
Imel terjatuh dari panggung dengan ketinggian 1 meter itu, untungnya Fano bergerak cepat dan berhasil menangkapnya agar tidak terjerembab ke lantai. Dengan cepat Fano merangkul Imel yang masih terkejut karena kelakuan Jessica yang sudah diluar batas dan membahayakan.
"Kamu gakĀ apa-apa?" Tanya Fano khawatir dan masih merangkul Imel dan Jessica tampak terkejut melihat Fano yang dengan cepat dan cemas langsung menolong Imel di depan umum, terlihat hubungan mereka tidak biasa seperti sudah kenal sangat lama dan mengundang rasa penasaran.
Jessica yang sedang ketakutan lagsung turun dan berlari untuk kabur.
"Biarkan saja." Ujar Fano saat Morgan dan Bian akan mengerjarnya.
"Dia akan mendapatkan balasannya." Lanjut Fano dengan wajahnya yang berubah serius dan dingin.
Imel telah kembali dan bersama dengan Ken sedang berbicara serius dengan para juri dan beberapa wartawan disana, entah apa yang mereka bicarakan yang pasti Fano sudah melakukan yang terbaik untuk mewujudkan cita-cita calon istrinya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Pokoknya daddy harus tolong aku!" Pekik Jessica di hadapan daddynya yang sedang bingung karena pemberitaan tentang putrinya sudah sangat heboh bahkan di Tv juga sudah ada.
Mahendra memijat kepalanya karena tidak tau cara menyingkirkan berita itu lagi, dia sudah menggelontorkan banyak uang sejak pertama kali berita tentang Jessica muncul tapi percuma, dia tidak tau jika H&S dan Arche ada dibelakang kejadian ini.
"Ini semua gara-gara daddy, kalo ga Sica gak akan jadi gini." Ujar Jessica menyalahkannya, Mahendra memang dulu yang menyuruh Jessica untuk mengambil kesempatan karena Imel terlihat lemah dan tak berdaya saat itu hingga mereka memanfaatkan kepintarannya untuk mambantu Jessica, bukan hanya dalam hal study tapi juga dalam segala lomba untuk menaikkan nama dan pamor keluarganya.
"Tapi kamu juga mau kan? Kamu yang bilang sangat membenci Imelda karena mengambil semua perhatian guru dan teman lelakimu." Balas Mahendra kesal.
"Jadi Sica harus gimana dad? Sica gak mau masuk kerja lagi, biar aja nilai magang Sica gak ada." Rengeknya dan Mahendra mengusap wajahnya kasar karena bingung dengan persoalan ini.
"Kamu istirahat dulu, daddy akan pikirkan caranya." Ujarnya dan Sica dengan perasaan campur aduk antara takut dan kesal akhirnya meninggalkan daddynya dan masuk ke kamarnya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Sayang.. kita bulan depan menikah ya.." Ujar Fano sambil mengecup mesra bibir Imel dan mendapatkan penolakan darinya, Imel mendorong wajah Fano agar menjauh darinya.
"Kenapa tidak suka dicium lagi?" Tanya Fano dengan wajah sedihnya dan Imel hanya tertunduk tanpa menjawabnya.
"Dasar anak ga ada akhlak, ciuman depan orang tua!" Hardik Ken dan Fano baru sadar kalau ada Ken disana.
"hehe.. maaf papi, Fano ga sadar kalo ada papi disitu." Ken sangat kesal mendengarnya, padahal sejak tadi Ken duduk di depan Imel dan sedang membahas naskah yang akan di ketik sendiri oleh Imel, dia tidak mau dibantu orang lain karena ini adalah impiannya.
"Kalian mau nikah? Gak boleh.." Ujar Ken dan Fano mengerutkan dahiya,
"Kenapa pi?" Tanyanya dan Ken malah terkekeh sambil menepuk pundak Fano yang telah duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Gak boleh dulu, tunggu film ini selesai dan kita buat pesta yang mewah." Jelas Ken dan Fano bernapas lega begitu juga Imel yang sudah cemas mengira tidak mendapatkan restu dari Ken.
"Papi jangan lama-lama dong.. aku dah ga tahan ni pengen cepet nikah." Keluh Fano dan Ken tertawa melihat anaknya karena dia dulu juga begitu, gak tahan lama-lama sama gadis cantik kesayangan.
"Sabar nak.. lagian Imel juga masih mau kuliah kan?" Tanya Ken, "Iya.." Jawab Imel dan mengangguk sopan pada calon mertuanya itu.
"Ck.. ah sayang, kita pulang yuk, dah malam, kamu harus istirahat." Ajak Fano padahal pembicaraan Imel dan Ken belum selesai.
Ken melarang mereka pulang karena pembicaraan masih panjang tetapi bukan Fano namanya jika tidak membantah Ken, dia hanya nurut pada maminya, Lusia.
