
BAB 08.
*** Istriku bocah SMA ***
"Ku butuh pengisi hatiku..."
"Ku butuh kasih sayang..."
"Ku pilih Aisyah..."
"Sekawan dengan jamilah..."
Satya berusaha menulikan telinganya mendengar suara nyanyian teman teman Risa yang entah itu lagu apa Satya juga tidak tahu, ia tidak pernah mendengar lagu itu. Mungkin lagu anak anak jaman now!
Satya hanya bisa berdecak dan menatap tajam setiap bocah yang tak sengaja atau pun sengaja menatap dirinya, namun bocah bocah itu seakan tidak terpengaruh dengan tatapan tajam Satya. Mereka malah tersenyum lebar tanpa dosa.
Ini sudah hari ketiga bocah bocah itu--wel Satya lebih suka memanggil teman teman Risa dengan bocah bocah--- selalu datang pagi dan pulang menjelang sore. Satya pun heran, bukanya seharusnya mereka itu sekolah kan?
Dan sudah tiga hari pula Satya melimpahkan pekerjaannya pada Alya dan Satya yakin saat ini Alya sedang menggerutu kesal dan mengumpat kata kata kasar plus kotor untuknya. Tapi apa boleh buat?
Satya tidakk rela ninggalin Risa sama bocah bocah jaman now itu, apalagi di Rama!
"Aisyah.... O... O... Aisyah...."
Tuh kan mulai lagi gilanya bocah bocah itu. Ck sepertinya Satya harus memikirkan cara untuk ngusir bocah bocah itu...
Tapi bagaimana caranya?
Hm sepertinya lebih baik Satya besok membawa pulang Risa saja. Putus Satya.
"Om Satya bisa minta tolong tidak?" tanya salah satu bocah yang Satya kalau tidak salah Namanya Udin.
"Apa?" tanya Satya dengan senyum sok manis, padahal mah dalam hati kesel setengah ******!
"Tolong bellin kita makanan ya, pake uang om Satya dulu nanti di gantiin sama Risa." ucap Udin dengan senyuman lebar tanpa dosanya.
Adanya jenguk orang sakit, tapi beli makanan yang bayar yang sakit?
Satya menatap Risa yang mengangguk dengan senyuman manisnya. Ya allah, Satya baru sadar kalau senyuman Risa manis pake banget. Belum lagi itu ada lesung pipit di pipi sebelah kiri. Kalo gini mah bagaimana dia mau nolak kan? Walau pun sebal karena di suruh sama bocah untuk beliin makanan pake uang Satya dan tidak ikhlas ninggalin Risa sama Rama. Tapi Satya cuma bisa pasang senyum dan mengiyakan aja apa yang mereka mau.
*** Istriku bocah SMA ***
"kamu beli makanan banyak amat Sat, lagi ada reunian apa bagaimana?" tanya Reno saat mengantarkan makanan yang Satya pesan.
Ya Satya tidak jadi pergi ninggalin Risa sama bocah bocah itu. Satya cuma keluar ruangan nelpon Reno untuk mengantarkan makanan yang dia pesan dari restoran Reno. Pinter kan Satya? 😊
__ADS_1
"Ya kali reuni di rumah sakit." ucap Satya ketus.
"Ya siapa tahu lo reuni sama suster dan dokter." balas Reno.
"Ck! Ini buat teman teman Risa." ucap Satya.
Reno mengeryit bingung. "Teman teman Risa?"
Satya menghela nafas malas. "Ya. Risa kecelakaan dan banyak teman Risa yang dateng."
"Kecelakaan... Kok kamu tidak memberitahu aku sih?"
Kini Satya yang menatap Reno bingung. "Buat apa aku bilang sama kamu?"
"Ya buat-- buat.... Kan Risa Teman adikku.. Jadi ya biar aku bisa kasih tahu adikku lah." ucap Reno tergagap.
