Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja

Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja
BAB 33 Extra


__ADS_3

Kegiatan Fano dan Imel masih sama, pagi harinya Fano akan ke perusahaan untuk bekerja, 1 tahun ini PT Esteem makin maju pesat dibawah pimpinan Fano yang memang terkenal hebat seperti kakeknya Daniel.


Sedangkan Imel masih berkutat pada novel onlinenya yang semakin banyak peminatnya tapi kali ini dia beralih genre ke cinta manis, karena dia telah merasakan manisnya cinta dari suaminya.


Tapi dia tiba-tiba sangat rindu pada Fano saat mengetik tentang suami yang sedang bekerja di kantor dan istrinya mendatangi sang suami.


"Apa aku ke perusahaan aja dengan bawa makan siang?" Ucap Imel dan akhirnya dia beranjak dan mengintip sebentar ke J yang masih asik tidur padahal sudah jam 11 siang.


"Mau ngapain mantu mami?" Tanya Lusia begitu Imel menghampirinya di dapur.


"Mau masak mami, mau bawain makan siang buat suami." Jawab Imel sambil terkekeh pelan. Akhirnya 2 wanita beda generasi itu memasak bersama dibantu pelayan.


"Nah udah jadi nih, Fano lagi suka sama tumisan sayur dan ini ayam saus pedas." Lusia mengemas cantik menu itu dan Imel sedang mengupas buah untuk pencuci mulut mereka nanti.


"Apa masih mual Mel?" tanya Lusia begitu Imel memakan permen jahenya.


"Sedikit mami, makanya Imel siap sedia permen ini." Jawab Imel dan Lusia mengangguk pelan.


"J diajak atau tinggal ya mi?" Tanya Imel karena sudah jam 12 tapi J masih saja tidur lelap.


"Tinggal ajah nanti mami jaga." Imel tersenyum senang dan pamit pada mertuanya untuk segera ke kantor suaminya.


Selang 20 menit dia sudah jalan di lobi dan semua mata memandang pada Imel dengan tatapan takjub.


"Bener yah.. istrinya Tuan Stefano cantik banget, auranya keluar bersinar kemana-mana." Ucap karyawan A.


"Iya, aku mau deh tunggu jandanya." Sambung karyawan B.


"Jangan gila, mau di pecat?" tegur karyawan C.


Imel yang mendengar bisik-bisik itu hanya tersenyum tipis karena sudah biasa dia mendengar dan melihat hal begitu.


Imel membuka pintu ruangan Fano dengan perlahan, disana Fano sedang bersama 3 orang sekretarisnya.


"Pantas di luar gak ada 1 orang pun ternyata lagi di dalam." Bisik Imel pelan lalu dia menutup kembali pintu dan memilih menunggu dengan duduk di salah satu meja sekretarisnya diluar.


10 menit kemudian salah satu sekretarisnya keluar dan terkejut melihat Imel disana.


"Nyonya.. kenapa tidak masuk?" Tanya sekretaris muda itu.


"Sepertinya lagi sibuk jadi aku tunggu saja." Jawab Imel dengan ramah.


"Tidak nyonya, kami sudah selesai. Saya mau pesan makan siang apakah nyonya mau saya pesankan sekalian?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Tidak perlu, ini aku bawa makan siang. Jadi kamu pesan punya kalian saja ya.." Jawab Imel lagi dan sekretaris itu mengangguk.


Lalu Imel masuk kedalam ruangan Fano dan masih ada 2 sekretarisnya disana dan juga Bian.


"Sayang.. kamu datang? Kok gak kasih kabar?" Tanya Fano begitu melihat sang bidadari mendekat ke arahnya. Imel hanya tersenyum dan memilih duduk di sofa depan meja kerja suaminya.


"Kalian pergi saja, aku mau makan siang sama istriku." Usir Fano pada sekretarisnya dan Bian.


Fano menghampiri Imel yang duduk tenang di sofa lalu memeluknya.


"Kamu bawa apa Imel?" Tanya Fano melihat kotak makanan yang dibawa Imel.


"Aku tadi masak sama mami dan ini..." Imel membuka kotak makanannya dan mata Fano berbinar melihatnya.


Setelah melihat makanan itu, Fano segera melahapnya dan sambil menyuapi Imel juga dan mereka tampak romantis. Fano menghabiskan makanan itu sampai tak bersisa dan Imel tersenyum senang.


Tak lama Bian kembali masuk dan melaporkan sesuatu, "Fano.. ada yang datang mencarimu." Ujar Bian dengan perasaan cemas dan itu terlihat dari wajahnya.


"Siapa? Dan kenapa mukamu begitu?" Tanya Fano yang heran melihat Bian.


"ehm.. itu yang datang Talita." Jawabnya dan Fano juga tampak terkejut mendengarnya.


"Siapa Talita?" Imel bertanya dan Bian diam begitu juga Fano.


"Suamiku.. siapa Talita?" Tanyanya lagi dan Fano mengelus lembut wajah Imel.


"Dia.. mantan pacarku, dulu banget waktu masih SMA dan kuliah." Jawab Fano.


"Oohh..." Imel hanya ber oh ria menanggapinya.


"Istriku gak cemburu?" tanya Fano hati-hati.


"Gak, kan suamiku ini sudah cinta mati sama aku." Jawab Imel sambil terkekeh dan Fano lega mendengarnya.


