
Fano yang lelah dan hampir ketiduran mendengar suara isak tangis pelan dan langsung terbangun lagi. Dia mendapati Imel yang terisak sambil duduk memeluk kedua lututnya.
"Sayang.. Imel sayang." Fano memeluknya dan untung Imel tidak menolaknya.
"Aku.. aku..."
"sstt.. jangan ucapkan apapun. Aku sayang padamu, jangan pikirkan apa yang dikatakan wanita gila itu. Ayo sayang duduk yang benar, kau akan menyakiti bayi kita..." Fano menurunkan kaki Imel yang menekan perutnya dan merangkulnya, mencium seluruh wajahnya yang tengah sembab terlalu banyak menangis.
"Jangan nangis lagi ya.. lihat wajahmu memang tetap cantik meskipun nangis tapi aku gak suka sayang, kau lebih cocok tersenyum." Fano mengusap airmata dari pipi Imel lalu memeluknya.
"Aku mau J.." Ujar Imel lalu Fano mengambil J yang masih tidur di sofa dan memberikan pada Imel dan istrinya itu memeluk J dengan sangat erat.
"Hati-hati sayang, jangan sampai menyakiti baby disini." Fano mengelus perut Imel dan dia mengangguk, memindahkan J ke sampingnya dan tidur lagi.
"Aku lapar.." Ucap Imel sambil mengelus perutnya.
"Mau makan apa hm.. sayangku." Tanya Fano.
"Tadi aku beli jus mangga, bakso dan siomay, aku mau makan itu."
Fano melihat jam tangannya dan sudah jam 8 malam. Dia bangkit dan menyuruh salah satu pengawal di depan untuk membelikan pesanan Imel dan harus dapat.
"Tunggu ya, lagi di cari sama mereka." Imel mengangguk dan kembali memejamkan matanya. Fano akhirnya tersenyum lega melihat Imel yang baik-baik saja.
Satu setengah jam lamanya akhirnya makanan yang diinginkan Imel datang, Fano membangunkannya dan menyuapi Imel makan seporsi bakso dan siomay habis dalam sekali makan sambil menyeruput jus mangganya.
Wajah Imel mulai berbinar indah lagi dan tampak menggemaskan kembali bagi Fano. Setelah makan dia kembali tidur karena efek obat penenang yang ada di infusnya masih belum hilang.
"Sayang.. aku akan selalu menjagamu dan kamu akan selalu bahagia." Gumam Fano lalu mencium kening Imel dan berganti ke J yang juga tidur dengan nyenyak di samping Imel. Fano juga akhirnya tertidur sambil mengelus perut Imel.
.
__ADS_1
.
Pagi ini Lusia datang dan Imel sudah di perbolehkan pulang. Sejak subuh Imel sudah bangun dan bermain dengan J di ranjang sambil mengganggu Fano yang tengah tidur sambil duduk itu. Imel sebenarnya tidak tega tapi J terus ingin mengganggu papinya.
"Kita pulang saja dan sarapan di rumah ya.." Ujar Lusia dan Imel menuruti mertuanya itu. Mereka pulang dan Imel membersihkan dirinya lalu makan bersama.
Seluruh keluarga telah berkumpul, keluarga besar itu makin besar setelah Morgan juga menikah dan membawa 2 anaknya, dan kini istrinya juga tengah hamil besar.
Imel akan pergi jalan-jalan dengan 2 iparnya, Dayana dan Hazel. Ketiga ibu hamil itu akan berbelanja di toko perlengkapan bayi untuk membeli keperluan mereka. Fano mengizinkan Imel agar dia bisa merasakan refreshing, dan ada Dayana yang menjaga mereka disana. Tentu dengan pengawal juga yang mengawasi dari jauh.
"Bagaimana hari ini sayang?" Tanya Fano begitu dia naik ke tempat tidur dan Imel sedang duduk sambil melihat beberapa baju lucu yang tadi dia beli.
"Seru meskipun ada drama, wanita yang menjahati Hazel tadi tapi di bereskan kak Yana hehe.." Ujar Imel lalu membuka lagi baju yang dia beli tadi.
"Emangnya udah tau baby girl atau baby boy?" Tanya Fano karena Imel terlihat beli 1 gaun cantik untuk bayi.
