Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja

Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja
BAB 12


__ADS_3

Imel dan Rika yang sudah dilerai oleh petugas perpustakaan telah berdiri di depan Pak Mateo, dengan menangis Rika mengadukan Imel yang menjambak dan memukulnya sambil terisak menangis.


Imel yang kesal hanya mendengus berat karena harus berhadapan lagi dengan Pak Mateo yang memang tidak suka padanya sejak lama.


"Daddy, dia selalu menggangguku dad, kau harus menunghukumnya lihat rambutku jadi rusak begini." Rengek Rika pada Mateo sang ayah.


Imel melihatnya dengan tatapan aneh, "Dasar ulat bulu, aku yang selalu diganggu malah dia memutarbalikkan fakta." Batin imel kesal.


"Kau lagi kau lagi, apa tidak bisa kau tenang sebentar saja?" Bentak Mateo tapi Imel tidak mau disalahkan lagi kali ini.


"Maaf Pak, tapi bapak bisa tanya ke pengawas perpustakaan siapa yang salah disini." Bantah Imel.


"Kau berani membantah! Sekarang pergi bersihkan toilet fakultas bisnis lantai 1 sampai 3, sekarang!" Perintah Mateo dan Imel sangat kesal tetapi dia harus mengadu pada siapa yang lebih tinggi jabatannya dari ayah si ulat bulu ini?


Imel pergi dari ruangan Pak Mateo dengan perasaan marah dan sangat ingin menghajar Rika lagi tetapi kini dia harus membersihkan toilet 3 lantai.


"Kak Syifa.." Panggil Imel begitu melihat Syifa melintas di sebelahnya.


"Loh Imelda? Kenapa rambutmu begitu dan ini.. Ayo ikut." Tanya Syifa melihat rambut Imel berantakan dan kusut, lalu wajahnya terdapat 2 goresan seperti habis di cakar dan untungnya tidak parah, hanya tergores kecil, Syifa menarik tangan Imel untuk masuk ke kantor Pak Hasan karena Syifa sedang ada pekerjaan disana.


"Ceritakan ini kenapa?" paksa Syifa sambil memotret wajah Imel dan mengirimkannya ke Morgan.


"Berantem sama Rika tadi kak, dia jambak aku duluan dan aku balas dan jadinya aku dihukum." Jawab Imel lalu Syifa yang sudah kesal lalu mengetik sesuatu pada Hpnya.


"Kak, aku mau tanya, kalau mau laporin Pak mateo ke siapa gitu yang jabatannya lebih tinggi? Masa aku disuruh bersihin toilet 3 lantai di gedung fakultas bisnis ini." Kelus Imel karena dia bingung siapa atasan Pak Mateo sebenarnya.


"Tenang, sudah aku laporin kok. jadi segera obati lukamu itu jangan sampai berbekas." Syifa membantu merapikan rambut Imel dan mengobati pipinya sambil sesekali mengecek Hpnya yang telah melaporkan segalanya ke Morgan.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Minggu depannya,


Makul Pak Hasan, 2 kelompok bermasalah sudah berdiri di depan dan menghadap Pak Hasan.


"Coba jelaskan tentang point ke 3 pada halaman 45, kelompok 7 duluan." Perintah Pak Hasan setelah mendapatkan segala laporan dari asistennya Syifa. Kelompok 7 terdiam tidak bisa menjelaskan materi yang mereka buat, gantian kelompok 3 dan Bayu menjelaskan dengan baik karena dia dan Imel sudah banyak berdiskusi sehingga dia paham isi dari materi itu.


"Bagus, kalau materi di bab 9 point 2, jelaskan kelompok 7." Vanessa dan temannya masih diam tak mengerti, malah Imel yang menjelaskan dengan rinci dan tepat sasaran.


"Ok, bagus. Untuk kelompok 3 nilai kalian A dan kelompok 7 tidak saya luluskan dan ulang disemester depan." Keputusan final dari Pak Hasan membuat kelompok Vansessa sangat marah padanya, kalau saja mereka mengerjakan sendiri biarpun dapat nilai B atau C mereka tidak bakal ulang 1 semester. Beda dengan kelompok 3 yang sedang senang mendapatkan nilai A berkat Imel yang dengan sabar mengajari mereka.


