
Talita terus saja mengatakan hal yang menghina serta mengingatkan Imel pada kejadian masalalunya. Imel yang memang sedang sensitif dan selama ini sangat dimanja oleh Fano oleh cinta dan kebahagiaan mendadak terpuruk lagi. Imel mulai menangis dan histeris disana.
Beberapa karyawan mulai menenangkan Imel dan mencoba menelepon kantor Bian dan Fano tapi tidak ada respon sampai salah satu karyawan berlari keatas untuk mencari bosnya.
Sedangkan pengawal yang mengikuti Talita tidak sadar kalau dia telah keluar dari toilet dan sedang mencarinya.
Fano begitu murka saat karyawannya masuk menerobos ruang meeting kecil di ruang kantornya.
"Ada apa ini! Beraninya kau masuk seenaknya?!" Bentak Fano tapi karyawan wanita itu masih belum sanggup bicara.
"Ada apa?" Tanya Bian lagi.
"Itu Tuan maaf tapi nyonya Imelda di kantin bersama seorang wanita dan nyonya sedang histeris dan menangis." Jawab wanita itu terbata-bata. Fano sontak kaget dan dengan cepat berlari ke kantin untuk melihat Imel dengan perasaan khawatir.
"Ya Tuhan, jaga istriku jangan sampai sesuatu terjadi padanya." Fano membatin.
Untung saja lift masih kosong dan ada di lantai atas, Fano segera masuk dan disusul oleh Bian. Mereka berlari kencang saat melihat kerumunan dan melihat Talita masih berteriak menghina dan menghancurkan mental Imel. Dia sengaja karena telah membaca semua riwayat kesehatan mental Imel yang ada di catatan Luna kakaknya.
"Imel! Sayang.." Teriak Fano dan menerobos kerumunan disana. Imel terlihat kacau dan tidak mau di sentuh oleh Fano.
"Jangan mendekat, pergi!" Teriak Imel sambil menangis. Hati Fano begitu sakit melihat Imel mennagis lagi, seperti dulu.
"Imel sayang.. ini aku Fano, suamimu. Ayo kita pulang.." Bujuk Fano sambil terus mendekat secara perlahan tapi Imel terus mundur sambil menggeleng, dia memegang perutnya ada rasa sakit disana tapi Imel tidak peduli.
"Jangan mendekat, aku wanita kotor, aku menjijikkan.. jangan dekat." Ucapnya sembari terus menangis.
"Gak Imel.. kamu istriku yang paling aku cintai, ayo.. jangan seperti ini nanti bayi kita juga sakit sayang.." Fano terus membujuknya, sedangkan Bian sudah memanggil ambulance dan mengarahkan pengawal untuk membubarkan semua yang ada disana.
Talita tersenyum menang melihat kondisi Imel yang terpuruk itu, "Sudah lah Fano.. dia memang gak pantas untukmu, kau harus kembali padaku." Ucap Talita dan tangannya merangkul lengan Fano.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku!" Bentak Fano menghempaskan tangan Talita dengan kasar.
"Bian, bawa dia dan aku akan tuntut dia." Perintah Fano dan Bian segera menyuruh para pengawal menangkap Talita dan membawanya pergi dari sana sementara Fano terus mendekat pada Imel.
"Auhh aduh..." Desis Imel yang merasakan sakit luar biasa pada perutnya. Fano yang melihat itu begitu takut dan langsung mendekat pada Imel dan memeluknya. Imel tetap meronta tapi Fano tidak peduli lagi dan langsung menggendong Imel yang semakin kesakitan.
"Sayang.. tahan ya kita ke rumah sakit." Fano segera berlari dan untunglah ambulance telah sampai, mereka segera menuju ke rumah sakit Arche.
Imel sudah tidak sadarkan diri dan telah ditangani oleh petugas medis yang datang bersama ambulance.
Setelah di periksa Imel di tempatkan di ruang rawat karena kandungannya mengalami pendarahan namum untungnya kandungan Imel tidak apa-apa dan hanya butuh istirahat dan tidak boleh stress.
Fano masih menemani Imel yang masih tidur, dokter sengaja memberikan penenang untuknya agar bisa istirahat lebih lama.
