Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja

Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja
BAB 29


__ADS_3

Hari pernikahan Fano dan Imel sangat meriah, mewah dan menjadi sorotan seperti pernikahan Ken dan Lusia dulu.


Tapi kali ini dekorasi yang mereka gunakan seperti taman bunga asli yang dipindahkan ke aula gedung, siapa lagi kalau bukan Flora yang mengurusnya.


Bahkan Flora meliburkan dan menutup 1 hari Magic Flower demi semua pegawainya dapat hadir di acara ini, dia tau Imel tidak mempunyai banyak teman selain teman di Magical Flower, mereka begitu bahagia melihat Fano yang akhirnya dapat mengejar cintanya, selama 1 tahun menjadi manajer cafe demi dekat dengan Imelda pujaan hatinya.


Kisah perjuangan cinta Fano di ceritakan Mala yang memang bocor itu kepada salah satu wartawan disana yang kebetulan adalah teman masa SMA nya sehingga bocor keluarlah sepak terjang Fano yang begitu gigih mengejar cinta Imelda dan juga menjaganya sejak dia 17 tahun.


Imelda bagai ratu dari kerajaan bunga dan Fano adalah Rajanya yang selalu melindungi sang Ratu, dia tidak membiarkan pria-pria itu bersalaman lama dengan istrinya sampai Ken harus meminta maaf pada tamu mereka.


"Dasar, posesif.. turunan siapa sih?" Sindir Ken yang melirik ke arah peri kecilnya yang sudah tersenyum malu mengingat dirinya dulu yang mengikuti kemanapun Ken pergi.


"Kalo mami posesif sama papi itu wajar, papi kan suka celup sana sini, kalo bang Fano kan karna istrinya itu bidadari yang jatuh dari kayangan." Ujar Morgan dan berakhir dengan sebuah jitakan dari Ken yang mendarat dikepalanya.


"Fano Imel ayo kita foto!" pekik Mala heboh dan mereka yang dari Magical Flower berfoto bersama mengabadikan moment bahagia Fano dan Imel, hingga Flo meneteskan airmata bahagianya melihat wajah Imel yang ceria, tidak terlihat lagi wajah sendu yang dulu selalu dia perlihatkan, kini wajahnya lebih cantik dan bercahaya.


"Pengantin wanitanya sangat cantik, gila.. aku mau deh jadi suami keduanya, ketiga juga boleh lah.. " Ujar salah satu tamu yang hadir disana, tidak ada yang berkomentar buruk tentang Imel meskipun dia dari keluarga sederhana, semua orang mengatakan dia pantas bersanding dengan Stefano karena kecantikannya yang tak terbantahkan.


\= = = = = = =


Fano dan Imel telah berada dikamar mewah hotelnya, inilah kamar Fano yang dulu sempat Imel tinggali meskipun hanya  2 malam. Yang berbeda kini kamarnya telah disulap menjadi kamar pengantin yang romantis.


"Fano.. tolong aku, ini ga bisa dibuka.." Imel sejak tadi menarik turun resleting gaunnya tapi tidak bisa.


Fano mendekat dan dengan lembut menarik turun gaun itu memperlihatkan punggung putih mulus, dia menyentuhnya dan Imel seketika merinding dan dengan cepat dia berlari masuk ke kamar mandi dan Fano menyeringai tipis berhasil menggoda Imel.


Hampir 1 jam Imel baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, masih memakai bathrobe dan gantian Fano yang masuk untuk membersihkan dirinya, sebelum itu dia mengecup singkat Imel dan berbisik "Gak usah pakai baju." Imel merinding lagi, wajahnya merah dan terasa panas.


Hanya 15 menit Fano sudah keluar dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, Imel masih mengeringkan rambutnya di meja rias dengan tenang tetapi jantungnya sudah memompa lebih cepat dari biasanya. Ada perasaan takut dan cemas, tiba-tiba dia mengingat rasa sakit yang dia rasakan saat umur 13 tahun, apakah ini akan sakit lagi?

__ADS_1


Fano mengambil hairdryer dan membantu Imel mengeringkan rambutnya dengan lembut, dia suka menyentuh rambut Imel dan sesekali mencium aroma segar dari rambut itu.


Fano sadar dari raut wajah Imel, dia sedang cemas akan sesuatu. Setelah selesai Fano jongkok dan menggenggam 2 tangan istrinya lalu mengecup tangan itu sebentar dan menatap wajah Imel yang masih terlihat tidak tenang.


"Jangan khawatirkan apapun, kamu istriku dan aku akan membuatmu bahagia sayang.."


"Aku takut.. apakah kau akan melakukannya? Apa akan sakit seperti waktu itu?" Ucap Imel dengan suara lirih, Fano menyadari ketakutan Imel dan menuntunnya untuk ke tempat tidur dan duduk santai selonjoran disana sambil merebahkan Imel di dadanya dan memeluknya.


"Jangan takut.. aku akan pelan-pelan, tapi kalau malam ini kamu capek kita tidur saja, aku juga capek dan ngantuk sih." Ujar Fano menenangkannya, padahal dia sudah tidak tahan untuk melakukan ritual suami istri di malam pertama.


"Terima kasih suamiku... tapi aku harus melawan ketakutan ini, mau sampai kapan aku begini?" Ucap Imel pelan, dia tidak tega melihat Fano yang harus menahan diri karenanya padahal selama ini Fano mencuri start dengan mencium bahkan menyentuhnya di area terlarang meskipun hanya sedikit nakal dan bisa menahannya.


