Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja

Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja
BAB 9


__ADS_3

Semester 2 dilalui Imel dengan baik dan tenang, kali ini tidak ada yang mengganggunya, sebenarnya ada tapi tidak sefatal sebelumnya.


Masih banyak cowo di kampus yang mengejarkan karena ada beberapa kondisi yang mengharuskan dia membuka masker dan memperlihatkan wajahnya. Seperti saat presentasi tugas, kerja kelompok, lomba dan lainnya sehingga banyak  yang mengetahui kecantikannya meskipun selalu berpenampilan culun.


Anggota yang di suruh Bian juga hanya menjaganya tapi tidak boleh ikut campur jika tidak ada masalah serius. Para cewe juga masih banyak yang melabraknya tetapi hanya umpatan tidak main tangan seperti beberapa cewe yang dulunya sempat menyiksanya, tapi itu juga membuatnya stress dan sulit untuk bergaul.


Sudah 1 tahun juga Imel menunggu Flora yang tak kunjung kembali membuat rasa bersalah Imel semakin dalam. Tanaman yang di jaga olehnya juga sudah mengeluarkan 8 helai daun dan tingginya masih sama, tidak banyak berubah.


"Huh... harus pindah kost lagi, disini sangat panas dan aku ga tahan." Ucap Imel pelan karena jika sore menjelang kamarnya yang menghadap barat akan tersorot matahari dan dia serasa sedang dipanggang jika didalam kamar.


Baru 2 bulan dia disini dan dia sudah nyerah. Besok dia akan pindah dan untungnya novel yang dia tulis laku keras di dijual di dunia maya sehingga dia mulai ada tabungan lagi. Selesai berberes, Imel sudah berada di taxi dan menuju kostan barunya yang sebuah kontrakan agar punya banyak space untuk menaruh buku kuliahnya.


Kontrakan itu hanya ada 1 ruangan agak besar langsung ada dapur dan ruangan tertutup kecil sebagai kamar mandi, lumayan buat menyusun bukunya. Total kontrakan ini hanya ada 4 rumah di belakang rumah sang pemilik yang seorang nenek tua yang tinggal dengan 2 cucunya yang masih SD. Imel penghuni ke 3 di kontrakan ini, dan di nomor 1 adalah seorang karyawan mini market dekat sana tinggal berdua bersama adiknya yang juga sedang mencari kerja, kontrakan nomor 4 ditinggali oleh 2 orang mahasiswi di univ negri dekat sini. Dan Imel di kontrakan nomor 2 sendirian karena dia tidak punya teman, dia merasa aman karena seluruh penghuni adalah wanita.


"Aku sudah 18 tahun.. dan masih sama saja, tak punya teman dan tak akan punya pacar atau menikah. Siapa juga yang mau dengan wanita kotor sepertiku selain pria hidung belang." Ucap Imel dan itu membuatnya memikirkan ide untuk novel barunya.


Kenapa dia tidak menuangkan kisahnya ke tulisan saja sambil berjalan seiring waktu, apakah dia akan terus menderita dan kesepian atau ada seseorang yang bisa menerimanya dengan tulus?


Biasanya untuk mencari inspirasi untuk karya menulisnya jika itu fiksi maka dia akan menonton film dari sutradara kesukaannya yaitu Kenny Aelisius sehingga Imel akan merasa segar dan pikirannya tenang untuk melanjutkan tulisannya.


Seperti saat ini dia sedang menonton ulang film Crimsons dan melihat Elara yang sangat cantik di film itu juga akting yang luar biasa darinya.


Sejak umur 13 tahun dan memiliki Hp dari Tian, film dari Kenny lah yang menemani kesehariannya yang sepi dan dia sangat ingin jadi sutradara tapi mengubur impiannya dalam-dalam, lalu berubah ingin menjadi penulis.


Tanpa terasa Imel sudah menulis 2 bab novel barunya yang bercerita tentang peri cantik dan baik hati menolong orang yang kesulitan, lalu bertemu dengan gadis kecil yang juga butuh pertolongan seperti dirinya.


"Malam ini stop dulu, besok akan aku lanjutkan deh..." Ujar Imel lalu menutup laptopya dan bersiap untuk tidur.


Pagi yang cerah dan entah mengapa perasaan Imel terasa ringan, rutinitasnya yang pertama adalah menyirami tanaman di dalam potnya, hari ini ada yang berbeda karena ada sebuah biji yang tumbuh, sangat kecil tapi Imel bisa melihatnya.


"Akhirnya kamu tumbuh, biji.." Ucap Imel lalu pergi mandi dan bersiap ke kampus. Dia ada kelas pagi jam 8 hanya 1 kelas karena sudah semester 2 jadi 1 mata kuliah tidak di masukan lagi.

__ADS_1


Imel turun dari ojek langganannya, seorang ibu berumur 40 tahun single parent dan Imel juga terbantu dengan ibu itu.


