
BAB 33.
*** Istriku Bocah SMA ***
[Risa Diandra]
"Risa bangun."
Aku membuka mataku perlahan saat mendengar suara bisikan bisikan seseorang yang membangunkanku. Rasanya aku tidak mau membuka mata, namun juga penasaran dengan siapa yang telah membangunkanku.
"Sudah bangun."
"Kak Satya."
Ternyata itu kak Satya yang barusan membangunkanku.
"Ketiduran." ucapnya.
"Jam berapa sekarang?" tanyaku.
"Jam dua lewat lima belas menit." ucap kak Satya seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
"Masih malam, kenapa kak Satya membangunkan aku?" tanyaku seraya menguap.
"Kamu lupa, kamu tadi kelaparan dan menyuruhku untuk membeli makan." ucap kak Satya seraya menunjuk Naas yang terdapat bungkusan plastik.
"Aku sudah tidak lapar sekarang kak, aku ingin tidur. Ngantuk." ucapku dan kembali menguap, aku lupa jika tadi aku memang meminta kak Satya untum membelikan aku makanan karena perutku yang terasa sangat lapar, dan rasanya aku sangat malu saat mengingat bagaimana caraku meminta pada kak Satya.
"Tapi bagaimana dengan makanannya?" tanya kak Satya.
"Buat kak Satya saja." ucapku lalu kembali berbaring dan memejamkan mata.
"Kamu beneran tidak mau makan? Tadi kamu terlihat sangat kelaparan?" tanya kak Satya lagi.
"Tidak kak, Risa ngantuk." ucapku tanpa membuka mata.
Aku mendengar kak Satya yang menghela nafas panjang. Maafkan aku kak Satya, karena aku sudah merepotkan dirimu.
"Ya sudah, tidurlah." ucapnya lalu ikut naik ke atas ranjang.
Ranjang rumah sakit yang sempit ini terpaksa harus menampung aku dan kak Satya. Namun aku tidak keberatan akan hal itu dan malah mencari tempat nyaman untuk tidur di pelukan kak Satya, rasanya hangat.
Aku bisa merasakan kak Satya yang mengusap lembut puncak kepalaku dan mengecupnya lama. Dadaku terasa seperti di aliri sesuatu yang hangat dan menyenangkan. Rasanya aku ingin terus berada di dalam pelukannya selamanya.
Hingga lama lama aku pun tertidur pulas dalam dekapannya.
__ADS_1
Keesokan harinya saat aku bangun, Kak Satya masih ada di atas ranjang yang sama denganku, padahal hari sudah terang.
"Kak Satya tidak bekerja?" tanyaku dengan suara serak khas bangun tidur seraya mendongak untuk menatap wajahnya.
"Bagaimana Aku bisa bekerja saat kamu berbaring lemah di rumah sakit seperti ini." ucapnya.
Aku akui kak Satya memang terlalu lebay atau khawatir yang berlebihan karena Aku sebenarnya sudah tidak apa-apa. Kemarin hanya pingsan sebentar karena teringat masa lalu, tapi kak Satya malah memaksaku untuk dirawat inap di rumah sakit.
Padahal sang dokter sudah mengatakan bahwa aku tidak apa-apa, tapi kak Satya tetap saja memaksaku untuk di rawat inap.
"Kak aku tidak apa-apa, aku baik baik saja." ucapku mencoba meyakinkan kak Satya.
Kak Satya malah mendengus. "Jelas jelas kamu di rawat di rumah sakit begini, masih bisa bilang kamu baik baik saja." ucap kak Satya.
Aku memutar bola mataku malas dan memalingkan wajahku. Jelas jelas dia yang membuatku di rawat di rumah sakit ini.
"Oke, Aku tahu aku yang membuat kamu di rawat disini. Aku hanya tidak mau kamu pingsan lagi." ucap kak Satya seakan tahu apa yang tengaj aku pikirkan.
Aku melepaskan tangan kak Satya yang melilit pinggangku, lalu turun dari ranjang.
"Kak aku mau pulang." ucapku.
"Iya kita pulang." ucapnya lalu ikut turun dari ranjang dan menghampiriku kemudian kembali memelukku.
