Istriku Bocah SMA

Istriku Bocah SMA
Episode 39 Pilihan tersulit, Anak atau istri.


__ADS_3

BAB 39.


*** Istriku Bocah SMA ***


"Selamat ya Al untuk pertunangan kalian, aku pikir kamu tidak laku karena aku tidak pernah melihatmu bersama pria." ucap Satya menggoda Alya.


Hari ini adalah hari pertunangan Alya dengan pria bernama Rafael.


"Aku harap kalian segera menikah." ucap Satya lagi saat Alya tidak membalas ucapannya dan hanya mendelik kesal padanya.


"Terima kasih Anda sudah mau hadir di acara pertunangan kami." ucap tunangan Alya, Rafael. Dengan senyuman lebarnya.


"Ya, sama sama. Aku juga ikut senang, akhirnya Alya laku juga." ucap Satya tanpa rasa bersalah.


Rafael hanya menanggapi itu dengan senyuman tanpa mengucapkan sesuatu.


"Risa tidak ikut?" tanya Alya.


Satya menggelengkan kepalanya. "Dia tidak bisa ikut, maklum sudah hamil besar. Beberapa hari lagi dia akan lahiran." ucap Satya dengan bahagia.


"Selamat ya, sebentar lagi kamu akan menjadi Ayah." ucap Alya.


"Ya, kalian juga cepat menikah agar cepat dapat momongan." ucap Satya.


Alya melotot tidak suka pada Satya dan Rafael pun pura putlra terbatuk pelan.


Walaupun Satya tidak mengenal Rafael, tapi dia lihat Rafael adalah pria yang baik. Cukup lama Satya mengobrol bersama mereka berdua hingga bunyi ponsel miliknnya memecah obrolan mereka bertiga.


"Sebentar ya Al, ada telfon dari Mama." ucap Satya, ia merasa sedikit heran karena tumben tumbenan Mama Stella menghububginya.


Satya berjalan meninggalkan Alya dan Rafael untuk menerima telfon dari Mama Stella.


"Halo Ma."


"Satya kamu di mana?"


"Ma, ada apa?" tanya Satya mulai khawatir saat mendengar suara Mama Stella yang panik di sebrang sana.


"Risa terjatuh di kamar mandi dan sekarang kami menuju rumah sakit karena Risa mengalami pendarahan." Jelas Mama Stella.


"Bagaimana Risa bisa jatuh Ma? sekarang kalian menuju rumah sakit mana, Satya akan segera kesana." ucap Satya.


"Mama tidak tau, rumah sakit terdekat daei rumah. oke Mama tunggu ya."


"Ya sudah dulu ya Ma." ucap Satya lalu mematikan sambungan telfon.


Satya pun bergegas kembali menghampiri Alya dan Rafael untuk pamit pulang.


"Alya, Rafael, Aku pamit pulang dulu ya." ucap Satya.


"Ada apa? kenapa buru buru sekali?" tanya Rafael.

__ADS_1


"Risa terjatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan." ucap Satya.


"Baiklah, hati hati di jalan. Jangan panik." ucap Alya.


"Oke, aku pergi dulu." ucap Satya lalu buru buru berjalan menjauh.


Karena terlalu khawatir pada Risa, Satya sampai tidak sengaja menabrak orang lain di depannya.


"Maaf aku buru buru." ucap Satya.


"Ya, tidak apa-- Kak Satya!"


"Kamu ngapain di sini?" tanya Satya bingung.


"Tentu saja untuk menghadiri pertunangan kakakku." ucap Orang yang tak lain adalah Rama.


"Kakakmu?" tanya Satya heran. Apakah Rafael adalah kakaknya Rama? pikir Satya.


Rama mengangguk. "Ya, lalu kenapa kak Satya buru buru tadi?" tanya Rama.


Satya menepuk jidatya karena lupa dengan Risa.


"Aku harus pergi." ucap Satya lalu meninggalkan Rama.


"Aneh." ucap Rama.


Satya mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi karena khawatir dengan keadaan Risa dan calon buah hati mereka. Satya takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada mereka bertiga.


Dua puluh menit kemudian, Satya sampai di rumah sakit yang terdekat dari rumahnya. Satya memarkirkan mobilnya asal dan menyuruh Satpam di rumah sakit itu untuk memarkirkan mobilnya.


