Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja

Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja
BAB 34 - Extra


__ADS_3

"Imel.. nanti kita pulang sama-sama saja ya, 2 jam lagi, ok?" Tanya Fano pada Imel yang masih duduk tenang sambil memainkan ponselnya.


"He'eh.. aku tunggu sini aja." Jawab Imel dan Fano mengecup bibirnya sekilas meskipun ada Bian disana Fano tidak segan-segan menunjukan rasa cintanya.


"Dasar bucin!" Gerutu Bian sambil terkekeh.


"Makanya nikah biar tau bucin tuh enak tau." Balas Fano dan makin membuat Bian tertawa.


"Nah ini dia masalahnya... lihat, penanggungjawab proyek besar kita di kota B itu Bisma, ayahnya Lalita dan kamu 2 hari lagi harus kesana." Ujar Bian setelah membaca ulang kontraknya.


"Haduh.. aku yakin dia pasti ikut, kamu aja yang pergi." Ujar Fano akhirnya.


"Gak ah, kamu aja, atau sama-sama aja." Tolak Bian.


"Mau ke kota B?" tanya Imel yang sudah menghampiri mereka.


"Iya sayang tapi kayanya si Talita itu pasti ikut ayahnya." Jawab Fano dan Imel mengerucutkan bibirnya.


"Berapa lama disana?" Tanya Imel lagi.


"Mungkin 3 hari, kenapa sayang?"


"Aku ikut.." Cicitnya.


"Tapi nanti siapa yang jaga J dan kamu nanti capek."


"Bawa J juga, abis tuh kita liburan, ajak mami dan papi, Morgan juga boleh."


"Hm.. boleh juga, ya udah nanti malam kita tanya mami dan papi yah, kalau Morgan mungkin gak bisa karena kan dia lagi jagain janda kesayangannya."


"Nanti kita sekalian ke Singapura ya sayang.. kamu belum lihat kantor pusat kita kan?"


"Loh kok singapura?"


"Kita kan ke Batam."


"Ohh ke Batam, aku kira ke Bandung hehehe.."


"Ihh gemasnya."


Fano menarik Imel dan mendudukan istrinya itu ke pangkuannya dengan memeluk erat sambil menciumnya, sedangkan Bian yang sudah biasa melihat pemandangan itu hanya bisa iri sambil menggeleng.


.

__ADS_1


.


.


"Mami dan papi, 2 hari lagi Fano dan Imel mau ke Batam, ikut gak?" tanya Fano di sela makan malam mereka sekeluarga besar, bahkan ada Morgan bersama kekasihnya yang sedang hamil dan anak-anaknya.


"Loh kok tiba-tiba?" Tanya Lusia dan Ken bersamaan.


"Iya, Fano ada proyek besar disana 3 hari dan Imel mau ikut, baby J juga kita bawa. Setelah selesai kerja kita mau ke singapura mi. Kalau mami dan papi ikut bisa sekalian jagain Imel, soalnya ada Talita disana." Jelas Fano dan mendengar nama Talita Lusia langsung menjatuhkan sendoknya.


"Kok ada Talita? Ada apa ini Fano?" Tanya Lusia yang mulai tidak suka.


"Tenang mamiku yang cantik... proyek ini kan kerjasama dengan Om Bisma jadi Fano pikir Talita pasti akan ikut karena tadi siang dia datang cari Fano dan dia gak diizinkan masuk.


"Mau apa wanita itu? Belum puas dia bikin kamu menderita?"


"Sudah peri kecil.. jangan marah, tuh cucu-cucu kita jadi takut."


Ken mengusap pelan pundak istrinya untuk menenangkannya yang pasti emosi jika mendengar nama Talita.


"Bukannya dia udah nikah bang?" tanya Morgan.


"Iya, tapi gak tau, abang gak peduli." Jawab Fano sekenanya.


"Sang ratu sudah mulai beraksi." Bisik Morgan pada Fano yang sedang menahan senyumnya.


"Trus Dami bantu apa mi?" Tanya Damian yang tidak mendapatkan titah apapun.


"Kamu.. buatin mami cucu lagi, biar bareng lagi sama Imel hahahah." Jawab Lusia yang dibalas tawa oleh semuanya.


