Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja

Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja
BAB 13


__ADS_3

Fano masih menatap Imel yang tertidur pulas akibat obat penenang, sudah seharian ini Fano terus disampingnya dan saat Imel bergerak Fano segera keluar dan menyuruh salah seorang suster untuk menemaninya.


"Kau sudah siapkan spikiater terbaik?" Tanya Fano dan Bian sudah memberikan beberapa nama dokter terbaik di rumah sakit ini.


"Kenapa banyak laki-laki?" Tanya Fano membaca 4 nama dokter laki-laki dan 1 nama perempuan itu pun Fano tidak suka padanya.


"Nah yang perempuan cuma 1 itu, kau tidak suka padanya kan, sisanya memang hanya dokter laki-laki. Atau kita minta tolong pada dokter Stev saja?" Tanya Bian sambil menjelaskan.


Fano berpikir, jika dokter perempuan ini maka dia akan berhubungan lagi dengan mantannya yang menyebalkan itu karena dokter ini kakak perempuannya.


"Apa Om Stev bisa?" Tanya Fano ragu karena Stev sudah lama tidak menangani pasien seperti ini.


"Kau meremehkanku anak muda.." Ujar Stev yang baru saja sampai di sampingnya bersama Aries.


"Om Aries, Om Stev.." Sapa Fano.


"Kau itu.. aku ini masih sanggup menangani pasien seperti apapun. Kau kira aku sudah tua dan tidak bisa apa-apa?" Tanya Stev memicingkan matanya melihat Fano.


"Bukan itu om, kan om sudah lama pensiun." Bantah Fano tidak enak hati.


"kau harus percaya pada Stev, lihat saja aku.. setidaknya sudah bisa duduk dan makan bersama wanita lain selain istri dan anakku.. " Jelas Aries, Fano juga tau hal itu karena sekarang bahkan Lusia sudah bisa mendekat dan bersalaman dengan Aries.


"Kau tunggu disini, aku akan masuk." Ujar Stev dan masuk begitu saja ke kamar rawat Imel.


Lalu Aries mengajak Fano untuk berbicara serius tentang nasib Indra dan Erlangga. Aries memastikan kalau Indra akan lama berada disana dan Erlangga hanya akan di tuntut dengan kasus penculikan dan dia yang telah menghubungi Archer maka kemungkinan tidak akan terlalu berat hukuman yang dia terima.


Hampir 2 jam Stev dan Imel berada di dalam dan Imel juga sudah mau makan dan sedang menikmati bubur yang disiapkan oleh suster, Imel merasa nyaman dengan Stev karena pembawaan Stev yang santai dan baik seperti Om Tian makanya Imel merasa aman.


"Baiklah.. kita sudahi ya.. kau harus istirahat lagi. Tapi kau yakin tidak ingin bertemu penolongmu yang S.A.H itu?" Tanya Stev lagi dan Imel menggeleng.


"Aku tidak suka dengan orang kaya. Mereka itu mengerikan dan aku hanya akan menyimpan penolongku itu di dalam hati." Ujar Imel dan Stev tidak ingin memaksa.


"Kalau begitu, kamu harus sembuh dan kita akan ketemu secara rutin seminggu 2 kali di yayasan HS, ingat selasa jam 4 sore dan Jumat jam 5 sore." Stev mengingatkan dan Imel mengangguk dengan tersenyum tipis.


Stev ingin mengetahui seluruh cerita tentang gadis malang ini karena sejak tadi mereka hanya ngobrol biasa seputar aktivitas Imel dan hal-hal menyenangkan yang dia alami beberapa waktu terakhir untuk menumbuhkan rasa senang dan tenang darinya.


"Bagaimana om?" Tanya Fano yang masih setia menunggu.


"Baik, dia sudah lebih tenang dan ceria.. tapi S.A.H itu kamu kan? Stefano Aelisius Hastanta." Tanya Stev memastikan dan Fano mengangguk.


"Kamu masuk dalam hal menyenangkan di dirinya." Ujar Stev dan Fano terlihat tersenyum, berarti dia ada kesempatan.


