk Risa.
Walaupun itu hanya kata candaan dokter Fero, tapi jika di pikir ulang memang ada kemungkinannya begitu, dan aku tidak senang dengan kemungkinan bahwa Risa tidak menyukaiku.
Karena Aku sangat yakin dulu Risa sangat menyukaiku, seperti Aku juga yang mencintai Risa.
Tapi kenapa saat bersamaku dia tidak ingat apa-apa, namun saat bersama Rama dan teman teman sekolah SMA-nya dulu Risa malah mulai ingat sesuatu.
Ini terasa tidak adil bagiku, tapi Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena Aku tahu bahwa itu juga bukan keinginan Risa.
Aku menatap wajah Risa yang tengah tidur pulas. Saat tidur wajahnya sangat menggemaskan, Aku suka. Saat ini kami tengah berada di rumah sakit karena Aku sengaja meminta untuk Risa dirawat, walaupun tidak perlu.
Tapi Aku bersikeras agar Risa di rawat. Jujur saja aku cemburu dengan teman teman Risa apalagi Rama karena Risa lebih dulu mulai mengingat mereka bukan Aku.
Ahh rasanya sangat menyebalkan saat mengingat bahwa Risa lebih dulu mengingat mereka daripada Aku.
Sungguh Menyebalkan dari tadi Aku hanya membahas hal ini dan tetap membuatku kesal!
Aku mengusap wajah Risa dengan lembut, kulitnya sangat halus, bahkan aku pikir kain sultra saja kalah lembut.
Aku tidak tahu bagaimana awalnya aku bisa menyukai bocah bar bar macam Risa?
Yang Aku ingat, aku hanya tidak mau jika harus kehilangan Risa. Karena aku sudah sangat mencintainya, Ahh apakah ini yang di namakan Bucin?
Hmm aku tidak peduli! Mau Bucin kek, Micin kek!
Pokoknya Risa hanya milikku!
Eh tunggu, di kampus Risa tadi aku baru ingat jika ada Rama. Bocah SMA yang menyukai Risa kan?
Jika Risa satu kampus dengannya, apakah itu tidak berbahaya?
Maksudku bagaimana jika Risa juga menyukai Rama?
Dulu Risa memang suka memancing rasa cemburuku dengan menggunakan Rama, tapi Aku tahu bahwa itu hanya sebatas candaan karena Risa hanya mencintaiku.
Tapi sekarang masalahnya Risa bahkan tidak ingat bahwa dia mencintaiku.
Bagaimana caranya membuat Risa mencintaiku lagi?
Apa Aku harus memindahkan Risa ke kampus lain agar tidak bertemu Rama?
"Kak Satya belum tidur?" Tanya Risa yang tiba tiba terbangun.
__ADS_1
"Kenapa kamu terbangun?" tanyaku balik.
"Mau ke kamar mandi." ucapnya pelan, lalu bangkit dari ranjang.
"Mau aku temani?" tawarku.
"Tidak perlu kak Satya."
Aku tersenyum melihat pipi Risa yang merah merona, lalu berlari kecil ke kamar mandi.
Aku terus memperhatikan kamar mandi hingga Risa keluar dari kamar mandi.
"Kak Satya belum tidur dari tadi?" tanya Risa setelah kembali berbaring di ranjang.
Aku pun memeluk tubuh Risa dan menjawab. "Ya."
"Kenapa? Apa ada masalah di kantor?" tanya Risa lagi.
"Tidak ada Risa, sudah lebih baik kamu sekarang tidur lagi." ucapku lembut.
Bagaimana mungkin aku mengatakn bahwa masalahku adalah takut bahwa Risa berpaling dariku?
"Kak aku lapar." ucap Risa pelan setelah hampir lima menit terdiam.
"Lapar?"
Aku melepaskan pelukanku dan menatap wajahnya.
"Tapi ini sudah terlalu larut." ucapku menatapnya dengan alis terangkat satu.
"Memangnya kenapa?"
"Bukankah perempuan paling menghindari makan terlalu malam?" tanyaku, bukankah aku benar? Contohnya Ibuku sendiri, dia bilang kalau makan terlalu malam akan membuatnya bertambah gemuk.
"Tapi aku lapar." ucapnya cemberut.
Membuatku tidak tahan dan akhirnya mencium bibirnya.