"Adik kamu udah tahu kok, kemarin sore dia dateng." balas Satya.
"Hah? Kok dia tidak bilang sama aku sih!" ucap Reno kesal.
"Buat apa juga adik kamu ngasih tahu kamu?".
"Uh sebaiknya kamu cepet kembali keruangan Risa, kasian mereka yang nunggu makanan ini, apalagi Risa." ucap Reno lalu berbalik meninggalkan Satya yang masih bingung.
Satya pun akhirnya hanya memgendikkan bahunya acuh dan berjalan kearah lift untuk kembali ke ruangan Risa yang ada di lantai tiga.
*** Istriku bocah SMA ***
Risa mengakhiri panggilannya dengan salah satu kakaknya dan menatap Satya malas, sejak Risa mengalami kecelakaan Satya jadi aneh menurut Risa.
Walau seharusnya Risa senang akan hal itu, tapi tidak. Apa yang dilakukan Satya itu sungguh keterlaluan.
"Kak aku udah sembuh loh, jadi udah bisa sekolah lagi. Bosen tahu dirumah terus." ucap Risa kesal karena Satya tidak mengizinkan dirinya sekolah.
"Kamu baru satu hari pulang dari rumah sakit, jadi belum boleh pergi jauh jauh nanti drop kalau kecapean." balas Satya santai seraya mengunyah sarapan paginya.
Alasannya tidak masuk akal memang. Tapi mau bagaimana lagi, Satya bener bener tidak rela kalau Risa harus sekolah dan ketemu bocah bocah itu, apalagi Rama!
Risa mendengus kesal.. "Kak, aku itu cuma abis kecelakaan dan dokter sudah menyatakan aku sembuh. Bukannya orang yang punya penyakit yang sering kali drop kalau kecapean."
"Nurut saja apa susahnya sih?"
"Ck! Kak Satya nyebelin dah."
"Kamu bahkan lebih nyebelin."
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak boleh sekolah Risa jalan jalan saja!" seru Risa kesal.
"Mau jalan jalan kemana, kaki kamu belum sehat banget itu."
"Kemana kek... Cari om om kesepian... Eh dari pada nyari om om kesepian mending sama Rama saja lah ya yang masih seger... Kaya pula, ya tidak kak?"
"Aku lebih kaya dari Rama." ucap Satya.
"Percumalah, kaya tapi pelit."
"Pelit darimana? Kayaknya kamu baru satu bulan nikah sama aku sudah ngabisin banyak uang aku."
"Tuh kan gitu aja perhitungan."
"Bukannya perhitungan, tapi--
"Halo Ma, iya Risa nanti siang pulang...."
Ucapan Satya terpotong karena Risa yang entah sejak kapan sudah menelpon Ibunya.
"Tidak sama kak Satya ahh... Kasian dia lagi sibuk....
"Hmm ya lain kali kalau lagi tidak sibuk kesananya sama kak Satya."
"Oke, bye love you."
"Ada apa?" Tanya Satya.
"Mama, Papa, dan kedua kakakku ada dirumah. Mereka ambil cuti dan aku akan pulang hari ini." balas Risa.
"Aku ikut."
Risa mengibaskan tangannya keudara. "Tidak perlu, aku udah bilang sama Mama kalau kakak sibuk."
"Tapi aku tidak sibuk."
"Masa? Bukannya tadi sekertaris kakak nelpon supaya berangkat ke kantor karena ada meeting penting."
"Aku bisa menundanya."
"Yakin? Udah berapa kali kak Satya nunda itu meeting? tidak takut kena semprot kak Alya?"
Satya mendengus, apa yang di katakan Risa memang benar apa adanya. Jadi ia cuma bisa menghela nafas malas dan mengiyakan saja.
Lagi pula lebih baik Risa bertemu orang tuanya to daripada ketemu Rama?!
__ADS_1
Maaf bila masih menemukan adanya typo..