
Fano menunggu di dekat toilet yang masih banyak orang lalu lalang karena memang sedang ramai, ketika Imel datang dia langsung membawanya ke pintu tangga darurat sebelah.
"Sayang, kamu sangat cantik hari ini. Aku tidak rela banyak mata memandangimu.." Ujar Fano sambil mengelus lembut wajah Imel yang masih terlihat kesal.
"Jangan cemberut gitu dong.. ini hari bahagia, aku sudah membuka diriku dan kau sama sekali tidak berkomentar." Ujar Fano lagi dan Imel tetap diam tapi lengannya sudah melingkat di pinggang Fano.
"Terima kasih." Hanya itu ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Hanya itu? Aku ingin dengar yang lain. Aku ingin mengumumkan kalau kau adalah milikku." Ucap Fano yang mendekap erat tubuh Imel.
"Gak boleh.. nanti aku diserang oleh banyak wanita diluar sana yang sejak tadi memandangmu penuh kagum." Tolak Imel dan Fano tertawa.
"kamu juga, semua lelaki itu melahapmu dengan mata mereka, aku juga tidak suka. Dan kita memang belum bisa mengatakan hubungan kita."
"Kenapa?"
"Damian tidak izinkan dan harus menunggu setidaknya kamu selesai magang."
"Oh iya aku juga maunya begitu."
Mereka masih berpelukan dan tidak mau melepaskan, sebenarnya Imel begitu banyak pertanyaan tapi tidak mungkin semua dia tanyakan disini. Sedangkan fano, dia hanya ingin berlama-lama dengan kekasih hatinya dan kalau bisa ingin membawanya pulang sekarang juga.
"Ayo kembali.." Imel melepaskan pelukannya, "Aku masih lapar dan tadi bebeknya belum termakan sedikitpun." Ucap Imel dan Fano langsung tertawa mendengarnya.
"Kamu pergi duluan nanti aku menyusul ya.."
Imel duluan dan dia melanjutkan makannya begitu sampai dimeja tempat yang lainnya berkumpul. Lusia memang sudah tau kesukaan Imel karena Fano sudah memberitahukan semua tentang Imel ke Lusia. Imel yang kembali ke mejanya sedikit kaget dengan banyaknya makanan di sekitar mejanya dan Fano, Lusia benar-benar memberikan semua makanan kesukaannya.
"Bunga kecil.. makan semuanya ya, kau terlihat lebih kurus dari terakhir kita ketemu." Ujar Lusia
"Iya tante, tapi ini terlalu banyak.." Ucap Imel dan tak lama Fano kembali duduk dan juga kaget melihat banyak makanan di sekitar piringnya.
"Fano, makan sampai habis bareng Imel gak perlu malu-malu, kalian kan 1 divisi jadi sudah sering ketemu kan." Ucap Lusia sedikit menggoda mereka.
__ADS_1
"Tapi mi, ini terlalu banyak.."
"Sudah bang, makan aja.. tuh liat Imel aja diem trus makan." Morgan menunjuk Imel yang sudah lahap menikmati bebek panggang kesukaanya.
"Wah, makanan kesukaan kita sama nih.." Ujar Ken yang juga mengangkat sepotong bebeknya. Imel tersenyum melihatnya dan makan lagi tanpa memperdulikan yang lain. Fano menahan senyumnya melihat betapa gadisnya ini sangat suka dengan makanan itu.
Setelah melihat keadaan aula super luas itu sudah kembali normal dan banyak yang selesai menikmati makanan, MC kembali memberi pengumuman yang sangat menghebohkan.
Akan diadakan lomba menulis naskah bagi karyawan, jika menang maka naskah mereka akan difilmkan oleh Kenny Aelisius seperti yang pernah dia lakukan dulu pada 1 sekolah sekitar 5 tahun yang lalu dan film itu sukses besar dan mendapatkan keuntungan yang luar biasa, tentu keuntungan juga akan dibagikan ke pemilik naskah cerita. Semua bersorak heboh karena akan bekerja langsung dengan seorang Kenny Aelisius.