"Terima kasih Mel, kamu sudah mau susah payah ngajarin kita berdua ini yang punya otak pas-pasan, dapat nilai A lagi." Ujar Bayu dan Bima setuju.


"Tidak kok, kalian juga pintar. Kita ini pintar di bidang masing-masing.. Bayu pintar dalam presentasi yang aku gak bisa, Bima pintar dapat teman sampai dapat contoh case luar biasa dan aku juga ga bisa jadi kita sama saja." Jelas Imel bijak membuat mereka makin kagum dengannya, sudah cantik, pintar baik lagi.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sebulan berlalu dengan cepat sebab Imel disibukkan oleh tugas dan ujian, setelah ujian selesai Imel pergi menemui Flora setelah janjian di toko yang akan dibuka bulan depan. Imel telah sampai dan kagum dengan toko itu yang baru selesai 70%.


"Wah bagus banget Flo.. nanti disitu cafenya, disini tempat bungamu." Ucap Imel menunjuk kearah yang dia pilih.


"Iya Mel.. udah aku sesuaikan dengan contoh gambarmu kok. Liat nih 2 lemari pendingin besar sudah tibaaaa...." Dengan bangga Flo masuk ke lemari itu yang sangat besar, juga ada ruangan didalam yang luas untuk menyimpan karangan bunga yang telah jadi nanti.


"Aku punya ide lain sih tapi nanti saja kalau toko ini sudah jalan dan banyak pengunjungnya." Sambung Imel dan Flo kagum dengan gadis muda ini, seandainya dia hidup normal mungkin akan jadi seseorang yang hebat nantinya.


"Ayo kita coba menu makanan cafe ini, aku sudah dapat 2 koki dan 3 pegawai cafe hanya belum nemu menajer untuk mengatur semuanya. Aku hanya akan fokus ke toko bunga saja." Ajak Flo dan menjelaskan sedikit akan seperti apa kondisi kedepannya.


Sebenarnya Flo ingin Imel yang menjadi manajer cafe tapi dia menolak sebab tidak ingin berinteraksi dengan banyak orang.


Besok paginya, Fano sedang senang karena akhirnya dia kembali dengan cepat sesuai yang dia inginkan, duduk di dalam pesawat pribadi H&S, dia memikirkan Imel dan ingin segera mendekatinya tapi belum tau bagaimana caranya. Apalagi Imel terlihat sangat menghindari yang namanya lelaki.

__ADS_1


"Bian, gimana caranya bisa dekat dengan Imel ya? Dia sepertinya masih takut dengan lelaki." Ucap Fano dan Bian sebenarnya sudah ada informasi buat Fano tapi dia akan menyimpannya dulu sampai semua yang dia siapkan selesai.


"Belum tau Fano, tapi aku akan pikirkan caranya." Jawab Bian dan Fano kembali diam menikmati perjalanannya yang masih ada 1 jam lagi.


Saat sampai, Fano langsung menuju kampus UHS dia menemui Morgan dulu untuk mencari kandidat yang cocok untuk mennjadi pengganti Mateo yang tidak becus itu, bahkan mendidik anaknya sendiri saja tidak bisa.


Fano dan Morgan duduk bersama dan melihat beberapa CV kandidat direktur baru dan sudah terpilih, Fano memerintahkan agar Mateo di pecat sekarang juga dan Morgan mengangguk lalu segera memberitahukan ke yayasan. Tapi tiba-tiba ada keributan diluar membuat Bian segera berlari dan menerobos masuk ke ruangan Morgan di kampus itu.


"Fan.. Imelda, dia diculik." Kata Bian terengah-engah.


"Diculik?"


"Iya, ada yang liat dia dibawa paksa masuk ke mobil oleh pria bertopi dan berbaju serba hitam, dia sempat berontak tapi dipukul." Sambung Bian membuat Fano panik dan berteriak untuk periksa cctv. Mereka membuka rekaman cctv dan melihat plat mobil yang membawa Imel.


"Cepat cari mobil itu, minta bantuan Om Aries, pengawal mereka lebih cepat disini dan lapor polisi." Perintah Fano dan Bian segera melakukannya. Semua pengawal dia kerahkan untuk mencari mobil silver itu.


