Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja

Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja
BAB 42 - EXTRA PART BIAN


__ADS_3

=Flashback=


Luna menggeret kopernya dengan kasar karena kesal, dia kesal dan marah. Gara-gara kegilaan adiknya dia kehlangan semuanya padahal dia adalah salah satu kandidat ketua tim di RS Arche untuk divisi baru disana tapi semuanya lenyap begitu saja.


"Sial.. kalian semua brengsek!! Kenapa gak bunuh aku sekalian? Kalian bukan keluargaku, sejak dulu hanya Lalita Lalita dan Lalita!! Gak ada yang memandangku, mendukungku, gak ada.."


Luna berteriak kencang setelah sampai di apartemennya, dia membeli sebuah apartemen kecil tanpa sepengetahuan keluarganya dan disinilah dia menangis meratapi nasib buruknya.


"Harusnya aku gak perlu dilahirkan kalau kalian gak pedulikan aku.. "


Ucap Luna dengan isakan tangisnya dan dia benar-benar hancur sekarang, bahkan bukanlah cita-citanya untuk jadi seorang dokter tapi demi ibunya yang sudah tiada dia ingin membanggakan keluarganya karena ibunya tidak bisa melanjutkan studinya sebagai dokter karena harus menikah di usia muda.


Sejak kecil Luna hanya sebagai bayangan adiknya yang hanya berbeda 1 tahun dibawahnya, Lalita yang ceria, cantik, manis dan perilakunya yang manja membuat semua orang senang dengannya. Sedangkan Luna adalah anak pendiam, suka membaca dan menyendiri. Sejak kecil dia telah mandiri sehingga seluruh perhatian ditujukan untuk adiknya yang selalu berbuat ulah.


Luna sudah menangis hampir 2 jam di kamarnya dan kini dia sangat lapar. Hari masih siang dan dia sama sekali tidak mau keluar kemanapun atau bertemu siapapun, dia malu.


"Beli online saja lah.." Gumamnya lalu membeli segala kebutuhannya melalui online, dari kebutuhan mandi sampai bahan makanan.


Selama sebulan Luna sama sekali tidak keluar dan dia hanya menata hatinya lagi dan memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk kedepannya. Mencari lowongan di RS lain hanya akan menjadikannya bahan lelucon karena RS Arche yang terbaik dan dia di pecat dari sana, RS mana lagi yang akan menerimanya?


"Aku harus pergi jauh dari sini.. " Lirihnya lalu dengan semangat mencari RS di daerah terpencil untuk mengabdikan dirinya sebagai dokter, bukan untuk uang semata karena uang yang dia punya sudah cukup untuk dirinya selama beberapa tahun kedepan tanpa kerja sekalipun. Setidaknya Luna punya gelas dokter umum juga sebelum mengambil spesialist.


"Baiklah ini dia daerahnya indah dan butuh dokter umum.. aku bisa nih." Luna mengirimkan email dan akan berangkat segera.


"Haaahh...... baiklah sebelum ke tempat terpencil, aku akan senang-senang dulu malam ini untuk yang terakhir kalinya." Luna mengganti bajunya dengan minidress sexy yang menampilkan seluruh punggungnya, pahanya yang jenjang dan belahan dadanya terlihat menggoda.


Luna akan habis-habisan malam ini, dia akan mencoba hal yang belum pernah dia lakukan selama ini.


"Aku akan melakukannya.. kapan lagi aku berlaku liar seperti ini hahaha.. gak ada yang melarangku lagi dan gak perlu jaga image. Ayo Luna kau harus bangkit!"


Luna pergi dengan taxi online dan disinilah dia, Club terkenal dengan banyak wanita cantik dan pria tampan. Dia akan bersenang-senang.


Luna sudah setengah jam menari secara gila-gilaan tapi dia sama sekali tidak mabuk, hanya minum beberapa teguk untuk memanaskan tubuhnya dan seseorang mendekatinya.


"Hai nona.. mau aku temani?" Tanya pria itu tapi Luna tidak ingin diganggu dan memilih kembali ke meja bar dan memesan minuman saja. Saat sedang menikmati minumannya dia tertegun melihat siapa pria di sampingnya.


"Bian?" Gumamnya, Bian terlihat mabuk dan sedang meminta pelayan untuk mencarikan wanita cantik untuknya malam ini dan pelayan segera pergi memanggil wanita yang biasa di pakai Bian.

__ADS_1


"Bian.. hei Bian!" Pekik Luna dan akhirnya Bian menoleh padanya.


"Oh cepat sekali... kemarilah cantik.. kau akan melayaniku malam ini." Bian menarik pinggang Luna dan mendekapnya, mencium lehernya dan tangannya bermain di bok*ng Luna yang dia kira wanita panggilannya.


"Bian.. kenapa kau jadi seperti ini, sadarlah.." Luna menepuk pipi Bian tapi pria itu malah semakin ganas dan menarik tengkuk Luna dan menciumannya. Luna berontak dan berhasil melepaskan dirinya.


"Bian.. sadarlah, kau bukan pria seperti ini." Lirih Luna karena dia tau Bian sejak SMA sudah menyukainya dan dia juga sama. Tapi waktu itu dia hanya ingin fokus belajar sampai ulah Talita lagi yang membuat Luna tidak berani mendekati Bian.


