Istriku Bocah SMA

Istriku Bocah SMA
Episode 26 Dua kali ciuman


__ADS_3

**BAB 26


*** Istriku Bocah SMA ***


Setelah selesai sarapan.


"Ma, aku boleh minta tolong sama Mama tidak?" tanya Satya saat sarapan telah usai.


"Tentu saja boleh sayang, kamu butuh bantuan apa?" tanya Mama Stella.


"Tolong temani Risa belanja Ma. Sebenarnya aku sudah berjanji akan menemani Risa, namun aku harus bertemu klien penting hari ini, jadi tidak bisa menemani Risa belanja. Risa bilang tidak nyaman menggunakan pakaian yang sekarang." Jelas Satya seraya menatap Risa yang tengah mencuci piring bekas sarapan mereka. Padahal Mama Stella sudah melarang Risa, tapi Risa tetap membereskan meja makan dan mencuci semua perabotan makan tanpa takut tangannya akan kasar.


"Baiklah, Mama akan menemari Risa." ucap Mama Stella.


"Terima kasih Ma." ucap Satya tersenyum bahagia.


"Kamu jangan berterima kasih, kamu itu anak Mama dan Risa juga sudah Mama anggap sebagai anak Mama sendiri. Bukan menantu." ucap Mama Stella dengan senyuman lembutnya.


"Mama memang yang terbaik." ucap Satya bangga.


"Tentu saja, Mamamu adalah yang terbaik." Ucap Papa Setiawan.


Satya mendengus sebal saat melihat Mama dan Papanya saling pandang dengan senyuman lebarnya. Bukanya Satya tidak suka, tapi dia kesal karena mereka seperti sedang pamer jika rumah tangga mereka bahagia sampai saat ini.


"Papa berangkat ke kantor dulu ya Ma." ucap Papa Setiawan saat Risa sudah ikut bergabung bersama mereka.


"Hati hati Pa, Beritahu Pak Wawan agar tidak membawa mobil dengan kecepatan tinggi." ucap Mama Stella, ia mencium punggung tangan Papa Setiawan dan Papa Setiawan mencium kening Mama Stella.


"Mama juga hati hati ya nanti belanjanya." ucap Papa Setiawan.


Satya mendengus saat melihat orangtuanya bermesraan di hadapannya. 'Kalian pikir hanya kalian yang bisa bermesraan!' Batin Satya kesal.


Satya menatap Risa, lalu tersenyum lebar. "Aku berangkat ke kantor dulu ya." ucap Satya.


Risa mengangguk. "Hati hati di jalan." ucap Risa.


Satya mendengus sebal. "Hmm maaf nanti aku tidak bisa menemanimu belanja karena ada petemuan dengan klien penting." ucap Satya.


"Iya tidak apa-apa, kita bisa belanja lain kali. Aku masih bisa kok pake pakian lama." ucap Risa.


Satya menggelengkan kepalanya. "Tidak, maksudku. Aku sudah minta tolong pada Mama untuk mengantarmu belanja." ucap Satya.


Risa menatap Mama Stella dan Mama Stella pun mengangguk.


"Baiklah, jika itu tidak merepotkan Mama." ucap Risa.

__ADS_1


"Tentu saja tidak sayang." ucap Maam Stella.


"Satya ayo." ajak Papa Setiawan.


"Papa duluan saja, kantor kita kan beda." ucap Satya.


Papa Setiawan mengangguk dan berjalan meninggalkan Satya. Satyam mendengus saat meihat Mama Stella mengikuti Papa Setiawan keluar rumah, dia pun mencibir pelan. '*buat apa tadi berpamitan mesra jika Mama masih mengikuti Papa hingga luar'


"Satya kamu* tidak apa-apa?" tanya Risa karena Satya hanya diam saja.


Satya tersadar dari lamunan sesaatnya dan kembali menatap Risa, ia tersenyum penuh makna pada istrinya itu.


"Kamu tidak jadi pergi?" tanya Risa.


"Tidak sebelum di beri vitamin." Ucap Satya dengan senyuman yang semakin lebar.


Risa menatap Satya bingung. "Kamu masih minum vitamin?" tanya Risa.


"Bukan itu, tapi ini." ucap Satya seraya menunjuk pipi kanannya.


Risa menatap Satya tidak mengerti. Satya mendengus dan berjalan mendekati Risa, dengan satu gerakan cepat dia mencium pipi kanan Risa.


Risa yang mendapatkan ciuman di pipi dari Satya langsung merona malu.