10 menit yang lalu


Imel berjalan di trotoar samping jalan menuju gerbang utama kampus seperti biasanya di pagi hari, tidak terlalu sepi karena sudah jam 9 dan banyak mahasiswa yang sudah datang. Dengan masker masih di wajahnya dan tas ransel dipunggung dia baru saja mendekati gerbang, tiba-tiba ada mobil silver dengan kecepatan tinggi melaju dan berhenti mendadak disampingnya.


Keluar seorang pria berperawakan tinggi, memakai baju dan celana hitam, masker dan tpinya juga hitam, langsung menarik Imel, dia teriak kencang saat pria itu menariknya membuat banyak ornag melihat ke arahnya. Imel sempat berontak namun dia langsung dipukul hingga tak sadarkan diri dan dibawa masuk. Mobil itu melaju cepat meninggalkan area kampus, hingga mahasiswa disana melaporkan pada secuity yang berada tak jauh dari tempat Imel di culik.


Fano tengah panik dan tidak ada seorangpun yang pernah melihatnya begitu, bahkan Morgan tidak berani mengganggunya, tatapan matanya tajam dan penuh amarah.


"Fano..mobil itu terlihat menuju pinggiran kota kearah timur, polisi sudah berhasil melacak dan sedang menuju kesana. Aku udah suruh anak buah yang didaerah sana untuk pantau dan ikuti mobil itu jika terliat." Lapor Bian setelah 20 menit.


"Kita pergi kesana, cepat Bian!" Teriak Fano dan Bian segera menyuruh supir menyiapkan mobil mereka dan Morgan juga ikut.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Di dalam mobil silver, pria itu terus menatap wajah cantik Imel yang masih tak sadarkan diri, tangannya mengelus lembut.


Pria itu membopong Imel masuk kerumah bergaya klasik dan menyuruh semua pelayannya pergi dari sana sampai besok baru kembali. Di dalam sudah ada yang menunggu mereka.


"Kau kembali juga Erlangga, ayah sudah menunggu lama." Ujar Indra dan matanya menjalar ke Imel yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri, Erlangga perlahan merebahkan tubuh Imel ke salah satu kamar disana. Terlihat Indra menatap lapar pada Imel, matanya menyorot keseluruh tubuh Imel yang masih berpakaian.


"Ha.. setahun nak ayah tidak bisa menyentuh dan bermain wanita, dan akhirnya dia bisa bangun lagi." Ucap Indra sambil mengelus adik kecilnya yang sudah mulai menegang.


Karena obat yang diberikan oleh Flora dulu, dia sama sekali tidak bisa bermain dengan wanita sampai istrinya frustasi dan akhirnya selingkuh.


"Tapi Erlangga dulu yang cicipi Imelda ayah..."


"Gak bisa.. ayah duluan, karena dulu gak berhasil nembus kali ini tak boleh gagal." Potong Indra membuat Erlangga kesal, dia yang susah payah membawa Imel malah dia terakhir.


"Kalo gitu kita bareng aja yah.." Erlangga menyeringai dan Indra mengangguk setuju, mereka membuka baju dan celana yang dipakai Imel menyisakan pakaian dalamnya saja.


Imel yang terusik merasa terganggu lalu terbagun melihat Indra dan Erlangga, dia sangat terkejut apalagi sadar akan keadaanya sekarang.


"Kalian! Aaaahhhh pergi pergiii..." Teriak Imel sambil duduk meringkuk menutupi tubuhnya yang hampir polos. Dia terus menangis dan berontak saat Indra menarik kakinya dan Erlangga naik ke atas tempat tidur dan mencengkram kedua lengannya.


"Jangan sentuh aku, pergi... tolong! Toloonnggg!!!" Teriaknya tapi Indra malah menertawakan teriakan itu.


"Teriaklah sepuasmu Imelda cantik, akhirnya aku mendapatkanmu sayang.. kita lanjutkan yang dulu sempat tertunda." Ucap Indra lalu coba mencium bibir Imel tapi dia terus bergerak menghindar sehingga Indra menamparnya dengan kuat.