"Kak Satya, aku lapar." ucapnya manja persis seperti dulu saat dia belum hilang ingatan.
"Tapi dimana aku mencari makan di tengah malam begini?" tanyaku bingung.
"Kriuuukkk." suara bunyi perut Risa.
"Kamu benar benar ingin makan?" tanyaku lagi membuat Risa kembali cemberut.
"Oke, aku akan coba keluar rumah sakit untuk mencarikan kamu makan." ucapku.
"Jangan lama-lama."
__ADS_1
Aku turun dari ranjang dan mengangguk, Entah kenapa aku merasa Risa kali ini bisa manja. Bukannya Aku tidak suka, tapi sejak dia lupa ingatan, ini adalah kali pertama Risa bersikap manja padaku.
Apa mungkin Risa sudah mengingat masa lalunya? Entahlah.
Lalu sekarang Aku harus membeli makan dimana?
Jika di rumah, mungkin aku tidak perlu keluar dan bisa masak sendiri. Tapi ini di rumah sakit, bukan di rumah.
Aku pun membawa mobilku keluar dari parkiran untuk mencari restoran yang bukan dua puluh empat jam. Di tempat Reno tidak mungkin buka dan tidak mungkin aku minta bantuan Reno, karena dia suka Risa.
Jadi aku pun memutuskan menyusuri jalanan, yah seperti kataku tadi, siapa tahu ada restoran dua puluh empat jam.
Setelah tengok kanan kiri selama empat puluh lima menit perjalanan, akhirnya aku menemukan restoran yang masih buka. Dengan cepat aku pun parkir di depan restoran itu, lalu keluar dari mobil. Setelag mengunci mobil, aku pun masuk ke dalam restoran.
"Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa kami bantu." Seorang pramusaji menyambut kedatanganku dengan senyuman.
"Ya, aku mau pesan makan." ucapku langsung.
Wanita pramusaji itu pun langsung memberikan aku buku menu.
"Silahkan Anda mau pesan apa Tuan?" tanyanya kemudian.
Aku pun langsung melihat lihat buku menu, kira kira Risa lebih suka makan apa ya dimalam hari begini? pikirku.
"Oh aku mau pesan ini, ini dan ini." ucapku menunjuk tiga menu yang ada di buku menu.
"Baiklah, Tuan. Anda silahkan tunggu dulu, kami akan memasaknya untuk Anda. Setelah selesai, kami akan langsung memberikannya pada Anda." ucapnya lalu meninggalkanku.
Aku pun duduk di kursi yang tersedia, ini bukan restoran besar, namun cukup mewah. Setelah hampir setengah jam menunggu, akhirnya makanan yang aku pesan pun jadi dan aku pun langsung membayarnya di kasir.
"Terima kasih sudah datang ke restoran kami." ucap Kasir itu.
Aku tersenyum dan mengangguk, lalu keluar dari restoran. Aku pun mengambil kunci mobilku di saku, menekan tombol buka lalu masuk mobil.
Meletakkan makanan di samping kemudi dan menjalankan mobil meninggalkan restoran menuju rumah sakit. Setelah sampai rumah sakit, aku langsung menghentikan mobilku diarea parkir dan segera keluar dari mobil. Tidak lupa juga membawa plastik berisi makanan yang ku beli untuk Risa.
Melangkah cepat menuju dalam rumah sakit. Menaiki lift untuk sampai lantai di mana kamar Risa di rawat, Yaitu lantai 5 kamar no 105.
Saat Aku membuka pintu dan masuk kedalam ruangan Risa, terdrngar suara dengkuran halus, dia sudah kembali tidur pulas. Mungkin terlalu lama menungguku membuatnya mengantuk lagi dan tidur.
Aku pun meletakan plastik bungkus makanan di naas dan menghampiri Risa di ranjang.
Menatap wajahnya yang tertidur damai itu membuatku tidak tega untuk membangunkannya, tapi jika aku tidak membangunkannya, kasihan Risa kan lapar, tadi saja sampai bunyi bunyi perutnya.
"Risa bangun."
"Risa bangun."
"Risa--
__ADS_1
**TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR BACA SAMPAI SINI;)
JANGAN LUPA LIKE, FAVORITKAN CERITA INI DAN JUGA BAGI POIN YES**