"Aku mencintaimu." ucap kak Satya tiba tiba.
"Risa, ingatlah bahwa aku selalu mencintai kamu. Saat ini, dulu dan selamanya." ucap kak Satya lagi.
"Hmm."
Suara deheman seseorang membuatku semakin menyembunyikan wajahku di dada kak Satya karena tidak mau orang itu melihat wajahku yang merona merah bak tomat busuk.
"Sepertinya Risa sudah sangat sehat dan bisa pulang, jadi aku tidak perlu memeriksanya."
Ternyata dokter Fero yang datang.
"Ya, saat ini dia baik baik saja. Tapi bagaimana jika nanti suatu saat dia pingsan lagi?" tanya kak Satya.
"Kamu jangan khawatir Satya, itu normal untuk penderita Amnesia yang akan mulai ingat masa lalunya." ucap Dokter Fero.
"Tapi aku tetap tidak suka melihatnya pingsan." ucap Kak Satya kesal.
"Aku tahu kamu sangat mencintai Risa, tapi tolong jangan terlalu lebay." ucap Dokter Fero.
"Aku tidak lebay, Aku hanya khawatir." ucap Kak Satya tidak mau di bilang lebay.
__ADS_1
"Ya terserah kamu sajalah. Risa sudah boleh pulang, Aku permisi dulu. Mau melihat pasien yang lebih membutuhkanku." ucap dokter Fero mengalah lalu keluar dari ruangan.
"Risa, Aku mau ke tempat administrasi dulu. Apa kamu akan terus memelukku seperti ini?" tanya kak Satya.
Aku melepaskan pelukanku pada pinggang kak Satya dan menjauh dengan kepala tertunduk dalam.
"Kenapa menunduk begitu, tadi malam saja kamu bisa manja padaku?" tanya kak Satya seraya mengangkat wajahku agar Aku bisa menatap wajahnya yang saat ini tengah tersenyum.
"Maaf kalau semalam membuat kak Satya tidak nyaman." ucapku.
Kak Satya menggelengkan kepala pelan. "Aku suka kamu seperti tadi malam."
"Aku mencintaimu."
"Kak Satya sudah mengatakan itu tadi." ucapku.
"Tidak apa, mulai sekarang Aku akan lebih sering mengatakannya. I Love You Risa Diandra Setiawan." ucap kak Satya dengan senyuman yang semakin lebar.
"Aku--
"Kamu tidak perlu membalas ucapanku, karena aku tidak ingin mendengar jawaban."
"Hmm."
"Aku mencintaimu.... I Love You Risa." ucap kak Satya lagi lalu sedikit menunduk untuk mencium bibirku.
Aku hanya bisa mematung saat kak Satya menciumku, karena aku tidak tahu harus bagaimana.
"Risa aku mencintaimu, rasanya aku hanya ingin berdua denganmu saja." Ucap Kak Satya setelah melepaskan ciuamnnya padaku.
Aku hanya tersenyum, jujur saja aku bahagia setiap mendengar kak Satya mengatakan bahwa dirinya mencintaiku. Rasanya seperti ada ribuan kupu kupu mengepakkan sayapnya berada di perutku, geli geli gimana gitu.
"Kak, katanya mau ke tempat administrasi." ucapku.
"Kamu tunggu sebentar, setelah dari tempat administarsi kita langsung pulang... Mama Stella sudah terus bertanya kapan kamu pulang." ucap kak Satya dan kembali mengecup bibirku sekilas lalu keluar ruanganku.
"Hah."
Aku menghela nafas panjang, tanpa sadar ternyata tadi aku telah menahan nafas.
Kak Satya benar benar manis dan aku suka. hmm inikah yang di namakan jatuh cinta? rasanya selalu ingin bersamanya dan tidak rela berpisah walau hanya sesaat saja!
Aku pun memilih ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena aku baru ingat jika aku belum membersihkan diri dan kak Satya dudah menciumku berkali kali, padahal aku baru bangun tidur.
Gila!
__ADS_1
Pasti mulutku sangat bau.
Terima kasih sudah mampir ;) jangan lupa like, favoritkan cerita ini dan juga berikan poin kalian se-ikhlasnya ;)