Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja

Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja
BAB 40 - Extra (End)


__ADS_3

Pagi ini Fano terlihat panik karena Imel terus merasa kesakitan dan segera membawanya ke rumah sakit. Baru 10 menit masuk ruang bersalin Fano langsung mendengar suara tangis putri cantiknya yang telah lahir hanya 2 kali tarikan nafas dari Imel.


"Terima kasih sayang.. baby girl kita lahir." Fano mencium seluruh wajah Imel yang masih terlihat lelah.


.


.


"Ya ampun cantiknya cucu omaaa...." pekik Lusia begitu melihat baby girl nya Imel dan Fano.


"Mirip Fano tapi ada wajah Imel juga sama kaya J, cantiknya..." Ken juga tak henti-hentinya memuji cucu perempuannya itu.


"Namanya siapa Fano?" Tanya Lusia dan Fano tentu sudah memilihkan nama untuk putrinya.


"Fiorella." Ucap Fano dan Imel juga tersenyum senang mendengar nama itu.


"Papi akan daftarkan namanya." Ken pergi dari sana dan Fano hanya pasrah saja, terserah papinya lah.


Hari-hari Fano dan Imel semakin bahagia sejak hadirnya putri cantik mereka yang dipanggil Fio. Fano begitu menjaga Fio sampai tidak ada yang boleh sembarangan menyentuh putrinya apalagi menggendongnya. Dia tidak mau hal seperti Imel dulu terjadi juga pada putrinya dan dari usia dini Fio akan di ajari beladiri agar dapat menjaga dirinya sendiri jika dewasa nanti.


J juga semakin besar dan sangat menyanyangi adiknya bahkan orang tak dia kenal tidak boleh dekat dengan adik cantiknya yang terkadang membuat Imel dan Fano pusing sendiri, bahkan J lebih parah dari Fano dalam menjaga sang adik.


"Sayang.. J dan Fio udah bobo?" Tanya Fano dan Imel tau apa keinginan suaminya itu.


"Sudah.. dari 1 jam yang lalu." Jawab Imel dan Fano tersenyum lebar mendengarnya.


"Apa sudah boleh?" Tanya Fan lagi dengan tangannya sudah bermain di bagian dada Imel yang semakin montok.


"Boleh.. tapi aku belum pasang pengaman jadi di luar aja ya."


"He'em.. "


Tak menunggu lama Fano dengan semangat dan menggebu-gebu melucuti semua yang ada di tubuh mereka dan melakukan serangan demi serangan yang membuat Imel mengerang indah. Fano begitu semangat sampai lupa kalau dia harus keluarkan di luar dan terlanjur mengeluarkan di dalam istrinya.


"Yah.. lupa sayang... gimana dong?" Tanya Fano dan Imel yang lelah tidak menjawabnya lagi karena setelah puasa hampir 3 bulan Fano membuatnya kelelahan sampai tertidur.


.

__ADS_1


.


1 tahun berlalu dan kini Imel sedang ada di rumah sakit untuk konsultasi lagi tentang KB dan akhirnya memilih KB suntik saja mengingat kebrutalan Fano yang telah menggeser IUD-nya bulan lalu sama seperti Morgan pada istrinya.


Berbeda dengan Bian yang makin hari makin stress mencari keberadaan Luna yang masih menghilang. Bahkan Bian sudah pasrah jika tidak menemukan Luna dan akan melupakannya.


"Jadi kamu nyerah?" Tanya Fano pada Bian sehabis mereka meeting.


"Aku sudah cari ke seluruh negri tapi gak ada kabar, ke luar negri juga gak ada catatan keluarnya." Wajah Bian semakin muram dan Fano akhirnya memberikannya cuti seminggu untuk liburan.


"Bener nih aku cuti seminggu?" Tanya Bian memastikan.


"Iya.. liburan sana, biar fresh itu muka." Jawab Fano dan Bian akhirnya tersenyum dan memilih tempat liburannya detik itu juga.


"Jadinya kemana?" Tanya Fano saat Bian sudah membeli tiketnya.


"Mau ke NTT ajah disana ada teman yang baru pindah ke sana dan beberapa kali mangajakku." Jawab Bian dan Fano mengangguk karena NTT adalah tempat yang indah untuk Bian bisa merasa tenang.


~


~


Diusianya yang hampir 30 tahun Bian masih setia pada cinta pertamanya yaitu Luna. Meskipun dia bukan pria brengsek tapi dia juga sering menggunakan jasa wanita penghibur untuk mengusir rasa penatnya. Biasalah pria dewasa butuh pelepasan sesekali. Tapi Bian masih memikirkan tentang sesuatu, dia yang sekitar 7 bulan lalu sangat stress mencari keberadaan Luna akhirnya minum-minum di Bar dan berakhir meniduri seorang wanita yang diketahuinya adalah wanita malam yang baru bekerja disana. Begitulah dari penuturan salah satu pelayan Bar.