"Ma, kalian di mana?" Ucap Satya pada Mama Stella via telfon.


"Di depan ruang UGD."


Satya pun mematikan sambungan telfon dan langsung mencari ruang UGD.


"Mama bagaimana dengan Risa?" tanya Satya khawatir. Dia sudah sampai di depan ruang UGD.


"Dokter masih menangani Risa." ucap Mama Stella.


Dan tak lama kemudian, pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar bersama suster di belakangnya.


Satya dan Mama Stella pun langsung menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan istri dan anak anak Saya dok?" tanya Satya.


"Bagimana keadaan menantu dan cucu Saya dok?" tanya Mama Stella bersamaan dengan pertanyaan Satya.


"Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi pendarahan pada Ibu Risa masih belum bisa di hentikan. Dan lagi air ketubannya sudah pecah, kami harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya." ucap Dokter itu.


"Lakukan yang terbaik untuk mereka dokter." ucap Satya dan Mama Stella secara bersamaan lagi.

__ADS_1


"Tapi karena pendarahan Ibu Risa tak mau berhenti, kami kemungkinan hanya bisa menyelamatkan salah satunya." ucap dokter itu lagi.


"Apa maksud dokter?" tanya Satya.


"Anda ingin kami menyelamatkan Ibunya atau Anaknya?" tanya dokter itu pelan.


"Saya ingin mereka semua selamat dokter." ucap Satya marah.


"Maaf pak, tapi karena kondisi Ibu Risa saat ini tidak memungkinkan untuk kami menyelamatkan mereka semua." ucap dokter itu.


"Apakah tidak ada jalan lain dokter?" tanya Mama Stella.


Dokter itu menggeleng pelan. "Tidak ada Bu, silahkan pilih salah satu dari mereka. Waktu kita tidak banyak, jika tidak secepatnya bertindak, maka mereka bertiga akan kehilangan nyawa." Ucap Dokter itu.


"Suster tolong siapkan dokumennya." lanjut dokter itu.


"Baik dok." ucap suster itu lalu bergegas pergi.


"Saya tau, ini berat untuk kalian. Tapi kalian harus secepatnya membuat pilihan, atau tidak akan ada yang selamat." ucap dokter itu lalu kembali masuk ruang UGD.


Bugh!!


Satya meninju tembok ruang UGD karena marah dengan situasi ini. Dia tidak bisa memilih antara Risa dan anak anaknya. Bagaimana mungkin dia memilih di antaranya, mereka adalah hidup Satya, kebahagiaan Satya.


"Satya..."


"Ma."


Mama Stella memeluk Satya, dia tau bagaimana hancur hati anaknya karena harus memilih pilihan yang sangat sulit dalam hidupnya.


"Apa yang harus aku lakukan Ma?" tanya Satya, dia tidak peduli jika saat ini ada yang melihatnya menangis di pelukan Ibunya bagaikan anak kecil.


"Mama tau, kamu pasti akan memilih yang terbaik." ucap Mama Stella.


"Satya tidak mungkin memilih salah satunya Ma." ucap Satya pelan.


"Satya tidak mau kehilangan Risa, Satya juga tidak mau kehilangan anak anak kami Ma." lanjut Satya.


"Tapi bagaimana pun kamu harus memilih di antara mereka Satya, jika tidak. Kamu akan kehilangan mereka semua." Ucap Mama Stella.


"Maaf Pak, ini dokumen yang harus Anda tandatangani." ucap seorang suster menyerahkan dokumen itu pada Satya.


Mama Stella yang menerimanya karena Satya enggan mengambil berkas itu.


"Satya kamu harus membuat pilihan jika tidak mau kehilangan mereka." ucap Mama Stella.


"Tapi Satya tidak mau kehilangan salah satunya Ma." ucap Satya lirih.


"Mama tau ini sulit, tapi kamu harus memilih." ucap Mama Stella, beliau mengusap air matanya sendiri yang sudah membanjiri pipinya sejak tadi.


Dengan berat hati Satya mengambil dokumen itu dan menandatangani surat yang akan membuatnya kehilangan istri atau pun anaknya.

__ADS_1


__ADS_2