Jadilah Wanitaku

Jadilah Wanitaku
Diserang


__ADS_3

"Baguslah kalau begitu, silakan keluar aku mau tidur," ucap Grace yang baring di alas tidurnya yang tipis.


"Ma, mari kita keluar!" ajak Lizabert dengan kesal yang melangkah keluar dan diikuti oleh ibunya.


Grace bangkit dan berubah posisi duduk dengan kesal.


"Pria ini sudah memiliki seorang istri masih saja mengangguku, sangat keterlaluan," ketus Grace.


"Aku tidak akan mau menjadi istri kedua, dasar pria mesum seenaknya dia menciumku," ketus Grace.


Keesokan harinya.


Perusahaan Andrianez.


"Bos, barang kita sudah sampai ke wilayah kita," ujar Will.


"Malam ini kita pergi periksa," jawab Vic sambil membaca dokumen.


"Baik, Bos," jawab Will.


"Bagaimana dengan kelompok Ghost, apakah mereka tidak ada tindakan?" tanya Vic.


"Bos, hari ini mereka kedatangan enam orang asing, kelihatannya mereka bukan dari tempatan. mungkin pembunuh bayaran," jawab Will.


"Pembunuh bayaran? kelihatannya kita harus bersiap untuk malam ini," ujar Vic.


"Apakah mereka muncul adalah untuk membunuh kita?"


"Kelompok Ghost hanya bermusuhan dengan kita, kalau bukan untuk mengincar kita, tidak mungkin ada enam orang asing yang ke tempat mereka," ujar Vic.


"Mengerti, Bos," jawab Will.


Vic membuka lacinya dan mengambil pistol miliknya, ia memeriksa peluru dan menyimpan ke dalam jas.


Restoran.


"Nona, mulai hari ini posisi manager menjadi milikmu," ujar seorang pria muda yang tak lain adalah wakil Vic yang mengurus bagian restoran.


"Manager? kenapa saya menjadi manager?" tanya Grace dengan penasaran.


"Ini adalah perintah dari atasan," jawab pria itu dengan sopan.


"Lalu, siapa Anda?"


"Nama saya adalah Martinez, saya adalah wakil bos di saat beliau tidak ada di sini," jawabnya dengan sopan.


"Apakah atasan kita adalah si mesum itu?"


"Si mesum?" tanya Martinez dengan heran.

__ADS_1


"Iya, si mesum Vic Andrianez," jawab Grace.


"Ehem...iya, Nona. tuan Andrianez adalah atasan kita," jawab Martinez.


"Dia benar-benar membeli restoran ini? dan ke mana manager sebelumnya?" tanya Grace.


"Sudah dipecat oleh bos kita," jawab Martinez.


"Tapi saya tidak bisa menjadi manager, karena saya tidak tahu caranya. lagi pula sekolah saya juga tidak tinggi mana bisa menjadi manager," jawab Grace.


"Nona, bos percaya pada Anda pasti bisa melakukannya, jadi silakan coba saja."


"Coba? bagaimana coba menjadi manager? aku hanya mengerti angkat berat, jaga toko, dan cuci piring. sedangkan manager tipe sepertiku sangat tidak sesuai," gerutu Grace.


"Anda bisa mempelajarinya, karena saya yang akan membantu Anda," ucap Martinez.


"Ada yang ingin saya tanyakan," ujar Grace.


"Silakan bertanya, Nona!"


"Berapa upahku sebulan?" tanya Grace dengan nada kecil.


"Empat ribu tujuh ratus dollar," jawab Martinez dengan senyum.


"E-Empat ribu tujuh ratus dollar?"


"Benar!"


"Benar kata atasan, memang sebanyak itu upah untuk nona," jawab Martinez dengan senyum.


"Wah, uang sebanyak itu kalau aku bekerja selama setahun mungkin aku bisa membeli apartemen," batin Grace.


"Baiklah, karena sudah diberi kesempatan, tidak mungkin aku menolaknya. dan aku juga segan menolak karena upahnya yang luar biasa tinggi," kata Grace.


Martinez menahan tawa saat mendengar ucapan gadis itu.


"Lalu, kapan aku bisa mulai bekerja?" tanya Grace.