"Memang benar, cinta mati dan bucin parah kalau kata Bian."  Fano memeluk Imel lalu menciumya lalu mengecup pipi Imel dengan gemas.


"Jadi makin cinta sama istriku ini.. anak papi baik-baik ya dan jaga mami agar gak di goda pria lain, karena mami sangat sangat cantik." Fano mengelus pelan perut Imel sambil sesekali mengecup bibir Imel.


Sementara di loby bawah gedung itu Bian sedang menghadapi Talita yang telah dikenalnya sebagai wanita keras kepala dan pantang menyerah.


"Aku tau dia ada Bian.. plizzz aku mau ketemu sebentar saja." Bujuk Talita dengan raut wajah memelas. Dengan wajah imut khas wanita polos dia selalu berhasil membujuk para pria tapi kali ini Bian harus tetap waspada agar pernikahan bos sekaligus sahabatnya itu tetap damai.


"Tidak bisa! Silakan kamu pulang saja Talita, jangan ganggu Fano lagi. Dia sudah bahagia sekarang." Tegas Bian dan menyuruh pengawal untuk menyeret Talita keluar.

__ADS_1


"Tunggu! Maksudmu apa? Bahagia sekarang?" Tanya Lalita yang kembali terlepas dari pengawal itu.


"Fano sudah bahagia bersama istri dan anaknya jadi kamu jangan ganggu, dia tidak akan menemuimu." Jawab Bian.


"Gak mungkin! Fano itu mencintaiku dan aku kembali demi dia." Teriak Talita yang akhirnya jadi perhatian orang-orang disana.


"Heh! Kamu itu gak pernah baca berita atau nonton TV? Pernikahan Fano begitu mewah dan semua orang di negara ini dan seluruh Asia juga tau." Bentak Bian emosi tapi Talita yang memang tidak tau tentang berita itu menjadi diam dan perlahan dia mundur.


"Gak mungkin, Fano itu cinta padaku dan gak ada wanita manapun yang cocok dengannya." Lirih Talita lagi.


"Jangan berharap Talita.. sebaiknya kau pergi dari pada nanti Fano yang ngamuk, kau tau bagaimana dia kalau marah kan?" Acam Bian dan akhirnya Latita pergi sendiri dari sana dan dia tentu tidak terima atas informasi tentang Fano yang telah menikah.


Talita segera kembali ke rumahnya untuk menanyakan pada kakak dan juga ayahnya.


"Kakak..." Teriak Talita begitu sampai dirumah dan masuk ke kamar kakaknya yang merupakan psikiater di RS Archer.


"Ada apa Lita?" Tanya Luna pada adik satu-satunya itu.


"Kak, kenapa gak ada yang kasih tau Lita kalau Fano sudah menikah?" Tanya Lita marah menatap sang kakak.


Luna mendesah panjang, "Jangan cari Fano lagi Lita.. dia sudah ketemu pasangan yang cocok dengannya dan mereka bahagia." Ujar Luna tapi Talita tetap tidak terima karena dia tau betapa Fano sangat mencintainya dulu.


"Gak bisa kak, Fano itu milik Lita dari dulu hingga nanti." Lalita tetap ngotot tapi Luna sudah menyerah karena Lalita memang sedikit tidak bisa di kontrol semenjak keluar dari pusat rehabilitasi di Amerika.


"Papa.. tolong nasehati Lita, jangan ganggu rumah tangga Fano lagi dan disini Lita yang salah telah mengkhianati Fano." Lapor Luna pada ayahnya yang sedang duduk membaca berkas di kantornya.


Kedua putrinya itu bersamaan masuk ke kantornya dan saling berargumen.


"Kalau Lita bisa merebut kembali Fano yah bagus dong.. dia Stefano dari keluarga Hastanta, papa dukung kamu Lita." Ucap sang ayah.


"Benar pah? Waahhhh..." Teriak Lalita bahagia mendengar dukungan ayahnya.


"Tapi pah, Fano gak mau ketemu Lita tadi sudah kesana dan diusir sama Bian." Keluh Talita dan Bisma sedikit mengerutkan dahinya sambil berpikir.


"Begini saja, kamu bantu papa urus bisnis di kota B dan kita sudah tanda tangan kontrak kerjasama dengan Fano untuk pembangunan Mall disana jadi kamu bisa ketemu Fano dan ambil hatinya lagi." Usul Bisma dan Lalita tersenyum sambil mengangguk. Sedangkan Luna hanya menggeleng dan tidak mau ikut campur lagi.


"Kalian yakin? Istrinya Fano itu sangat cantik dan ayah tau sendiri kan?" Tanya Luna tapi Bisma juga belum pernah melihatnya.


"Papa gak tau yang mana istrinya, kan papa gak hadir waktu mereka nikah. Tapi siapa sih yang bisa menandingi kecantikan putri papa yang satu ini?" Ucap Bisma memuji Talita yang memang cantik dan imut. Dengan tinggi badan 167cm tubuh porposional dan wajah cantik bak boneka barbie, itulah yang membuat Talita semasa SMA dan kuliah menjadi primadona.


"Terserah lah, Luna gak ikutan karna masu fokus kerja saja dan asal kalian tau, jangan tarik aku dalam masalah kalian nantinya, aku masih kerja di RS Archer jadi tolong... jangan bikin masalah." Luna memperingatkan karena dia tau benar anggota keluarga Archer lebih mengerikan dari Hastanta yang tampak adem dan hangat meskipun mereka salah satu keluarga terkaya.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2