Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja

Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja
BAB 15


__ADS_3

Tiba-tiba wajah Imel terlihat pucat dan mundur beberapa langkah dan menjadi berada di belakang Fano dan menggenggam lengan dan kemeja Fano dengan gemetaran.


"Kenapa Imel?" Tanya Fano melihat Imel yang seperti ketakutan, Fano mengerti saat melihat siapa yang mendekat ke arah mereka, 4 pria tinggi gagah sepertinya dengan aura dingin mendekat. Aries, Damian, Leo dan Archer.


Imel masih belum terbiasa dengan banyak pria sekaligus, jika dengan Ken karena dia memang suka dengan sosok Ken, Morgan dia sudah kenal tapi ke 4 pria yang baru datang membuatnya ketakutan.


"Tidak apa-apa gadis cantik, mereka keluarga kami." Ucap Lusia yang mendekat dan mengelus punggung Imel dengan lembut. Keempat pria itu jadi merasa bersalah karena mendekati mereka.


"Dia anak pertamaku Damian, ini Aries suaminya Elara, dan itu Archer dan Leo anak mereka." Lusia menjelaskan tetapi terlihat Imel masih takut hingga tatapan Fano menajam menatap mereka dan akhirnya para pria tampan itu menjauh dan kembali ke dalam rumah.


"Sudah ya.. ayo kita makan malam." Ajak Lusia tetapi Fano malah pamit untuk kembali, jadinya Lusia menyuruh mereka untuk tunggu sebentar dan akan membawakan makanan. Lusia ingin Fano menikmati makanan yang dia masak meskipun tidak bisa ikut makan malam keluarganya, padahal hari ini adalah ulang tahunya.


"Nak Fano bisa bantu sebentar." Pinta Lusia dan Fano mengangguk. "Imel tunggu sini dulu ya sebentar." Ucap Fano pelan dan Imel langsung melepaskan pegangan tangannya pada lengan dan kemeja Fano.


Fano mengikuti Lusia sampai ke dalam ruang makan dan bertemu semuanya disana. "Wah ternyata adik iparku beneran cantik yah.. gila." Ujar Tatiana dan Elena ikut menyeletuk "aku jadi mau ajak dia jadi artis ku deh."


"Gak boleh." Tolak Fano membuat 2 wanita itu tertawa geli melihatnya.


"Kalian juga apa-apan sih tiba-tiba muncul kaya gangster gitu. Papi juga, mentang disukai jadi genit sama calon mantu sendiri." Kesal Fano membuat mereka tertawa berhasil menggoda Fano yang terkenal sempurna itu.


"Sudah lah, ini bawa dan makan bersama nanti. Duh anakku kayanya jadi kurus ya?" Ujar Lusia sambil mengelus wajah Fano dengan cemas.


"Perasaan mami aja deh, Fano makan 4 kali sehari loh." Jawabnya, lalu pamit ke semua orang dan memeluk Lusia, "happy birthday mamiku yang cantik." Bisiknya di telinga Lusia sebelum melepaskan pelukannya.


"Jaga calon mantu mami ya.." pesan Lusia sebelum Fano meghilang di balik tembok pemisah ruang tengah dan ruang makan di rumah itu.


"ayo kita balik, mereka sangat baik memberikan kita makan malam sebanyak ini." Fano mengangkat sebuah goodie bag berisi kotak makan yang lumayan banyak untuk mereka berdua. Fano mengajak Imel makan di taman dekat sana dan Imel yang memang lapr karena sejak siang belum makan setuju dengan Fano.


"Pak Fano tau tempat ini dari mana?" Tanya Imel melihat taman cantik yang mereka singgahi untuk makan malam.


"Tadi sempat lihat waktu lewat, kita makan di sini aja yah.." Fano meminta izin dulu takut Imel akan menolaknya.


"Boleh, indah banget taman ini." Ujar Imel dan Fano tersenyum senang dan mulai membuka satu persatu makanan yang diberikan Lusia tadi.


Ada 2 botol jus jeruk, 2 botol air mineral, Fano membuka kotak paling atas ternyata ada bebek panggang peking setengah ekor, mata Imel terlihat berbinar melihat bebek itu, lalu Fano membuka 2 bowl yang terasa masih hangat, ada sup kesukaan Fano yaitu sup tahu dan bakso ikan, lalu ada ikan steam yang sudah dibuang tulang ikannya agar mereka mudah memakannya. Wajah Imel bebinar bahagia melihat menu itu.

__ADS_1


"Kau suka Mel? Wajahmu terlihat senang." Tanya Fano dan Imel mengangguk dan tersenyum.


"Aku suka makanan ini, sama seperti ayahku, kami suka bebek peking dan sup bakso ikan dan ikan steam apalagi yang baru diangkat dari kukusan." Jawab Imel dengan wajah bahagia membuat Fano begitu senang menatap wajahnya, dia tidak pernah melihat Imel sebahagia ini.


"Jika kau mau aku akan memberikan apapun untukmu Mel." Gumam Fano tanpa sadar, Imel mendengarnya tetapi pura-pura tidak dengar, Imel tau kalau Fano ada perasaan lebih untuknya tapi Imel memilih tidak ingin masuk terlalu dalam agar tidak jatuh cinta dengannya nanti.


"Ayo makan, kita nikmati ini berdua, kalau bawa ke toko nanti dihabiskan sama Flo dan Mala yang rakus itu." Imel tertawa mendengar ocehan Fano tentang mereka yang memang benar, mereka rakus.


Tak ada yang bisa menggambarkan betapa senangnya perasaan Fano saat ini, melihat Imel makan dengan lahap dan sepertinya memang gadis ini sangat menyukai bebek panggang peking, tapi kenapa gadis ini malah punya kesukaan yang sama dengan papinya juga.