MC juga memanggil Jessica sebagai role model karena karyanya pernah di gunakan oleh Kenny, dia sebagai pemenang pada saat itu ditunjuk kembali menjadi peserta lomba, langsung oleh Kenny diatas panggung.
Jessica terkejut dan sedikit melirik ke arah Imel yang masih duduk mendengar penjelasan MC, Sica terpaksa naik ke atas panggung karena Kenny terus saja memanggilnya sebagai contoh baik bagi para karyawan yang berniat mengikuti lomba itu.
Imel langsung terkenang saat dia masih duduk di kelas 11, dia saat itu masih lugu dan polos berteman dengan Sica yang cantik dan modis. Meskipun Sica dari keluarga kaya dan terpandang, dia tidak pernah memilih dalam berteman dan akrab dengan siapapun. Sica juga lah yang berkenalan duluan dengan Imel yang tidak mempunyai teman saat itu, bisa dibilang Sica adalah teman pertamanya diawal masuk kelas 11.
\=Flashback=
"Coba lihat, menulis tentang apa?" Tanya Imel dan mengambil brosur di tangan Sica. Dia membaca dan langsung setuju saat itu juga dan itulah lomba pertama yang dia ikuti dengan Sica, jika biasanya dengan Bu Tari, kali ini dia mencoba menulis yang lebih ringan bersama teman pertamanya.
Sica bukan anak pintar tetapi dia mau belajar dan Imel banyak membantuanya saat itu, meskipun lebih banyak Imel yang mengerjakan tugasnya sendiri dan Sica tinggal menyalinnya tapi bagi Imel itu sebuah kemajuan bagi Sica yang biasanya hanya main dan tidak mengerjakan tugas.
Mereka mengerjakan cerita novel remaja bersama dan Imel banyak mengoreksi cerita yang ditulis oleh Sica dan hampir keseluruhan ide cerita dan tulisan di kerjakan oleh Imel. Hasilnya, novel Imel menjadi juara 1 dan Sica juara 3 membuat mereka sangat senang dan menjadi lebih dekat.
"Mel, coba makan ini.. enak banget, papa baru balik dari Jepang dan bawa ini." Sica menyuapakan potongan kue itu ke mulut Imel dan dia menganggukkan kepalanya sambil mengulum dan merasakan kue enak itu.
"Enak kan.. nanti bawa pulang sebagian ya, aku ga habis sendirian." Ucap Sica dan memberikan potongan kue itu untuk Imel dan memasukkannya ke dalam kotak makan yang dibawanya.
"Nanti aku makannya di ruang Bu Tari aja, kalau bawa pulang takut dimarahi tante dan Tya suka ngadu." Ujar Imel membuat Sica kesal karena Tya selalu mengganggu Imel, beruntung Tya sudah tidak satu kelas dengannya dan kini dia mempunyai teman yaitu Jessica.
"Oh iya, kata papa.. akan ada lomba besar lagi mungkin 2 bulan dari sekarang, temannya papa yang bikin lomba dan nanti kita ikut ya.." Ajak Sica dan Imel mengiyakan karena lumayan dengan hadiah itu dia bisa menabung lagi.
Setelah tau tema dan syarat pembuatan cerita mereka mulai mengarang indah dan menuangkan imajinasi kedalam tulisan, karena Imel tidak mempunyai komputer atau laptop, dia menulis di buku catatannya seperti biasa dan Sica yang akan membantu mengetiknya. Jika biasanya Bu Tari yang membantu kini Imel ingin merasakan bekerja bersama temannya.
__ADS_1
"Kata papa hadiahnya luar biasa loh, jika cerita kita memang maka akan dijadikan naskah dan dibuatkan film. Luar biasa kan? Bayangkan aja kalau jadi film, duit kita akan sangat banyak." Jelas Sica dan Imel sangat senang mendengarnya.
