
BAB 40.
*** Istriku Bocah SMA ***
Satya duduk lemas di bangku depan ruang UGD, di temani Mama Stella dan Papa Setiawan.
Setelah mengambil keputusan yang amat sulit dalam hidupnya, Satya merasa dunianya hancur. Dia baru saja merasakan bahagia karena akan menjadi seorang Ayah, namun kebahagian itu tidak bertahan lama karena hari ini dia resmi kehilangan kedua anaknya.
Satya tau jika dia adalah Ayah yang paling buruk sepanjang sejarah, namun dia juga tidak bisa kehilangan istrinya.
Entah apa yang akan dia katakan pada Risa nanti, Satya pun tak tau.
Sudah hampir satu jam sejak dia menandatangani surat pertolongan anak atau istri itu, belum ada tanda tanda pintu UDG itu akan terbuka.
Baru satu jam, tapi Satya rasa itu sudah sangat lama. menanti detik detik kelahiran anaknya dan juga kehilangan anaknya.
Satya pun tak henti hentinya berdoa pada yang maha kuasa untuk keselamatan istri dan juga anaknya. Walaupun dokter mengatakan hanya bisa menyelamatkan salah satunya, tapi Satya masih berharap setidaknya satu dari anaknya selamat.
Saat pintu ruang UGD itu akhirnya terbuka, Satya tak punya tenaga untuk bangkit, dia tak kuasa menerima segala kemungkinan buruk yang akan dia terima. Jadi Mama Stella lah yang menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan menantu dan cucu saya dokter?" tanya Mama Stella.
Dokter itu menghela nafasnya. "Saya sudah mengatakan di awal, jika Saya tidak bisa menyelamatkan ketiganya."
Satya menulikan telinganya karena tidak mau mendengar kabar kehilangan kedua anaknya.
"Maafkan Saya karena salah satu cucu Anda tidak bisa kami selamatkan." ucap dokter itu.
"Maksud dokter, cucu Saya..." Mama Stella tak melanjutkan perkataannya.
Dokter itu mengangguk pelan. "Ya, salah satu cucu Anda selamat."
"Benarkah?" tanya Mama Stella antusias.
"Tapi karena kondisinya lemah, dia harus di rawat di ruang inkubator dulu." ucap Dokter itu.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan istri Saya dokter?" tanya Satya memberanikan diri untuk bertanya.
"Alhamdulilah, istri Anda selamat. Tapi kondisinya masih kritis karena kehilangam banyak darah. Kami juga membutuhkan darah tambahan karena stok darah yang ada di rumah sakit ini masih kurang." jelas dokter itu.
Satya bersyukur karena doanya terkabulkan, salah satu anaknya selamat. Walaupun saat ini Risa masih kritis, tapi setidaknya masih ada harapan.
"Saya yang akan mendonorkan darah untuk Risa dokter." ucap Papa Setiawan.
Papa Setiawan pun mendonorkan darahnya untuk Risa dan Risa pun di pindahkan keruangan lain untuk mendapatkan perawatan, sementara anaknya langsung di pindahkan ke ruangan yang sama dengan Risa, di dalam tabung inkubator.
Satya hanya bisa menatap mereka dari luar ruangan, hatinya campur aduk melihat keduanya lemah tak berdaya.
Satya sudah menghubungi keluarga Risa dan menceritakan garis besar kejadiannya. Mereka pun baru akan tiba besok, karena saat ini sudah terlalu larut.
Pagi harinya, Satya pulang bersama Papa Setiawan dan Mama Stella untuk memakamkan salah satu anaknya yang berjenis kelamin laki-laki.
Tidak ada tangis selama memakamkan putranya, rasanya air mata Satya sudah kering menangis tadi malam. Namun hal itu malah membuatnya semakin sakit, sesak di dadanya bagaikan ada sebuah palu yang tengah menghantam sekuat kuatnya.
Setelah pemakaman putranya yang di beri nama Ridwan Setiawan, Satya pun pulang bersama keluarganya dan membersihkan diri masing masing, lalu mereka pun kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi Risa.
Tentu saja mereka sedih, siapapun akan bersedih jika anggota keluarganya masuk rumah sakit kan?
Mama dan Papa Risa memutuskan untuk pamit pulang karena Mamanya Risa terus saja pingsan melihat putri dan cucunya terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Satya, Papa dan Mama pulang dulu ya..." ucap Papanya Risa.
"Iya Pa, tidak apa-apa... Mama juga sepertinya butuh istirahat." ucap Satya. Dia melihat Ibu mertuanya yang sudah lemas di pelukan Ayah mertuanya.
Mama Stella dan Papa Setiawan duduk berdampingan, Rio dan Revano pun duduk berdampingan dengam kepala menunduk.
Sementara Satya dan Tante Melda berdiri di depan ruangan Risa, menatap Risa dan anaknya yang berbaring lemah tanpa berbicara apapun.
Di depan ruangan itu, walaupun ada enam orang, tapi tidak ada satu pun yang membuka suara. Mereka di sibukkan dengan pikiran masing masing. Namun sebenarnya tanpa ada orang yang tau, Papa Setiawan sesekali memperhatikan Tante Melda.
"Tante kalau lelah berdiri sebaiknya duduk saja." ucap Satya.
__ADS_1
Tante Melda menatap Satya sekilas lalu kembali menatap Risa. "Aku tidak lelah."
"Tante sudah berdiri sejak tadi, sebaiknya duduk dulu. Tidak baik jika terus berdiri." ucap Satya.
"Kamu bahkan sudah berdiri sejak tadi, kenapa kamu tidak duduk?" tanya tante Melda.
"Yang Satya katakan benar Melda, kamu bisa duduk di samping Stella." ucap Papa Setiawan.
"Iya, sini duduk dulu. Kami tau kamu khawatir dengan Risa, tapi kamu tidak sendiri karena kami juga khawatir dengan Risa." ucap Mama Stella tersenyum dan menepuk bangku di sebelahnya.
Tante Melda tidak bergeming, dia masih terdiam menatap Risa.
"Tante, yang mereka katakan benar. Tante harus istirahat dulu, nanti kalau Risa sadar tante jadi ada tenaga untuk membantu Risa." ucap Revano.
Tante Melda pun akhirnya duduk di samping Mama Stella.
Dan mereka pun kembali diam, hingga malam menyapa. Rio dan Revano pamit pulang. Begitu pun Mama Stella dan Papa Setiawan yang juga ikut pulang. Hanya tinggal Tante Melda dan Satya yang masih menunggu Risa.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Risa?" tanya Tante Melda. Kini Satya tengah duduk di bangku depan Tante Melda.
"Aku tidak tau bagaimana kejadiannya, tapi Mama bilang Risa terjatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan." ucap Satya.
Tante Melda menghela nafas... "Memang sangat rawan bagi perempuan hamil kembar, apalagi ini anak pertama Risa." ucap Tante Melda.
"Maaf karena aku tidak bisa menjaga Risa dengan baik Tante." ucap Satya, bagaimana pun Tante Melda adalah Ibu kandung Risa.
"Untuk apa minta maaf, semua ini bukan hanya salah kamu." ucap Tante Melda.
"Tapi jika aku tidak meninggalkan Risa sendiri, maka semua ini tidak akan terjadi." ucap Satya.
"Ada atau tidak adanya kamu, jika memang ini sudah kehendak yang Maha kuasa, maka akan tetap terjadi." ucap Tante Melda.
*Terima kasih untuk kalian yang masih setia baca ini walaupun aku tidak bisa update tiap hari lagi..
Jangan lupa bagi vote dan poin kalian yah hihiiii*
__ADS_1