
BAB 16.
***Istriku Bocah SMA***
Satya mendengus kesal, tidak suka dengan teman teman Risa masa tidak ada ceweknya. Masa cuma ada Daniella doang, selain itu cowok semua! Dan mereka seenak udel main gandeng tangan Risa, tarik sana, tarik sini. Tidak tahu ada suaminya disini apa?
Seharusnya tadi Satya tidak perlu antar Risa ke PM kalau jadinya begin, bikin gondok hati saja!
"Kak Satya ayo kita naik kora-kora itu, dari tadi cuma diem saja sudah kayak patung disini..." ajak Risa semangat seraya menunjuk sebuah wahaya yang membuat Satya langsung menelan ludah saat melihatnya.
"Sudah jangan di paksa kalau tidak mau Ris, kita naik sama yang lain saja. Biar kakak sepupu kamu disini saja, takutnya nanti malah pingsan loh." ucap Rama dengan menggandeng tangan Risa.
Satya memutar bola matanya kesal karena ucapan Rama yang menyindir dirinya yang sejak tadi tidak mau di ajak naik wahana manapun.
"Ya sudah deh." ucap Risa.
Namun Risa pun menghentikan langkah kakinya saat Satya berseru ingin ikut.
"Aku ikut." ucap Satya setengah tidak yakin.
"Ayo." ucap Risa semangat dan melepaskan tanganya dari Rama lalu mengambil tangan Satya.
"Risa di tengah saja ya." ucap Satya.
"Kenapa di tengah? Kak Satya takut?" tanya Daniel.
"Ho'oh enak juga di ujung sambil bawa kamera." ucap Daniella dan langsung naik di paling ujung sebelah kanan bersama Daniel. Lalu di ikuti teman teman nya yang lain di kursi depannya.
"Aku tidak takut kok, ya sudah ayo kita naik." ucap Satya sok berani naik di kursi yang paling ujung sebelah kiri karena ya memang hanya itu yang tersisa.
"Kak Satya yakin nih?" tanya Risa yang melihat dengan jelas wajah cemas Satya.
Dengan ragu Satya pun mengangguk. "Yakin." ucapnya.
Satya hampir saja berteriak saat wahana kora kora mulai itu bergerak. Untung dia berhasil menahan suaranya, walaupun wajahnya sudah pucat.
"Kak jangan takut." ucap Risa dan meraih wajah Satya untuk menghadap dirinya.
"Tatap Risa saja dan jangan liat kedepan. Di jamin deh tidak akan merasa takut." ucap Risa.
Satya pun menatap Risa yang tersenyum lebar, tidak ada rasa takut sama sekali. Padahal jantung Satya sudah berdegup kencang karena terombang ambing sejak tadi. Tapi benar kata Risa, semakin lama Satya menatap Risa maka semakin berkurang degup jantungnya, tidak segila tadi. Walau telinganya masih mendengar teriakan entah siapa namanya teman Risa.
__ADS_1
"Kenapa pipimu jadi merah merah begini?" tanya Satya mengusap kedua pipi Risa yang memerah bak kepiting rebus.
"Wahh tidak kerasa kan sudah selesai." ucap Risa mengalihkan pembicaraan.
Satya pun langsung melihat kedepan di mana teman teman Risa sudah bersiap turun. Lalu Risa dan Satya pun turun dari wahana kora kora dan bersiap membeli tiket lagi untuk naik wahana selanjutnya.
Satya bisa melihat dengan jelas bahwa Rama sangat tidak suka dengan dirinya yang terus menggenggam tangan Risa. Dan dia hanya tersenyum miring menanggapi itu.
"Kak masuk rumah hantu yuk." ajak Risa.
"Apa?"
"Rumah hantu, itu anak anak sudah pada masuk." ucap Risa menunjuk teman temannya yang mulai masuk ruma hantu.
Satya menelan ludahnya. "Tapi-,
"Kalau kak Satya takut, ya sudah kita tunggu yang lain di sini saja." ucap Risa.
"Oke, kita masuk rumah hantu." ucap Satya yang langsung membuat Risa berbinar senang.
Satya pun membeli dua tiket rumah hantu.
Dengan jantung berdebar, Satya dan Risa mulai masuk ke dalam rumah hantu tersebut.
Satya membungkam mulutnya dengan tangan kanannya saat ada sesuatu yang melayang di depannya, membuat Risa tertawa.
"Kak Satya takut."
"Tidak."
Mereka kembali berjalan dan kembali terkejut dengan hantu hantu lain, jika Satya langsung pucat, maka Risa langsung tertawa saat bertemu hantu hantu itu.
Malam itu Satya habiskan dengan Risa, mencoba semua wahana yang ada Pasar Malam, wahana yang tak pernah Satya naiki. Tertawa, ketakutan bersama Risa.
*** Istriku Bocah SMA ***
Satu bulan kemudian...
"Pa, Satya mau bicara." ucap Satya.
Saat ini mereka sedang ada di kantor yang Setiawan kelola. SA Grup.
__ADS_1
"Mau bicara apa?" tanya Setiawan mengalihkan tatapannya dari komputer kearah Satya yang tengah duduk di sofa.
"Apa benar Risa itu anak papa sama perempuan lain?" tanya Satya, dalam hati berharap bahwa ucapannya tidak benar. Dia tidak siap jika harus menerima kenyataan bahwa Risa adalah adiknya karena Satya sudah sadar bahwa ia mencintai gadis itu.
Setiawan mengangguk. "Dari mana kamu tahu kabar itu?"
"Jadi Benar. Berarti Risa adik-nya Satya dong Pa." ucap Satya lemas.
"Kenapa Papa jahat sama kita... Satya kira Papa bukan orang yang seperti itu." lanjut Satya.
"Ya. Risa memang adik kamu, tapi adik tiri." ucap Setiawan.
"Adik tiri?" ulang Satya bingung.
"Ya. Apa kamu lupa jika kamu bukan anak kandung Papa?" tanya Setiawan.
"Ahh mungkin memang kamu lupa karena saat itu kamu masih kecil..." lanjut Setiawan tidak peduli setiap ucapannya melukai Satya.
"Apa kamu tahu jika Mama dan Papa menikah karena perjodohan orang tua? Kami tidak pernah mencintai walau sudah hidup lama bersama. Papamu dulu sahabat Papa dan beliau meminta pada kedua orang tua kami agar kami menikah sebelum ia meninggal karena penyakit yang ia derita." jelas Setiawan.
"Aku sudah menjelaskan sebagian, jadi biar Mamamu yang melanjutkan padamu." ucap Setiawan.
"Pa..."
"Aku tidak peduli jika kamu mau membenciku karena mencintai perempuan selain Mama kamu." ucap Setiawan.
"Pa..."
"Itu hak kamu untuk membenciku."
"Pa, Risa minta cerai sama Satya karena dia mengira aku ini adalah kakaknya." ucap Satya kesal karena Setiawan terus memotong ucapan dirinya.
"Tapi kamu sama Risa tidak ada hubungan darah sama sekali." ucap Setiawan.
"Maka dari itu, Papa tolong bantu Satya untuk bujuk Risa agar mau tarik gugatan cerainya... Satya sudah terlanjur mencintai Risa Pa, Satya tidak mau pisah dengan Risa." ucap Satya.
"Papa...
"Ayolah Pa bantu Satya."
"Akan Papa usahakan tapi Papa tidak janji akan berhasil." ucap Setiawan.
__ADS_1
"Pokoknya harus berhasil. Kalau tidak Satya bakalan benci sama Papa." ucap Satya lalu keluar dari ruangan Setiawan.