Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja

Izinkan Aku Bahagia Sekali Saja
BAB 31


__ADS_3

Kebahagiaan terus saja menghampiri Imelda, saat ini di kehamilannya yang sudah di bulan ke 5 Fano menjadi makin sayang dan menghujaninya dengan begitu banyak cinta dan kasih sayang. Bukan hanya Fano tapi juga seluruh orang yang ada di rumah ini.


Imel juga masih menyelesaikan bukunya, ya dia sudah mencetak buku pertamanya dan sangat laris manis di pasaran sebulan yang lalu dan mulai dengan buku keduanya. Fano selalu mendukung apapun yang ingin dilakukan Imel selagi tidak membuatnya kelelahan, bahkan Fano membuat ruangan Khusus untuk Imel dapat mengetik dengan nyaman dengan nuansa kayu yang hangat dan seperti rumah di pedesaan padahal dia hanya mengubah salah satu sudut kamar mereka.


"Sayang.. suamiku, ini kenapa malah renov kamar kita ya? Bukannya mau renov kamar sebelah untuk baby kita?" Tanya Imel tapi Fano tetap sibuk menggeser kesana kemari sebuah lemari yang baru dia beli.


"Iya sayang.. habis ini selesai kita renov kamar baby ya.. soalnya bang Dami bilang mau barengan. Trus mami juga mau tau dulu jenis kelamin baby, nanti sore kita ke dokter ya. Baby-nya bang Dami cowo, kita kan terakhir kali belum kelihatan karna dianya malu-malu." Ujar Fano dan akhirnya dia temukan sudut yang pas untuk meletakkan lemari kecil itu.


"Hoo ok, trus kenapa hari ini gak pergi kerja?"


"Aku mau sama kamu terus, gak tau kenapa rasanya ingin berduaan. Hehehe.." Fano mengecup singkat bibir Imel yang sangat membuatnya candu.


"Ya udah, berarti hari ini suamiku akan dirumah sendirian, karena aku dan mami akan pergi ke acara ulang tahun cucu temannya mami, nah mami kayanya udah mau pergi nih.. babay suamiku.." Imel mencium pipi Fano yang masih berdiri mematung disana dan segera menyusul Lusia yang sudah memanggilnya, terdengar suara Lusia yang mengetuk pintu kamar mereka.


"Loh jadi aku libur percuma dong.." Protes Fano begitu Imel membuka pintu kamarnya.


"Siapa suruh libur gak tanya-tanya dulu, kalau mau cepetan ikut tapi jadi supir." Ucap Lusia dan tentu Fano mau, dia segera mengganti pakaiannya dengan polo shirt berwarna kuning biar senada dengan gaun hamil yang dipakai Imel.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


4 bulan kemudian, Imel yang merintih kesakitan sedang berjuang melahirkan anaknya ke dunia ini, Fano terus menemaninya dan sudah 3 jam Imel terus kesakitan dan inilah waktunya mereka bertemu sang buah hati.


Oeekkk


Akhirnya terdengar suara tangis yang begitu kuat, Fano mengecup kening Imel yang sudah basah karena keringatnya. "Terima kasih sayangku... anak kita sudah lahir, kau hebat." Ujar Fano menatap lembut Imel yang masih terlihat kelelahan tetapi senyumnya tetap menawan.


"Sama-sama sayang, kita udah jadi mami dan papi juga.."


"Iya aku sangat bahagia."


Suster membawa baby boy mereka dan Imel memberikan asi pertamanya di bantu oleh suster disana. Setelah selesai Imel dipindahkan ke ruangan rawat bersama baby boy dan masuklah Lusia dan Ken yang baru saja kembali dari ruang rawat Yana yang juga sudah melahirkan 3 hari yang lalu. Memang Imel melahirkan lebih cepat dari pada perkiraan dokter.


"Waahhh ganteng sekali, cucu kita ini perpaduan antara Fano dan Imel, ya ampun.." Lusia tak berhenti memuji baby boy Fano dan Imel yang memiliki wajah perpaduan keduanya. Sedangkan baby boy Damian sangat mirip dengannya, bahkan tidak ada yang terlewat.


"Kak lihat.. kok bisa dari bayi gini udah ganteng maksimal ya?" Lusia menggendong cucunya yang masih tertidur setelah meminum asi.

__ADS_1


"Peri kecilku.. gen keluarga kita kan memang sempurna, dan ditambah kecantikan Imel jadilah makin bersinar, aku yakin dia akan jadi aktor terhebat di masanya." Ujar Ken bangga tapi segera dapat pelototan dari Lusia.


"Jangan jadi aktor, nanti playboy kaya kamu." Ujarnya sinis.


"Ya ampun anakku baru lahir belum 24 jam loh, nama aja belum dia dengar." Protes Fano membuat orang tuanya terkekeh.


"Ah iya, jadi siapa nama cucu oma yang ganteng ini.." Lusia kembali mencium cucunya, siapapun tidak akan tahan melihatnya yang tampan dan imut disaat yang bersamaan.


"Namanya Jarred Hastanta."


"Kok gak ada Aelisius nya?" Tanya Ken.


"Yah kan kita keluarga Hastanta, Aelusius kan nama buatan papi aja.. aku ga mau anak-anakku punya nama terlalu panjang papi, susah kalau mau ujian nanti." Jelas Fano membuat Ken tidak terima.


"Tapi kan Aelisius itu buatan papi, keren dan kalian semua punya nama itu."


