
Sebulan berlalu, Imel yang berstatus istri dari Stefano Aelisius Hastanta sangat bahagia menjalani setiap harinya sebagai serong istri. Imel masih melanjutkan kuliahnya hingga selesai dan kini dia tidak bekerja di perusahaan tapi dia hanya ingin jadi penulis novel dan juga ingin menjadi penulis lepas saja agar bisa santai sambil mengurus suaminya yang ternyata sangat manja. Fano bahkan terkadang tidak mau makan jika Imel tak menyuapinya, tapi ini baru saja berlangsung beberapa hari ini.
"Fano.. suamiku, ayo makan dulu." Imel sejak tadi membujuk Fano untuk menyelesaikan makan siangnya. Mereka duduk bersama di kantornya Fano dan dia disuapi sambil bekerja, seperti bocah.
"Sudah sayang.. aku kenyang dan perutku lagi gak enak nih.. empp.." Fano menutup mulutnya dan berlari ke toilet yang ada di ruangannya, Imel juga mengejarya dan melihat Fano muntah-muntah.
"Masuk angin ya?" Tanya Imel khawatir dan memijat tengkuk dan punggung Fano.
"Gak tau nih, udah dari pagi.." Fano terlihat pucat dan Imel menuntunnya untuk rebahan di sofa.
"Pulang aja ya.. atau langsung ke dokter?"
"Gak mau, pengen peluk kamu aja.."
Fano duduk kembali lalu Imel yang ada di sampingnya langsung dia peluk erat-erat, "Aroma istriku ini sangat menenangkan." Ucapnya sambil merebahkan kembali dirinya namun sekarang kepalanya ada di paha Imel. Dia nyaman dalam posisi itu sampai sore karena tidak mengizinkan Imel untuk pulang.
2 hari kemudian baru diketahui bahwa Imel sedang hamil karena Damian juga mengalami gejala yang sama, mual muntah dan tidak enak badan, Imel dan Fano sangat bahagia dan kehamilan ini sangat cepat bahkan mereka baru saja sebulan yang lalu melangsungkan pernikahan.
"Sayangku, cantikku, istriku yang paling hebat.. terima kasih." Fano terus memeluk Imel dengan perasaan bahagianya, Imel juga terus tersenyum dan makin kelihatan bahagia dan sama sekali tidak merasakan gejala apapun, semua gejala ibu hamil di alami oleh Fano dan dia tidak sendirian.
"Untung ada temannya ya.. bang Dami juga sama nih." Ucap Fano, mereka tidak malu-malu lagi mengumbar kemesraan di ruang tamu, begitu juga Damian yang sedang bermanja pada Yana.
"Duh.. mereka lebih parah dari kakak.." Celetuk Lusia dibalas tawa yang sangat menggelegar oleh Ken yang melihat 2 anak lelakinya tumbang.
"Aku pengen makan sate deh.." Ujar Imel yang membuat Fano langsung berdiri tapi dia tumbang lagi karena pusing.
"Ya udah papi beliin, ayo bumil-bumil mau makan apa lagi?" Tanya Ken yang sudah mengeluarkan kunci mobilnya bersiap untuk keluar untuk membelikan menantunya makanan.
"Tapi enaknya makan sate di tempatnya pi, kalau bisa yang ada bakso sekalian.." Imel menelan air liurnya membayangkan betapa enaknnya makan bakso dengan sambel pedas.
"Iya juga ya.. aku ikut." Yana berdiri dengan cepat Damian menariknya lagi.
"Ayo.. aku juga ikut." Ujar Damian dan kini tinggal Fano yang masih lemas sambil duduk. "Aku juga." Sahut Fano tak mau ketinggalan.
"Tapi Fano, kamu masih pusing, di rumah aja ya.." Imel melarangnya tapi dia tetap ngotot ingin ikut jadinya mereka semua pergi bersama dengan 1 mobil penuh.
__ADS_1
Jika Imel dan Yana makan dengan lahap, maka terbalik dengan Fano dan Damian yang sejak tadi ingin muntah mencium aroma bakso, mereka masih bisa menyantap sate dan akhirnya Lusia menyuruh mereka makan saja satenya di mobil ditemani oleh Ken.
"Ibu-ibu malah makan disana, kenapa papi juga harus temani kalian?" Keluh Ken kesal padahal dia ingin makan dengan istri kesayangannya. Sambil sesekali melirik Lusia disana yang masih sangat cantik.
"Papi tuh ya.. kami lebih cemas loh, istriku masih cantik dan muda, trus istrinya Fano lebih cantik lagi takutnya malah digodain sama pria lain." Balas Dami dan Fano malah sudah kesal karena benar saja ada kumpulan pria di meja belakang sana yang terus saja melihat ke arah Imel.
"Tuh papi lihat, istriku di perhatikan terus dari tadi pi.. papi keluar lagi deh, kami disini aja, pokoknya papi jagain para wanita kita." Perintah Fano yang membuat Ken senang bisa kembali duduk dengan Lusia diluar.
"Ok, papi keluar lagi tapi kalau nanti mami ngomel kalian harus belain papi ya.."
