
Jam 8 pagi setelah sarapan keluarga itu langung bergegas meluncur ke pelabuhan dan menikmati perjalanan laut ke seberang, negara tetangga. Fano sebenarnya ingin menggunakan helikopter saja tapi Imel ingin menikmati perjalanan seperti orang-orang biasa dan Ken juga Lusia setuju karena mereka juga akan seperti itu jika di Singapura, mengingat dulu mereka sering berjalan dan berkencan di negara kecil ini.
"Peri kecil mau makan eskrim?" Tanya Ken begitu mereka mendarat dan Lusia mengangguk dan tersenyum.
"Eskrim apa mami?" tanya Imel dengan antusias.
"Ada deh, nanti mami ajak makan eskrim."
Imel mengangguk dan dia tidak sabar untuk merasakan eskrim itu, tanda sadar dia menelan air liurnya beberapa kali.
"Sayangku sangat ingin eskrim?" tanya Fano dan Imel mengangguk lagi.
"Kita ke tempat eskrim dulu kalau begitu." Fano mengeratkan rangkulan di bahu Imel karena banyak pasang mata yang menatap padanya. Fano jadinya berubah ke mode posesif.
Fano tidak melepaskan belitan lengannya pada Imel sedikitpun bahkan saat Imel sedang menikmati eskrim di pinggir jalan, Fano tetap merangkulnya.
Tanpa mereka sadari sejak di kapal mereka telah di perhatikan oleh sepasang mata yang terlihat marah dan benci, dia Talita yang tidak sengaja melihat keluarga bahagia itu juga menyebrang. Talita hanya ingin relax dan shopping setelah di tolak oleh Fano dan malah dia melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa Fano sangat posesif menjaga istrinya yang terlihat sangat cantik, bahkan jauh dari pada dirinya.
"Aku akan singkirkan istrimu itu, jika dia jelek kau akan meninggalkannya bukan?" Ucap Talita yang masih mengikuti mereka dari jarak aman.
"Bang, liat foto ini. Kalian diikuti sejak dari pelabuhan."
Begitu isi pesan Morgan pada Fano dan Bian.
"Sayang, mulai sekarang jangan keluar rumah tanpa aku, oke?" Imel yang mendengar itu hanya mengangguk karena dia memang tipe istri yang patuh.
"Aku akan patuh, tenang saja.." Ucapnya lalu Fano mengecup bibirnya yang masih belepotan eskrim. Banyak mata yang memandang iri pada pasangan ini, si pria tampan dan wanitanya sangat cantik, pasangan sempurna!
.
.
Beberapa hari kemudian, Fano kembali bekerja di kantor seperti biasanya, Imel juga kembali ke rutinitas bersama J di rumah sambil menyelesaikan novelnya. Tapi kali ini dia sangat gemas dengan baby J yang makin hari makin pintar. Di umurnya yang akan genap 1 tahun sebentar lagi, dia sudah bisa mengucapkan beberapa kata dengan fasih.
"Ayo J, anak pintar.. nanti kita kejutkan papi ya J.. " Ucap Imel saat J mengucapkan beberapa kalimat sederhana.
"Mama makan." Ucap J lagi dan Imel makin gemas melihat anak tampannya ini.
__ADS_1
"Anak pintar.." Ucap Imel dan J juga mengikuti, "Anak pintal.."
"Ahhh mami... lihat J sudah pintar bicara." Imel keluar kamar dan memberitahu Lusia yang sedang ada di ruang keluarga dengan Yana dan Darren.
"Kok sama ya? Darren juga dari tadi gak bisa diem, bicara mulu." Pekik Yana lalu Imel mendudukkan J dekat dengan Dareen di karpet bulu di lantai.
"Ya ampun, mereka berdua ngobrol tuh, gemesnya cucu-cucu oma.." Ujar Lusia lalu mencium cucunya bergantian, sementara J dan Darren begitu cerewet terus berceloteh tanpa henti, entah apa yang 2 baby itu bicarakan.
"Nah.. kalian jangan asal panggil nama atau bicara ngaco lagi, anak-anak bisa niru loh." Lusia memperingatkan karena anak-anak ini sedang dalam belajar berbicara dan sangat rawan.
"Iya mami.." Jawab Imel dan Yana bersamaan.
"Ya mami." J dan Darren juga menyahut mengikuti mami mereka.
.
.
