
BAB 27.
*** Istriku Bocah SMA ***
Satya baru saja sampai di kantor dan Alya sudah sibuk mengtakan jadwal hari ini apa saja dan apa saja yang harus Satya lakukan, membuat Satya kesal.
"Al, bisakah kamu membiarkan aku benafas dulu. Aku baru saja sampai kantor dan kamu sudah mengatakan banyak hal yang membuatku pusing." ucap Satya, ia menatap kesal Alya yang berdiri di samping meja kerjanya.
Alya menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan untuk meredakan kekesalannya pada Satya. Dengan senyum lebar yang Alya paksakan, ia mulai kembali berkata.
"Selamat pagi Pak Satya." Ucap Alya.
"Tidak perlu tersenyum Al, senyummu menakutkan." komentar Satya acuh.
Alya mendelik. "Ini jadwal Anda hari ini Pak Satya." ucap Alya berbicara formal.
"Bisa kamu bacakan Al." ucap Satya santai.
Alya tersenyum paksa dan mengangguk. "Tentu saja."
"Pertama Anda ada meeting bersama para pemilik saham SATYA GRUP dan kedua ada ada pertemuan dengan klien dari luar negri dan terakhir--
"Tunggu!"
Satya berseru dan memotong ucapan Alya karena ada sms di ponselnya dari Risa yang menanyakan berapa tanggal lahirnya.
"Al, berapa tanggal lahirku?" tanya Satya.
"Hah?!"
"Berapa tanggal lahirku?" tanya Satya ulang.
"11 Mei 199---
"Stop oke!"
Alya mengerutkan dahinya menatap Satya tidak mengerti, tadi ia bertanya dan saat ia menjawab belum sampai selesai. Kenapa Satya memotong ucapannya dan terlihat kesal pada layar ponselnya.
"Apa ada masalah Pak Satya?" tanya Alya.
Satya meletakkan ponselnya di meja dengan sedikit kasar, lalu menatap Alya kesal. "Kapan aku menikah dengan Ibumu? Kita hanya berdua dan kamu masih saja memanggilku Pak, aku merasa seperti Bapakmu!"
Satya yang kesal karena Risa tidak mengetahui tanggal lahirnya pun melampiaskan kekesalannya pada Alya. Padahal seharusnya itu wajar, karena Risa kan sedang kehilangan ingatannya.
Alya menarik nafasnya dan kembali menatap Satya. "Ini jadwal Bapak hari ini dan inu beberapa berkas yang perlu Bapak periksa dan juga tandatangani."
Setelah berkata demikian, Alya meletakkan berkas berkas yang sejak tadi dia bawa di atas meja Satya dengan agak kasar dan langsung keluar ruangan Satya.
"Hei Al, kamu mau kemana?" tanya Satya namun Alya tidak menghiraukan seruan Satya.
Satya mendengus dan melihat jadwalnya hari ini, setelah itu, dia mulai memeriksa kertas kertas lainnya.
__ADS_1
"Menyebalkan... Kenapa sih jadi bos itu harus begini. Apa apa minta tanda tangan bos, sudah di bilang cukup tanda tangan Alya saja sudah cukup. Tapi masih saja harus aku yang tanda tangan."
Satya menggerutu kesal karena bayaknya pekerjaan yang dia punya.
"Pak jangan lupa ada meeting dengan para pemilik saham jam 10."
Satya mendengus mendengar suara Alya dari interkom .
"Bisakah kamu--
"Tidak bisa Pak, pekerjaan saya banyak."
Satya memutar bola matanya kesal karena Alya berani memotong ucapannya.
"Lebih banyak perkerjaanku dari pada kamu!" Seru Satya.
"Jangan lupa, bahwa sebelum berkas itu sampai di tangan Bapak, Saya harus memeriksanya terlebih dahulu."
"Ya ya, terserah apa katamu."
"Cepat siap siap, para pemilik saham sudah tiba di ruang meeting."
Satya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baru juga jam sembilan lewat lima puluh lima menit."
"Lima menit lagi meeting akan di mulai Pak."
"Tidak akan, selama Aku belum hadir."
"Ayo Al." ucap Satya.