"Lah papi aja cuma Kenny Hastanta."


"Jangan ribut iihh, kakak terserah deh Fano mau beri nama apa.. jangan protes."


"Iya kak, bagus Jarred, kita panggil dia J keren." Jawab Imel.


"Benar, baby J kalau udah gede nanti panggilnya J aja biar misterius gitu loh.." Timpal Lusia dan Kenny yang tidak terima sedang merencanakan sesuatu. Dia melihat celah saat Fano dan Lusia sibuk mengurus baby J dia langsung ke ruang administrasi dan mendaftarkan nama cucunya menjadi Jarred Aelisius Hastanta, dan setelah selesai dia dengan santai berjalan kembali ke ruangan rawat Imel.


"Damian aja mau pakai nama Aelisius, udah punya 2 cucu, Darren Aelisius Hastanta dan Jarred Aelisius Hastanta, kan keren." Batin Kenny dan sekarang dia senyum-senyum sendiri melihat cucunya yang sangat tampan.


Setelah 3 hari Imel sudah diperbolehkan pulang, selagi Imel dan Lusia berberes Fano mengurus administrasi tetapi sesampainya dia kembali untuk menjemput Imel malah terlihat wajahnya sangat kesal.


"Kenapa Fano? Wajahmu kesal begitu." Tanya Lusia dan Imel juga heran melihat suaminya yang kembali dengan wajah marah begitu.


"Mami, ini ulah papi, nama Jarred ditambahin Aelisius sama papi." Ujar Fano kesal sambil membuka map yang diberikan pihak rumah sakit padanya. Imel yang mendengarnya diam-diam tertawa karena dia sebenarnya sudah tau sejak 2 hari lalu saat suster memberitaunya.


"Ya sudah.. kau harusnya bangga nak, Aelisius itu sangat terkenal loh, lagian papi cuma ingin cucunya tetap ingat dia kalau nanti mami dan papi udah ga ada." Ucapan Lusia membuat Fano tertegun.


"Mami jangan ngomong gitu, Fano ga suka. Papi dan mami itu akan hidup sangaaattt lama sampai baby J nikah dan punya anak nanti." Lusia tertawa mendengarnya, lalu memeluk Fano dan mengelus lembut punggung anak kesayangannya.

__ADS_1


"Ayo pulang.." Ajak Fano lalu membawa barang-barang Imel dia ingin mengurus semuanya sendiri padahal ada maid yang telah dia pekerjakan untuk membantu tapi tetap saja Fano sendiri yang mengerjakan semuanya.


Keluarga mereka kini sudah bertambah banyak, meskipun semuanya masih tinggal di rumah yang sama tapi Fano sudah ada keinginan untuk pindah dan membeli rumah sendiri namum Imel tidak ingin pindah karena dia sangat senang berada dalam keluarga yang hangat dan sangat baik. Kehangatan keluarga yang sejak dulu dia dambakan kini telah dia dapatkan.


"Yakin Mel sayang ga mau pindah rumah?" Tanya Fano saat mereka sampai dirumah dan Imel tetap menolaknya.


"Gak mau, kalau pindah nanti ga bisa bareng mami dan yang lainnya, aku kesepian." Tolak Imel, Fano tidak mau memaksa istrinya meskipun dia sangat ingin membangun rumah impiannya.


"Baiklah.. ikutin kemauan istri tercinta.." Fano memberikan ciuman di wajah Imel yang makin hari makin membuatnya jatuh cinta apalagi saat dia sedang menggendong baby J seperti ini, terpancar rona kebahagiaan di wajahnya.


"Anak papi yang cakep.. dari tadi mimik cucu terus sih, hei.. jatah papi ilang dong." Fano menusuk pipi gembul baby J dengan lembut, berusaha mengganggunya.


"Jangan dong papi.. udah malam baby J mau tidur lagi." Larang Imel tapi Fano dengan jahilnya tetap mengganggu baby J yang tetap anteng minum asi.


"Hem.. kayanya dia bakal jadi anak yang pendiam kaya kamu." Ujar Fano karena tidak berhasil mengganggu putranya. Imel hanya tertawa kecil karena dirinya juga sangat tahan dan sabar jika Fano sudah jahil.


Selesai menyusui baby J, Imel menidurkannya lagi di box bayi yang ada di kamar mereka. Imel tidak mau jauh dari baby J untuk beberapa bulan kedepan agar bisa memantau langsung keadaan anaknya.


"Nanti kalau udah bisa buat dedek, baby J pindah ke kamarnya sendiri ya.." Ujar Fano sambil memeluk istrinya, tapi Imel malah mencubit perutnya gemas.


"Baru juga 3 hari udah mikir buat dedek lagi.." keluh Imel tapi Fano malah makin memeluknya.


"Kan nanti sayang.. aku akan sabar kok hehe.."


"Iya nanti, masih lama loh kata dokter minimal 40 hari."


"Lama juga ya.. 2 hari aja udah ga tahan loh."


"Harus tahan suamiku.. ayo sekarang kita tidur juga, besok kamu harus kerja, yang rajin yah.. biaya baby J banyak loh."


"Iya sayang aku ga akan miskin kok, tenang aja.."


"Iya percayaaaa...."


Fano memeluk Imel dan merebahkan diri mereka di kasur, menyempatkan tidur selagi baby J juga masih tenang sambil menunggu malam yang akan membuat mereka terjaga lagi karena tangisan anak mereka.

__ADS_1


END~


__ADS_2