
"Hei... masih aja berkeliaran sok cantik, culun gitu mau bersaing sama Rika yang cantik dan modis ini?" Ucap Rika yang masih tebar pesona di kampus UHS, padahal banyak yang sudah komplain atas kelakuan sombongnya.
"Seminggu yang lalu dia baru saja di tegur senior Syifa waktu gangguin Imelda, eh malah makin menjadi." Ucap seorang mahasiswi yang baru lewat.
"Minggir lah aku mau lewat." Ketus Imel karena kesal melihat kelakukan Rika dan Rara.
"Aku dengar kamu masih 18 tahun ya..? Eh, berarti aku kakak kamu dong. Cepat panggil aku kakak kalau ketemu ya...awas kalo nggak." Ancam Rika dan jalan menyenggol bahu Imel di depannya padahal Imel memang panggil dia kakak kalau ketemu.
"Huh.. ada yah manusia modelan begitu." Keluh Imel lalu pergi dari sana untuk melanjutkan aktivitasnya. Imel sedang mencari buku di perpustakaan untuk tugasnya dan sepertinya dia tidak akan mudah mendapatkan buku itu.
"Pak, saya mau tanya tentang buku dengan kode FA201512 ada dimana ya?" Tanya Imel dan penjaga perpustakaan itu mengecek dari laptopnya.
"Buku itu sedang diambil oleh penulisnya, bisa langsung email saja jika dia izinkan maka akan dipinjamkan." Jelas si penjaga perpustakaan dan dia memberikan alamat email penulis buku yang sudah di cetak banyak kerena banyak yang akan meminjamnya tetapi sangat sulit.
Si pemilik buku menarik kembali sumbangan hasil karyanya sebab banyak yang seenaknya mengcopy dan menyebarkannya.
"Baik pak, terima kasih." Ucap Imel lalu dia memilih pulang ke kontrakan untuk segera mengirim email ke penulis.
Imel segera mengirimkan email permintaan pinjaman buku yang harus dia baca untuk tugas secara kelompok yang akan di adakan minggu depan, untung saja di penulis bisa membantunya meskipun buku itu tidak bisa dia bawa.
Imel segera informasikan ke teman sekelompoknya agar tidak khawatir karena dia berhasil menghubungi penulis itu, semua di grup chat sangat bersyukur dan berterima kasih tapi tidak dengan Tya yang sangat iri dengan keberhasilan Imel.
"Kenapa harus sekelompok dengan Tya sih.. duh, moga dia ga buat yang aneh-aneh kali ini."Gumam Imel yang sedang memeriksa semua email yang masuk dan juga banyak chat tak penting yang masuk ke hpnya dari para lelaki yang ingin mengejarnya. Tak ada satupun yang ia balas dan Hpnya juga terpaksa dia silent untuk nomor tak dikenal.
Seminggu berlalu dan tugas Imel sudah dia serahkan ke teman kelompoknya, dia hanya bertugas merangkum dan mengedit hasil dari penelitian yang di kerjakan teman-temannya, serta rangkuman dari buku penulis yang dia dapatkan.
"Semua sudah aku email ke kalian ya.. silakan di cek." Ucap imel. Tya, Bayu dan Bima segera mengecek dan hasil rangkuman Imel sangat membuat mereka takjub.
"Bagus banget hasilnya, tulisan kamu juga seperti penulis profesional deh." Puji Bayu dan Bima setuju.
Mereka selalu memuji Imel yang ternyata sangat baik di balik sikapnya yang cuek dan pendiam selama ini. Perlahan dia mulai memiliki beberapa teman, meskipun untuk teman lelaki masih dia pilih yang tidak genit, untunglah Bayu dan Bima tipe yang tidak membuat Imel risih.
Tetapi Tya hanya diam, dia tersenyum licik sebab semua salinan yang setiap hari mereka kumpulkan telah dia bagikan ke salah satu kelompok lain dengan tema yang sama.
Giliran tim kelompok Imel yang akan memperlihatkan hasil penelitian mereka, lalu Bayu sebagai juru bicara yang akan presentasi, karena mereka telah mendapat tugas masing-masing, Bima mendapat tugas cek lapangan dan pergi ke beberapa perusahaan untuk mengambil contoh kasus, sedangkan Tya memilih mengeluarkan biaya saja karena dari mereka ber-4 hanya Tya yang mampu mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli beberapa buku dan mencetak buku mereka nantinya.