"Kau, sok suci. Padahal sudah dijamah saat masih remaja kecil." Ujar Indra lalu dia berjalan ke luar, Erlangga yang sebenarnya tidak tega karena benar-benar menyukai Imel hanya bisa diam dan tetap memegang tangannya dengan kuat.


"Diamlah Imel, kalau tidak kau akan disiksa, lebih baik nikmati saja." Ujar Erlangga berbisik tapi Imel tetap berontak dan berteriak meminta tolong.


Indra kembali membawa tali, dia mengikat tangan Imel dan menggantung tangannya ke atas dan mengingatkan ujung tali ke tiang atas tempat tidur kayu, mulut Imel akhirnya di sumpal pakai ****** ******** yang sudah di tarik lepas oleh Indra. Imel berontak tapi dia sudah tidak bisa bergerak.

__ADS_1


Erlangga sangat sedih melihat perlakukan ayahnya, dia tidak menyangka kalau ayahnya bisa sesadis ini. Imel yang terus bergerak membuat Indra sangat emosi. Dia melepaskan seluruh pakaiannya meninggalkan ****** ***** yang masih dia pakai karena dia ingin pelan-pelan menikmati tubuh Imel yang kini sudah polos.


"Kau sungguh cantik Imel.. " Ucap Indra dan matanya menyapu bersih tubuh Imel yang putih mulus tak bercacat\, benda kenyal didadanya membusung indah dan tegak sempurna dengan ukuran pas di tangannya yang sudah mer****s nya dan mengelus lembut bagian bawah Imel. Erlangga memilih keluar karena tidak tega melihat Imel yang terus berontak dan menangis.


"Kau sangat keras kepala, diamlah!!" Bentak Indra saat menarik kaki Imel yang berhasil menendang wajahnya saat dia ingin melahap tubuh bawah Imel dengan lidahnya.


Indra mengambil tali pinggang yang tergeletak di celananya tadi dan memukul tubuh Imel dengan kuat berkali-kali, hingga meninggalkan bekas memerah bahkan ada yang sudah luka akibat besatan kuat ujung tali pinggang yang terbuat dari besi.


Indra tertawa melihat Imel yang tidak berdaya, selain bergairah dia juga emosi karena gara-gara Imel dia kehilangan perusahaan dan banyak asetnya yang tidak terselamatkan.


"Ini hukuman buatmu, gadis kotor yang sok pintar, kau kira dengan menjadi peserta didik di yayasan HS telah menjadikanmu hebat, kau tetap kotor." Bisik Indra membuat Imel makin menangis.


Indra kembali mencambuknya terus menerus hingga puas dan Imel terdiam tak sanggup bergerak hanya lirih dan tangis yang terdengar, tubuhnya terasa perih dan luka dimana-mana.


Erlangga berjalan keluar dan menghubungi Archer karena dia tidak punya kontak Fano dan memeritahukan keadaan dan lokasi Imel padanya. Dengan ini mungkin dia bisa menebus kesalahannya mengikuti rencana ayahnya. Dia merasa sangat bodoh dan menutuki dirinya sendiri dan menangis.


Bukan ini yang dia inginkan.. dia hanya ingin Imel berada disisinya. Jika ayahnya puas, dia akan membawa Imel pergi jauh tapi dia tak menyangka Indra akan menyiksa gadis itu dengan kejam.


"Hahahahaha... aku puas menyiksamu." Indra lalu kembali turun mengarahkan wajahnya ke bawah inti Imel dan membuka lebar kedua pahanya.


"Wow ini indah sekali seperti perawan." Ujarnya lalu mengelus lembut dan bermain dengan lidahnya disana. Imel merasakannya dan dia sangat jijik tapi pasrah karena tidak bisa berbuat apapun saat ini, kesadarannya makin lemah dan tak lama dia pingsan.


Fano telah sampai ke rumah Indra dan melihat Erlangga yang duduk di sofa dengan wajah frustasi, dia tidak berani masuk ke kamar melihat keadaan Imel.


"Dimana Imelda?" Tanya Fano tegas yang sudah berjalan cepat masuk ke dalam rumah yang sengaja tak dikunci oleh Erlangga.


"Disana.. cepat selamatkan dia." Ucap Erlangga dengan mata memerah akibat menangis dan menunjuk ke salah satu pintu disana. Fano segera berlari masuk, Morgan mengikuti dan Bian terlihat memberi perintah ke anak buahnya untuk mengarahkan polisi ketempat ini.