"Iya cepat sana pi.. itu mereka mau menghampiri istriku."
Fano melihat 1 pria sudah beranjak dari duduknya dan mau mendekati meja yang di tempati Imel, Yana dan Lusia. Ken dengan cepat dan berlari langsung duduk disana membuat pria itu berbalik.
"Loh ngapain balik kesini kak?" Tanya Lusia melihat Ken yang duduk di sampingnya lagi.
"Itu anak-anakmu takut istri mereka di goda pria lain." Jawab Ken dan Yana sudah tertawa karena sudah pasti Imel akan di kejar terus.
"Hahaha iya mami, Imel pasti akan terus di kejar lawan jenis dimanapun dia berada." Ujar Yana dan Imel terbatuk.
"Mami lupa ih.. hahaha Fano pasti kesal tuh ga bisa keluar bareng kita disini."
"Nah iya makanya dia suruh papi balik kesini, dari tadi ngomel terus karena para pria di sana mau deketin meja sini."
Lusia melihat arah yang di tujuk Ken dan benar saja beberapa pria itu melirik ke Imel terus.
"Ya udah.. cepat habiskan lalu kita balik ke mobil saja, bahaya kalau lama-lama diluar tanpa pengawasan, hehehe.."
Mereka dengan cepat menghabiskan bakso dan sate lalu kembali ke mobil, 2 bumil sudah kenyang dan para suami masih belum bisa menikmati makanan mereka sama sekali karena pusing dan lemas. Ken akhirnya memilih untuk pulang saja.
Di rumah, Imel sedang membuat sesuatu. Dia baru belajar cara membuat permen jahe dan permen lemon alami untuk Fano agar mual dan pusingnya berkurang.
Selama sejam dia berkutat di dapur dan akhirnya selesai dan mendinginkan cairan gula jawa yang dia campur dengan sari jahe alami dan ada juga yang perasan lemon gula kristal yang tidak terlalu manis namun lebih asam.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Pagi harinya, Imel sudah meletakkan sebotol permen jahe dengan gula jawa, dan sebotol permen lemon yang dia buat sendiri. "Suamiku.. ini bawa aja, nanti kalau mual dan pusing atau mulut terasa ga enak makan ya. Coba dulu yang jahe karna masih pagi." Imel membuka botol itu dan memberikan 1 permen jahe yang di balur gula lahus agar tidak lengket.
"Hmm.. ini enak, gak terlalu manis dan hangat, aroma jahenya terasa juga.. Istriku memang pintar." Fano mengecup pipi Imel dan mereka saling merangkul untuk turun kebawah.
"Kak, ini permen jahe dan yg ini lemon untuk bang Dami." Imel juga membuatkan Damian dan Yana sangat berterima kasih.
"Makasih Mel.. wah aku coba juga deh, hm... enak benaran ini enak." Yana memakan 1 butir juga dan memberikan ke Damian yang langsung membuatnya segar.
"Wah bebat.. mualku berkurang nih.. ya udah, jadi deh meeting hari ni Fan." Ujar Damian dan akhirnya mereka bisa juga sarapan dengan tenang hari ini setelah seminggu tersiksa dengan mual dan pusing.
"Sayang.. nanti bawakan makan siang ya, tapi masakanmu jangan mami." Ujar Fano sebelum dia masuk kedalam mobil dan mengecup lembut bibir Imel.
"iya.. nanti aku masak deh.. khusus buat suamiku." Jawab Imel dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, demi Fano Imel juga sudah belajar masak dari Lusia mertuanya.
"Duh.. yang bucin, gak mau lagi masakan mami." Celetuk Lusia, dia juga mengantar Ken ke mobilnya yang ada di belakang Fano.
"Aku ikut Fano aja deh..." Damian langsung masuk juga tapi ke mobil Fano.
"Ngapain sih bang, kalo kita barengan gini kaya anak TK mau sekolah deh." Protes Fano membuat Imel tertawa lucu mendengar komentarnya.
"Lah bagus dong jadi tuh bensin gak kebuang dobel, kalian kan di gedung yang sama." Ujar Lusia akhirnya Fano setuju saja.
"Trus aku gak ada yang ngantar nih? Ga ada yang cium2 juga?" Keluh Morgan yang baru saja turun dari kamarnya.
"Kamu ini, makanya cepat nikah." Celetuk Lusia membuat Morgan mendengus kesal mendengarnya.
"Yah mami, ini Morgan juga lagi usaha mi.. yaudah cium mami aja." Morgan memeluk dan mencium pipi Lusia.
"Iya belom ada istri cium-cium mami, nanti kalo uda ada yah cuma merhatiin istri." Protes Lusia karena Damian dan Fano saja sudah berganti haluan sejak menikah.
"hehehe.. mami tau aja.. tapi Morgan tetep akan cium mami kok, tenang aja."
Yana dan Imel sudah terkekeh disamping mereka melihat ibu dan anak itu, dan memang benar suami mereka sudah jarang bermanja dengan mertua mereka.
TBC~
__ADS_1