
BAB 12.
*** Istriku Bocah SMA ***
"Lucu kan kak Robinson."
"Hmm."
"Gemesin banget, jadi pengen di bawa tidur." ucap Risa lagi, saat ini ia berada di dalam kamarnya a.k.a kamar Satya yang ada di lantai dua. Menatap Robinson dan kawan kawannya yang memang di buatkan tempat di samping rumah. Atau bisa dibilang di bawah balkon kamarĀ mereka berdua.
"Ck! Dari mana gemesinnya. Robinson itu berbahaya!" ucap Satya akhirnya bersuara setelah dari tadi cuma jawab ham hem pada pertanyaan Risa.
Risa mendengus, menatap tidak suka pada Satya yang saat ini ada di atas ranjang mereka dengan laptop di pangkuannya. Dasar warkaholic, dirumah aja masih sempet kerja!
"Kalau dia bahaya, tidak mungkin aku masih hidup." balas Risa kesal lalu kembali menatap Robinson.
Satya menghela nafas malas. "Ya tentu saja Kamu masih hidup, karena kamu adalah pemiliknya. Coba kamu suruh pak Rahmad masuk dalam kandang Robinson kalau tidak tinggal nama." ucap Satya.
*** Istriku bocah SMA ***
[SATYA SETIAWAN]
Aku menghela nafas panjang melihat Risa yang masih cemberut menatap Robinson dari balkon kamarku- ahh kamar kami mulai sekarang.
Aku pun menghentikan pekerjaan ku dan mematikan Laptop dan menaruhnya di meja kecil dekat tempat tidur. Setelah itu aku berjalan kearah Risa dan berdiri tepat di belakang Risa.
"Jadi yang mana yang namanya Robinson?" tanyaku pada Risa.
Risa sempat menegang, tapi hanya sesaat. Entah itu karena pertanyaanku atau karena kedua tanganku yang melingkar di pinggang nya!
"Tiga tiganya." balas Risa.
Aku mengeryitkan keningku. "Tiga tiganya.... Lalu bagaimana jika kamu memanggil salah satunya? Harusnya kamu memberikan tiga nama untuk tiga hewan itu."
Risa menggelengkan kepalanya." Tidak, satu saja. Robinson."
"Ya terserah kamu saja lah." ucapku mengalah. Perempuan memang selalu benar kan.
"Ayo tidur, ini sudah malam. Besok kamu sekolah kan." ucapku.
Aku melepaskan tanganku dari pinggangnya dan berjalan menuju sofa panjang yang memang ada di kamarku.
"Kenapa kamu malah ke sofa?" saya Risa bingung, saat ini ia sedang duduk di tepi ranjang.
"Aku akan tidur di sofa, karena tidak mungkin aku tidur di kamar terpisah. Bisa bisa Mama dan Papa akan mempertanyakan itu." balasku dan merebahkan diriku disofa. Aku yakin badanku akan pegal pegal besok pagi.
"Ini kan kamarmu, tidur aja sini di ranjang... Ngapain di sofa, besok badan kamu pasti pegel semua." ucap Risa sambil menepuk ranjang sebelahnya berbaring.
__ADS_1
"Risa---
"Kenapa? Takut tidak kuat imam ya kalau tidur satu ranjang sama Risa? tidak apa apa kok Risa ikhlas lahir dan batin, lagian kita itu kan suami istri. Jadi tidak akan ada yang marah dengan apa yang akan kita lakuin dia tas ranjang ini." ucap Risa panjang kali lebar dengan senyuman yang tidak kalah lebar.
Aku menghela nafas panjang, ya allah kuatkanlah aku untuk menghadapi bocah yang satu ini'
"Tidak aku mau tidur di sofa saja." balasku lalu memejamkan mata.
"Kenapa? Takut banget kalau sampe kejadian yang ia ia." ucapnya mendengus kesal.
Aku membuka mataku dan mendapati Risa sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Begitu lebih baik.
Bukanya aku tidak mau tidur satu ranjang sama Risa, aku bahkan sangat ingin. Tapi aku hanya takut jika sampai kebablasan dan melakukan hal yang ia ia, ya walau itu tidak akan dosa karena Risa adalah istriku. Selama ini pun aku sudah menahan diri untuk tidak menyentuh Risa karena aku selalu mengsugestikan diriku jika Risa itu masih bocah SMA dan belum cukup umur.
Hah....
Aku kembali menghela nafas panjang, tidak tau bagaimana kedepannya hubungan kami nanti. Apakah akan terus seperti ini atau -- ahh entahlah aku tidak tau.