"Kalau gitu aku akan melakukannya dengan lembut."


Fano membalikkan tubuhnya, Imel kini berada dibawahnya sambil berciuman mesra dan dalam, memberikan ciuman dan ******* lembut hingga Imel begitu terlena dengan kelembutan Fano.


Malam pertama mereka terjadi dengan penuh kelembutan, Imel tidak merasakan takut lagi dan dia menerima hujaman Fano meskipun ada rasa sakit diawal tapi akhirnya dia menikmatinya. Fano membuatnya melayang merasakan kenikmatan luar biasa dan akhirnya mereka mencapai puncaknya bersama.


Setelah Imel tenang dia lanjutkan lagi dengan lebih bergairah sampai Imel tak kuat menahannya hingga terkulai lemas dan tertidur barulah Fano berhenti menikmati kecantikan istrinya itu.


"Kau harus bersihkan diri dulu sayang..." Tapi Imel hanya berdehem kecil dan dia sudah tak sanggup bergerak, Fano mengangkat tubuhnya dan merebahkan Imel di bathtub dan mengisi air hangat disana, dengan telaten dia membersihkan seluruh tubuh Imel dan membiarkannya berendam sebentar lalu kembali membawanya keatas tempat tidur yang ada bercak merah.


Fano tersenyum melihatnya, dia tak akan menyingkirkan itu sebagai bukti untuk dilihat Imel besok agar dia percaya dengan apa yang dikatakan dokter waktu itu. Fano hanya menutupinya dengan selimut dan merebahkan tubuh Imel diatasnya. Mereka tidur dengan lelap dengan saling memeluk hingga terbangun saat siang hari.


Siang itu Imel bangun lebih dulu, dia merasa pegal di sekujur tubuhnya dan ingin menggeliat menggerakan seluruh otot tapi tertahan sesuatu, Fano lah yang mendekapnya dengan kuat dan Imel sama sekali tidak bisa bergerak. Imel memang biasa tidur di peluk oleh Fano tapi hari ini dia bangun dengan status baru, sebagai istri dari Stefano Aelisus Hastanta.


"Kenapa kau menatapku begitu?" Tanya Fano dengan matanya yang masih menyipit lucu, Imel mengelus wajah Fano dan tersenyum melihatnya.


"Aku senang dengan melihat suamiku lagi tidur begini." Ucap Imel dan Fano tersenyum bahagia lalu mencium Imel dengan lembut tapi lama.

__ADS_1


"Morning kiss untuk istriku." Ucapnya. "Apa kamu bahagia sayang?" Tanyanya dan Imel mengangguk.


"Sepertinya Tuhan sudah izinkan aku untuk bahagia." Jawabnya pelan tapi tampak dari wajahnya dia begitu bahagia.


"Ouhh istriku kenapa semakin cantik... kamu gak boleh keluar kemanapun sendirian mulai sekarang, harus selalu di temani aku atau mami atau pengawal." Imel mengernyit, "Kenapa?"


"Aku gak mau istrku yang sangat cantik ini diculik orang atau ada yang mendekatimu." Imel tertawa mendengarnya dan saat ingin duduk dan beranjak dia meringis sedikit karena sakit dibawah tubuhnya.


"Ini sakit tapi gak sesakit dulu..." Lirihnya dan Fano kembali mendekapnya dari belakang.


"Karna aku melakukannya dengan sangat lembut sayang..." Fano mengecup tengkuk belakang Imel yang telah banyak tanda merah hasil perbuatannya tadi malam.


"Kenapa aku pakai baju ini?" Tanya Imel karena dia bingung sedang memakai baju tidur tipis dan menerawang.


"Karna cuma ada itu, mungkin mami atau kak Ana yang menyiapkan." Jawab Fano dan Imel menutup bagian yang terbuka, ada sesuatu yang menonjol di dadanya dan dia sangat malu.


"Jangan ditutupi kan aku sudah rasakan semuanya.." Fano mengecup sekali lagi puncak kepala Imel sebelum Imel berlari masuk ke kamar mandi.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Mana menantu mami?" Tanya Lusia saat Fano turun sendiri tanpa Imel, mereka hanya 1 malam menginap di hotel dan sudah kembali saat sore dan pagi ini mereka sudah bangun tidur untuk pertama kalinya sebagai sepasang suami istri.


"Lagi mandi mi.. sebentar lagi turun kok." Jawab Fano dan Lusia melirik anaknya kesal.


"Pengantin baru, harusnya kamu tuh manjain istri, mandiin, turun sama-sama, semuanya kamu yang siapin." Tegur Lusia tapi Fano malah tertawa mendengarnya.


"Imel bukan tipe wanita manja mami, malah Fano yang manja padanya. Kalau saja dia hidup normal seperti orang pada umumnya dia akan jadi wanita hebat dan perkebunan ayahnya mungkin akan maju pesat." Jelas Fano dan Lusia mengerti maka dia akan membuat menantunya itu menjadi dirinya sendiri dan melupakan kenangan buruk.


"Kalau begitu biarkan dia bekerja dan jangan mengekangnya." Ujar Lusia sambil menyiapkan sarapan dibantu oleh beberapa pelayan, rumah mereka tambah ramai dan 2 menantunya akan tinggal bersama.

__ADS_1


"Gak bisa mami, nanti banyak yang dekatin istriku, aku gak mau." Fano sudah cemberut membayangkan Imel akan bertemu banyak pria yang pasti akan mengaguminya.


TBC~


__ADS_2