
Jessica juga senang di pindahkan ke divisi keuangan karena dia sudah tau kalau direktur keuangan itu adalah Stefano anak ke3 dari keluarga Hastanta yang terkenal sangat tampan melebihi Damian.
"Halo Jessica, selamat datang di tim keuangan dan ini Imelda juga anak magang." Sapa Heri kemudian dia memperkenalkan Imel tapi jessica memicingkan matanya seperti memikirkan sesuatu.
"Hai kak Heri, panggil saja Sica, dan kamu Imelda adiknya Tya bukan?" Tanya Sica tapi Imel tidak menjawabnya dan malah pergi meninggalkan Sica dan juga Heri yang sempat bingung dengan Imel yang biasanya ramah.
"Sial, ketemu dia lagi disini.. dan apa itu? Dia masih dendam kah soal lomba itu? Dasar gak punya sopan santun." Batin Sica yang telah mengingat Imel dengan baik.
Imel yang kesal melihat Sica memilih untuk duduk kembali di ruangan meetingnya dan kembali melamun dan memikirkan masa lalunya, tak lama Fano juga ikut masuk kesana.
"Imel.. kenapa masih disini? Bukannya sudah selesai ya?" Tanya Fano yang sudah duduk di sampingnya.
"Iya sudah.. aku suka saja disini, ga berisik." Jawab Imel tapi Fano tau kalau Imel sedang kesal dari raut wajahnya.
"Apa yang membuatmu kesal Mel?" Tanya Fano lagi karena dia sudah hafal dengan tingkah laku Imel.
"Gak kok.." Jawab Imel tapi Fano tau dia bohong.
"Jangan bohong, aku setiap hari mengamatimu dan tahu bagaimana raut wajah ini kalau lagi kesal." Ucap Fano, Imel tak menyangka kalau Fano mengetahui dirinya sampai sedalam itu.
"Imel... ceritakan padaku apapun itu, masalahmu, apa yang membuatmu senang, cemas, sedih, kau bisa membukanya denganku, aku sangat ingin menjadi tumpuanmu, Mel." Ucap Fano lirih menatap lekat pada Imel yang menjadi ragu akan perasaannya sendiri.
"Apa kau takut padaku?" Tanya Fano lagi dan Imel menggeleng, "Apa benci padaku?" Imel menggeleng lagi. "Kau suka padaku kan?" Imel mengangguk pelan. "Jadi.. apa yang membuatmu ragu?" Imel terdiam lagi.
Imel berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju pintu, "Kau tidak tau masa laluku Fano.. jika tau, kau pasti akan menjauh." Ujar Imel lirih lalu meninggalkan ruangan itu.
"Aku tau, aku tau semuanya Mel.." Ucap Fano pelan, "Apa aku harus jujur dan mengatakan semuanya? Tapi aku takut kau yang akan meninggalkanku. Gak bisa, aku harus mendapatkanmu Imelda.." Fano berdiri mengejar Imel tapi dia terlambat.
"Dimana Imelda?" Tanya Fano pada Heri begitu sampai di ruangan para staff.
"Tu Tuan Stefano.. eh itu Imelda baru saja pulang, Pak Candra yang mengizinkannya." Jawab Heri terbata, semua staff yang ada disana begitu terkejut seorang Stefano datang sendiri mencari karyawannya dan hanya anak magang baru.
"Tuan Stefano apa Imelda membuat kesalahan?" Tanya Victor dengan nada takut, dia juga kaget Direkturnya datang langsung mencari Imel padahal dia saja manajer tidak bisa bertemu dengannya selama ini.
"Tidak.. tidak.." Ucap Fano lalu pergi dari sana, dia ke ruangan Bian dan mengeluh disana. "Bian, aku harus gimana lagi?"
"Kau nyerah? Kalau lelah ya nyerah aja, aku mau kok ngejar bidadari itu hehehe.." Ujar Bian yang lagsung mendapatkan tatapan setajam silet dari Fano. "becanda bos.. " Sambung Bian lagi baru Fano memalingkan tatapannya.
Seminggu berlalu dan Imel masih tidak berbicara apapun pada Fano, tapi sekarang Imel jadi banyak di dekati oleh banyak pria di kantor, seperti waktu di kampus dulu hanya saja para pria dewasa ini mendekatinya dengan cara berbeda. Ada yang sekedar menyapa, meminta bantuan pekerjaan karena Imel yang cekatan, mengajak makan siang dikantin bersama dan memberikan perhatian lebih. Imel merasa risih tapi untungnya dia sudah tidak ketakutan seperti dulu lagi karena konseling yang dia lakukan dengan Stev masih berjalan meskipun hanya sebulan sekali atau jika dia butuh saja.