"Bian, jangan biarkan Talita masuk ke perusahaan. Aku akan batalkan kerjasama dengan perusahaannya dan hubungi perusahaan saingannya dan ajukan kerjasama, buat mereka hancur. Selidiki bagaimana dia bisa tau masalalu Imel karena kita sudah menghapusnya kan.." Perintah Fano dan kali ini dia tidak akan berbaik hati dengan orang yang mencekalai istrinya.
Lusia juga panik dan segera ke rumah sakit setelah Bian menghubunginya, Lusia membawa serta J agar dapat menenangkan Imel jika dia bangun nanti.
"Masih tidur mami, kata dokter dia butuh istirahat saja dan jangan stress." Jawab Fano yang kini memeluk J yang ingin bersama Imel. Akhirnya Fano membiarkan J duduk di samping Imel dan untunglah J anak yang pintar, dia hanya duduk tanpa mengganggu maminya yang sedang tidur.
"Jadi apa yang dilakukan Talita itu?" Tanya Lusia dan Fano menceritakan hal yang dia lihat di kantin tadi, Lusia sangat emosi mendengarnya. Menantunya sudah hidup dengan baik dan melupakan masa lalunya. Mereka memberikan kasih sayang dan cinta yang berlimpah tapi dengan mudahnya di hancurkan oleh seorang Talita.
"Kali ini Fano akan benar-benar singkirkan dia mami, semuanya." Tegas Fano dan Lusia mengusap pundak anaknya agar dia tenang.
.
.
.
__ADS_1
Bisma kini sedang syok mendengar bahwa perusahaan Fano membatalkan kerjasama proyek pembangunan mall di kota B dan akan membayar penuh pinaltinya. Bukan hanya itu, semua investor menarik dananya dan kini perusahaan Bisma sedang di ujung tanduk.
Belum selesai, dia mendapat kabar lagi kalau Talita sedang ada di kantor polisi dan pihak Fano menuntutnya dengan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan dan hampir mengancam jiwa.
Bisma kini mengerti apa yang sedang terjadi, tak lama Luna juga datang dengan marah dan menangis.
"Ini yang kalian mau kan? Gak ada habisnya kalian membuat ulah. Puas papa? Sekarang aku di pecat dan tidak ada 1 rumah sakit pun yang akan menerimaku lagi. Aku sudah di blacklist oleh RS Arche, sia-sia pah aku belajar keras untuk jadi dokter." Luna menangis histeris.
Dia sangat tidak terima, dia bahkan tidak tau kalau Talita telah mencuri data Imelda dari laptopnya. Dia hancur sekarang. Sedangkan Bisma tertunduk lesu memikirkan nasib perusahaan dan keluarganya.
Luna yang sudah sangat kesal memilih pulang dan mengemasi seluruh pakaiannya dan pergi dari rumah, dia tidak mau tau lagi dengan urusan keluarganya yang saat ini sedang kacau. Sedari kecil tidak ada yang menyayanginya dan dia adalah anak yang kuat dan mandiri. Sedangkan Talita selalu dimanja dan seluruh keinginannya akan di penuhi oleh ayahnya dan Luna selalu terabaikan.
*** *** ***
"Fan, apa gak teralu keras dengan Luna? Dia gak sepenuhnya bersalah aku telah dengar penjelasan darinya." Ujar Bian dan Fano tau apa maksud dari Bian sebenarnya.
"Aku tau apa maksudmu, kau gak tega kan lihat Luna begitu?" Fano tersenyum dan Bian jadi salah tingkah.
"Apa maksudmu?"
"Ini kesempatanmu Bian.. dekati dia dan ambil hatinya. Aku tau kau suka padanya saat kita masih SMA dulu. Jangan terlambat lagi dan pepet terus."
Bian menjadi malu karena selama ini rahasia hatinya tidak seorang pun yang tau. Bian selalu menaruh perhatian pada kakak kelasnya yaitu Luna.
"Pergilah.. tapi jangan sampai kau bantu Talita." Fano memberi peringatan.
"Tenang bro.. aku masih setia pada sahabatku." Balas Bian lalu pergi dari sana dan ingin menyusul Luna.
Fano masih setia menunggu Imel sadar, sudah hampir 5 jam dia tidur. Lusia juga telah menidurkan J di sofa ruangan itu dan memilih pulang meninggalkan Fano
__ADS_1
TBC~