Alya berjalan di belakang Satya menuju ruang Meeting. Ruang meeting yang tadinya riuh langsung sunyi saat Satya melangkah masuk dengan gaya dingin dan raut wajah datarnya, berbeda sekali dengan beberapa menit yang lalu.
"Selamat pagi." ucap Satya pada beberapa orang yang kini tengah berdiri menunggu instruksinya untuk duduk.
Namun Satya malah sengaja duduk lebih dulu dan membiarkan yang lainnya masih berdiri. Mereka tidak berani duduk jika Satya belum menyuruhnya untuk duduk karena Satya adalah pemilik terbesar saham di SATYA GRUP dan mereka hanya memiliki beberapa persen saja.
"Oke baiklah, silahkan duduk." ucap Satya setelah hampir lima menit berlalu.
Kita tinggalkan Satya yang tengah sibuk di kantornya dan kita lihat Risa yang kini tengah berbelanja bersama Mama Stella.
Mama Stella sengaja membawa dua pelayan untuk mengikutinya belanja karena dia tahu pasti banyak yang akan mereka beli dan tidak mau kerepotan.
"Sekarang mau beli apa lagi?" tanya Mama Stella.
Risa diam sebentar untuk berpikir. "Hmm sepertinya sudah semua Ma." ucap Risa, ia merasa apa yang dia beli sudah cukup banyak dan dia juga sudah merasa tidak enak pada Satya karena membelanjakan uang Satya banyak sekali.
"Oke, kalau begitu ayo kita cari makan siang Mama lapar." ucap Mama Stella.
Risa mengangguk karena ia juga sudah lapar.
"Oh ya, kalian pulang saja bersama supir." Ucap Mama Stella pada dua pelayan yang mengikuti di belakangnya dengan tangan penuh barang belanjaan mereka berdua.
__ADS_1
"Baik Nyonya." Ucap kedua pelayan itu lalu berjalan berlawanan arah dengan Risa dan Mama Stella.
"Risa mau makan apa?" tanya Mama Stella.
"Tidak tahu Ma." ucap Risa.
"Uhm bagaimana kalau kita ke restoran teman Satya saja, di sana makanan enak enak loh." ucap Mama Stella.
"Hmm baiklah, Risa ikut Mama saja." ucap Risa mengangguk.
Mama Stella pun mengajak Risa untuk makan di restoran milik Reno.
"Selamat siang tante, siang Risa."
Reno yang melihat Risa dan Mama Stella pun langsung menyambutnya.
"Siang nak Reno." ucap Mama Stella.
Reno diam menatap Risa tanpa berkedip, entah kenapa dia merasa jika Risa menjadi semakin dewasa dan seksi. Senyuman lembut dan gaya berjalan anggun, tidak seperti Risa yang dulu dengan senyuman terkesan menggoda, namun masih kekanakan.
Padahal beberapa hari lalu Reno masih bertemu Risa di rumah sakit dan dia rasa Risa tidak secantik ini. Tapi kenapa sekarang bisa berubah bak bidadari?
"Nak Reno."Ucap Mama Stella membuat Reno tersadar dan menatap Mama Stella canggung.
"Maaf, kalian mau pesan apa?" tanya Reno.
"Oke, di tunggu pesanannya." ucap Reno setelah Mama Stella dan Risa menyebutkan pesanan mereka.
Risa tahu bahwa Reno terus memperhatikan dirinya, namum dia sengaja mengabaikan itu, walaupun dia agak tidak nyaman dengan tatapan Reno yang jelas jelas menunjukkan kekaguman pada dirinya.
Risa memilih melihat ponsel karena memang ada pesan masuk. Ternyata itu dari Satya.
Satya : Kamu sedang apa? apakah masih belanja? sudah makan siang belum?
Aku baru saja selesai meeting nih, belum makan. Perutku lapar.
*Risa : Aku sedang menunggu makanan datang, kami sudah selesai belanja.
Ya sudah cepat makan sana kalau lapar.
Satya : Kamu makan di mana?
Risa : Di restoran.
Satya : Restoran mana sayang...
Risa : Reno.
Satya : Apa?!
**TBC.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like bagi poin dan favoritkan cerita ini yah*** ;)