Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja

Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja
BAB 41 - EXTRA PART BIAN


__ADS_3

Sudah seminggu Bian terus mengikuti petualangan Oscar di daerah ini dan kulit putih mulusnya Bian hilang sudah, berganti jadi coklat yang terlihat sexy. Bahkan otot perut Bian makin terlihat karena efek tanning itu.


"Wohooo..." Teriak Bian begitu dia sampai ke atas puncak bukit nan indah, memandang jauh ke depan dan melihat laut luas terbentang indah.


"Wah.. tiap hari begini tambah sexy aku Car." Teriak Bian saat Oscar juga sudah menyusulnya.


"Nah.. mau gak tinggal disini aja? Aku juga sekarang cuma pantau kerjaan dari jauh dan lebih banyak memotret dan upload video, hasilnya lumayan lah buat tambahan."


"Gak deh, si Fano itu bisa mati tanpa aku hehehe tadi malam aja sudah telepon tanya kapan balik. Kalau bisa aku mau lusa sudah balik, kasian dia."


"hahahah kalian memang setia ya, seru juga kerja dengan sahabat sendiri. Lain kali ajak dia kemari."


"Sipp.. aku akan balik lagi, pasti!"


*** *** ***


"Bu dokter, anak saya demam lagi." Panggil seorang ibu yang masuk ke rumah kecil dengan pintu hanya tertutup kain.


"Bawa masuk bu, sebentar." Dokter wanita itu memeriksa si anak.


"Kita suntik dulu ya, untuk obat lagi kehabisan mungkin malam ini baru sampai. Ibu bisa kompres dengan air dingin. Setelah obatnya sampai akan saya antar." Jelas di dokter dan ibu itu mengangguk.


"Terima kasih dokter."


"Sama-sama."


Dokter itu lalu meminta tolong kepala desa untuk segera mencari orang yang bisa mengantarkan obat dengan cepat karena sudah ada 3 pasien yang butuh obat dengan segera.


"Sebentar ya nak Luna, bapak akan telepon dulu." Kepala desa itu akhirnya meminta pada temannya di desa sebelah untuk mengantarkan obat yang mereka butuhkan karena sedang genting.


"Nak Luna, bapak sudah minta tolong ke desa sebelah jangan khawatir dan istirahat saja, kasihan kandungan kamu, pasti capek." Ucap kepala desa dan Luna akhirnya kembali ke rumahnya yang sekaligus tempat prakteknya bersama seorang bidan yang juga bertugas disana.


"Luna, kandunganmu sudah masuk 9 bulan jadi lebih hati-hati ya..' Bidan mengingatkan karena Luna sangat energik bahkan tidak sekalipun dia ngidam atau mengalami gejala yang umum di rasakan oleh ibu hamil. Bahkan saat usia kandungannya sudah 4 bulan dan perutnya membuncit baru dia tau kalau sedang hamil.


.

__ADS_1


.


.


"Bian, aku minta tolong antar obat-obat ini ke desa sebelah. jalannya gampang kok, cuma nanti dari sana jalannya agak susah jadi aku sudah suruh orang menunggumu." Oscar memberikan setotak obat-obatan dan Bian dengan senang hati membantu karena 2 hari lalu juga dia bantu Oscar untuk bawakan obat ke desa lainnya.


"Sipp!! Serahkan padaku biar aku bisa menjelajah lebih jauh sebelum balik ke jakarta." Bian membawa obat dan menyetir dengan cepat karena memang jalanan disini tidak akan pernah macet dengan aspal baru yang masih mulus.


Jarak 1 desa ke desa lainnya memang cukup jauh hingga 1 jam perjalanan barulah Bian sampai ke tempat tujuan dan disana sudah menunggu seorang remaja dengan sepedanya.


"Hai nak, kau menunggu obat?" Tanya Bian pada remaja itu.


"Iya pak.. tapi masalahnya sepeda saya bannya kempes dan balik ke desa itu jauh." Ujarnya.


"Mobil bisa masuk?" Tanya Bian.