Imel menghabiskan sebagian besar dari makanan di depannya dan tanpa rasa malu dia sudah makan dengan kedua tangannya membuat Fano sejak tadi terus tertawa dan Imel hanya cuek karena makanan ini lebih enak dari pada memikirkan Fano.


"Kau ini, makan pelan-pelan saja, aku gak akan merebut bebek itu." Ujar Fano dan tanpa sadar mengusap bibir Imel dengan jempolnya dan membuat Imel tertegun dan berhenti makan.


"Ah, maaf Mel aku tidak sengaja." Ucap Fano dan Imel merasa malu saat itu juga dan mencari tisu untuk menyeka mulutnya.


"Lanjutkan makanmu.." Ujar Fano pelan dan Imel menurut dengan melanjutkan makannya sampai habis.


Setelah selesai makan, mereka membereskan dan menyimpan kembali kotak makan dan akan Fano kembalikan besok, Imel masih tidak ingin kembali karena menikmati suasana taman ini, meskipun sudah malam tapi taman itu terlihat indah dengan penerangan yang cukup memperlihatkan semuanya.


Taman ini sebenarnya adalah buatan kakeknya, Daniel, untuk mereka agar bisa bermain dengan leluasa dan berlari sesuka mereka pada waktu kecil. Setelah mereka dewasa dan Daniel meninggal, mereka membuat taman ini sedikit lebih indah dengan menaman beberapa pohon dan bunga.


Imel mengangguk pelan, Fano menatapnya tapi Imel tidak berani melihat ke arah Fano karena dia takut menyukainya juga.


Apakah Fano akan menerimanya yang sudah dijamah lelaki lain? Meskipun kata dokter Diana dia masih perawan tapi rasa menjijikan itu tetap ada dan dia masih merasa tidak pantas untuk siapapun.


"Jangan menjawab apapun, aku tidak siap mendengarnya." Imel tidak jadi bicara dan Fano akhirnya mengajaknya untuk kembali ke toko saja.


Dalam perjalanan mereka hanya diam tanpa ada yang membuka pembicaraan. Imel masih ragu dengan perasaannya, dia suka dengan Fano yang selalu sopan dan sigap untuk membantunya kapap pun tanpa melewati batasnya.


Setelah balik ke Magic Flower Fano mengantar Imel untuk pulang lagi ke kostannya dengan motor matic butut yang selalu menemani Fano kemanapun setahun ini. Imel tidak berani terlalu dekat dengan Fano sehingga dia duduk agak jauh kebelakang dan tangannya meremas kemeja Fano, Jaket Fano malah Imel yang pakai agar dia tidak kedinginan. Fano sangat senang karena Imel tidak takut padanya dan bisa berboncengan seperti ini sangat romatis.


"Terima kasih Pak Fano." Ucap Imel mengembalikan jaket Fano dan helm yang dia pakai, Fano mengambilnya dari tangan Imel dan tersenyum padanya. Imel sempat tertegun melihat senyum itu, menurutnya Fano itu sangat manis dan tampan meskipun terkadang terlihat dingin dan menyeramkan jika diam saja.


"Masuklah, mau sampai kapan memandang wajahku yang tampan ini?" Tanya Fano, lalu dia terkekeh karena melihat wajah Imel memerah lucu.

__ADS_1


Ingin sekali Fano mengecup pipi gemas itu tapi dia belum berani, takutnya Imel malah kabur. Imel yang malu malah berlari masuk kedalam rumah kostnya dan Fano juga kembali ke kontrakan kecilnya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Karena hari Valentine sebentar lagi maka Fano maupun Imel sangat sibuk dan tidak sempat memikirkan pembicaraan terakhir mereka tentang perasaan Fano.


Semua sibuk mengurus pekerjaan masing-masing. Imel dengan pekerjaan membantu Thika merangkai buket snack atau uang, dan bantu Flo merangkai bunganya karena pesanan membludak, ada juga bunga sabun dan lilin aroma therapi yang menjadi produk baru mereka. Belum lagi pesanan buket coklat yang dibuat khusus untuk Valentine dari cafe ini.


Fano juga sibuk merekap pembayaran yang masuk dan pemesanan coklat dan kue edisi khusus, membuatnya sudah seminggu tidak melakukan pekerjaan kantornya sampai Damian mengomel indah di grup chat keluarga mereka.


[Damian] "Fanoooo adikku tersayang, laporan bulan januari belom dikirim."


[Fano] "Nanti yah, aku lagi sibuk, pesanan membludak."


[Damian] "Woyy kau itu kerja dimana sih.. ini penting loh Fan."


[Fano] "Sama ini juga penting, aku lagi bantu packing 127 kotak coklat valentine."


[Morgan] "hahaahahah bang Fano jadi tukang bungkus coklat.. apa kata dunia???"


{Tatiana] "Wah mau dong Fano... kirimin ke kakak."


[Fano] "Enak aja, beli sendiri, ini IG nya.. @MagicFlower"


[Lusia] "Untuk mami ada Fano?"


[Fano] "Untuk mami ada special nanti Fano buat sendiri."


[Lusia] "Waahh anak mami jadi romantis sejak kerja di toko bunga dan cafe."


[Morgan] "Bang.. inget kerjaan disini, bang Dami udah mau pingsan tuh hahahah."


[Fano] "Iyah, nanti Bian yang bantuin."


[Fano] "Udah ya, mau kerja lagi nih."

__ADS_1


Selesai dengan 127 box coklat, malam itu Fano meminta koki untuk membuatkan special coklat untuk maminya dan koki akan membuat sesuai pesanan Fano, coklat dengan bentuk peri kecil dan akan dia susun sendiri ke dalam kotak khusus untuk Lusia.


TBC~


__ADS_2