"Maaf saya menyela, tapi Pak Hasan, presentasi untuk buku penelitian bisnis mereka mirip dengan punya saya. Coba bapak cek kelompok kami yang terakhir." Ujar Vanessa, Imelda terkejut karena hasil kerjanya ini memang dia kerjakan sendiri dengan bantuan si penulis FA.
"Kelompok 3, bisa jelaskan kenapa ini bisa sama? Kelompok 7 sudah memberikan soft copy-nya ke saya duluan daripada kalian dan mereka juga mendapatkan buku dari penulis FA. Buku kalian dimana?" Tanya Dosen tersebut.
"Maaf pak, ini hasil kerja kami sendiri, untuk buku kami tidak berhasil mendapatkannya tapi saya berhasil menghubungi penulis FA melalui email dan kami berdiskusi." Jawab Imel dan malah menjadi bahan tertawaan seisi kelas, bahkan dosen itu juga menertawakan dirinya.
"Kamu kalau berbohong yang masuk akal, penulis FA tidak pernah membalas email dan sejak dia mengambil kembali bukunya, tidak pernah ada 1 orang pun yang berhasil meminjamnya." Jelas Pak Hasan, tetapi Imel tidak mau di salahkan karena kenyataannya penulis FA selalu membalas emailnya.
"Baiklah kalau bapak tidak percaya akan saya tunjukan emailnya." Imel membuka hasil pembicaraannya dengan penulis FA dan dosen itu melihat satu persatu hingga selesai.
__ADS_1
"Baik, karena kamu punya bukti, forward semua email itu ke saya nanti akan saya periksa. Jika kelompok 3 terbukti berbohong dan mencuri hasil kelompok 7 maka kelompok 3 tidak akan lulus di makul saya, jika sebaliknya maka sama, kelompok 7 tidak akan lulus." Jelas Pak Hasan dan itu sontak membuat Tya cemas dan Vanessa sudah menatap kesal ke Tya yang sangat bodoh tidak cek dulu dari mana sumber data yang diperoleh Imel.
Karena Pak Hasan masih akan memeriksa hasil tugas 2 kelompok itu maka mereka akan memulainya lagi di minggu depan. Kini Vanessa dan Tya ada di kelas hanya berdua dan Vanessa memarahi Tya habis-habisan.
"Dasar bodoh, kalau kita ketauan aku akan menyeretmu juga Tya, aku gak akan jatuh sendirian." Bentak Vanessa dan Tya terus meminta maaf sebab jika dia tidak lulus di makul ini maka dia harus mengulang 1 semester.
"Maaf Nessa.. aku gak tau dia akan punya buktinya. Aku mohon.. ini kesempatan terakhirku untuk kuliah disini." Tya terus memohon tapi Vanessa tidak mau tau.
"Makanya, kalo otakmu pas pasan jangan sok ingin kuliah disini. UHS bukan tempat mainmu Tya.." Kesal Vanessa lalu pergi meninggalkan Tya yang sudah menangis.
+//+
[Morgan] "Abang Fano yang ganteng...."
[Fano] "Apa? Pasti ada maunya."
[Morgan] "Jangan fitnes deh, mau tau gak nih info terbaru dari bidadari?"
[Fano] "Ada apa?"
[Morgan] "Tapi abang curang yah, karna udah bucin aja sama bidadari makanya emailnya di balas, waktu dulu aku tugas, sampe mohon-mohon ga di bantuin sampe mami yang ngomong baru mau."
[Fano] "Apa sih?"
[Morgan] "Tuh gara-gara abang, bidadari di fitnes nyontek tugas kelompok lain."
[Morgan] "Nah itu dia, kayanya ada yang nyuri trus dikasih ke kelompok lain yang punya buku abang, tapi kan gak mungkin ada yang punya."
[Fano] "Siapa yang punya? Dan siapa saja yang sekelompok dengannya?"
[Morgan] "Yang sekelompok ada bentar aku kirim aja de, foto dulu."
Photo sent
[Morgan] "Noh itu dua kelompok."
[Fano] "Ah pasti di Tya itu.. dan Vanessa, dia adiknya Michael yang dulu nyuri buku itu."
[Morgan] "Kenapa abang yakin si Tya?"
[Fano] "Tya itu sepupunya Imel dan dulu yang nyiksa dan sebarin aibnya."
[Morgan]"Ohh terus mau diapain ini bang, Sipa lagi baca email abang dan Imel sih tapi kan uda kebukti Vanessa yang salah."
[Fano] "Sesuai aja apa kata dosennya lah, pokoknya jagain bunga kecilku itu jangan sampe luka."
__ADS_1
[Morgan] "Siap bang, laksanakan!"