"Imel.. kamu di mana sayang?" Fano berkeliling rumah untuk mencari istrinya sampai dia ke taman belakang dan ternyata Imel dan J ada disana malam-malam begini.
"Sayang.." Fano menghampiri mereka dan mengecup pipi istri dan anaknya bergantian.
"Anak papi pintar.. duh.. muuaacchhh.." Fano mencium pipi J dengan gemas.
"Mulai sekarang saling manggil papi dan mami, J sudah mulai pintar meniru ok papi?"
"Ok, anak kita memang pintar mami."
"Pintal.. anak pintal." J meniru lagi ucapan Fano dan Imel sehingga mereka tertawa.
"Sayang.. bagaimana anak papi yang ada disini?" Tanya Fano mengelus lembut dan turun menciumi perut Imel yang sedikit memulat itu. Mereka sudah berada di atas tempat tidur dan bersiap untuk istirahat setelah tadi bergumul sebentar.
"Baik-baik papi.. mami jaga aku dengan baik." Jawab Imel sambil mengacak rambut Fano yang masih betah menciumi perutnya.
"Kira-kira baby boy lagi atau baby girl ya?" tanya Imel.
"Kayanya baby girl mami.. karena mami sangat cantik dan hot." Bisik Fano tepat di telinga Imel yang kini sudah memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Habisnya papi makin tampan dan sexy, mami kan jadi semakin cinta."
"Sama.. papi juga jadi makin cinta, cup."
Fano menecup puncak kepala Imel berkali-kali meluapkan rasa sayangnya pada istri cantiknya. Setiap hari yang Fano lakukan adalah memberikan cinta dan kasih sayang berlimpah untuk keluarga kecilnya.
"Mami cinta papi." Ucap J mengulang apa yang di dengarnya.
"Anak papi pintar, benar sayang.. papi cinta mami dan mami cinta papi." Fano mencium pipi gembul J terus menerus lalu membawa keluarganya masuk kembali ke dalam rumah.
.
.
"Besok aku akan ketemu Talita lagi sayang.. kamu kamu ikut?" Tanya Fano tapi Imel menggeleng.
"Gak mau, nanti kamu di peluk lagi sama dia, hati-hati ya.." Tolak Imel lalu Fano tertawa mendengarnya.
"Iya sayang.. sekarang tidur ya, sudah hampir tengah malam jangan ngetik terus." Fano langsung mengangkat Imel padahal tangannya masih asik mengetik tapi dia tidak peduli yang penting Imel harus tidur.
"Hem.. iya sayang aku tidur deh." Imel kini merapatkan dirinya dan menenggelamkan wajahnya di dada Fano dan mencoba untuk tidur. Tak berapa lama dia sudah tertidur dalam pelukan hangat suaminya.
Besok paginya Fano datang keperusahaan dan dia sudah bersiap untuk menghadapi Talita yang pasti akan menemuinya. Meeting Pagi ini dia serahkan ke Bian karena Fano sedang malas untuk berdiskusi dan dia hanya akan jadi pendengar saja.
"Hai Fano.. " Sapa Talita dengan penampilannya yang begitu cantik tapi bagi Fano itu biasa saja karena istrinya di rumah jauh lebih cantik darinya.
"Fan, aku ingin bicara padamu." Ujarnya tapi Fano tetap diam. Disana hanya ada mereka bertiga bersama Bian karena Talita memang sengaja hanya datang sendiri.
"Maaf, kita di sini untuk membahas proyek di kota B jadi apakah bisa dimulai?" Tanya Bian tapi Talita masih menatap pada Fano yang terlihat sibuk membaca laporan di mejanya dan tidak memberi respon apapun pada Talita.
"Aku mohon aku hanya ingin bicara dan kau boleh mendengarnya dulu, kalau kau..."
"Kalau tidak ada yang perlu dibahas kita akhiri meeting ini. Permisi." Potong Fano sebelum Talita menyelesaikan ucapannya. Fano tidak peduli dengan proyek ini, paling tidak dia bisa meminta anggotanya untuk mengawasi langsung kesana saja daripada harus berurusan dengan Talita lagi.
"Fano!" Talita mengejarnya dan memegang lengan Fano tapi segera Fano melepaskan tangannya dan meninggalkan Talita yang masih kesal karena perlakukan mantannya itu.
Aku akan beri pelajaran ke istrimu jika kau masih mengabaikanku. Ucap Talita dalam hati dan memandang sinis ke arah Bian yang menahan tawanya.
__ADS_1
TBC~