
Hari ini semua kembali normal karena Valentine sudah lewat dan semua orang terlihat bosan tapi tetap bekerja seperti biasa, bahkan Fano berkali-kali hampir ketiduran.
"Pak Fano, minum ini biar ga ngantuk." Imel menghampirinya dan memberikan segelas kopi buatannya, bukan cuma Fano yang dapat tapi semua orang. Fano tetap senang menerimanya dan tersenyum manis pada Imel yang masih didepannya.
"Oh iya, Flo aku bulan depan akan magang jadi tidak bisa kerja lagi.. paling kalau pulang kerja atau sabtu minggu aku bisa bantu-bantu." Ujar Imel sembari berjalan ke arah meja Flo dan Flo sangat menyangkan itu tapi mau bagaimana lagi karena ini harus dia jalani sebagai seorang mahasiswa.
"Trus, kau akan magang dimana Mel?" Tanya Flo karena dia tau Imel sangat tidak suka dengan bertemu banyak orang.
"Aku coba di H&S Group staff keuangan biar kerja dengan tenang." Jawab Imel santai.
"Ha..? Serius? Dengan nilaimu itu bisa loh minta ditempatkan di sekretaris atau bagian perencaaan, banyak gadis-gadis itu mengincar posisi yang bisa bertemu langsung dengan dirutnya." Protes Vero pajang lebar karena dia juga telah memilih posisi itu saat magang nanti.
"Kalau bagian keuangan berarti mencakup seluruh H&S Group dan ditempatkan di kantor utama dong? Kau tau siapa direktur keuangannya?" Tanya Gio karena dia yakin Imel tidak tau.
"Gak tau.. emangnya siapa?" Tanya Imel dengan polosnya.
"Anak ke 3 dari Tuan Kenny." Jawab Gio cepat lalu dia sudah melirik ke arah Fano yang dari tadi berdiri dekat meja kasir dan menatapnya horor, Gio baru saja sadar kalau orang yang dia bicarakan sedang menatapnya.
"Wah, berarti jodoh dong, kan kau bilang Tuan Kenny itu mau jodohin kamu dengan anak ketiganya." Sambung Flo membuat Gio kembali terbatuk, dia tak menyangka akan secepat ini.
"Gak boleh.. bukannya kau tertarik sama Fano dan .... " Imel menutup mulut Thika yang sedang nyerocos dan akhirnya ketauan kalau Imel tertarik pada Fano, sedangkan Fano sudah tersenyum tipis menutupi kebahagiaannya, padahal saat ini dia sangat ingin melompati meja kerja Flo dan mendekap gadis pujaannya itu.
"Bisa diam gak.." Bisik Imel yang sedang menahan malu, kini semua orang sudah tau, apalagi Flo yang sering menggodanya sudah tersenyum penuh arti memandang Imel dan Fano bergantian, akhirnya Imel pergi dari sana untuk sembunyi saja di dalam ruang penyimpanan bunga yang dingin.
Fano yang merasa senang terus saja tersenyum dan hatinya seperti melambung tinggi dan melayang di udara.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Fano berjalan santai di hari jumat siang dan mendadak mengadakan meeting dibagian keuangan, dia akan kembali ke kantor dan memulai pekerjaannya seperti biasa. Yang paling senang dengan keputusan Fano adalah Bian karena dia sudah sangat lelah menggantikan dan mengerjakan pekerjaan Fano selama ini.
Karena perasaanya sangat baik dan senang karena tau Imel menyukainya maka meeting kali ini terlihat santai dan menyenangkan, bahkan Fano terlihat beberapa kali tersenyum membuat para gadis diruangan itu begitu terpesona dengannya.
Hari senin datang dengan cepat, hari pertama magang membuat Imel sedikit gugup karena dia belum pernah bekerja di kantor besar seperti ini. Imel berjalan ke meja informasi untuk memberikan surat keterangan bahwa dia anak magang baru di perusahaan H&S Group pada salah satu pekerja dibalik meja tinggi itu.
"Mba bisa ke lantai 16 dan mencari ruangan HRD dulu , nanti akan ada instruksi selanjutnya dari mereka." Jawab salah seorang disana dan memberikan kartu masuk ke dalam gedung dengan tulisan visitor.
Setelah berterima kasih Imel berjalan santai karena memang masih pagi dan belum banyak pekerja yang masuk, dia mencari ruang HRD dan ternyata sudah ada beberapa teman magang disana, Imel mengetahuinya karena pakaian mereka sama yaitu kemeja putih dan bawahan hitam dengan kartu akses visitor.
Beberapa orang menatap padanya karena Imel yang masih terlihat cantik meskipun sudah ditutupi oleh sihir ajaib dari bunga yang dia rawat selama hampir 2 tahun dengan bantuan Flora. Kecantikannya masih terpancar meskipun tidak seterang dulu.