"Gak tau tapi gaun ini cantik kan? Aku gak bisa tahan diri tadi jadi beli saja." Imel melihat gaun berwarna pink yang sangat lucu dan berharap bayi yang dikandungnya adalah baby girl.
"Sayang.. aku mau bertemu baby boleh?" Tanya Fano karena sudah hampir seminggu dia tidak meminta jatahnya.
"Boleh.. sebentar." Imel menyusun kembali barang-barangnya dan kembali ke atas tempat tidur lalu merebahkan dirinya dan menuntun tangan Fano untuk mengelus perutnya.
"Ini ketemu baby.." Ujar Imel sambil tersenyum mengerjai suaminya.
"Bukan ini sayang.. tapi begini." Fano mengangkat gaun tidur Imel sampai melepaskannya hingga istrinya itu polos. Fano menyerangnya dengan lembut tetapi sangat bergairah, Imel juga tak mau kalah dan melepaskan seluruh kain di tubuh Fano.
Mereka begelut mesra dan Fano dengan hati-hati memasuki Imel dan bergerak pelan, mereka saling merasakan sensai nikmat bercinta kali ini. Fano memperlakukan Imel dengan sangat lembut, takut dia akan menyakiti baby yang ada didalam kandungan istrinya.
"Ahh.. sayang, Fano aahh..." ******* dan teriakan Imel sangat merdu di telinga Fano yang terus memaju mundurkan miliknya dengan pelan namun panas. 2 ronde berakhir dengan peluh membasahi keduanya, Fano terus mencium Imel tanpa henti.
"Aku sangat mencintaimu sayang.. Imelda, bunga kecilku." Ucap Fano sebelum mereka lelap dalam tidur.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Gimana Bian? Luna sudah ketemu?" tanya Fano pada Bian yang sudah beberapa bulan ini tidak menemukan keberadaan Luna yang bagai ditelan bumi.
"Belum.. aku heran dengan Bisma itu, yang dia pedulikan cuma Talita meskipun mereka hancur karena dia tapi Bisma lebih memperhatikannya. Sedangkan Luna yang sejak dulu selalu mandiri dan membanggakan keluarga malah di abaikan." Keluh Bian yang telah menyelidiki semua tentang keluarga mereka.
Talita kini mendekam di penjara, meskipun hanya beberapa tahun tapi cukup untuk membuatnya jera. Apalagi kondisi mentalnya juga tidak baik dan telah disarankan untuk memindahkannya ke rumah sakit jiwa untuk perawatan.
Sedangkan perusahaan Bisma sedang di ujung tanduk dan dia sibuk mencari investor baru yang sampai sekarang masih belum ada yang berani karena group Hastanta tentunya.
Kandungan Imel juga sudah masuk bulan ke 9 dan sedang menunggu hari lahirnya baby girl mereka. Fano begitu senang saat tau anaknya adalah baby girl yang pastinya akan secantik Imel nantinya.
"Baiklah Bian.. aku mau pulang dan libur sampai Imel melahirkan, kau disini saja gantikan aku sementara waktu." Ucap Fano lalu segera pulang ke rumah karena dia sangat merindukan istri dan anaknya.
Fano makin protective sekarang karena perut Imel benar-benar besar lebih dari kehamilan pertamanya.
"Imel sayang... kamu sedang apa?" Tanya Fano saat masuk ke kamar mereka. Imel sedang membawa beberapa baju untuk di bawa ke kamar baby girl yang telah disiapkan Fano. Mereka merenovasi kamar Damian karena mereka telah pindah ke rumah baru.
"Ini hadiah dari Flo jadi mau masukin ke lemari dulu." Imel tetap berjalan dan menuju kamar baby girl dan Fano tetap mengkorinya karena takut terjadi apa-apa pada istrinya yang semakin banyak gerak meskipun perutnya sangat besar.
"Pelan-pelan sayang, jangan capek."
"Iya.. aku gak capek kok, dari pagi cuma makan tidur dan ngetik hehehe..."
"Bagus deh.. mana J?"
"Ada di kamar mami, tadi dia habis berenang seharian sama Ruby."
"Ohh ayo balik ke kamar."
Fano menuntun dengan hati-hati dan Imel hanya menurut karena tau Fano akan sangat cerewet kalau tidak dituruti.
__ADS_1
TBC~