
BAB 21.
*** Istriku Bocah SMA ***
[Risa Diandra]
"Makan yang banyak ya sayang, maaf Mama baru bisa datang hari ini." ucap seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Ibuku. Dia masih sangat muda dan juga sangat cantik, senyumnya menawan dan lembut.
Walau aku tidak mengingat siapa dirinya, tapi aku bisa merasakan bahwa kami sangat dekat dulu. Tentu saja kamu sangat dekat dengan Ibumu, Risa bodoh! ucap Batinku mengejek.
"Ma, Risa sudah kenyang." ucapku menolak sendok yang beliau berikan.
"Kamu baru makan tiga suap dan bilang sudah kenyang, ada apa? apa kamu tidak suka masakan Mama?" tanyanya sedih.
"Baiklah aku makan lagi." ucapku, aku tidak bisa melihat wajahnya bersedih.
Walaupun perutku sudah kenyang dan ku pikir sebentar lagi akan meledak karena terlalu banyak makan. Aku tidak berbohong, aku benar benar sudah kenyang. Karena sebelum orangtuaku datang, aku sudah makan.
Sementara Ibu sibuk menyuapiku, Satya, Papa, kak Rio dan Kak Revano sibuk mengobrol di sofa yang tersedia di kamar ini. Ku pikir kamar ini adalah vvip karena selain sangat luas, juga ada dua sofa dan satu meja kecil.
"Satya bilang besok kamu sudah boleh pulang Ya?" tanya Mama seraya membereskan peralatan makan. Rasanya perutku mau meledak karena kebanyakan makan.
"Iya, Ma. Ma bolehkan aku pulang bersama Mama?" Tanyaku.
"Kenapa?"
Aku menatap Satya. "Aku merasa tidak baik kalau aku pulang bersamanya."
"Sayang, Satya itu suami kamu." ucap Mama lembut seraya menggenggam tanganku.
"Aku merasa tidak nyaman saja Ma jika harus tinggal berdua bersamanya." ucapku jujur.
"Kalian tidak akan tinggal berdua kok, ada orang tua Satya." ucap Mama seraya tersenyum.
"Orang tuanya masih hidup?" tanyaku kaget.
"Kamu ini bicara apa, tentu saja masih hidup... Beliau memang belum sempat kemari karena sibuk. Tapi karena besok kamu akan pulang, Ibunya Satya sudah mempersiapkan banyak hal untuk kamu." jelas Mama..
"Tapi Ma..."
"Jangan khawatir, orang tua Satya tidak seburuk yang kamu pikirkan."
Aku menghela nafas, tidak bisa menolak lagi. Walau pun sebenarnya aku sangat ingin pulang kerumah orangtuaku, tapi mungkin pulang kerumah orangtua Satya bukanlah hal buruk.
"Mama sama Papa pulang dulu ya... Besok kita langsung nunggu kamu di rumah orang tua Satya." ucap Mama.
__ADS_1
"Hati hati Ma, Pa."
Papa tersenyum dan mengusap kepalaku lembut. "Papa pulang dulu."
Setelah Mama dan Papa pulang, aku menatap kedua kakakku yang masih tidak beranjak dari tempatnya.
"Kalian tidak pulang?" tanyaku.
"Kamu mengusir kami?" tanya kak Rio mendengus sebal.
"Aku tidak mengusir kalian, tapi-,
"Sudahlah Risa, jangan dengarkan ucapan Rio." ucap Kak Revano memotong ucapanku.
"Kami pulang dulu, besok kami langsung menunggu kamu di rumah orangtua Satya ya." lanjut kak Revano.
Aku mengangguk dan tersenyum tipis, membuat kak Rio mencibir. "Senyum itu yang ikhlas, jangan setengah setengah begitu."
"Terima kasih karena kalian sudah datang." ucap Satya.
"Tidak perlu berterima kasih, Risa adik kami. Jadi wajar jika kami menjenguknya." ucap Kak Revano.