*** Istriku bocah SMA ***
Pagi harinya aku bangun lebih awal dari hari biasanya dan seperti yang aku katakan tadi malam. Bahwa badanku pegal pegal karena tidur di sofa. Setelah merenggangkan badanku agar tidak terlalu pegal, aku pun beranjak ke kamar mandi dan membiarkan Risa yang masih tidur.
Setelah membersihkan diri aku keluar dari kamar mandi hanya menggunakan boxer tanpa atasan.
"Kakak udah selesai mandinya, ini aku udah siapin baju untuk kakak." ucap Risa seraya meletakkan stelan untuk ku pakai di atas ranjang yang sudah rapi.
Dan hal sekecil ini pun mampu membuat dadaku terasa menghangat. Aku suka.
"Waw.... Seksi."
Aku mengerjapkan mataku saat mendengar suara Risa yang ada tepat di depanku.
Aku pun mundur satu langkah karena jarak kami sangat dekat. Aku bisa melihat Risa yang tanpa malu memperhatikan aku dari atas hingga bawah, lalu ke atas lagi. Begitu berulang ulang kali tanpa malu sama sekali. Malah sepertinya aku yang merasa malu dengan tatapan mendamba Risa.
"Duhh kenapa tubuh seindah ini harus di senbunyiin sih... Jadi betah liatnya." ucap Risa masih menatapku.
Aku buru buru melangkah kearah ranjang untuk memakai kemeja dan celana bahanku karena tida tahan jika harus menerus Melihat Risa dengan wajah mupeng-nya itu. Bisa bisa nanti aku malah harus mandi lagi!
Aissss kenapa aku malah terlihat seperti perempuan ABG. Kan seharusnya Risa yang malu-malu, bukan aku?
Ya allah kenapa malah terbalik begini?
"Aduhh beruntung banget sih Risa punya suami seksi kaya kak Satya." ucap Risa.
"Uhh sebaiknya kamu mandi, aku tidak mau telat ke kantor gara gara kamu kelamaan." ucapku rada gugup. Ya allah ini kenapa malah gugup!
Risae mendengus kesal lalu berlalu ke kekamar mandi.
__ADS_1
*** Istriku Bocah SMA *"*
"Dimana Risa kok belum turun?" tanya Ibuku yang sedang menyiapkan sarapan untuk kami.
"Lagi beresin buku, Ma. Sebentar lagi juga turun."
Tidak lama setelah itu, Risa pun turun dengan riang berlari menuruni tangga yang membuat Ibuku berteriak panik takut Risa jatuh.
"Risa jangan lari lari, nanti kamu jatuh sayang." ucap Ibuku.
Risa cuma nyengir tanpa dosa lalu duduk di sebelahku begitu saja. Aku hanya diam karena tahu pasti Ibu atau Ayahku pasti akan marah karena membiarkan Risa memakai seragam yang kekurangan bahan. Aku tau orang tuaku paling tidak suka melihat gadis dengan pakaian seperti Risa. Untung kemarin saat kemari Risa menggunakan kemeja dan jeans Panjang, bukan gaun tanpa lengan yang super ketat biasa Risa pakai itu.
Namun sarapan sudah di mulai tapi tidak ada suara dari Ibu dan juga Ayahku. Aku pun memberanikan diri untuk mendongak, mereka bertiga sibuk memakan sarapannya masing masing.
Mereka tidak masalah dengan pakaian Risa yang terlalu ketat dan pendek itu?
"Kamu bisa menyetir mobil Risa?" tanya Ibuku membuka suara memecah keheningan yang ada di meja makan ini.
"Bisa Ma... Tapi Risa lebih suka naik motor dari pada mobil." jawab Risa.
"Kenapa motor?" tanya Ibuku.
"Hemat waktu, kan naik mobil macet."
"Kamu benar, nanti akan Papa carikan motor untuk kamu." ucap Papa ikut bersuara.
"Untuk apa Pa?" tanyaku.
"Ya untuk Risa berangkat sekolah lah." balas Ibu.
"Tapi kan ada aku yang bisa mengantar Risa ke sekolah." ucapku.
"Kamu tidak akan bisa stand by ngantar Risa karena kamu juga kerja dan jalanan kota ini semakin hari semakin macet." ucap Ayah.
"Tapi Pa---
"Risa nanti pulang sekolah kita cari motor yang kamu suka?" ucap Ayah.
Aku mendengus kesal, tidak suka dengan gagasan Ayah.
Ibu malah ikut tersenyum senang.
Sedangkan Risa sudah mengangguk antusias.
Sial kan kalau begini jadinya waktuku bersama Risa jadi berkurang banyak!!
Maaf bisa masih menemukan adanya typo.
__ADS_1