"Makasih ya bu.. Imel masuk dulu." Pamit Imel pada Fatma.


"Iya Imel, belajar yang rajin." Jawab Fatma.


"Heh cewe culun, sok cantik lo ya!" Bentak seorang wanita yang Imel tau itu siapa.


"Maaf kak Rika, jika kakak mau cari masalah tolong cari tau dulu, saya tidak mendekati siapapun dan disini hanya ingin kuliah dengan tenang." Ujar Imel lalu berjalan melewati Rika yang semakin emosi.


Rika menarik rambut Imel dan menghempaskannya ke lantai, Imel yang tidak terima langsung membalasnya tapi tangannya sudah di tahan oleh seorang gadis lainnya yang datang membantu Rika.


"Bagus Rara, pegangin biar aku kasih pelajaran ni cewe sok cantik." Rika ingin menampar wajah Imel langsung ditahan oleh tangan seorang wanita cantik.


"Maaf nona-nona, dia memang cantik dan kalian berdua bahkan tidak sepadan dengannya seujung kuku kalian pun tidak." Ujar wanita itu.


"Flora!" Pekik Imel melihat Flora ada di depannya dan semakin cantik dan terlihat bercahaya.


"Kalau kamu anak direktur, dia istri pemilik yayasan disini. Mau apa kau?" Tanya Flo lantang dan Rika bertambah emosi karena bertambah 1 lagi cewe sok cantik di kampus ini yang akan bersaing dengannya.


"Stop! Kamu anak semester baru kan? Kenapa tidak sopan dengan senior?" Tanya salah satu senior disana tapi Rika tidak takut karena merasa menang dari semua orang disana karena anak direktur.


"Jangan ikut campur, pergi sana!" Hardik Rika mengusir senior perempuan itu.


"Jadi dia gak takut karna anak dari direktur." Timpal Flo agar perempuan ini bisa memberi pelajaran padanya.


"Ohh anak direktur, kak Morgan... pas kakak datang, urus nih anak direktur beraninya melawan dan sombong pada senior dan tadi mau tampar dia lagi." Morgan yang mendengar itu langsung melihat ke arah Rika yang masih sombong namun terpesona pada ketampanan Morgan di depannya.


"Cih.. liat cowo ganteng aja jadi kucing manis, tadi sama kita jadi kucing garong." Cibir Flo kesal melihat Rika yang tiba-tiba berlaku manis di depan Morgan.


"Jadi kamu anak Pak Mateo?" Tanya Morgan dan Rika membalas dengan senyum termanis sambil mengangguk.

__ADS_1


"Ok, besok Pak Mateo tidak akan jadi direktur lagi." Ujar Morgan santai tapi Rika malah tertawa mendengarnya.


"Hah.. dasar, percuma ganteng tapi bodoh." Umpat Rika lalu dia dan Rara pergi meninggalkan mereka.


"Ya ampun tuh manusia beneran ada ya..." Desah senior perempuan bernama Syifa.


"Sipa.. bawa barangku masuk dulu dah.. kesel banget liat cewe tadi gak mood kerja." keluh Morgan dan dia menoleh melihat Imel di sampingnya.


"Hai Bidadari.. kau baik-baik saja sejak aku tidak ada?" tanya Morgan dan Imel mengangguk. "Jangan bohong.. aku tau semua yang terjadi untung ada abang ku itu kalo gak, habislah." Lajut Morgan keceplosan.


"Abang?" Ujar Imel dengan nada bertanya.


"Oh itu hem... pria pake masker hitam, pas dia lewat sini kamu lagi nangis trus dia tolongin, gitu ceritanya." Ucap Morgan tapi dia tidak berbohong.


"Oh itu abangnya kakak, titip salam terima kasih ya kak. Waktu itu belum sempat dia uda pergi." Baru kali ini Imel berbicara panjang dengannya dan akan dia gunakan untuk menggoda Fano nanti.


"Sip.. aku pergi dulu, abis ini kita akan sering ketemu bidadari.. bye, misi gadis cantik." Pamit Morgan pada Imel dan juga Flora.


"Siapa dia Mel?" Tanya Flo penasaran.


"Dia kakak kelas yang sudah lulus, dulu sering ngikutin aku kemanapun selama 2 bulanan lah." Jawab Imel dan mereka jalan bersama karena Imel harus kuliah jam 8 ini dan sudah jam 7.45 pagi.


"Trus kamu dekat dengannya?"


"Gak.. karna aku ga mau dekat dengan lelaki manapun, nanti aku cerita tapi masuk kelas dulu." Ujar Imel dan Flo pamit untuk berkeliling.


"Nanti aku tunggu di kantin ya, laper.. kamu berapa jam didalam?" Tanya Flo lagi dan imel menjawab, "satu setengah jam, tunggu dikantin aja aku juga belum sarapan."


"Sip.."


TBC~

__ADS_1


__ADS_2