"Huh.. ini gara-gara Fano ih.. kata Flo karna aku dicium makanya efek bunga itu jadi perlahan hilang." batin Imel kesal karena di meja kerjanya pagi-pagi sudah ada 3 menu sarapan, biasanya dari para pria yang ingin mendekatinya.
"Wah.. rezeki lagi.." Kata Heri dengan wajah cerahnya.
"Ada lontong sayur, bubur ayam, ini.. roti bakar." Ucap Imel melihat isi dari masing-masing kantong di mejanya.
"Ini kopi sampe ada 3 juga... gila itu orang-orang, tapi beneran sih kamu tambah cantik Mel makanya mereka jadi serigala semua haahhaah.." Heri tertawa melihat wajah Imel yang sudah cemberut dan kesal.
"Untung kak Heri gak kaya mereka.." Ucap Imel pelan sambil membuka sarapan yang dia bawa sendiri habis masak tadi pagi bersama Meli teman sekamarnya.
"Gak dong, secantik apapun wanita di depanku aku tetap cinta mati sama istriku." Jawab Heri membuat Imel senang mendengarnya, betapa beruntungnya dia jika bisa mendapatkan suami seperti Heri nantinya.
"Hah.. moga aku dapat pasnagan kaya kak Heri ya, uda ganteng, baik, perhatian, cinta mati sama istri lagi.." Ucap Imel tanpa sadar kalau ada seseorang yang tengah lewat disana dengan memakai masker hitamnya.
"Yang penting bisa iklas menerimaku apa adanya, ga perlu ganteng atau kaya." Sambungnya lagi. Fano yang lewat tadi sengaja berhenti dan duduk di salah satu meja dekat Imel yang penghuninya belum datang untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kamu itu bisa saja dapat yang seperti apapun, bahkan Mel..kamu itu cocoknya di ruang sekretaris atau marketing deh.. dengan wajah cantikmu aku yakin para direktur pasti kepincut." Jelas Heri sedikit menggodanya.
"Gak ah, aku cocok di sini dan sepertinya memang udah jodoh aja bisa disini." Ucap Imel dan Heri bingung dengan ucapan Imel.
"Jodoh? yang benar.. jodoh dengan siapa?" Tanyanya tapi Imel malah menghindar dengan izin ke toilet.
"Aku ke toilet bentar kak.." Imel langsung berlalri kecil menuju toilet tapi sebelum sampai dia sudah ditarik oleh Fano.
"Jodoh denganku kan?" Tanya Fano dan Imel sangat kaget Fano ada disana
"Fano.. jangan gini, lepas.." Imel mengeliat karena Fano mendekap tubuhnya, Fano sudah tidak tahan ingin memeluk bunga kecilnya.
__ADS_1
"Gak mau, aku kangen kamu Imel." Ucap Fano yang sudah mendekatkan wajahnya di wajah Imel, dia menunduk dan mengecup bibirnya tapi kali ini lebih lama dari yang pertama kali.
Setelah melepaskan pagutan bibirnya Fano kembali memeluknya dengan erat. Imel merasakan hangat luar biasa di sekujur tubuhnya, hatinya juga menghangat dan ada perasaan nyaman dan tenang dalam pelukan ini.
Setelah tau Imel juga ada perasaan dengannya, Fano bertekad akan maju terus biar dibilang nyosor, tapi demi bisa mendapatkan Imel apapun akan dilakukannya.
"Aku cemburu lihat banyak pria disini selalu mengikutimu, kenapa sih mereka itu?" Tanya Fano dan Imel jadi kesal mendengarnya.
"Salah siapa efek bunga ajaib itu hilang?" Batin Imel, dia berontak dan akhirnya lepas dari pelukan Fano.
"Itu semua salah kamu." Bentak Imel lalu berlari pergi meninggalkan Fano yang masih kegat.
"Salahku? Apa salahku?" Ucapanya dengan wajah masih terheran-heran.
\~\~\~\~\~\~\~\~
Jam makan siang telah tiba, tapi Imel sudah tidak ada di mejanya. Heri menyuruhnya 10 menit lebih awal untuk pergi makan agar terhindar dari para serigala yang berlomba untuk mengajaknya makan siang, Heri juga sudah menempelkan pengumuman di meha kerja Imel dengan tulisan. "Sedang makan siang, jangan tanya kanan kiri, lagi sibuk." Jadi mereka bisa baca sendiri tak perlu mengganggu Heri lagi.
