Istriku Bocah SMA

Istriku Bocah SMA
Episode 25 Risa masak nasi goreng


__ADS_3

BAB 25.


*** Istriku Bocah SMA ***


Pagi harinya, Risa bangun lebih dulu dari Satya, dia sudah bertekad akan malai menerima Satya sebagai suaminya. Dan sebagai seorang istri dia harus bangun pagi dan menyiapkan keperluan suami, dari mulai baju kantor, air mandi, sampai sarapan pagi itu kata Mama Riana.


Pertama, Risa bangun dan langsung membersihkan diri. Setelah berganti pakaian, Risa mulai mencarikan pakaian kantor Satya. Celana bahan hitam, kemeja navy panjang polos dan jas hitam Risa letakkan di atas sofa, tidak lupa juga dengan dasi yang serasi dengan warna bajunya.


Risa tersenyum lalu masuk kamar mandi untuk menyiapkan air mandi Satya, namun ke bingungan dengan apa yang harus dia siapkam karena mereka jan mandinya menggunakan shower bukan bak mandi?


"Sepertinya tidak perlu menyiapkan air mandi." gumam Risa.


Lalu Risa bergegas keluar kamar mandi, dia bimbang antara membangunkan Satya atau langsung turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan.


Setelah berpikir selama lima belas menit, akhirnya Risa memutuskan untuk membangunkan Satya.


"Kak Satya." Panggil Risa.


Dia berdiri di sisi ranjang. "Kenapa rasajya aneh saat aku memanggilnya kak." Gumamnya pelan karena merasa aneh sendiri, rasanya lidahnya sangat ingin memanggil Satya dengan sebutan om.


"Kak Satya bangun." Kali ini Risa memanggil Satya seraya menggoyang lengan Satya.


"Kak Satya bangun, sudah pagi." seru Risa lagi, dia mulai kesal karena bukannya bangun Satya malah menarik selimut.


"Kak Satya bangun, ini sudah pagi. bukankah kamu harus ke kantor."


Risa mencoba menjadi istri yang sabar dan baik, sehingga ia tidak jadi kesal dan terus berusaha membangunkan Satya.


Satya yang merasa ada yang menggoyangkan lengannya pun kesal karena dia masih ngantuk, nanum sepertinya orang yang membangunkannya itu tidak menyerah karena terus menggoyang lengannya dan menyerukan namanya berulang ulang kali.


Satya yang sebal pun menarik tangan orang yang membangunkannya sehingga orang itu jatuh di atas tubuhnya dan dengan santai Satya pun memeluk orang itu tanpa berpikir lagi.


"Kak Satya."


Satya membuka matanya dan mendapato Risa berada di atas tubuhnya dengan pipi merona merah. Satya tersenyum bahagia dan mencium pipi Risa dan hal itu membuat Risa semakin malu, apalagi Satya sepertinya tidak ada niatan untuk melepaskan pelukannya pada pinggang Risa.


"Selamat pagi." ucap Satya.


"Pa-pagi." ucap Risa canggung.


"Tumben kamu bangun pagi." ucap Satya setelah melihat jam dinding di kamarnya yang masih menunjukkan pukul tima tiga puluh menit.


"Umhh apakah dulu aku tidak pernah bangun pagi?" tanya Risa.


Satya menggelengkan kepalanya. "Biasanya kamu akan bangun jam enam lima belas menit."

__ADS_1


Risa tersenyum canggung, jadi dia dulu selalu bangun siang. apakah dia dulu juga tidak pernah menyiapkan keperluan Satya?


"Kak, bisakah kamu lepaskan tanganmu dari pinggangku." ucap Risa canggung.


"Kenapa?" Tanya Satya, dia sengaja menggoda Risa.


"Aku merasa tidak nyaman." balas Risa jujur.


"Tapi aku merasa nyaman." ucap Satya.


Dulu mungkin Risa akan sangat senang jika berada dalam posisi ini, tapi sekarang dan dulu itu suda beda. Dulu Satya yang malu, tapi sekarang Risa yang malu. Dan seperti ini lah yang benar, bukan seperti dulu, tapi bukan berarti Satya menganggap bahwa dulu itu tidak benar.


"Kak..." cicit Risa pelan.


Satya mencium pipi Risa yang satunya lagi, baru melepaskan pelukannya dari pinggang Risa.


Risa pun langsung turun dari atas tubuh Satya dengan cepat.


"Aku sudah menyiapkan baju untuk kak Satya, sebaiknya kak Satya cepat mandi." ucap Risa. Lalu berjalan meninggalkan kamar dengan jantung yang berdebar debar kencang.


"Kenapa jantungku berdebar kencang." gumam Risa pelan, ia turun ke lantai bawah dan langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Satya.


Di kamar, Satya menghela nafas panjang. Padahal Risa tidak menggodanya, tapi kenapa Satya malah tergoda. Untung saja dia masih bisa mengendalikan dirinya, jika tidak,Satya pasti akan membuat Risa membencinya.