"Sudah tahu kan." ucap Satya.


Namun Satya sengaja memalingkan wajahnya, membuat Risa mencium bibirnya. Risa pun mendelik dan segera menjauhkan diri dari Satya, pipinya semakin merona merah karena malu.


Satya tersenyum senang, dulu Risa mencium pipinya tanpa malu malu☺.


"Terima kasih vitaminnya, aku jadi semangat kerja." ucap Satya.


"Hmm." gumam Risa.


"Hati hati nanti kalau belanja." ucap Satya.


"Kamu sudah mengatakan itu tadi." ucap Risa.


Satya menggaruk tengkuknya canggung. Rasanya dia tidak mau ke kantor, dia ingin terus melihat wajah Risa yang merona merah karena malu itu.


"Uhm ya, ini kartu milikku.. Sandinya tanggal lahirku." ucap Satya menyerahkan kartu yang biasa Risa dulu gunakan untuk belanja.


Risa mengangguk. "Terima kasih."


"Ya... Aku berangkat dulu." ucap Satya.

__ADS_1


"Kamu terus mengatakan mau berangkat, tapi tidak beranjak dari tempatmu." ucap Risa seraya tersenyum manis, memperlihatkan kedua lesung pipit miliknya.


Satya tersenyum tanpa dosa. "Hehee ini mau berangkat." ucap Satya.


Satya mencium bibir Risa sekilas sebelum berjalan cepat meninggalkan Risa yang mematung.


Risa menyentuh bibirnya, sudah dua kali dia berciuman dengan Satya. Walaupun hanya sekilas, tapi berhasil membuat kerja jantungnya meningkat.


Tanpa sadar, Risa menyentuh dadanya yang berdebar kencang. "Debarannya sangat kencang, rasanya sangat menyenangkan." ucapnya lirih.


"Risa ada apa?" tanya Mama Stella khawatir saat melihat Risa menyentuh dadanya dengan ekspesi tidak tertebak.


"Oh tidak apa-apa Ma." ucap Risa, ia merasa malu karena tidak sadar ada Mama Stella di hadapannya.


Mama Stella menatap Risa curiga. "Kamu yakin?"


Risa mengangguk mantap. "Iya Ma."


"Ya sudah. Sebaiknya kamu cepat ganti baju atau mandi, kita pergi belanja." ucap Mama Stella.


"Iya, Ma." ucap Risa seraya tersenyum canggung. Jujur saja, dia masih agak sungkan dengan Mama Mertuanya itu.


Risa pun bergegas ke kamar untuk mandi, selesai mandi. Dia kebingungan memilih baju untuk pergi belanja bersama Mama Stella. Risa merasa baju baju yang ada di lemarinya itu kurang sopan di pakai perempuan yang sudah punya suami.


Risa menarik nafas panjang dan mengambil dress hitam tanpa lengan diatas selutut yang ada di dalam lemari.



Risa menatap dirinya di depan cermin. "Tidak terlalu buruk." Gumamnya tersenyum sendiri menatap bayangannya di cermin.


Risa pun memoles wajahnya dengan riasan sederhana agar tidak terlalu mencolok. Setelah selesai, dia mengambil salah satu tas milikya dulu. Memilih yang sesuai dengan bajunya, begitu pun sepatunya.


Setelah selesai semua, Risa pun keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Dia melihat Mama Stella sudah siap dan menunggunya di sofa ruang tamu.


"Maaf menunggu lama Ma." ucap Risa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa Risa, Mama juga baru turun kok.. Lagi pula ini masih terlalu pagi, Mall juga belum buka." ucap Mama Stella.


"Kamu cantik sekali sayang." Ucap Mama Stella setelah mengamati Risa dari atas hingga bawah. Baju, Tas dan sepatu yang Risa pakai sangat cocok. Tidak seperti dulu yang terkesan asal asalan.


"Terima kasih Ma, tapi Mama lebih cantik." ucap Risa, dia tidak berbohong. Walaupun Mama Stella umurnya sudah hampir pertengahan abad, tapi masih awet muda dan cantik. Entah produk apa yang Mama Mertuanya itu pakai, sshingga membuat perempuan itu terkesan seperti umur dua puluhan tahun.


"Yaudah ayo kita belanja... Mama tidak sabar ingin membeli sesuatu." ucap Mama Stella antusias.


**TBC.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca sampai sini ;)


Jangan lupa like, bagi poin dan favoritkan cerita ini yah** ;)


__ADS_2