Istriku Bocah SMA

Istriku Bocah SMA
Episode 41 Ridho Setiawan


__ADS_3

BAB 41.


*** Istriku Bocah SMA ***


[Risa Diandra]


Aku membuka mata perlahan, rasanya sangat berat dan membuatku enggan membuka mata, namun suara brisik di sekelilingku membuatku mau tak mau harus membuka mata.


"Syukurlah Anda selamat." Ucap seseorang pria berpakaian putih itu bernafas lega dan tersenyum lebar.


Aku yang masih tidak mengerti dengan keadaan seperti apa ini pun langsung mengingat bahwa tadi malam aku terjatuh di kamar mandi saat akan buang air kecil.


Sontak aku langsung meraba perutku, datar. Dimana bayiku? pikirku panik. Apa aku sudah keguguran?


"Tenang Bu, Bayi Ibu sudah terlahir keduania ini." ucap pria itu.


Aku memperhatikan pria itu, lalu mentap sekeliling ruangan dan aku baru sadar jika aku berada di rumah sakit. Selain dokter itu, ada juga dua suster yang bersamanya.


"Apakah mereka baik baik saja?" tanyaku pelan, aku ingat aku mengalami pendarahan karena perutku terbentur lantai.


"Ya, dia baik baik saja Bu." ucap dokter itu.


"Maaf Saya harus memberikan obat tidur agar kondisi Anda kembali stabil." ucap dokter itu.


Aku tidak tau kapan dokter itu memberikanaku obat tidur, karena setelah perkatakan dokter barusan. Mataku kembali berat dan mau tak mau harus terpejam, dan perlahan kesadaranku pun hilang.


Aku kembali membuka mataku karena silau, namun aku terkejut saat mendapati diriku tidak di rumah sakit. Tapi di suatu tempat yang asing, yaitu saat ini aku tengah berbaring di rerumputan hijau yang indah.


Aku bangun dari rebahanku dan menatap hamparan reruputan hijau di penuhi dengan bunga bunga bermekaran. Indah sekali, aku baru tau ada tempat seindah ini.


"Bukankah ini indah?"


Aku terjengkit kaget karena terkejut tiba tiba ada yang berbicara di belakangku, padahal tadi tidak ada siapun selain aku.


Aku menatap bocah laki laki yang mungkin berusia lima tahun atau entah berapa itu berdiri dengan senyuman lebarnya menatapku.


"Kamu siapa?" tanyaku.


"Ridwan Setiawan." balasnya, senyumnya sungguh manis.


"Kenapa kamu ada di sini? dimana orang tuamu?" tanyaku lalu menatap sekeliling tidak ada orang selain kami.


"Karena ini tempatku." ucapnya, dia tidak membalas pertanyaan terakhirku.


"Lalu dimana Ayah dan Ibumu?" tanyaku lagi.


Bocah itu tersenyum semakin lebar lalu menunjuk diriku. Aku mengerutkan dahiku bingung, aku pun berbalim badan karena ku pikir di belakangku ada orang tuanya, namun nyatanya tidak ada siapapun. Apa maksud bocah ini aku adalah orang tuanya? pikirku.


"Ya kamu adalah Ibuku." ucapnya.

__ADS_1


Aku menatap bocah itu horor, aku bahkan tidak menyuarakan pikiranku, kenapa bocah ini bisa tau. Apa bocah ini bisa membaca pikiran.


"Aku senang ada Ibu disini, tapi tempatmu bukan disini... Aku tidak boleh egois, Ibu harus kembali karena di sana masih banyak yang menunggu Ibu." ucap Bocah itu dengan senyuman manis yang membuatku semakin bingung.


"Apa maksudmu?" tanyaku tidak mengerti.


"Kembalilah Bu, mereka menunggumu." Ucapnya lagi.


"Aku tidak mengerti." ucapku masih tidak mengerti.


"Ibu akan mengerti saat Ibu kembali nanti.."


Perlahan bocah laki laki itu badannya memudar membuatku panik.


"Hei kamu kenapa?" tanyaku mendekatinya dan berusaha menggapainya.


"Ridwan... Ridwan kamu di mana?" seruku karena bocah itu tiba tiba hilang begitu saja.