Fano juga sudah lapar karena tidak sempat sarapan, tapi dia sedang menunggu makan siang special dari maminya yang akan datang sebentar lagi. Fano mendengar ada bunyi pesan dan segera melihatnya, ternyata dari chat group keluarganya, pasti Morgan bikin ulah lagi nih, pikirnya.
[Morgan] "Pasti akan jadi perang saudara nih..."
[Morgan] "Mami papi siap2 deh ya kalo ada yang berantem,"
[Fano] "Apa sih Morgan? Selalu berisik."
[Morgan] "hohoho liat ini..."
photo sent (Damian sedang merangkul Imelda)
[Morgan] "Nah gimana? Seru gak nih.."
[Ken] "Astaga! Damian! Papi tau kamu jomblo tapi jangan nikung punya adikmu dong."
[Tatiana] "Iya nih bang Dami, kasian noh Fano uda usaha hampir 3 tahun belom dapet malah di tikung."
[Ken] "mami lagi di jalan mungkin, kan lagi bawain makan siang buat Fano."
[Morgan] "ih mami curang cuma sayang bang Fano, kita gak pernah dibawain makan siang."
[Ken] "Kan kamunya yang gak mau Morgan, mami kalau mau kesana kamunya lagi sama cewe."
[Morgan] "hehehe iya juga ya..."
[Ken] "trus ini gimana? mana Damian? Fano? kamu ga apa-apa kan?"
.
.
1jam berlalu.
.
[Damian]"Astaga! Kalian jangan fitnes ya. aku baru balik dari meeting liat hp uda rame aja. Ini lagi siapa yang berani ngambil foto ginian."
[Damian]"Fano, abang ga nikung.. itu calon adik ipar kepeleset tadi pas abang disana dan nolongin, itu foto pasti di crop deh, ada 2 sekretaris magang kok disamping abang. Fano...."
[Damian]"Fanooo...."
[Damian]"Duh kan, Morgan!"
[Morgan] "Iya abang Dami yang cakep.."
[Damian] "Tanggungjawab! Fano marah kayanya."
[Morgan] "Gak kok, dia lagi makan siang bareng mami, nih fotonya.."
__ADS_1
photo sent
[Morgan] "Aman kok bang, bidadari juga udah di mejanya lagi kerja."
[Damian] "Huh sukur deh..."
"Napa sih fotoin kita lagi makan?" tanya Fano melihat Bian bukannya makan malah fotoin dia dan Lusia.
"Ini Morgan yang minta biar jadi barang bukti, katanya Damian lagi marah sama dia." Jelas Bian dan Fano malah terkekeh, biar saja dia juga tau kok Dami gak akan nikung dan Imel bukan tipe wanita idamannya.
Wanita idaman Damian masih jadi pacar orang dan dia juga akan nikung orang lain dari pada nikung adek.
"Ya udah kalian makan aja.. mami mau liat calon mantu dulu.." Lusia pergi meninggalkan 2 pria itu makan dan dia yang jarang datang ke kantor menjadi bahan pembicaraan dan semua senang melihat calon ibu mertua idaman.
"Nyonya.. ada yang bisa saya bantu?" Tanya Victor melihat Lusia yang ada di ruangan staff biasa seperti ini.
"Ah aku lagi cari seseorang dia.." Belum sempat Lusia mengatakannya dia sudah di sapa wanita cantik dan glamour yang jalan di depannya.
"Selamat siang tante Lusia."
"Siang, kamu siapa ya?"
"Saya Jessica tante, anaknya Mahendra dari perusahaan Wiguna." Jawab Sica dan Lusia baru ingat.
"Ah kamu gadis kecil pemenang lomba itu kan?" Tanya Lusia baru ingat dan Sica mengangguk, "iya tante.."
"Ohh ok deh, saya ke sana dulu, sudah nemu orang yang saya cari, permisi." Pamit Lusia dan jalan menghampiri Imel yang baru kembali dari makan siangnya.
"Bunga kecil.." Panggil Lusia begitu ada di samping meja Imel.
"Nyonya Lusia.." Pekik Imel pelan karena dia masih sadar ini di kantor.