"Bajingan!!" Teriak Fano melihat kondisi Imel yang sangat membuat emosinya memuncak, Indra sedang melahap tubuh bawah Imel dengan mulut dan jarinya, Indra terkejut saat mendengar suara itu dan mengangkat kepalanya, melihat Fano dia langsung berdiri dan ingin lari tadi Morgan dengan cepat menyergapnya, pukulan bertubu-tubi sudah dilayangkan Fano hingga Indra tak berdaya.


"Fano beralih ke Imel, dia melihat tubuh gadis itu telah banyak bekas cambukan memerah dan berdarah, hati Fani terasa teriris melihatnya. Dia segera membuka sprei di kasur itu dan melilitkan ke tubuh polos Imel. Bian yang baru sampai ke kamar melihatnya dan dengan cepat menghubungi ambulance.


"Kita langsung ke RS-nya Om Aries saja Bian." Lirih Fano yang kini sedang melepaskan ikatan tali di tangan Imel yang terkulai lemas tak bergerak. Mata sembab dan air matanya masih basah. Fano mendekapnya erat dan menangis pilu, gadis ini begitu malang.


Indra sudah ada luar dalam keadaan babak belur karena setelah di hajar beberapa tinju dari Fano, Morgan yang emosi juga menghajarnya diluar. Erlangga hanya diam dan tidak membantu karena dia merasa ayahnya pantas mendapatkan itu.


"Bang, ambulance sudah datang.." Panggil Morgan dan Fano mengangkat tubuh Imel dalam dekapannya dan keluar, Indra dan Erlangga sudah ada di dalam mobil polisi untuk membawa mereka ke penjara dan Bian memastikan mereka akan disana dalam waktu lama.


Setengah jam perjalanan cepat tanpa hambatan, Imel sudah ada di ruangan khusus yang disiapkan untuknya. Fano tetap menjaganya sembari dokter memeriksa lukanya.


"Periksa semuanya, apakah si brengsek itu telah berbuat lebih atau tidak." Titah Fano dengan wajah datarnya tetapi sorot matanya sangat sedih.


"Tuan Fano kami akan memeriksanya, mohon anda dapat menunggu di luar." Pinta si dokter wanita paruh baya itu, Morgan menarik pelan lengan Fano untuk keluar biar dokter leluasa memeriksa Imel.


Hampir 1 jam dokter dan 3 suster ada didalam kamar itu dan Fano sejak tadi gelisah dan ingin masuk tapi di cegah oleh Morgan.


"Bagaimana?" Tanya Fano saat dokter itu keluar.


"Kita masuk dulu Tuan." Ajak dokter dan Fano mengikutinya. Dia melihat Imel sudah dibersihkan dan berpakaian rapi dan ditutupi selimut, suster masih mengatur jalannya aliran selang infus ditangannya.


"Nona ini sangat syok, selain tubuhnya yang terluka sepertinya mentalnya juga, tadi dia sempat terbangun dan ketakutan kemudian ingin menyakiti dirinya sendiri, dia butuh ketenangan dan dokter yang ahli di bidangnya. Lukanya sudah kami bersihkan dan obati saya sudah memberikan obat penenang untuknya dan, tentang pelecehan.. nona ini masih perawan Tuan jadi tidak perlu khawatir." Jelas si dokter tapi Fano bingung, bagaimana bisa?


"Tapi dokter, apa anda yakin? Dia sudah pernah dilecehkan dan di perkosa saat umur 13 tahun dan dia yang mengakuinya sendiri." Tanya Fano dan dokter juga bingung karena pemeriksaannya benar, Imel masih perawan.


"Tapi hasil pemeriksaan tadi selaput daranya masih utuh Tuan, apakah bisa dipastikan tetang kejadian itu?" Ucap si dokter. Fano menggeleng karena dia hanya mendengar dan membaca dari hasil laporan Bian.


"Tidak apa-apa, nanti anda bisa tanyakan sendiri pada nona ini tentang kepastian kejadian itu. Saya permisi." Ujar dokter itu dan keluar dari ruang rawat Imel.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2