"Benarkah? Wah aku akan berusaha. Cita-citaku adalah jadi pembuat film seperti idolaku." Ucap Imel dan Sica senang juga mendengarnya.
"Yaudah, kau tulis saja nanti akan aku bantu ketik dan kirim ke panitianya."
Sudah sebulan dan mereka sudah mengirimkan 3 draft seperti syarat pada awal pendaftaran, penilaian dilakukan pada masing-masing cerita itu dikirim dan pengumuman akan berlangsung pada hari pengiriman draft terakhir langsung di sebuah aula Saros studio.
Imel yang tau kalau cerita mereka akan difilmkan oleh Kenny sangat antusias bahkan dengan bujuk rayu Sica dia bersedia membatalkan 1 lomba lagi di hari yang sama dengan Bu Tari, padahal hadiah lomba itu adalah beasiswa untuk study banding ke luar negri.
Imel sudah yakin pasti menang dan dalam ceritanya bukan hanya kisah remaja dan cinta tapi ada tragedi dan misteri yang harus dipecahkan, sesuai dengan film yang banyak di buat oleh Kenny.
Imel dan Sica sudah mengirimkan bab terakhir pagi ini dan di hari sabtu yang cerah, mereka datang bersama ke salah satu aula studio Saros yang sangat megah, mereka di temani oleh wali masing-masing. Sica bersama ayahnya dan Imel dengan Tian. Mereka sangat bangga dengan anak mereka dan ternyata ini bukan lomba untuk anak SMA saja, tetapi juga yang sudah kuliah di UHS.
Setelah mengengarkan beberapa pidato, pengumuman pemenang segera di beritahukan dan akan ada 5 pemenang, 5-4 akan dibukukan oleh penerbit terhebat dan pemenang 1 akan di filmkan setelah di ubah menjadi naskah oleh si pemenang dan dibantu oleh penulis naskah terkenal.
Saat pemenang 5-4 diumumkan tidak ada nama Imel ataupun Sica dan itu membuat Imel sedikit cemas, karena cerita Sica seharusnya sangat bagus untuk masuk 5 besar.
"Juara pertama, jatuh pada Jessica Mahendra dengan judul Water & Fire Lily." Setelah pengumuman itu Imel sangat terkejut, dia bingung kenapa judul novel yang dia buat malah dengan nama Jessica. Begitu juga dengan Tian yang sedikit banyak tau dan bahkan membaca 2 bab pertama.
Imel melihat Sica yang melomat kegirangan dan ayahnya yang tersenyum bangga naik keatas podium, seketika airmatanya jatuh, dia tidak menyangka bahwa sahabat baik dan teman pertamanya itu begitu tega.
Tian sempat melayangkan protes hari itu juga tetapi tidak ada yang percaya, akhirnya mereka juga meminta bantuan Bu Tari tetapi sama, bahkan Imel telah didiskualifikasi dari perlombaan ini pas pengiriman draft ke 2 dikirimkan, semua ini adalah kebohongan dari Jessica.
Tian dan Bu Tari tidak bisa berbuat apapun karena ayah Sica adalah seorang yang sangat kaya dan ternama, dia menggunakan kekuasaannya untuk menekan Tian dan mengancan akan menuntut pencemaran nama baik jika terus membuat keributan.
Padahal Imel telah memberikan bukti bahwa Water & Fire Lily adalah miliknya dengan buku catatan yang dia tulis dengan tangannya sendiri tetapi para panitia tidak ingin memperpanjang. Sejak itu Imel tidak bisa mempercayai siapapun lagi sebagai teman.
Bukan hanya kehilangan kesempatan mewujudkan cita-citanya tapi dia dengan bodohnya melepaskan kesempatan study tour ke luar negri padahal itu pasti dia dapatkan karena pemenangnya adalah ranking kedua di sekolahnya sementara dia adalah juara umum.
\=Falshback End=
TBC~
__ADS_1