"Jaga diri baik baik, jangan merepotkan Satya." ucap Kak Revano seraya mengusap kepalaku.
"Kak aku belum mau pulang." ucap Kak Rio saat kak Revano menarik tangannya keluar ruanganku.
"Aku mau tidur." ucapku.
Satya menghela nafasnya. "Istrirahatlah, besok kamu harus bertemu dengan *Robinson."
"Robinson?" Tanyaku*.
Satya mengangguk dengan senyum lebar di bibirnya. "Hewan kesayangan kamu, bahkan terkadang kamu suka melepaskannya di kamar."
"Tidak perlu mencoba mengingat ingat, karena besok kamu akan tahu." ucap Satya seakan tahu jika aku mencoba mengingat hewan apakah itu Robinson?
"Apakah aku suka memelihara hewan?" tanyaku.
Satya mengangguk. "Ya, kamu sangat suka dengan hewan. Hampir semua hewan kamu memilikinya, bahkan kamu punya kandang khusus untuk para hewan peliharaan kamu." jelas Satya.
"Apakah ada banyak? ada apa saja?" tanyaku. Aku merasa penasaran dengan hewan apa saja yang aku pelihara karena tidak ada satu pun bayanganku tentang hewan yang aku pelihara.
"Ada Robinson dan bla bla bla bla bla........
Aku mengerutkan dahiku mencoba mengingat semua hewan yang Satya sebutkan, namun tidak ada satu pun yang melintas dalam pikiranku. Membuatku menyerah dan memilih untuk tidur karena kepalaku malah terasa pusing.
__ADS_1
Keesokan harinya, Satya membawaku pulang di pagi hari setelah sarapan.
"Hati hati."
Satya membantuku turun dari mobilnya, padahal sebenarnya aku bisa sendiri.
"Aku bisa sendiri." ucapku saat Satya akan memapahku.
"Risa-,
"Aku bukan orang lumpuh, aku masih bisa jalan." ucapku memotong ucapan Satya.
Satya pun menghela nafasnya. "Baiklah."
Aku berjalan pelan menuju di samping Satya menuju pintu utama rumah megah milik orangtua Satya. Dulu aku mau menikah dengan Satya bukan karena dia anak orang kaya kan? pikirku sendiri, aku takut jika dulu aku adalah perempuan matre gila uang.
"Supraisssss!!!"
Aku mematung di depan pintu, saat Satya baru saja membuka pintu dan melihat banyak sekali orang. bukan enam atau pun tujuh tapi puluhan lebih.
Mereka tertawa dan memanggil manggil namaku, membuatku kepalaku tiba tiba terasa amat pusing.
"Risa-,
Aku tidak peduli dengan panggilan semua orang, kepalaku luar biasa pusing. Ku pikir hanya akan ada orangvtua Satya, kedua kakakku dan juga orang tuaku yang akan menyambutku pulang, namun nyatannya belasan orang tidak aku kenal menghampiriku dan berbicara sok akrab denganku.
"Diam!"
Aku berteriak kesal karena setiap ucapan mereka membuat kepalaku sangat pusing.
"Risa ada apa?"
"Kamu tidak senang kami disini?"
"Risa-,
Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang semakin membingungkan.
"Kalian siapa? maaf aku tidak kenal kakian." ucapku lalu berlari menaiki tangga, mencari tempat sepi.
Aku membuka salah satu pintu di lantai atas yang tidak lain adalah sebuah kamar yang entah milik siapa. Aku tidak tahu, tapi aku tidak peduli dan memilih menyembunyikan diri di tempat ini.
**Maaf baru update dan terima kasih nuat yang sudah doain kesembuhan putraku...
Terima kasih sudah setia mengikuti, insyaallah aku akan mulai up tiap hari...
__ADS_1
Dan jangan lupa like yah ;)
Dan kalau boleh bagi vote-nya dong, satu orang 10 poin sudah luar biasa banget. Tapi saya tidak maksa kok, itu hak kalian mau kasih apa nggak hahaa** ;)