Istriku Bocah SMA

Istriku Bocah SMA
Episode 06 Risa lupa ingatan.


__ADS_3

BAB 06


*** Istriku Bocah SMA ***


"Tante Melda, Risa kritis dan butuh donor Darah... Tapi kita semua tidak ada yang cocok, bagaimana ini?"


"Bagaimana bisa?!"


"Tidak tahu, barusan suaminya nelpon kalau Risa butuh donor darah O+."


"Golongan darah kita sama, tapi aku sedang berada di kota yang jauh dari Risa. Tapi ada satu orang yang aku tahu golongan darahnya sama dengan Risa."


"Siapa tante, kasih tahu aku sekarang."


"Ayahnya Risa."


"Ayah Risa?"


"Ya."


"Dia-,


"Ya dia, kita sama sama bergolongan darah O+."


"Tapi apa dia mau mendonorkan darah untuk Risa?"


"Jika dia punya hati, seharusnya mau."


"Baiklah aku akan mencoba menghubunginya."


*** Istriku Bocah SMA ***


"Ma, Pa..."


"Bagaimana keadaan Risa?" tanya Setiawan, ayah Satya.


"Masih kritis Pa, belum ada donor darah yang cocok untuk Risa." ucap Satya lesu.


"Memangnya apa golongan darah Risa?" tanya Stella, Ibu Satya.


"O+... Kedua kakaknya berbeda golongan darah dengan Risa. Sementara orang tua Risa masih ada diluar negri untuk perjalanan bisnis dan belum bisa pulang.". Jelas Satya.


Stella menatap anaknya lalu menatap suaminya penuh harap. "Pa..."


"Papa akan mendonorkan darah untuk Risa." ucap Setiawan.


"Papa serius?" tanya Stella dan Satya berbarengan.


Setiawan mengangguk dan tersenyum tulus.


"Tentu, kamu jangan khawatir. Risa pasti akan baik baik saja." ucap Setiawan.


Satya langsung memeluk Ayahnya senang. "Makasih Pa, makasih banyak."


"Satya mau kasih tau dokter dulu." ucap Satya lalu bergegas pergi.


Stella menatap Setiawan dengan sudut mata yang sudah mulai berair. "Terima kasih."


"Kamu tidak perlu berterima kasih, Satya itu anak kita Stella. Dan kebahagiaan Satya adalah yang utama untukku." ucap Setiawan serasa tersenyum tulus.


Stella pun langsung memeluk tubuh suaminya.


*** Istriku bocah SMA ***


Risa mengerutkan dahinya dalam karena rasa pusing yang mendalam di kepalanya. Tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya, yang dia ingat tadi ia menyelamatkan Satya dari tabrakan dan berhasil dan mengakibatkan dirinya yang ganti tertabrak.

__ADS_1


Apa aku sudah mati? Batinnya bertanya.


Karena semua yang ada dalam pandangannya hanya putih tanpa ada setitik warna lain.


"Risa."


Risa menolehkan kepalanya ke kanan dan kekiri saat mendengar seseorang memanggil namanya.


"Risa."


Lagi.


Risa dapat mendengar suara itu, namun tidak bisa melihat siapa orang yang memanggilnya karena semuanya hanya berwarna putih dalam pandangan Risa.


"Risa... Dokter apakah dia baik baik saja."


"Terus saja panggil namanya agar cepat sadar... Dia hanya terpengaruh obat tidur."


Risa clingukan kanan kiri tapi tetap tidak ada satu orang pun di dekatnya. Masih hanya warna putih bersih tanpa cela yang ada dalam pandangan Risa, padahal Risa dapat mendengar obrolan dua orang yang sepertinya ada di samping dirinya.


"Risa, ini aku Satya."


Risa mendengus jengkel karena hanya suara yang bisa dia dengar tanpa bisa melihat wujud asal suara.


"Risa, bangunlah... Jangan buat aku khawatir."


"Risa, aku minta maaf karena aku kamu jadi kayak gini."


"Risa, kenapa kamu tidak bangun bangun."


"Risa jangan mati dulu, aku tidak mau jadi Duda ting ting."


"Risa, kamu tidak capek apa tidur terus? Udah lima hari loh kamu tidur."


Rasanya Risa ingin marah karena mendengar ocehan itu, tapi apa daya. Risa bahkan tidak bisa bersuara sama sekali.


"Risa kamu kenapa? Kenapa kamu malah jadi kayak ikan koi sih? Jangan jangan kamu kemasukan arwah ikan koi lagi." ucap Satya panik sendiri.


"Dokter ini Risa kenapa?"


Dokter dan suster yang kebetulan sedang memeriksa keadaan Risa pun langsung mengecek kondisi Risa.