"Kok masih nyonya sih.. tante dong, atau mami sekalian. hehe.." Ujar Lusia membuat Imel tersenyum malu. "Iya tante..."
"Ada waktu gak, kita ngobrol yuk." Ajak Lusia tapi Imel melihat ke jam di hpnya.
"Jam istirahatku tinggal 10 menit.." Ujarnya tapi Lusia sudah menarik tangannya dan menghampiri Victor yang masih berdiri dengan Sica memandang heran mereka berdua.
"Pak, saya pinjam Imelda 1jam." Ucap Lusia dan menarik Imel pergi dari sana, semua mata melihat ke arah mereka dengan terheran.
"Nyonya besar Hastanta, ibu dari para direktur mereka menarik lengan seorang staff magang??" Begitu kira-kira yang terucap dari pandangan mata mereka.
Lusia dan Imel tengah berada di salah satu taman kecil dekat kantor Damian, taman itu hanya khusus untuk para eksekutif dan staff biasa seperti Imel tidak dapat masuk kesana. Damian yang melihat ibunya dan Imel sedang ngobrol lalu menghubungi Fano dan dia juga segera kesana melihat 2 wanita paling dia cintai sedang bersama.
"Tapi tante lagi sedih lihat anak ke 3 tante itu.. dia kayanya lagi patah hati, sama dengan Damian yang belum dapat menggapai cintanya." Ucap Lusia dan Imel masih mendengarkan setelah mendengar masalah cinta Damian tadi.
"Kenapa tante? Sepertinya Tuan S.A.H itu orang baik kenapa bisa patah hati juga?" Tanya Imel, entah kenapa dia merasa sedih mendengar penolongnya patah hati.
"Gadis yang dia cintai masih belum mau jujur dengan perasaanya, padahal anakku itu sangat baik meskipun orang bilang dia kejam dan dingin tapi sebenarnya dia anak baik dan yang paling manja dari semua anak tante." Jelas Lusia, Imel masih diam mendengarkan.
"Dia yakin kalau gadis itu juga mulai suka padanya tapi gadis itu tidak berani jujur, padahal anak tante itu sudah menjaganya lebih dari 2tahun ini tanpa dia tau. Malah sudah setahun belakangan dia mendekati gadis itu. kalau tahun ini belum ada kemajuan, tante akan jodohin dia saja pada wanita lain." Sambung Lusia, mendengar itu Imel jadi teringat pada Fano, dia juga tidak bisa jujur tentang perasaannya pada Fano.
"Tapi aku juga mengerti perasaan gadis itu, aku juga sama takut untuk mengungkapkan perasaanku pada orang yang aku sukai." Ujar Imel pelan, wajahnya terlihat sendu dari matanya ada pancaran kesedihan.
"Kenapa takut, kamu ini cantik.. dia tidak mungkin menolakmu." Lusia mengelus rambut Imel yang terbang di tiup angin yang lumayan kencang disana.
"Aku tidak seperti wanita lain, mungkin dia akan pergi jika tau masa laluku." Ucap Imel dan dia hampir menangis.
"Jangan begitu Imel.. kamu harus yakin, atau begini saja, kalau kamu takut.. jujur padanya dan katakan apa yang ada di hatimu, setelah itu terserah dia mau tetap bersama atau tidak. Setidaknya hati kalian tidak digantung begini, kalian sama-sama sakit kan?" Saran Lusia dan Imel tampak setuju, dia harus selesaikan ini, jika memang Fano meninggalkannya itu sudah resiko dan dia tidak akan memaksa sebelum rasa cinta ini semakin dalam.
"Tapi saran tante, kamu harus suruh dia jujur juga tentang dirinya sendiri, jangan ada yang ditutupi antara kalian berdua." Imel menoleh dan melihat ke Lusia dan dia bingung.
"Kenapa tante bilang dia harus jujur?" Tanya Imel, Lusia langsung mencari alasan agar Imel tidak curiga dengannya.
"Yah.. saling jujur aja, memangnya kamu tau dia siapa? keluarganya? teman-temannya?" Tanya Lusia dan Imel menggeleng karena dia sama sekali tidak tau siapa Fano dan lingkungan sekitarnya selain Magic Flower.
"Iya tante nanti Imel akan katakan perasaanku yang sejujurnya. Imel harap Tuan S.A.H juga akan mendapatkan cintanya." Ucap Imel dan Lusia akhirnya tertawa mendengarnya, dia geli mendengar Imel memanggil Fano dengan nama SAH.
__ADS_1
TBC~