"Jangan senang dulu, aku sudah memastikan kalau dia tidak ingin bertemu denganmu, dia benci orang kaya." Ucap Stev langsung menjatuhkan mood Fano sejatuh-jatuhnya.


"Kenapa om?" Tanya Fano lagi dan Stev tertawa melihat raut wajah Fano yang tak pernah dia lihat sebelumnya.


"Aku belum tau, kita ada janji temu selasa jam 4 dan Jumat jam 5 setiap minggu, di yayasanmu, aku tau dia tidak mau menerima bantuan orang lain jadi om bohong kalau ini bantuan dari HS makanya dia terima." jelas Stev dan Fano mendesah lega.


"Sudah om mau pulang, mau lanjut ada lomba catur sama Aries." Stev melirik ke Aries yang duduk tenang sambil menelepon istrinya.


"Fano, ini barang Imelda sejak tadi Hpnya terus bergetar ada yang meneleponnya bernama Flora dan banyak pesan masuk darinya. Aku membaca beberapa dan sepertinya Flora ini membuka toko bunga dan cafe, pembukaannya minggu depan." Lapor Bian dan Fano melihat isi salah satu pesan yang telah dibuka oleh Bian.


"Imel sudah tidur lagi setelah minum obat, aku masuk sebentar dan kau tunggu disini." Titah Fano dan langsung berdiri dan masuk ke dalam ruangan rawat Imel.


Fano melihat Imel tidur pulas, dia mendekat dan duduk disampingnya, "Imelda.. bunga kecilku yang rapuh. Aku bersumpah akan menjagamu dan membuatmu bahagia, bukalah hatimu untukku." Fano berbisik lembut dan mengecup pipi Imel lalu mengelus wajah cantik itu dengan lembut.

__ADS_1


"Aku akan pergi dulu.. kamu istirahat ya.." Fano kembali berdiri tapi entah apa yang merasukinya, dia mengecup bibir Imel, mencuri ciuman dari gadis yang sedang tertidur pulas, lama dia mengulum lembut bibir itu.


"Ah.. sial, harusnya aku tahan diri." Rutuk Fano dalam hati setelah keluar dari kamar itu, ciuman itu membuat jantungnya hampir meledak dan hatinya sangat gelisah, bibir itu membuatnya terbayang terus ingin menyesapnya lebih lama.


"Fan, kita mau kemana?" Tanya Bian heran melihat Fano bergitu gelisah sejak tadi.


"Kita lihat toko yang namanya Flora itu, apakah dia orang baik atau tidak." Ujar Fano yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Oh sudah.. aku sudah periksa semuanya." Ujar Bian dan Fano melihatnya dengan tajam.


"Sabar dulu, aku dah mau cerita tapi ada kejadian ini.. jadi Flora itu baru balik dari luar negri dan dia yatim piatu bersasal dari panti asuhan milik pengacara di Jerman. Nah si Flora ini entah bagaimana aku gak tau jadi temannya Imelda, dan dia mau buka toko bunga dan cafe danĀ  kita kesana sekarang." Jelas Bian yang sudah menyuruh supirnya untuk menuju toko bunga Flora.


Mereka sampai dan Bian berpura-pura menanyakan alamat pada pekerja disana yang sedang memperbaiki hal-hal kecil pada bangunan itu, tanpa sengaja dia melihat pemberitahuan di tempel untuk merekrut beberapa pegawai cafe dan manajer.


"Fan.. ada lowongan jadi manajer cafe, apa kita tempatkan orang kita disana untuk jaga gadismu itu?" Tanya Bian dan Fano berpikir sejenak.


"Gak bisa, aku yang akan jadi menajer disana, kau urus data diri baruku, jangan bantah." Tegas Fano saat Bian ingin membantah.


"Kau serius?" Tanya Bian, padahal dia sudah memikirkan cara untuk Fano bisa mendekat ke Imelda tapi ternyata cara Fano sepertinya lebih efektif.