"Rileks Risa, tidak apa-apa semua akan baik baik saja." ucap dokter itu.


"Bagaimana dokter bisa bilang baik, Risa aja tidak bisa dilihat baik baik saja." seru Satya kesal.


"Maaf pak, sebaiknya Anda keluar." ucap suster pada Satya.


"Apa?"


"Hanya sebentar, tidak sampai lima menit." ucap suster lagi.


Satya mengalah dan akhirnya keluar ruangan dan membiarkan dokter dan suster mengurus Risa.


Benar kata suster tadi, tidak sampai lima menit pun Satya langsung di panggil untuk masuk kembal keruangan Risa.


"Bagaimana dok?" tanya Satya langsung.


"Keadaannya sudah stabil." balas dokter.


Satya menatap Risa yang juga tengah menatapnya. "Risa kamu baik baik aja kan?" tanya Satya saat dokter telah pamit untuk keluar.


Risa mengeryitkan dahinya dalam dan menatap Satya bingung.


"Risa, kamu kenapa? Mana yang sakit? Aku panggil dokter lagi ya." ucap Satya.

__ADS_1


"Kamu siapa? Dan bagaimana kamu bisa berpikir bahwa aku baik baik saja. Sedangan aku sudah lama berbaring di sini." ucap Risa ketus.


Satya mendelik. "Jangan bilang kamu kena Amnesia."


"Siapa yang kena Amnesia?" tanya Risa bingung.


"Kamu." balas Satya.


"Aku.?" ucap Risa menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk.


"Iya..."


"Kenapa kamu bisa bilang kalau aku kena amnesia?" tanya Risa bingung.


"Tadi kamu tanya aku siapa?" ucap Satya.


Ris mendengus. "La memang kamu siapa?"


Satya mulai kembali panik, takut jika Risa benar benar mengalami Amnesia.


"Aku suami kamu." ucap Satya.


"Ha? Ya kali suami aku om-om kayak kamu." ucap Risa.


Satya menelan ludah, berbedaan umur memang menjengkelkan.


"Kita menikah karena di jodoh kan sama orang tua kita." ucap Satya.


"Oh pantes... Ya tidak mungkin juga aku mau nikah sama om om kayak kamu." ucap Risa.


"Risa---


"Aku lapar, bisa ambilkan aku makanan. Rasanya sudah sebulan aku belum makan." ucap Risa memotong ucapan Satya.


Satya mendensah tapi tetap mengangguk untuk mengambilkan Risa makan.


Setelah Satya keluar ruangan, Risa menghembuskan nafas panjangnya.


"Huhh... Ternyata berpura-pura itu nguras tenaga juga ya." ucapnya lega.


"Kira kira bagaimana ya reaksi kak Satya kalau aku cuma boongan lupa sama dia." ucap Risa setelah berpikir cukup lama.


"Ahh bodo amat, abis dia ngeselin sih." ucapnya kesal saat ingat apa saja yang Satya katakan saat ia belum sepenuhnya sadarkan dirinya.


"Risa jangan mati dulu, aku tidak mau jadi Duda ting ting." Risa mengulang kata kata Satya tadi.


"Ya kali dia berharap aku mati."


"Ini orang beli makanan dimana sih, lama banget. Tidak tahu perutku laper banget apa ya." gerutu Risa memegangi perutnya yang terasa perih.


*** Istriku Bocah SMA ***


Selesai membeli bubur dari restoran yang tidak jauh dari rumah sakit tempat Risa dirawat --Satya sengaja tidak beli bubur di kantin rumah sakit karena pasti Risa tidak akan mau makan bubur yang tidak ada rasanya-- Satya kembali keruangan Risa, perasaan ia keluar hanya lima belas menit. Tapi saat ia kembali sudah tidak menemukan Risa dimana punĀ  padahal Satya sudah mencarinya di kamar mandi juga.


Dengan panik dia berlari keluar kamar rawat Satya dan mencegat suster yang kebetulan lewat.


"Sus-sus tunggu... Pasien yang ada di kamar rawat 069 kemana ya kok tidak ada?" tanya Satya.


Suster itu menggelengkan kepalanya dengan sedikit kesal karena tidak suka di panggil sus-sus. Dia pikir dia usus apa?


"Maaf Saya tidak tahu, permisi."


Satya mengacak acak rambutnya kesal...


"Kemana sih itu bocah, lupa ingatan aja masih ngerepotin."

__ADS_1


Satya kembali ke ruangan Risa dan meletakkan makanan yang dia beli di meja, lalu kembali keluar ruangan untuk mencari keberadaan Risa.


__ADS_2