"Dia masih perawan, tapi siapa wanita itu?" Ucap Bian pelan saat sedang menyetir.


Bian memilih untuk menyetir sendiri dengan menyewa mobil dan berbekal GPS disana meskipun kata temannya masih banyak wilayah yang tidak ada sinyal. Tapi Bian tidak takut karena dia sudah membekali banyak bahan makanan dan air di mobil, jika tersesat bisa bertanya pada warga sekitar saja.


"Bian.. hei!" Teriak seorang pria saat melihat Bian duduk di salah satu warung makan dekat pantai. Bian menoleh dan mendapati temannya sedang memanggil.


"Wah kulitmu jadi sexy begini Car.." Celetuk Bian saat melihat temannya Oscar, pria berwajah bule itu.


"hahaha seru disini kau kan tau aku suka pantai. Jadi gimana pencarianmu?" tanya Oscar yang tau kalau Bian sedang mencari wanita yang dia cintai.


"Belum ada hasilnya dan aku disini buat lupain dia hehehe kalau bisa." Jawab Bian dan Oscar menepuk pundaknya.


"Pasti bisa, wanita disini eksotis loh.." Ujar Oscar tapi Bian menggeleng.

__ADS_1


"Itu tipemu, kalau aku suka wanita seperti Luna." Balas Bian yang masih belum bisa melupakan cinta pertamanya itu. Oscar yang memang tidak tau seperti apa Luna hanya bisa terkekeh melihat temannya itu dan mengajaknya ke daerah pantai yang lebih pedalaman dan masih asli untuk berpetualang.


Bian hanya mengikutinya dan berharap dapat mendapatkan pengalaman baru di tempat ini. Untung saja akhirnya Fano memberikan  waktu liburan yang lebih panjang untuknya.


.


.


3 Hari berada di pantai membuat Bian lebih menghargai hidupnya, dia banyak termenung sambil mengingat kembali apa yang telah dia capai selama ini. Tidak ada yang berarti selain uang, dia bahkan tidak pernah berpacaran ataupun dekat dengan wanita dalam arti menjadi pasangan yang sebenarnya.


"Car.. mungkinkah karena aku banyak pakai jasa wanita penghibur yah jadi dosa dan susah ketemu jodohku?" Tanya Bian tapi Oscar malah menertawakan pertanyaan itu.


"Dasar bodoh! Mana ada yang seperti itu, aku bagaimana? lebih parah darimu kan? Setiap negara yang aku singgahi pasti ada beberapa wanita yang jadi korban meskipun gak sampai hamil. Tapi akhirnya aku menetap disini bersama wanita yang aku cintai, bahkan 2 bulan lagi dia akan melahirkan anakku." jelas Oscar dan Bian mengangguk.


"Sabar saja, kalau si nona Bulan itu jodohmu pasti akan bertemu kok."


Bian hanya tersenyum dan masih belum bisa melupakan apapun bahkan dia juga berpikir tentang wanita malam yang di perawani waktu itu dan ada rasa bersalah di hatinya. Tapi dia tepis semuanya karena dia juga harus melanjutkan hidup.


.


.


"Sayang..." Panggil Fano yang baru pulang setelah lembur. Dia benar-benar kewalahan tanpa Bian dan kini sedang duduk di sofa ruang tamu bersama Morgan yang sedang asik main dengan anak-anak.


"Ya.. sudah pulang ternyata." Sahut Imel yang datang bersama Fio. Rasa lelah Fano langsung menghilang begitu melihat 2 bidadari cantiknya dan mengecup mereka bergantian.


"J kemana?" Tanya Fano, baru 5 detik J sudah berlari menghampirinya.


"Papi, J mau sekolah." Kata J yang baru berumur 3 setengah tahun itu.


"Belum bisa nak, tunggu 1 tahun lagi ya.. belajar sama kakak Amber dan kakak Ruby dulu ok!" Ujar Fano karena putrnya ini sangat pintar sehingga sangat ingin sekolah melihat anak-anak Morgan yang sering belajar dan J selalu penasaran.


Kepintaran Fano dan Imel menurun pada J dan menjadikannya anak yang sangat cerdas bahkan terkadang rasa penasarannya membuat mereka kewalahan untuk menjawab setiap pertanyaannya.


Setelah membersihkan dirinya Fano kembali lagi ke ruang keluarga bersama keluarga besarnya yang memang semakin ramai. Damian dan Yana juga 2 putranya selalu datang berkunjung dan bermain bersama. Suara riang anak-anak selalu terdengar di setiap sudut rumah besar itu yang semakin meriah.


Fano dan Imel juga semakin mesra sampai terkadang sangat susah untuk dipisahkan, tapi bukan hanya mereka semua pasangan di rumah ini memang sangat romantis dan penyayang, keturunan dari Ken. Haha!

__ADS_1


END ~


__ADS_2