"Iya dan tadi om Stev bilang kalo Imel gak suka dengan orang kaya. Kau buatkan data pribadiku yang baru dan dari kalangan biasa dan kuliah juga biasa saja. Carikan rumah kontrakan kecil dan motor butut, siapkan baju biasa juga." Perintah Fano dan Bian tertegun mendengarnya, bos nya ini serius dengan ucapannya.


"Baiklah.. aku carikan dekat dengan Imelda biar kau puas." Ujar Bian dan dia mulai terkekeh membayangkan Fano dengan tampilan orang biasanya.


Beberapa hari dijalani tenang oleh Imel di rumah sakit, meskipun dia terlihat baik-baik saja tapi Fano yang sesekali mengintip kedalam kamarnya sering melihat Imel menangis sendirian, kadang dia telponan dengan Flora dan mengobrol. Kadang Flora juga datang dan berbincang lama dan menjaganya.


"Aku antar kau pulang ya Mel, aku bawa mobil kok." Tawar Flo dan Imel setuju.


"Tapi aku gak pulang, mau ke yayasan nanti ketemu sama dokter Stev untuk konseling, tapi singgah kerumah dulu sih.." Ucap Imel dan Flora tidak keberatan untuk mengantarnya kemanapun hari ini.


Fano yang sudah ada di rumah kontrakannya melihat sekeliling rumah itu dengan dandanan biasanya, kaos sederhana dan jeans murah yang dibeli Bian dipasar, rambut Fano yang biasanya tertata rapi kini acak-acakan dan motor matic bekas yang baru di beli Bian terparkir mulus di depan rumah kontrakan itu. Bian juga ada disana membantu memindahkan beberapa barangnya.


Sebenarnya Fano bingung dengan semua barang yang diberikan Bian, gimana cara ini asistennya dapatkan semua dalam waktu 2 hari. "Kau bukan mafia kan Bian?" Tanya Fano serius.


"Kau jangan becanda Fan, kau kenal aku dari kita SD loh, aku minta tolong lah sama Archer, apalagi.." Jelas Bian kesal mendengar komentar Fano, padahal dia sudah bolak balik ke tempat Archer yang sedang galau itu karena baru tau kalau pacarnya selingkuh, hampir saja Bian di hajar olehnya.


"Oh ya? Trus gimana keadaan si sombong itu?" Tanya Fano karena dia sempat mendengar cerita tentang Archer lewat Morgan.


"Hah.. kacau Fan, kasian juga dia. Tapi gimana lagi, kita uda berusaha sadarkan dia dari 2tahun lalu tapi dianya udah cinta mati sama tuh cewe." Jawab Bian membuat Fano merasa bersalah telah menyelidiki tentang kekasih Archer itu, dia hanya ingin membantu abang sepupunya dari wanita siluman yang hanya mau foya-foya dengan harta keluarga Sadana.


Setelah Bian pergi, Fano terlihat jalan mendekat kearah rumah Imel di depannya dan melihat di jendela yang terbuka ada tanamannya yang sudah mengeluarkan biji kecil di pucuknya.


"Wah kau sudah berbuah ternyata, Imel pasti merawatmu dengan baik." Ujar Fano palan dan dia melihat tanah di pot itu sangat kering dan segera mengambil botol air mineralnya dan menuangkan air ke dalamnya melalui celah jendela. Lalu dia menyentuh dan memainkan daun sebentar. Tak lama Imel dan Flora muncul disana.


"Kamu siapa?" Tanya Imel tapi dengan nada pelan dan sedikit ketakutan melihat seorang pria tak dikenal ada di jendela rumahnya. Fano terkejut dan berbalik melihat ke arah Imel dan Flora disana.


"Oh maaf, aku baru pindah ke depan dan ingin menayakan sesuatu tapi tidak ada orang. Aku hanya melihat tanaman ini sepetinya kering dan menyiramnya." Jelas Fano jujur dan dengan sopan melihat Imel ketakutan di belakang Flora.


"Oh.. terima kasih, siapa nama mas?" Tanya Flora ramah karena dia merasa Fano adalah orang baik karena mau menyiram tanaman itu.