Talita yang mengkhianati Fano berimbas pada dirinya juga yang adalah kakak Talita dan tidak berani mendekati Bian karena Bian dan Fano adalah sahabat dan dia tidak mau menghancurkan persahabatan itu.


"Ayo.. cantik kita pergi." Ujar Bian dan menarik Luna dari sana.


"Tuan.. bagaimana dengan wanita yang akan anda pakai tadi?" Tanya pelayan.


"Aku yang temani dia saja, dia sudah membayarku." Celetuk Luna. Dia tidak mau Bian bersama wanita panggilan dan akan menyelamatkan Bian dari sini.


Lalu dia membawa Bian ke hotel terdekat, hanya hotel kecil agar tidak ada yang melihat mereka karena Bian lumayan terkenal di kalangan bisnis sebagai asisten Fano dan Luna juga salah satu dokter terbaik.


"Hah.. kau berat sekali Bian.. ah, menyebalkan."


"Ahh.. dasar menyebalkan!" Bentak Luna lalu dia berbalik dan akan pergi dari kamar itu untuk kembali tapi tangannya di tarik oleh Bian lagi dan mereka terjatuh diatas kasur dengan Bian menindihnya.


"Kau mau kemana cantik.. aku akan membayarmu mahal." Ujar Bian tanpa sadar lalu mencium Luna dengan kasar.


Luna yang ingin berontak tapi tangan dan kakinya di kunci oleh Bian, dengan pakaian seksinya dengan mudah Bian menanggalkannya dengan sekali tarikan dan terjadilah penyatuan mereka untuk yang pertama kali bagi Luna tanpa adanya pemasahan yang layak.


"Ahhh Bian brengsek! Ini sakit sekali.. pliss stop!" Luna berteriak saat Bian berhasil memasukinya. Bian tampak puas jika dilihat dari wajahnya, matanya yang sayu perlahan berkabut dan gairahnya memuncak lebih dari sebelumnya.


Digerakan pinggulnya dengan cepat karena rasa nikmat dan gairah yang tak terbendung lagi. Mereka mendesah bersamaan, Luna sudah bisa menikmati kegiatan ini dan dia pasrah karena sudah tidak bisa apa-apa lagi dibawah kungkungan Bian yang besar dan tegap itu.


"Ahhh Luna.. Luna ku, aku mencintaimu sayang, Luna...." Bian terus meracauakan nama Luna dan itulah yang membuat Luna makin pasrah dan tanpa sadar dia juga menikmati pergumulan itu sampai mereka melakukannya beberapa kali. Bian terus meneriakkan nama Luna tanpa dia sadari memang Luna lah yang ada di bawahnya dan sejak tadi menerima benih yang dia keluarkan.


\=Flashback off=


"Jadi wanita itu kau Lun?" Tanya Bian sekali lagi untuk memastikan. Luna mengangguk dan menangis sejak tadi.


"Maaf, mafkan aku.. jadi ini anakku." Ucap Bian dengan lirih lalu melihat anaknya dan langsung memeluknya. Tak terasa air matanya juga jatuh dan dia tidak menyangka akan punya anak dalam sekejab.

__ADS_1


"Tapi kenapa kau meninggalkanku Luna? Aku mencarimu sampai hampir gila makanya aku melarikan diri kesini untuk melupakanmu." Bian menatap mata Luna lekat, menunggu jawaban dari wanita itu.


"Kau pasti sangat kesakitan waktu itu.. aku kasar kan..." Lanjut Bian merasa menyesal.


"Gak sesaakit saat kau mengeluarkan cek 20 juta untuk membayarku." Ujar Luna dan Bian serasa tak bisa bernapas saat itu juga.


"Maaf.. tapi aku bukan pria brengsek Lun, aku hanya butuh pelampiasan dan.. dan.. aku gak tau itu kamu. Maaf."


Mereka terdiam cukup lama, Bian terus melihat dan mengelus bayi lucu yang baru dilahirkan Luna dan masih belum percaya kalau dia telah punya anak bersama wanita yang sangat dia cintai selama 12 tahun ini.


"Ayo kita pulang.." Ajak Bian dan Luna menggeleng. "Kenapa?"


"Mau pulang kemana? Apa papa masih mengingatku." Wajah Luna berubah sendu dan Bian sangat tau wanita ini pastilah sangat kesepian tanpa kasih sayang ayahnya sejak dia kecil.


"Pulang ke rumahku, jadilah istriku dan ibu dari anak-anakku." Ucap Bian dan Luna merasa sangat senang mendengarnya tapi dia ragu.


"Apa yang membuatmu ragu?" Tebak Bian tepat sasaran.


"Fano." Jawab Luna dan Bian tercekat.


"Jangan bilang kau juga suka padanya!" Ujar Fano dengan sedikit bernada tinggi.


"Bukan itu..."


"Jadi?"


"Kau dan Fano sahabat bahkan hampir setiap menit bersama dan Lalita, hubungan kita akan sangat aneh nantinya."


"Hahahah ternyata itu, tenang lah kau kira aku disini untuk apa dan selama setahun ini mencarimu, itu Fano yang menyuruhku. Jadi jangan cemas ya... ayo kita pulang."


"Tapi gak bisa sekarang, tunggu minimal 2 minggu atau sebulan."


"Yah.. cutiku tinggal 2 hari, aku akan telepon Fano dulu, sebentar."


.


.

__ADS_1


__ADS_2