Jadilah Wanitaku

Jadilah Wanitaku
Vic Mendatangi Rumah Grace


__ADS_3

"Apa bisa kau diam dan jangan bicara sembarangan!" ketus Anita.


"Sudah! pergi buka pintu sana!" bentak Lizabert.


"Kakak, kamu selalu saja menganggap diri sendiri adalah ratu, sehingga membuka pintu saja kamu malas," balas Grace yang berjalan menuju ke pintunya.


Klek.


Saat pintu dibuka Grace membulatkan mata besarnya melihat pria yang di depan pintunya adalah Vic.


"Selamat pagi, apakah kamu ingin pergi bekerja?" sapa Vic yang melihat penampilan gadis itu yang berbeda dengan sebelumnya.


"Aku hanya ingin berolahraga," jawab Grace.


"Ha ha ha...olahraga dengan pakaian kerja, sangat luar biasa," ujar Vic dengan senyum.


"Untuk apa kamu pagi-pagi ke sini?" tanya Grace dengan melirik tajam.


"Ingin menjemputmu pergi sarapan bersamaku," jawab Vic.


"Tuan Andrianez, selamat pagi! bagaimana kalau masuk dulu dan sarapan bersama kami!" sahut Anita dengan ramah.


"Tuan Andrianez, silakan duduk aku pergi buatkan sarapan untukmu!" ucap Elizabert.


"Kakakku sangat hebat di saat buatkan sarapan, ingin buat roti Roggenbrot harus mengunakan tepung dan gandum hitam. tapi dia malah mengunakan pulut hitam, Selain itu Roggenbrot harus dioles mentega tapi dia malah mengoles keju, mentega dan keju saja dia tidak bisa membedakannya. bagaimana mau buatkan sarapan," sindir Grace.


"Jangan selalu mencari masalah dengan kakakmu di depan tamu kita!" ujar Anita.


"Ma, tadi kakak tidak seperti ini, roti bakar itu aku yakin bukan dia yang buat, dan kenapa harus akting terus di depan pria yang dia suka? satu hal lagi, tuan Andrianez datang tanpa diundang, jadi bukan tamu kita," jawab Grace.


"Tuan, jangan simpan dalam hati dengan perkataan gadis ini!masuklah dan minum dulu!" sahut Anita dengan sopan.


"Maaf, Tuan. adikku agak kasar, aku akan menegurnya nanti!" ucap Lizabert.


"Urus diri sendiri saja tidak bisa masih saja ingin menegur orang lain," ketus Grace.


"Grace adalah manager restoran kami, dan hari ini aku adalah atasannya dan ingin mentraktirnya makan bersama!" ujar Vic.

__ADS_1


"Manager?" tanya Lizabert yang tidak percaya.


"Hah...berapa upah sebulan?" tanya Anita.


"Upahku hanya cukup membeli sehelai celana da.lam kakak," jawab Grace dengan ceplas ceplos.


"Kenapa mulutmu selalu saja bicara sembarangan!" ketus Lizabert yang merasa malu.


"Grace, mari kita pergi sarapan dulu! setelah itu aku mengantarmu ke restoran!" ajak Vic yang memegang tangan gadis itu.


"Sebentar! Adik, bagaimana kalau aku dan mama menumpang mobil kalian, karena kami ingin keluar membeli sesuatu," kata Lizabert yang sengaja ingin mendekati pria itu.


"Kakak, jangan mengunakan alasan untuk membeli sesuatu, selama ini ketika ingin membeli sesuatu pasti aku atau mama yang kamu suruh. dirimu tidak akan mau kena panas terik matahari. apalagi hujan deras dan petir," jawab Grace.


"Kau ini...," ucap Lizabert dengan kesal.


"Maaf, aku ingin makan bersama calon istriku dan tidak suka diganggu," ucap Vic yang kemudian pergi sambil memegang tangan Grace.


"Ma, lihatlah Grace! selalu saja ingin mempermalukanku!"


"Lizabert, kau juga tahu mulut adikmu tidak bisa dihentikan ketika dia bicara sembarangan," kata Anita.


Perjalanan


"Kenapa memilihku menjadi manager? aku bisa menghidangkan makanan untuk pelanggan atau bagian dapur," kata Grace.


"Sebagai istriku tidak sesuai menjadi pelayan, apa lagi di dapur. berhenti kerja di tempat lain dan fokus saja pada posisimu sekarang,!" jawab Vic.


"Aku tidak ada pengalaman, aku melihat banyak manager yang sangat sabar menghadapi pelanggan yang cerewet," ucap Grace.


"Aku percaya padamu, aku yakin kau bisa melakukannya," ujar Vic.


"Tapi apakah aku bisa pakai sepatu yang datar saja? sepatu ini sangat menyakitkan."


"Ha ha ha...tenang saja! nanti aku akan memberikanmu sepatu yang membuatmu nyaman," jawab Vic.


Setelah selesai sarapan, Vic dan Grace kembali ke restoran.

__ADS_1


Vic langsung membawa gadis itu ke kantornya.


Klek.


"Kenapa membawaku ke kantormu? jam kerjaku sudah dimulai," tanya Grace.


"Duduk!" titah Vic yang mengambil sesuatu di dalam laci mejanya.


Vic mengambil minyak urut dan menghampiri gadis itu yang sedang duduk di sofa. pria itu menjongkok dan melepaskan sepatu Grace.


"Hah...apa yang kamu lakukan?" tanya Grace yang terkejut melihat pria itu yang mengurut kakinya.


"Jangan bergerak! kalau tidak biasa pakai sepatu bertumit maka jangan dipaksakan!" kata. Vic sambil mengurut kaki gadis itu dengan lembut.


"Tidak baik kamu melakukan ini, kalau dilihat orang aku akan digosip oleh mereka!"ujar Grace yang khawatir.


Vic mengurut kaki Grace dengan sabar dan lembut, sementara Grace sendiri merasa nyaman dan terharu saat pria itu baik padanya. dalam hidupnya belum ada yang pernah melayaninya dengan sepenuh hati.


"Mamaku sendiri saja tidak pernah begitu baik padaku, saat kakiku terkilir dia malah menyuruhku urut sendiri dan jangan menganggu dia yang sedang berjudi," batin Grace.


"Berhenti! jangan melakukannya lagi!" pinta Grace.


"Jangan bergerak! kakimu sudah bengkak," ujar Vic yang meletakan kaki gadis itu dengan perlahan. lalu ia mengambil kotak yang di sofa dan membukanya. ia mengeluarkan sepasang sepatu hak pendek yang tentu akan lebih nyaman dipakai.


"Aku pakai sendiri saja!"


"Jangan bergerak!" ujar Vic yang pakaikan sepatu yang baru dia beli.


"Bagaimana? apakah yang lebih nyaman?" tanya Vic.


"Iya, potong saja gajiku!"


"Ini adalah untukmu, apapun yang ku berikan padamu. kau tidak perlu membayarnya," jawab Vic yang mengecup dahi gadis itu.


"Hah...apa kau tidak melihat kita sedang di kantor ya, jangan menciumku lagi!" ketus Grace yang bangkit dari tempat duduknya.


"Aku akan memberitahu mereka bahwa kamu adalah calon istriku!"

__ADS_1


"Calon istri apanya, aku sama sekali tidak setuju menikah denganmu," kata Grace yang ingin melangkah pergi meninggalkan ruangan kantor atasannya.


"Gadis yang keras kepala," gumam Vic dengan tersenyum.


__ADS_2