"Sayang.. kok makannya dikit?" Tanya Fano yang melihat Imel hanya memakan beberapa sendok.


"Gak selera, mau makan yang lain." Jawab Imel pelan.


"Mau makan apa? Papi beliin atau kita makan disana saja." Tanya Ken yang senang dia akan punya cucu baru lagi.


"Mau sate padang.. tapi yang di dekat toko." Jawab Imel karena dia teringat sate padang di dekat komplek disana yang pernah dibelikan oleh Thika dulu.


"Okeh.. kita berangkat, siapa lagi yang mau ikut?" Tanya Ken lalu Yana duluan yang berdiri.


"Kamu juga mau sayang?" Tanya Dami dan Yana mengangguk.


"Kami gak deh pi, mau disini ajah." Timpal Morgan.

__ADS_1


"Okeh ayok kita cari sate padang." Ken sudah jalan duluan dan mengambil kunci mobilnya, diikuti oleh Fano yang menggandeng Imel yang menggendong Baby J, Lusia dan Yana jalan bersama dan Damian mengekori dengan menggendong Darren.


Setelah hampir 1 jam akhirnya sate padang yang di inginkan Imel ketemu, mereka sudah bolak balik sebanyak 3 kali dan Ken menyerah lalu mereka istirahat di Magical Flower dan meminta Kula saja yang membelikan karena memang dialah yang tau tempatnya.


"Aduhh lucunya J, Darren juga, bibit unggul." Flo yang gemas bingung mau menggendong yang mana dan akhirnya Thika duluan mengambil J dari Imel karena dia tidak kenal dengan Damian dan merasa canggung. Akhirnya Flo bermain dengan Darren.


"Peri kecil.. lihat ini, mirip kamu." Ujar Ken begitu melihat salah satu jenis bunga disana.


"Kok mirip aku?" tanya Lusia bingung.


"Iya, kecil mungil gemesin dan cantik." Jawab Ken yang di balas cubitan gemas dari istrinya.


"Jangan gombal, udah tua." Bisik Lusia tapi Ken tetap mendekap Lusia yang hanya setinggi dadanya.


"Duh.. mesranya Tuan Ken dan istrinya, jadi ngehalukan aku nih.." Ucap Thika yang memandang mereka dari tempatnya masih dengan baby J di pangkuannya.


"Hahaha iyah.. aku juga pengen kaya gitu." Balas Flo sambil juga melirik Fano yang snagat telaten menyuapi Imel yang sedang makan sate padangnya.


"Tuh Fano dan Imel juga bahagia banget liat mereka." Sambung Mala si pengantin baru.


"Loh bukannya kamu juga lagi mesra-mesranya.." Goda FLo dan Mala hanya tersenyum malu karena dia juga sedang begitu dengan suaminya.


Setelah makan Imel kembali dan membantu beberapa buket bunga yang baru saja di pesan, lumayan banyak untuk diantar besok sementara Ken dan Lusia sedang menikmati teh mawar terbaik di cafe ini. Damian dan Yana sedang santai menikmati cake karena Darren masih anteng di pangkuan Mala yang bertugas menjaganya.


Fano? Dia duduk di sebelah Imel yang sedang merangkai bunga sambil tersenyum membayangkan kejadian dulu waktu dia masih mengejar Imel di toko ini.


"Loh sudah selesai kan? Ini untuk apa?" tanya Fano yang melihat Imel membawa 1 bungkus bunga mawar putih.


"Mau bawa pulang taruh di kamar biar wangi." Jawab Imel lalu menghirup aroma bunga itu dalam-dalam.


"Ohh.. tapi kasian bunga ini sayang."


"kenapa?"


"Kalah cantik dibandingkan kamu."


Imel tersenyum malu mendengarnya dan menunduk dengan wajah memerah.


"Cieee yang lagi ngegombal." Suara Mala terdengar nyaring menggoda Fano yang kini juga terlihat malu. Dia segera membawa Imel duduk kembali dan memakan beberapa potongan buah disana tanpa peduli dengan godaan orang-orang.


"Duhh anaknya papi sudah bobo.." Fano mengambil baby J yang tertidur di pangkuan Thika dan hari semakin larut jadi mereka harus pulang karena toko juga sebentar lagi tutup.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2