"Dasar anak..... hehehe.. peri kecilku kenapa disini?" Tanya Ken begitu ingin mengumpat Fano tapi ternyata Lusia sudah masuk ke dalam kantor Fano dengan muka masamnya.
"Kakak.. aku baru nonton berita tadi dan benarkah film dulu itu ceritanya punya Imel?" Tanya Lusia dan menatap suami dan calon menantunya bergantian.
"Iya peri kecil.. aku juga baru tau tadi siang. Sekarang kami sedang bahas naskah dan menantu kita ini yang akan mengetiknya sendiri." Jelas Ken dan Lusia langsung menatap Imel dan memeluknya.
"Kamu tenang saja, mami pastikan si Jessica itu akan membayar semuanya." Lirih Lusia lalu Imel mengangguk sambil tersenyum, "Iya tante.." Ujarnya.
"Panggil mami.. kalian kan bentar lagi nikah jadi biasakan panggil mami dan papi." Imel tersenyum lebar mendengarnya, "Iya mami."
"Tapi mi.. papi bilang kita belum boleh nikah kalau film ini belum selesai, gimana dong mi.." Keluh Fano dan Lusia langsung melirik Ken dengan tajam.
Fano terkekeh melihat Ken yang sangat menuruti Lusia, dia selalu menggodanya jika Lusia sudah memperlihatkan taringnya.
"Kau tunggu saja, istrimu yang manis dan pendiam itu juga akan jadi macan kalau punya anak nanti." Bisik Ken dan Fano tak percaya, gadis manisnya tetap akan jadi istri dan ibu yang baik dan manis.
.
.
.
Imel menyelesaikan naskah untuk film baru Ken dengan sangat cepat, selain karena magang dan kuliahnya masih belum selesai Fano juga sudah mengejarnya. Dalam 1 minggu naskah selesai dan sudah dia serahkan ke Ken dan syuting dimulai, Imel hanya sekali-kali datang untuk melihat.
Masa magangnya dia percepat atas saran Fano dan kuliahnya juga akan dipercepat karena Imel sangat pintar dalam mempelajari hal baru.
"Sayang.. 2 bulan lagi kita nikah jadi mulai sekarang kita harus menyiapkan semuanya yah.." Ujar Fano dan Imel sangat senang dia bahkan tidak malu lagi untuk memeluk dan mencium Fano duluan.
"Iya.. tapi apa film itu akan selesai dalam 2 bulan ini?"
__ADS_1
"Gak peduli selesai atau ga pokoknya kita nikah."
"Iya.. tapi nanti kita tinggal di apartemen atau rumah mami?"
"Kamu maunya dimana?"
"Rumah mami, biar ramai karna mami kan sayang sama aku.."
"Baiklah sayang, terserah kamu saja.."
Fano dan Imel menikmati masa pacaran mereka dan dia tidak menyembunyikan hubungan mereka lagi di kantor maupun diluar sehingga tidak ada pria yang mengganggu Imel lagi karena tidak ada yang berani bersaing dengan seorang Stefano.
Saat Fano dan Imel baru menghabiskan sarapan mereka yang terlalu siang di kantornya, Fano mendapat telepon dari Damian dan dia sangat terkejut mendengar apa yang Damian katakan.
"Jangan bercanda bang Dami." Ujar Fano lalu dia diam sejenak setelah menutup teleponnya.
"Napa Fan?" Tanya Imel yang melihat Fano sedikit syok.
"Bang Dami mau nikah, sekarang." Ujar Fano dengan nada suara lemah.
"Hah..??"
"Sayang, aku pergi dulu ya.. bye, aku disuruh jemput mami dan papi." Fano mengecup bibir Imel sekilas dan langsung berlari keluar.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
(*Cerita tentang Damian bisa baca di novel dengan judul*Magical Flower, Bab 23* - Kisah Cinta Sahabat, ada 10 part***)
.
.
.
"Capek banget sayang..." Keluh Fano yang baru saja bangun dari tidurnya dan Imel juga baru bangun dan masih dalam pelukan Fano. Setelah mereka tidak tidur 2 malam karena masalah Damian dan Yana yang menikah tiba-tiba.
"Iya.. aku masih ngantuk." Lirih Imel dan kembali membenamkan wajahnya di dada Fano dan melanjutkan tidurnya padahal hari sudah siang. Mereka sangat malas beranjak dari tempat tidur hingga Lusia mengetuk pintu kamar, mau tidak mau Fano bangun dan Imel langsung terduduk dengan mata yang masih belum terbuka sempurna.
Fano kembali setelah berbicara pada Lusia sebentar dan terkekeh melihat Imel yang tidur sambil duduk. "Duh.. Imel bunga kecilku, sampe begitu tidurnya." Fano kembali merebahkan Imel dan membiarkannya tidur lebih lama.
__ADS_1
TBC~