"Aku Stefano, panggil saja Fano. Aku baru pindah kemari karena mau cari pekerjaan." Jawab Fano ramah.


"Ohh.. kamu asal mana ya? Sepertinya pria tampan sepertimu bukan orang sembarangan." Tanya Flora dengan senyum ramahnya, Fano terlihat bingung, dia belum membaca data yang diberikan Bian padanya tadi.


"Eh.. sebentar, aku lupa sedang masak air." Fano berlari cepat ke dalam rumah dan segera membaca apa saja yang dibuatkan oleh Bian tentang identitas barunya, ternyata tidak terlalu banyak. Fano keluar lagi tapi melihat mereka akan pergi.

__ADS_1


"Nanti kita ngobrol lagi ya, kami akan keluar sebentar." Pamit Flo dan Fano tersenyum ramah melihat mereka berlalu pergi, Fano mengikuti dan ternyata mobil Flo terparkir di depan tepi jalan depan kontrakan.


"Oh iya, hari ini konseling pertamanya Imel dengan om Stev." Fano mengambil ponselnya dan menelepon Stev untuk ikut mendengar konseling itu tapi Stev menolak, nanti saja setelah selesai mereka akan membahasnya.


Jam 8 malam Flo mengantar Imel pulang dan mereka melihat Fano sedang membersihkan motornya di depan rumah, Flo datang dan menyapanya. "Malam Fano.."


"Malam, mba.." Jawab Fano dengan senyum tipis.


"Panggil Flora atau Flo saja. Kamu lagi cari kerja kan?" Tanya Flo sambil jalan mendekat ke arah Fano.


"Iya Flo, lagi cari kerja apapun lah yang penting bisa menyambung hidup." Jawab Fano berbohong.


"Aku mau buka cafe kalau kamu bersedia boleh kirimkan CV mu dan kita bicarakan nanti?" Tanya FLo dan Fano tentu senang mendengarnya.


"Boleh Flo, terima kasih. Aku sudah menyiapkan beberapa sih, sebentar." Fano masuk kedalam dan membuka ranselnya dan mengambil 1 map coklat yang telah dipersiapnya dan Bian 1 jam lalu.


"Ini.." Fano meyerahkan dan Flo mengambilnya, "baiklah, nanti aku hubungi yah.. dah, aku juga mau pulang." Pamit Flo dan Fano mengangguk dan tersenyum padanya.


Fano mengendarai motornya malam itu dan pulang kerumah karena dia telah janjian dengan Stev untuk membicarakan masalah Imel yang telah konseling dengannya sore tadi.


"Fano!! Kenapa kamu acak-cakan begitu nak?" Tanya Lusia dan Bian yang menjelaskan, sementara Fano sudah masuk ke dalam ruang kerja mereka bersama di rumah.


"Jadi Fano akan jadi orang biasa, si pemuda miskin yang sedang cari kerja untuk mendekati Imelda gitu?" Tanya Lusia tak percaya.


"Benar tante Lusia.. Fano melakukan apapun demi dekat dengan gadis yang dia cintai." Bian memastikan.


"Wah bang Fano dah gila.. " Desah Morgan, abangnya yang sempurna itu bahkan rela merendahkan diri demi mendapatkan Imelda.


"Aduh.. nanti kalau gak ada yang urus dia gimana dong, terus kalau sakit? Kalau dia kesepian? Terus dia tinggal dimana?" Tanya Lusia memberondong Bian, membuat Morgan mendesah kesal.


"Mami... bang Fano cuma pindah ke kontrakan kecil, bukan pergi perang." Ujar Morgan sambil merangkul Lusia.


"Tenang tante, aku sudah siapkan semuanya dan aku pastikan Fano baik-baik saja." Ujar Bian tapi Lusia tetap tidak tenang, anak kesayangannya itu memang tegas dan terlihat kejam, tapi sebenarnya dia adalah anaknya yang paling baik hati dan manja.


"Jadi om, gimana?" Tanya Fano dan Stev juga Damian ada di ruangan itu duduk berhadapan di sofa besar berbahan kulit yang mewah, Stev menghela napasnya sebelum menjawabnya.