"Bisa pak, karena kadang ada ambulance yang datang."


"Oh ok, biar aku antar. Ayo naik." Bian mengangkat sepeda ke belakang dan terpaksa pintu belakang mobil tidak bisa ditutup tapi bukan masalah karena jalanan disini aman.


Kamu masuk dan bawakan ini ke dalam, sepedamu akan aku turunkan dulu."


Remaja itu segera masuk dan memberikan obat pada bidan dan Bian telah selesai menurunkan sepedanya.


"Dek.. mau pinjam toilet di mana nih?" Tanya Bian yang ingin membuang hajatnya tiba-tiba.


"masuk ke rumah bidan saja pak." Jawab remaja itu menunjuk ke rumah kecil di hadapannya.


"Oh ok makasih dek."


Bian masuk dan permisi pada bu bidan lalu perlahan masuk ke dalam mencari toilet dan setelah selesai dengan urusannya dia kembali ke luar untuk sekedar berjalan-jalan sebentar.


"Luna?" Ucap Bian pelan saat dia melihat sosok wanita yang sepertinya mirip Luna.


"Luna." Panggilnya lagi dan wanita itu berbalik.

__ADS_1


"Iya Luna.. kau kau hamil?" Tanya Bian tak percaya melihat kondisi Luna yang sedang hamil besar.


Luna yang juga sangat terkejut menjadi limbung dan hampir jatuh, untung dengan cepat Bian bisa merangkulnya.


"Bi bian .." Lirih Luna dan Bian segera mendudukkannya di kursi depan Bidan yang masih bingung melihat keduanya.


"Kamu disini uda lama Lun? terus kamu sudah menikah?" tanya Bian dan Luna hanya diam saja, dia masih melihat Bian yang terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Jantungnya seakan ingin melompat keluar begitu juga Bian yang merasa kecewa mendapati Luna sudah hamil yang berarti dia pasti sudah menikah.


Luna memegang perutnya yang tiba-tiba sakit, dia mengerang kesakitan dan Bidan langsung bergerak cepat.


"Luna.. Luna mau melahirkan." Ujar Bidan dan segera dia memanggil rekannya yang sedang istirahat untuk membantu.


"Aakkhhh sakit sakit.. adduuhhh..." Luna terus mengaduh kesakitan setelah dia di pindahkan ke ranjang dan Bian masih bersamanya.


"Luna.. tahan ya Lun, aku akan disini." Bian panik tapi dia berusaha tenang.


"Bu mana suaminya?" Tanya Bian tapi bidan itu menggeleng.


"Luna cuma sendirian disini." Jawab bidan itu dan Bian mencelos.


"Ada apa ini? Kenapa Luna sendirian?" Batinnya.


Bian terus berada di samping Luna yang berteriak dan mengerahkan segala kekuatannya untuk melahirkan anaknya. Bian menggenggam tangan Luna dan terus mengelus kepalanya untuk memberikan kekuatan sampai akhirnya terdengar suara bayi.


Bian melihat sekilas bayi merah itu, perasaan aneh menjalar di hatinya seakan ada rasa lega dan juga rindu yang teramat sangat.


Luna yang kelelahan akhirnya tertidur sebentar, bidan dan rekannya menyelesaikan tugas mereka dan kini Luna sudah sadar dan akan memberikan asi pada anaknya, Bian berbalik dan keluar sebentar sampai Luna selesai.


"Luna.. kenapa? eh.." Bian terhenti, ditatapnya bayi lelaki itu Bian sadar bayi itu begitu mirip dengannya.


"Lun, kenapa dia mirip denganku?" Tanya Bian spontan tapi Luna hanya diam. Dia bingung bagaimana harus menjelaskan keadaannya ini.


Bian masih menatap bayi itu dan perlahan dia mengelus kepalanya pelan, ada rasa hangat di hatinya dan perlahan air matanya jatuh tanpa dia sadari. Bian ingin sekali memeluk bayi ini, apakah ini anak Bian?


.

__ADS_1


.


__ADS_2