"Sipa, abang Fano uda bilang kok dia memang yang periksa tugasnya Imelda jadi gak usah baca ampe abis lah, trus jadi ya nomor nya si cantik Martha. Aku kan udah bantu tanyain dan konfirmasi sebaik-baiknya sesuai permintaanmu." Ucap Morgan melihat Syifa temannya itu masih membaca dan memeriksa kedua tugas kelompok.
Sejak tadi dia datang, Syifa yang menjadi asdos lebih banyak mengerjakan tugasnya dari pada meladeni Morgan yang akan menjadi bos nya tahun depan. Ya, Syifa adalah salah satu penerima beasiswa dan akan menjadi asisten Morgan di masa depan yang dipilih langsung olehnya bersama seorang lagi pria yang sudah masuk duluan ke perusahaan.
"Gak bisa, ini harus aku pahami dulu sama dan bedanya dimana baru bisa kasih hukumannya." Ujar Syifa dan dia sudah memberikan sebuah nomor untuk Morgan.
"hehehe terserah yang penting Martha udah ditangan." Morga segera keluar dan akan menghubungi Martha untuk di ajak berkencan malam ini.
Tya ada di kamarnya, dia sudah sejak tadi gelisah karena Vanessa yang mengancam akan menarik dirinya juga jika mereka ketahuan. Tya memang gadis bodoh tetapi sok pintar ingin menyiksa Imel, tetapi memang dasarnya Imel adalah gadis yang pintar jika saja dia lebih berani maka semua orang pasti tunduk padanya.
"Bantuin aku dong, gimana kalau Vanessa memang laporin aku juga?" Ucap Tya di Hpnya yang sedang bicara dengan sahabatnya.
"Bisa di gantung aku nih sama mama kalo harus ngulang 2 semester, tau kan biaya kuliahnya berapa." Sambungnya lagi tapi temannya juga tidak tau harus berbuat apa dengan dirinya yang bodohnya keterlaluan.
"Setidaknya kalo mau jebak orang tuh pikirin mateng-mateng dulu, pintar dikit, tanya ke kita jangan eksekusi sendiri gini kan jadinya." Jawab sahabatnya.
"Iya tapi nih uda kejadian, tolongin dong..." Mohonnya lagi.
"Ya udah, pasrah aja deh mau gimana lagi. Kamu gak ada rahasia apa gitu tentang Vanessa atau Imelda lagi buat jadi bahan negosiasi?"
"Vanessa mungkin ada deh sama Nando, dia nginep kan waktu acara party nya Nando." Jawabnya dan sudah ada ide jahat lagi di kepalanya untuk memojokkan Vanessa jika dia tetap mengancam dan itu berhasil.
Besoknya,
Belum selesai dengan masalah dengan tim 7, Imel yang sedang duduk santai di perpustakaan di kejutkan dengan gebrakan meja di depannya.
"Hu.. dia lagi, habis deh hari ini." Kesal Imel melihat Rika yang telah menatap emosi pada dirinya.
"Hei, aku dengar Kak Jordan lagi ngejar kamu ya? Jangan sok cantik kamu ituh cuma cewe culun aja, percuma muka cantik tapi penampilan iss.. menjijikkan." Rika menghina Imel terus menerus tapi Imel hanya diam dan tetap membaca bukunya, "bodo amat!" Ucap Imel dalam hati.
"Heh.. kalo di ajak ngomong tuh nyaut!" Bentak Rika dan masih memukul meja di depan Imel.
"Aku ga kenal siapa itu tadi... " Sahut Imel santai masih dengan melihat kearah bukunya.
"Gak kenal? Hohoho.. aku tekankan sekali lagi jangan dekati kak Jordan." Tegas Rika dan Imel tambah bingung, siapa Jordan dan apa hubungan dengannya?
"Udah aku bilang ga kenal Jordan." Ujar Imel yang juga sudah kesal pada Rika yang ngotot.
Imel juga bingung karena setiap hari ada saja cowo di kampus yang mengejarnya, entah hanya menyapa atau meminta nomor hpnya tapi Imel selalu menghindar.
Karena kesal, Imel memilih memasukkan bukunya ke tas dan berjalan meninggalkan Rka di sana sendirian tapi Rika yang sudah sebal langsung menarik rambut Imel sampai dia terjatuh.
"Aduh.." Pekik Imel, dia bangkit berdiri dan langsung membalas Rika dengan menarik rambutnya juga sampai dia berteriak kesakitan, jadinya mereka berdua saling tarik menarik dan membuat kegaduhan disana.
__ADS_1
TBC~