"Dia sangat kuat.. umur 13 tahun di perkosa oleh ayah tirinya, seharusnya saat itu dia dibawa ke rumah sakit atau minimal ke orang yang paham lah tentang kondisinya. Menurut Dokter Diana dia masih perawan tapi menurut Imelda dia telah diperkosa, setelah aku dengar kisahnya, kemungkinan besar ayah tirinya belum menembus sampai dalam ibunya sudah membuka pintu kamar, tetapi bagi anak kecil 13 tahun itu akan sangat menyakitkan dan tidak ada yang memberitahu atau mengajarinya tentang **** dan akibat atau yang berhubungan dengan hal itu. Sehingga dia menganggap dirinya sudah tak suci dan kotor."


"Dia takut berdekatan dengan pria tapi dia berusaha kuat untuk menekan rasa takutnya, dia berhasil tapi dalam dirinya tidak bisa menerima seorang pria dalam hidupnya. Dia ingin menemukan pria yang dapat menerima dia apa adanya dan tulus tetapi dia ragu akan hal itu, mengingat setiap pria yang mendekatinya hanya berujung menyakitinya dan sekedar nafsu." Jelas Stev dan Fano tampak memijat kepalanya dengan kasar.


"Dia sudah sering dilecehkan karena dirinya cantik, dia sadar akan itu, bahkan dia sangat ingin merusak wajahnya tapi dia ingat wajahnya mirip ayahnya jadi dia tidak bisa melakukan itu. Dia juga tak punya teman karena jika pria hanya akan menyakitinya dan jika wanita mereka juga menyakitinya karena pria. Bahkan dia sering di tindas sejak masuk kuliah dan di siksa pada awal masuk." Sambung Stev dan Fano tau hal itu makanya dia menyuruh Bian mengatur beberapa orang untuk menggagalkan para gadis di kampus waktu ingin menyiksanya.


"Lalu tentang dia benci orang kaya?" Tanya Fano penasaran.


"Itu terjadi pas dia SMA, gadis kecil itu sangat muda waktu masuk SMA dan di fitnah saat mengikuti lomba menulis. Ada yang mencuri hasil kerjanya dan mengklaim itu adalah hasil kerja dari anak orang kaya itu. Dia berusaha membuktikan bahwa tulisan itu karyanya tapi tidak ada yang percaya, bahkan guru dan Omnya saat itu tidak bisa berbuat apapun karena anak itu adalah putri dari keluarga kaya raya dan ayahnya telah menyuap juri dan panitia untuk segera menutup kasus itu dan akhirnya Imelda yang mendapatkan sanksinya. Padahal dia sangat memimpikan hadiah dari acara lomba itu." Jelas Stev lagi lalu dia terdiam sebentar.


"Om tau siapa ayah anak itu? Dan apa impian Imelda?" Tanya Fano lagi tapi Stev menggeleng,


"Dia tidak tau dan tidak mau bercerita lebih banyak tentang impiannya, katanya dia hanya ingin hidup tenang tanpa diganggu siapapun dan akan menyendiri dan menulis. Karena dengan menulis dia bisa membayangkan kehidupan bahagia yang dia impikan, hanya dalam imajinasinya dia bisa merasakan kebahagiaannya. Kau tau dia bilang apa?"


Fano terdiam, dia tidak menyangka Imelda mengalami hal yang lebih sulit dari yang dia tau selama ini.


"Dia bilang, selalu berdoa pada Tuhan, "Izinkan aku bahagia, sekali saja' hanya itu keinginannya." Sambung Stev, mereka tidak berkomentar, Damian menepuk dan memijat bahu adiknya itu memberikan dia kekuatan karena jalan cintanya akan sangat sulit.


"tenanglah, kau fokus pada gadismu."

__ADS_1


"Tolong cari tau om, impian Imel dan siapa ayah dari anak kaya itu." Ucap Fano dan Stev hanya tersenyum, dia tidak yakin Imel akan membuka hal itu.


TBC~


__ADS_2