"Sekarang sudah bisa, tapi, Anda harus mengubah penampilan dulu," jawab Martinez yang melihat pakaian kasual yang dikenakan oleh gadis itu.


"Penampilan? yang penting jangan menyuruhku mengenakan pakaian yang aneh-aneh saja," ucap Grace.


"Tentu saja tidak, Nona," jawab Martinez.


Setelah beberapa menit kemudian Martinez menyerahkan seragam khusus untuk Grace.


"Nona, beberapa seragam ini untuk Anda, dan sepatu tumit ini juga khusus disediakan untuk Anda," ucap Martinez.


"Sepatunya pasti mahal, kan?" tanya Grace yang kebingungan melihat sepatu tumit. karena dirinya tidak pernah mengenakan sepatu bertumit.

__ADS_1


"Iya, atasan mengatakan semua ini sudah menjadi milik Anda," jawab Martinez


"Apakah aku bisa mengenakan sepatu biasa saja? kakiku tidak akan bisa mengenakan sepatu seperti itu."


"Ini...," jawab Martinez yang terhenti.


"Huff...iya sudah! lihat wajahmu aku sudah tahu tidak bisa,"kata Grace.


"Nona, mulai hari ini kantor ini adalah tempat kerja Anda!" ujar Martinez.


"Baiklah, terima kasih!" ucap Grace.


Setelah dua puluh menit kemudian Grace telah menganti pakaiannya. ia harus mengenakan sepatu tumit yang menyulitkan dirinya untuk berjalan.


"Tidak biasa aku pakai sepatu ini, kenapa bosmu tidak bisa bertoleransi denganku, apakah aku harus pakai sepatu ini?" tanya Grace yang sulit untuk berdiri. ia hanya bersandar ke tembok sambil memegang meja.


"Benar, Nona. Anda harus pakai sepatu ini. karena setiap manager harus berpenampilan rapi," jawab Martinez.


"Demi Empat ribu tujuh ratus dollar, aku harus bersabar. aku hanya perlu belajar pakai sepatu brengsek ini," batin Grace.


"Baiklah, aku akan belajar berjalan untuk membiasakan diriku!" kata Grace yang mulai berdiri dan melangkah dengan perlahan


Martinez yang melihat gadis itu hanya bisa menahan tawa karena lucu. setiap wanita muda maupun yang telah berusia sangat pintar mengenakan sepatu hak tinggi. berbeda dengan Grace yang selama ini hanya mengenakan sepatu biasa.


Grace yang hidup pas-pasan tidak pernah mengenakan pakaian mahal dan sepatu yang berharga tinggi. selama ini upah yang diterima hanya demi keluarganya, beda dengan kakaknya yang bersikap sangat egois dan tidak pernah membantu satu sen pun uang karena semua upahnya digunakan untuk kepentingan sendiri.


"Kenapa kamu tertawa? apakah lucu saat melihatku belajar berjalan?" tanya Grace dengan melirik tajam pada pria itu.


"Bukan itu maksud saya, Nona. saya hanya berharap nona bisa bersabar," jawab Martinez.


"Karena atasan kita percaya padaku, maka aku akan bersabar," ujar Grace.


"Baik, Nona," jawab Matinez.


Malam hari.


Grace yang berjalan seharian sambil mengawasi para pelayan restoran, ia harus menanggung rasa sakit akibat sepatu yang dia pakai. ia duduk dan melepaskan sepatu itu dari kakinya.


"Sangat tidak mudah menjadi manager, butuh perjuangan berat. bukan hanya harus mengenakan seragam ini. tapi sepatu ini harus dipakai juga," gumam Grace.


Di sisi lain Vic menuju ke pelabuhan untuk memeriksa barang yang dikirim lewat kapal.


"Bagaimana selama perjalanan?" tanya Vic yang berdiri di kapal bersama anggotanya.


"Lancar, tidak ada gangguan sama sekali, Bos," jawab Ray yang bertanggung jawab sebagai penjaga obat-obatan terlarang selama perjalanan.


"Buang ke laut!" perintah Vic.


"Bos, apakah barangnya ada masalah?" tanya Ray.

__ADS_1


"Bukan! tapi kita kedatangan tamu!" jawab Vic yang mengeluarkan senjatanya.


"Turunkan peti ini ke laut!" perintah Ray pada anak buahnya."


__ADS_2