Aku menangis tanpa sadar, membuatku bingung sendiri dan menghapus air mataku.


"Ridwan..."


"Kembalilah Bu."


Aku menatap sekeliling dengan bingug, aku bisa mendengar suaranya namun tidak dapat melihat wujudnya.


"Kembali kemana?"


"Ridwan..."


"Ridwan..."


"Ridwan...."


"Sayang,-


Aku kebingungan saat tiba tiba ada Satya di depanku, aku melihat sekeliling, bukandi hamparan hijau rerumputan lagi tapi aku berada di ranjang rumah sakit.


"Sayang, syukurlah kamu akhirnya sadar." ucap Satya membuatku bingung.


"Satya dimana anak anak kita?" tanyaku langsung.


Satya tersenyum, namun aku tau ada kesedihan di balik senyumannya itu.


"Dia sedang tidur." ucap Satya, ia lalu berjalan menjauhi ranjangku dan menghampiri box bayi.


Satya mengambil sesuatu yang aku pikir anak kami lalu kembali berjalan menghampiriku.


"Ridwan." gumamku tanpa sadar saat melihat wajah bayi itu mirip dengan bocah laki laki yang ku temui barusan.

__ADS_1


Namun Satya menggelengkan kepalanya. "Bukan sayang, ini Ridho." ucapnya.


"Tapi-,


Aku menghentikan ucapanku lalu menatap Satya, "Dimana anak kita yang satunya Satya."


"Sayang, dia sudah bersamaNya." ucap Satya membuatku bingung.


"Maksud kamu apa?" tanyaku benar benar tidak mengerti.


"Bayi kita yang satunya sudah meninggal saat di lahirkan." ucap Satya.


"Jadi dia itu tadi...."


Aku tidak melanjutkan ucapanku dan menangis, jadi bocah laki laki itu benar adalah anakku. Ridwan, maafkan Mama sayang, mama tidak bisa menjagamu dengan baik.


Satya memelukku dengan tangan kirinya karena di tangan kanannya ada putra kami. "Maafkan aku sayang, karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Tidak bisa menjaga anak anak kita dengan baik."


Aku melepaskan pelukan Satya dan menatap Satya yang kini matanya sudah berair, dia menangis tanpa suara.


"Seharusnya aku yang minta maaf karena tidak bisa menjaga anak anak kita." ucapku lirih. Jika bukan karena aku yang terjatuh di kamar mandi, mungkin Ridwan saat ini masih ada bersama kami.


"Sudahlah kita semua salah, sebaiknya kita jaga Ridho dengan baik saat ini." ucap Satya.


"Bisakah aku menggendongnya." ucapku.


Satya mengangguk lalu menyerahkan Ridho padaku.


"Kamu tau, kamu sudah membuatku sangat khawatir. Aku pikir aku juga akan kehilangan kamu." ucap Satya.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" tanyaku.


"Apa kamu tau jika kamu itu sudah tidak sadarkan diri selama satu bulan lebih." ucap Satya.


"Apa? selama itukah?" tanyaku tidak percaya.


"Kamu pikir aku sedang berbohong." ucap Satya menatapku serius.


"Maaf sudah membuatmu khawatir." ucapku.


"Sudahlah yang penting saat ini kamu sudah baik baik saja, aku bahagia karena kalian berdua baik baik saja." ucap Satya.


"Jika aku tidak sadarkan diri selama satu bulan lebih, lalu Ridho selama ini minum apa?" tanyaku.


"Ridho di masukkan ke inkubator selama setengah bulan karena kondisinya sangat lemah, setelah itu dia minum susu formula sampai sekarang." ucap Satya.


"Oh iya, tadi mengapa kamu menyebut Ridho dengan nama Ridwan. Padahalkan aku belum memberitahu kamu jika putra kita yang satunya aku beri nama Ridwan?" tanya Satya.


Aku tersenyum dan mulai menjelaskan pada Satya jika aku sudah bertemu dengan Ridwan, dan dialah yang menyuruhku untuk kembali.

__ADS_1


Up lagi, jangan lupa bagi like dan poin kuy ;)


__ADS_2