Dengan langkah pelan, Satya masuk ke kamar mandi untuk mandi air dingin. "Pagi pagi harus mandi air dingin." gumam Satya.


"Dia bahkan menyiapkan kolorku juga." ucap Satya, entah kenapa dia merasa malu sendiri saat membayangkan Risa menyentuh barang pribadi miliknya.


"uh kenapa aku harus malu, Risa itu istriku. Bukan hanya barang pribadiku yang bisa dia sentuh, tapi juga --- yak kenapa aku malah berpikiran mesum di pagi pagi buta begini." ucap Satya kesal pada dirinya sendiri.


Dengan cepat Satya pun menggunakan pakaiannya agar tidak memikirkan hal kotor bersama Risa.


Entah kenapa, sejak pulang dari rumah sakit ini, Satya kerap kali memikirkan hal yang tidak tidak bersama Risa.


Dan hal itu membuatnya kesal sendiri karena harus mandi air dingin setiap kali memikirkan hal senonoh dengan Risa.


Padahal itu sebenarnya adalah hal yang wajar mengingat Risa adalah istrinya dan mereka sudah satu tahun lebih menikah.


"Lagi pula umur Risa sudah delapan belas lebih, bukan bocah SMA lagi." pikir Satya.


Setelah berpakaian rapi, ia mengambil tas kantornya dan langsung meluncur kebawah agar tidak kembali berfantasi liar lagi.


"Satya kenapa kamu menyuruh Risa masak?" tanya Mama Stella saat Satya baru saja turun dari lantai atas.


"Satya tidak menyuruh Risa masak kok Ma." ucap Satya bingung.

__ADS_1


"Pagi, Ma, Pa, Kak Satya." sapa Risa saat melihat Ibu mertua, Ayah mertua dan Satya yang menghampiri ruang makan.


Mereka bertiga menatap Risa bingung, ini pertama kalinya Risa menyiapkan makanan tanpa di bantu pelayan.


Tadi Risa sengaja melarang pelayan yang akan menbantunya masak, lagi pula dia hanya akan masak nasi goreng saja. Itu kan hal mudah, jadi Risa bisa melakukannya sendiri.


"Risa, kamu tidak perlu melakukan ini. Biarkan para pelayan yang melakukan ini." ucap Papa Setiawan.


"Iya sayang, kamu bisa kelelahan nanti." ucap Mama Stella.


"Sayang-,


"Aku hanya membuat nasi goreng, itu mudah. Jadi aku tidak perlu pelayan dan Risa tidak akan kelelahan hanya dengan membuat nasi goreng saja." ucap Risa memotong ucapan Satya seraya menyiapkan nasi goreng ke atas piring dan meletakkan di meja depan mereka.


"Ini adalah masakan pertamaku, semoga kalian suka." ucap Risa seraya tersenyum ceria.


Melihat senyuman Risa, Satya jadi teringat dulu Risa sering tersenyum lebar seperi itu hingga memperlihatkan kedua lesung pipitnya.


"Kenapa kalian malah menatapku seperti itu? ayo di makan." ucap Risa, ia sebenarnya agak khawatir bila masakannya kurang di sukai oleh Mertua dan suaminya.


"Kamu juga harus ikut sarapan sayang." ucap Satya.


"Uhm itu aku nanti saja." ucap Risa.


"Tidak, kamu harus makan bersama kami." ucap Papa Setiawan.


"Ya, kamu yang membuat sarapan ini. Jadi kita harus makan bersama sama." ucap Mama Stella.


"Baiklah, sebelumnya maafkan aku jika masakanku ini tidak enak." ucap Risa, lalu ikut duduk dan Satya mengambilkan nasi goreng itu untuknya.


"Terima kasih, aku bisa sendiri kak." ucap Risa.


Papa Setiawan dan Mama Stella mulai makan nasi goreng buatan Risa, lalu mereka saling pandang sebelum akhirnya tersenyum lebar.


"Kamu sangat berbakat sayang, ini sangat lezat." komentar Satya setelah memakan satu suap naso goreng buatan Risa.


"Satya benar, kamu sangat berbakat." ucap Mama Stella.


"Terima kasih karena sudah menyukai masakan Risa." ucap Risa senang karena masakannya enak.


"Kamu tidak perlu berterima kasih Risa, kami yang harusnya berterima kasih karena kamu sudah mau susah payah masak untuk kami." ucap Papa Setiawan.


Risa tersenyum, kemudiam ikut sarapan nasi goreng buatannya sendiri. Mulai saat ini, dia berjanji akan belajar masak banyak hal untuk Satya dan mertuanya.


TBC.

__ADS_1


**Terima kasih sudah mampir baca ;)


Jangan lupa like , love dan bagi poin kalau boleh** ;)


__ADS_2