"kalian bisa ambil kartu ini sesuai nama yang saya sebutkan, Suryadi lantai 10 bagian IT, Rinka Supriadi lantai 16 HRD, Johny S lantai 16 HRD, Sekar Putri 20 sekretaris, David Emilius 22 Marketing, Sarah Istari 22 Marketing, Ratu Ardiya 21 perencanaan, Imelda 25 Keuangan, Jessica Mahendra 20 Sekretaris. Selesai, silakan ambil kartu akses kalian masing-masing dan ke lantai yang telah saya sebutkan." Ujar kepala HRD disana, tapi Imelda terlihat tidak begitu senang saat salah satu nama disebutkan dan dia mengenal orang itu dengan sangat baik sampai rasa tidak sukanya membuat mood bagusnya hari ini hilang seketika.
Imel telah ada di meja kerjanya dan setumpuk laporan, seniornya yang bernama Heri sudah menjelaskan pekerjaan apa yang akan dia kerjakan. Imel yang pandai dengan cepat mengerti dan mengerjakan 2 tumpuk map tebal itu dengan cepat.
"Wow hebat juga kamu Melda.. ini sudah selesai semua?" Tanya Heri dan dia memeriksa beberapa sample yang dia ambil dan ternyata semuanya benar.
"Ok kerjaan hari ini sudah selesai untukmu, boleh istirahat saja." Ujar Heri dan mengambil kembali tumpukan map itu, padahal masih jam 2 siang dan dia sudah boleh bersantai. Imel mendatangi cafe di lantai bawah dan tidak sengaja melihat Fano bersama beberapa pria lainnya dan Imel heran kenapa Fano ada disini dan diam-diam mengikutinya.
Sampai akhirnya Imel ketauan dan Fano melihatnya dari kaca salah satu tiang penyangga gedung disana, Fano berbalik karena Imel menatap padanya dengan bingung. "Duh.. alasan apa nih..?" Batin Fano dan Damian datang menghampirinya karena tau adiknya terjebak disana.
"Selamat siang Stefano. Sudah siap untuk wawancara kerja?" Tanya Damian sambil mengedipkan satu matanya.
__ADS_1
"Iya Tuan Damian, saya akan segera kekantor anda sesuai jadwal setengah jam lagi." Jawab Fano dan Damian pergi meninggalkannya setelah tersenyum penuh arti.
"Imel.. " Panggil Fano dan Imel menatapnya penuh tanda tanya dan Fano malah menggaruk tengkuknya karena tidak tau harus bagaimana.
"Pak Fano mau wawancara kerja?" Tanya Imel memecah keheningan antara mereka berdua dan masih berdiri di tengah lobi.
"I iya.. tapi aku bingung gimana jelasinya ke kamu." Jawab Fano dengan gugup.
"Tapi bagus deh kalau bapak di terima disini karena masa depan disini lebih terjamin dari pada di cafe kan.." Ujar Imel dan Fano setuju.
"Benar juga, karena itulah aku mau coba disini, kalau berhasil aku akan melamarmu." Ujar Fano dan Imel terkejut dengan ucapannya.
"Aku serius, ya sudah aku pergi ya.." Fano pamit tapi Imel malah terdiam lama disana sampai Fano menghilang dari pandangannya. Imel kembali berjalan membawa segelas es kopi yang dibelinya tadi untuk kembali ke kantornya di lantai 25 tetapi karena melamun memikirkan Fano dia malah salah masuk ruangan dilantai 26, disana ada Damian di dalam bersama beberapa atasan beberapa divisi.
Damian menatap bingung pada Imel yang telihat duduk di salah satu meja di depan ruang meeting kecil itu yang memang hanya tertutup kaca di sekelilingnya, dan menendang kaki Fano yang ada di depannya dan menyuruhnya melihat ke belakang. Fano sedikit terkejut melihat ada Imel disana dan sedang melamun. Fano melirik ke Bian untuk mengurusnya karena tidak mungkin dia yang mengurus Imel disini.
"Nona Imelda." Panggil Bian dan Imel menoleh melihat Bian ada disampingnya. "Anda tidak boleh disini, karena sedang ada meeting." Imel begitu terkejut dan melihat kiri kanannya.
"Maaf Pak, saya salah masuk ruangan." Ujar Imel pelan dan segera keluar dari sana dengan setengah berlari. Membuat Damian dan Fano menahan tawanya melihat kelakuan Imel.
"Kenapa dia jadi begitu?" Tanya Damian pada Fano dengan berbisik.
"Aku bilang tadi, jika diterima disini akan melamarnya." Bisik Fano dengan menutup mulut dari samping agar tidak terdengar orang lain. Damian mengangguk dan tersenyum senang, Fano sudah melangkah lebih jauh sekarang untuk mendapatkan pujaan hatinya.
TBC~
__ADS_1